Bab 8. Siapa Arka?

1084 Words
“Kania, jangan keras kepala!” Rehan mencekal pergelangan tangan kanan Kania yang hendak berlari dari hadapannya. “Hujan deras dan nggak akan ada ojek yang mau!” Kania mendengus sambil menarik tangannya. “Bukan urusan anda, Pak! Jangan ikut campur!” Rehan memejamkan matanya, suara petir kembali memecah derasnya hujan sore itu, bersahutan tahan henti dengan angin yang mulai bergerak kencang, bahkan payung Rehan berubah terbalik dan mereka sama-sama basah. “Saya mau pulang sendiri,” kata Kania memeluk tasnya, dering ponselnya terus saja terdengar tanpa jeda, tetapi tak mungkin Kania menerimanya, ponsel itu bisa rusak. Tak menerima penolakan, lelaki itu kembali menarik tangan Kania dan memaksanya masuk mobil dengan dorongan yang sedikit lebih kuat. “Pak—” “Jalan, Ndra” titah Rehan tidak peduli, bahkan di mobil itu mereka basah kuyup dengan bibir yang langsung memucat karena dingin. “Pakai ini” “Saya nggak mau!” “Jangan keras kepala, Kania! Nanti, kamu bisa sakit!” balas Rehan menekankan perintahnya. Namun, Kania justru menjauhkan jaket yang Rehan berikan, melemparkannya ke bangku depan. Melihat itu, amarah Rehan tersulut, hampir saja ia mengumpat keras pada Kania, tetapi dering ponsel wanita itu kembali terdengar dan tampak mendesak. Kania menatap takut pada lelaki di sampingnya itu, apalagi mata Rehan memerah karena emosi. “Angkat!” titahnya. Kania bingung, sebab pasti itu adiknya yang mengabarkan kondisi terbaru Arkana. Sedangkan, tidak mungkin percakapannya yang penuh kekhawatiran disaksikan oleh Rehan. “Terima, Kania!” titah Rehan sekali lagi, tetapi kebingungan membuat Kania sulit menentukan harus apa hingga Rehan menyahut tas hitam itu dan membongkarnya untuk mendapatkan ponsel Kania. Gambar hijau itu pun Rehan geser dan menerimanya. “Pak Re—” “Ya, katakan ada apa!” Rehan menjauhkan tangan Kania dari ponsel yang menempel di telinganya. [Temannya Kania ya, tolong sampaikan Arka demam! Dia nggak mau ke kamar nunggu ibunya, cepat suruh dia pulang atau tolong antar dia pulang!] Rehan tercenung mendengarnya, sorot mata tajam lelaki itu perlahan berubah sendu, ada tanda tanya besar yang muncul di antara mereka, terutama pada dirinya dan Kania. Mobil lelaki itu sudah memecah kemacetan menuju rumah Kania tanpa menunggu perintah lanjut seolah Indra mengetahui jelas apa yang diinginkan bosnya itu. “Berikan hapeku!” kata Kania merebut ponsel dari tangan Rehan. Lelaki itu menelan salivanya. “Siapa Arka?” Kania memalingkan wajahnya. “Bukan siapa-siapa!” “Siapa Arka, Kania?” ulang Rehan sekali lagi, kali ini lebih ditekankan, bahkan tangan lelaki itu terkepal kuat. “Saya bilang bukan siapa-siapa, Pak Re. Anda—” “Kalau bukan siapa-siapa, kenapa kamu disebut ibu olehnya, hah?” potong Rehan mengubah suasana di mobil itu berubah mencekam. “Dia anak kita?” “Jangan sebut dia anakmu!” koreksi Kania tidak terima, ia pun ikut meninggikan nada bicaranya sama seperti Rehan. Rehan mendengus, ia menggeleng kecil. “Kau tidak menikah lagi, tapi mempunyai anak. Apa bisa dibilang hamil sendiri, Kania?” “Bukan urusanmu!” sahut Kania spontan membuat Rehan mendorongnya hingga terhimpit, kepala Kania menempel lekat pada kaca mobil. Rehan menunjuk wajah Kania, matanya memerah bersamaan dengan otot kecil di wajahnya yang tampak menonjol menahan emosinya yang tersulut. Sakit, kecewa, perih, lega dan semua rasa itu bercampur menjadi satu. Rehan mencengkeram ringan leher Kania, membuat wanita itu menatapnya. “Kenapa menyembunyikan ini, Kania?” tanya Rehan dengan gemeletuk di giginya. Kania menahan tangan itu. “Dia bukan anakmu, lepaskan aku!” “KANIA!” bentak Rehan, dadanya bergemuruh hebat. *** Langkah Kania jauh tertinggal saat memasuki gang rumahnya, Rehan terus berjalan sampai ke depan teras rumah wanita itu kemudian melepaskan sepatunya sembari mengetuk pintu rumah itu beberapa kali hingga terbuka dan seorang anak laki-laki berlari memeluk kakinya. Hening, semua yang di sana diam, termasuk adik dan ipar Kania yang terkejut melihat kedatangan Rehan, sosok pria jahat yang tak pernah mereka harapkan bisa bertemu dengan Arkana. Rehan menunduk, seorang anak laki-laki tengah memeluk kakinya kuat dan tampak ada selang melingkar ke belakang kepalanya. “Minggir!” usir Adam menarik Arkana supaya melepaskan kaki Rehan, ia menatap benci lelaki berjas gelap itu dan menyembunyikan Arkana ke balik kakinya. “San, bawa ke dalam!” Sandra langsung menggendong Arkana ke kamar, melihat itu Rehan ingin memaksa masuk, tetapi sebuah pukulan justru mendarat panas di wajahnya dari Adam. “Adam!” teriak Kania berusaha melerai keduanya. “Adam, berhenti!” Sengaja Adam menulikan telinganya, ia sudah terlalu muak dan menahan diri melihat kakaknya dipermainkan, setelah dimanfaatkan kemudian diusir dan dibuang begitu saja, sedangkan mereka yang lemah seolah tertindas tak bisa berbuat apa-apa. “Pak Indra, tolong!” pinta Kania. Indra melemparkan payungnya, lalu menarik Rehan dan memisahkan dua lelaki yang tengah saling adu pukul itu. Dengan sekali pukulan telak di bahu belakang, Indra berhasil memukul mundur Adam dan membuat lelaki itu duduk lemah. “Adam!” Kania berlari menghampiri adiknya. Adam mendengus, tangannya menunjuk wajah Rehan. “Suruh dia pergi dari sini, Mbak!” Kania menoleh menatap Rehan dan Indra. “Tolong, pergilah dari sini!” pintanya mengiba, air matanya pun mengucur tak tertahankan. Rehan hendak menolaknya dan kembali maju untuk memastikan kondisi bocah tampan tadi. Akan tetapi, Indra lebih dulu menahannya dan menggelengkan kepala, situasi sedang panas, kalau terlalu memaksa yang ada Arkana juga akan membenci Rehan karena dianggap telah melukai ibu dan pamannya. Setelah Indra berhasil membawa Rehan pergi, Kania memeluk adiknya sambil terisak-isak, hujan hari itu menjadi saksi betapa sakitnya masa lalu kembali dirasakan dan lebih kuat. Adam mengusap punggung Kania supaya kakaknya itu tenang, lalu mengajaknya masuk supaya segera berganti baju dan tidak sakit. “Dia anakku, Ndra!” kata Rehan menggebu di mobil, ia hampir kehilangan akalnya tadi. Indra mengangguk. “Saya memahami perasaan anda, Pak. Tapi, ini pertama kali anda bertemu dengan anak itu, saya khawatir dia membenci anda karena pertengkaran tadi,” jelasnya. Rehan memukul bahu kursi kemudi itu kuat-kuat, melampiaskan kecewa dan ketidakberdayaannya sebagai seorang ayah untuk anaknya sendiri. Ia pun menutup wajahnya yang berubah basah karena air mata, bodohnya setelah hari itu ia tak mempunyai perasaan apa pun akan kehadiran darah dagingnya sendiri. “Bodoh! Licik! b******k!” umpatnya untuk diri sendiri. Indra kembali melajukan mobilnya, lebih baik mengantar Rehan pulang dulu daripada lelaki itu kembali nekat turun dan menemui Kania untuk memaksa bertemu Arkana. Sementara itu, di rumah kecil tadi. Adam meminta Kania segera ke luar dari pekerjaannya. “Dam, Mbak mau kerja di mana lagi buat pengobatan Arka?” Kania tidak mau juga merepotkan ekonomi adiknya yang sudah berumah tangga. “Jadi, Mbak lebih milih laki-laki b******k itu rebut Arka dari kita?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD