“Mbak, mau pria b******k itu ngerebut Arka?” Adam bersungut-sungut membayangkan Rehan merebut Arkana, apalagi lelaki itu belum mempunyai anak sampai sekarang dari pernikahan keduanya.
Kania termangu, tentu saja tidak akan dirinya biarkan Rehan merebut putra sematawayangnya meskipun lelaki itu juga berhak atas Arkana. Dalam tubuh Arkana mengalir darah Rehan, wajah mereka pun mirip sekali, tetapi sampai mati pun Kania tidak akan terima kalau Rehan mau mengambil alih.
“Tapi, kalau Mbak resign itu bukan solusi, Dam! Mbak nggak mau ngerepotin ekonomi kamu sama Sandra, kalian punya keluarga sendiri. Mbak─”
“Jadi, Mbak mau dibayang-bayangi dia lagi?” potong Adam tampak kesal, kalau saja tadi tidak ada Indra yang melerainya, Adam pastikan Rehan mati di tangannya.
Lelaki itu mengajak istrinya pulang karena tidak mau melampiaskan marahnya di depan Arkana yang tampak kebingungan. Sandra hanya meminta Kania sabar dulu mengingat semua masih dikelilingi oleh emosi yang tak stabil. Pelan Kania mendekati anaknya yang duduk dengan sorot mata bingung, melihat para orang dewasa bertengkar dan untuk pertama kalinya Arkana melihat pamannya sampai semarah itu pada sang ibu.
“Arka, sini!” pintanya melebarkan kedua tangan, bocah itu langsung patuh mendekat dan memeluk Kania. “Anak Ibuk yang baik hati dan tampan, maaf ya kalau ada keributan, Nak!”
Arkana mengangguk, walaupun tidak paham dengan masalah yang ada, tetapi pelukan ibunya teramat menenangkan dan mampu mengusir demam yang sejak tadi menyerang dirinya. Kegiatan mereka berlanjut seperti biasa, beruntung kondisi Arkana membaik saat Kania pulang, jadi tidak perlu ke rumah sakit atau mungkin memberikan Arkana obat.
“Ibuk, tadi siapa?” tanyanya mengingat kaki pria baru yang dipeluknya.
Kania menoleh. “Siapa?” ulangnya bingung.
“Tadi, yang Alka peluk, Ibuk. Om siapa?” Arkana berusaha mengingat wajahnya, tetapi tidak terlalu jelas karena tadi Adam menariknya cepat dan langsung ke kamar bersama Sandra.
“Em, teman kerja Ibuk, hehehe. Maaf ya, tadi om Adam kaget makanya langsung minta Arka ke kamar, takutnya orang jahat,” jelasnya.
“Dia jahat?” Arkana menatap wajah Kania yang duduk di sampingnya.
Kania lantas menggelengkan kepalanya, hubungannya dengan Rehan memang kurang baik dan masa lalu mereka buruk, tetapi Kania tidak mau anaknya sampai membenci Rehan dan menganggap lelaki itu jahat meskipun belum tentu kehadiran Arkana nanti diterima atau tidak. Kania hanya tidak mau menanamkan kebencian.
“Om itu baik ya,” katanya memastikan.
“Iya, omnya baik kok. Cuman, maaf ya tadi salah paham aja, Nak. Oiya, Arka mau minum s**u anget nggak?” tawar Kania mengalihkan pada hal lain.
Sementara itu, amarah yang sempat tersulut pada diri Rehan nyatanya tak kunjung surut begitu kakinya sudah menapak di rumah. Ia masih ditemani Indra yang khawatir Rehan nekat untuk kembali datang ke rumah Kania, sedangkan situasi sekarang teramat tidak memungkinkan.
Rehan menendang kursi di depannya. “Seharusnya, kamu nggak nahan saya, Ndra!” katanya.
“Pak, saya hanya memikirkan pandangan Arkana pada anda,” balas Indra.
Rehan menatapnya tajam, bisa saja lelaki itu menendang kaki Indra sekarang. “Kamu kira saya nggak mikirin anak itu, hah? Dia anak saya, Ndra! Sudah pasti kalau itu anak saya, Kania tidak mungkin hamil bersama pria lain!”
Hening, penyesalan masa lalu itu kembali hadir dan sialnya membuat Rehan merasa bodoh sekali. Ia mengerang kesal pada dirinya sendiri, seandainya saja waktu itu dirinya lebih sabar dan sadar, tentu ia dan Kania berhasil menciptakan keluarga kecil yang penuh cinta.
“Dia bahkan memberi nama anak itu sebagian dari namaku, Ndra.” Rehan menyatukan kedua tangannya, menunduk. “Bodohnya aku!” sesalnya.
Semalaman Indra berada di rumah bosnya itu, ia merasa cemas kalau Rehan dibiarkan sendiri, apalagi kalau sampai Karin datang dan menyulut amarah dengan masalah baru. Membayangkan saja, Indra merasa kesal sendiri, bagaimana bisa ada wanita seperti itu. Sudah mendapatkan cinta yang besar, tetapi justru tidak puas dan kerap membuat masalah, padahal untuk menikahinya dulu Rehan harus melukai wanita lain yang tulus padanya.
“Pastikan nyonya Karin tidak pulang dalam pekan ini!” kata Indra pada orangnya yang mengawasi Karin, sebab Rehan baru saja menduduki jabatan baru dan sangat amat berisiko kalau mendadak ada masalah besar yang bisa mengancam posisinya.
[Baik, Pak.]
***
Kesempatan, Rehan akan memohon itu pada Kania. Setelah kegiatan panjang hari itu selesai, Rehan menunggu Kania di pangkal ojek biasanya tak jauh dari kantor karena tidak mungkin menemui Kania di kantor atau memanggil wanita itu ke ruangannya yang bisa menimbulkan masalah baru atau kecurigaan.
Kania mendengus melihat Rehan yang tak memakai jasnya duduk di bangku dekat pangkalan.
“Mau apa di sini?” tanya Kania menahan kesal, hari-harinya terasa berat sekarang.
Rehan mendongak, ia menaikkan topi hitamnya. “Kita harus bicara, Kania,” katanya.
“Bicara soal apa?” Kania tampak tidak suka, ia benar-benar menjaga jarak.
“Arkana,” jawab Rehan lantas menahan kedua lengan Kania supaya tak menjauh darinya. “Saya tau ini sangat konyol dan tidak pantas, tapi tolong beri saya kesempatan, Kania. Bagaimanapun juga Arka itu anak saya, kan?”
Kania melengos. “Setelah yang kamu lakukan dulu, sekarang masih bisa menganggap Arka anak, Pak?”
“Kania─”
“Apa karena sekarang anda dan istri belum mempunyai anak, jadi kehadiran Arka itu penting?” Kania berdecih, menepis tangan Rehan meskipun pria itu menggelengkan kepalanya. “Kalau dulu anda menjadikan saya alat untuk kepentingan anda, saya masih bisa menerima itu. Tapi, jangan harap anda bisa menjadikan anak saya alat untuk ego anda juga, Pak! Saya nggak akan membiarkan itu terjadi!”
Rehan lantas berdiri, ia tak bermaksud seperti itu pada Arkana dan Kania. Namun, kesalahpahaman yang terjadi memang tak bisa diluruskan dengan mudah, apalagi jejak keburukannya nyata dan Rehan mengakui hal itu.
Kania menolaknya, ia tidak mau Arkana terlibat masalah besar dengan keluarga Rehan, terutama istri lelaki itu. Walaupun dulu Karin tidak terlalu mengenal Kania, tetapi ia merasa wajib membentengi diri.
“Kania, saya janji tidak akan menyakiti anak kita!” kata Rehan berjanji.
“Jangan sebut dia anakmu!” tegas Kania mengkoreksi pengakuan Rehan. “Aku mengandungnya sendiri dan melahirkannya tanpa anda, susah dan sakitnya saya rasakan sendiri. Bahkan, saya harus menyembunyikan kehamilan saya karena takut anda menghabisi semua!” Kania tampak sangat terluka.
Tangis wanita itu tak tertahankan lagi, begitu juga Rehan yang merasa sangat bodoh lagi gagal sebagai seorang pria dan ayah. Lelaki itu mengulurkan tangannya ke lengan Kania, memintanya duduk lebih dulu supaya mereka bisa lebih tenang berbicara. Kania yang letih pun patuh dengan gelengan lemahnya.
“Tolong, jangan ambil Arka! Dia satu-satunya alasanku masih bisa bertahan hidup di dunia ini, setelah kau tinggalkan, Kak!” pinta Kania di tengah isakannya, ia memohon. “Cukup kau sudah tau ada Arka di sini, jauhi dia demi kebaikan! Urus saja istrimu, biar Arka menjadi urusanku!”
Rehan mengendurkan cengkraman di lengan Kania. Ya, Karin akan sulit menerima Arka, tetapi bisakah dirinya mengabaikan itu?