Bab 7. Tak Ada Pilihan

1112 Words
Kania tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti permintaan Rehan tadi, setelah keluar dari ruangan mantan suaminya itu Kania langsung menuju ruang kerjanya hanya untuk menyimpan tas kemudian berlari ke toilet karyawan lantai 5 sambil menepuk mulutnya beberapa kali. “Gimana bisa aku manggil dia gitu lagi, hah! Sadar, Kania! Dia sudah beristri dan hubungan kalian kandas!” kata Kania sambil membasuh wajahnya. Namun, semakin basah wajah Kania semakin jelas bagaimana ekspresi Rehan saat mendengar dirinya memanggil dengan sebutan, “kakak”. Kania mundur menyandarkan punggungnya pada dinding toilet itu, ia menggelengkan kepalanya, sesuatu yang berbahaya bisa saja terjadi kalau dirinya tidak mampu mengendalikan diri meskipun bisa melihat dekat Rehan seperti tadi merupakan bagian dari mimpinya yang terpaksa dikubur. Ah, persetan dengan cinta yang nyatanya masih bertahta di hati Kania, lelaki itu telah membuangnya dulu, jadi tak seharusnya ia berbelas kasih, apalagi ada Arkana yang harus ia jaga. Kania kembali menyadarkan dirinya. “Nia, astaga!” tegur Anggar dengan ekspresi lega, akhirnya menemukan Kania juga. “Ada apa?” tanya Kania seolah tak terjadi apa pun, padahal ingin sekali pulang sekarang. “Berkas apa ini?” Anggar membuka sedikit. “Laporan yang ketinggalan kemarin, kamu ‘kan nggak masuk, jadi sekarang kamu aja yang ke atas ya, Nia. Aku ampun-ampun kalau ke ruangan pak Rehan, direktur baru itu ketusnya minta ampun!” jelasnya. Kedua alis Kania terangkat bersamaan, wanita itu kaget setengah mati, baru saja berhasil lolos dan keluar dari sana, sekarang harus kembali lagi. “Tapi, Nggar. Ini—” “Eh, kemarin kamu udah dibantu loh, Nia! Ayo, gantian!” potong Anggar langsung berputar dan meninggalkan Kania. Wanita itu mendengus, bagaimana bisa dirinya tampil lagi di depan Rehan, setelah pertemuan tadi yang memalukan. Kania tidak membayangkan kalau nanti Rehan memintanya mengulang seperti tadi, sedangkan dirinya tidak berkutik. Jujur, Kania ingin marah, sialnya Rehan itu atasan di kantornya. Keras pada Rehan bisa saja mengancam posisinya sendiri. Kania meremat sisi berkas itu, mau tak mau demi mencukupi segala kebutuhan yang ada dan anaknya, ia harus tampil kuat meskipun rasanya ingin kabur dan mati. “Nona Kania,” lirih Indra begitu membuka pintu, kebetulan memang dua lelaki itu sedang mengobrol penting di dalam. Kania mengangguk sambil mengangkat berkas di tangannya. “Silakan masuk!” kata Indra membuka pintu itu sedikit lebih lebar. “Pak Re, ada pelaporan dari divisi pemasaran,” tambahnya. Rehan hanya bergumam, tatapan lelaki itu fokus pada benda pipih di tangannya dengan kacamata melorot sampai pada ujung hidung. Indra meminta Kania maju, sedangkan dirinya mengambil duduk di bangku paling ujung ruangan itu. “Laporan apa?” tanya Rehan masih fokus pada ponselnya. Kania menoleh pada Indra, tetapi sekretaris itu tampak sibuk sendiri, ia pun menghembuskan nafas pasrah. “Pak Re.” Rehan mendongak mengenali suara itu, pun melepaskan kacamatanya. “Kania,” ucapnya. Kania mengangguk, ia menunjukkan berkas di tangannya, lalu meletakkan ke meja Rehan sambil menggesernya sedikit. Entah karena apa, Rehan tersenyum pada Kania. Bahkan, mata lelaki itu seperti ada sinarnya seolah menemukan intan berlian. “Saya akan menunggu revisi dari anda, Pak. Mohon diperiksa dan terima kasih, saya permisi,” katanya tidak tahan. Rehan menjentikkan bolpoin di tangannya. “Tunggu saja, nggak akan lama!” kata Rehan. Entah kenapa itu terdengar menyebalkan di telinga Kania, Rehan seperti tengah memanfaatkan kelemahannya untuk tetap dekat dan mengintimidasi. Kania memang tidak berdaya, tetapi ia mempunyai batas untuk lelaki di depannya itu. “Duduk, Kania!” titah Rehan sambil menyingkirkan ponselnya. “Baik, terima kasih.” Kania menoleh pada Indra sebelum duduk, sekretarisnya itu kompak sekali dengan bosnya, tetapi dirinya ingin meminta bantuan. Rehan mengambil berkas itu, membukanya lembar demi lembar sembari beberapa kali mencuri pandang. Kania seperti obat untuk dirinya yang kehausan di gurun pasir. Seandainya saja, waktu itu dirinya bersabar dan mau mendengarkan Kania, mungkin sekarang wanita di depannya itu akan tersenyum riang dan berlari memeluknya. “Pak Re!” Rehan mengerjap tersadar. “Ah, ya?” Kania menunjuk berkas lewat lirikannya. “Sobek,” katanya. Rehan menunduk, matanya melebar sempurna. Bagaimana bisa dirinya melamun dan sebodoh itu? Astaga! “Maaf, Kania. Tunggu, biar Indra perbaiki!” Rehan memanggil sekretarisnya. “Perbaiki ini, cepat!” Indra mengangguk, ia pun menoleh pada Kania, wajah wanita itu tampak masam, sebab lagi dan lagi Indra hanya akan meninggalkan mereka berduaan. *** Hujan sore itu menciptakan kebencian pada diri Kania untuk pertama kalinya, kalau kemarin dirinya bisa saja berjalan di bawah hujan sampai rumah, sedangkan sekarang segala gerak-geriknya seakan berada di bawah pengawasan. “Aku nggak seharusnya kepedean kalau bakal diawasi sama dia, kan?” Kania menekan keningnya. “Dia sudah punya istri, pikirannya pasti ke perempuan idamannya itu. Ngapain juga aku kepikiran!” Setelah berdamai dengan dirinya sendiri, Kania berjalan ke depan lobi, semua karyawan yang hendak pulang memilih berteduh dulu di dalam, tetapi Kania tidak. Dirinya harus pulang tepat waktu, apalagi tidak ada lembur hari itu, sebab Arkana pasti menunggunya. Adam: Mbak, di sini hujan deras. Arka nggak mau ke kamar, mau di ruang tamu aja nunggu kamu. Kania tersenyum membaca pesan itu, lagipula untuk apa memikirkan Rehan, ada anaknya yang rela menunggu, jadi tak masalah kalau harus hujan-hujanan. Kania: Iya, tunggu ya! Kania menyimpan ponselnya, lalu menaikkan jaketnya menutupi tas dan kepala kemudian berjalan ke luar. “Dia hujan-hujanan?” Rehan bergumam dengan nada emosinya. Indra ikut menoleh, ternyata bosnya melihat Kania pulang tanpa peduli hujan deras dan petir yang menyambar bergantian. “Ndra, ikuti dia!” titahnya. “Anda yakin, Pak?” Indra memastikan lebih dulu, sebab tadi siang Indra mendapati Kania sebal sekali dengan Rehan dan kalau lelaki itu ke rumah Kania maka sesuatu bisa saja meledak di sana. “Maksudmu?” Rehan menajamkan tatapannya, kaki laki-laki itu sudah siap sekali menendang kursi kemudi. “Saya hanya khawatir nona Kania semakin tidak nyaman dengan sikap anda, Pak Re,” jawab Indra lantas menurunkan ego meninggi Rehan. Tidak salah, tetapi rasanya tidak bisa langsung Rehan benarkan. Ia khawatir pada Kania meskipun kekhawatirannya itu terlambat dengan status mereka yang berbeda sekarang. Petir mulai menyambar lagi, suaranya lebih keras dan hujan pun kian deras. Indra meremat kemudinya, dilema justru menyerang lelaki itu sehingga kemudi membawa keduanya menyusuri jalan arah Kania pulang. “Hujan deras sekali, Pak,” kata Indra lantas membuat Rehan paham, sekretarisnya itu berubah pikiran. Rehan menepuk bahu Indra. “Thanks, Ndra! Kamu sangat mengutamakan perempuan,” katanya. Bukan, bukan itu yang Indra pertimbangkan, melainkan anak kecil yang menunggu Kania, suatu alasan yang mungkin menjadi alasan utama Kania nekat pulang hujan-hujan, Indra pun tak sampai hati mengingatnya dan semoga pilihannya tak salah. Rehan mengambil payung dan ke luar mobil, ia menghampiri Kania yang berteduh sejenak di depan warung makan tepi jalan. “Ikut saya!” katanya menurunkan payung menutupi Kania.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD