Tatapan Indra tak beralih sedikit pun dari bocah laki-laki yang tadi memeluk kaki Kania, walaupun baru pertama bertemu dan ada selang oksigen di hidungnya tak membuat lelaki itu salah mengenali wajah tampannya yang khas.
Kania meremat jemarinya. “D-dia anak adik saya,” katanya.
Indra mengalihkan tatapannya kemudian mengangguk, pengakuan Kania tampaknya tak mengubah kesimpulan yang Indra simpan di benaknya soal Arkana karena ia bisa melihat Rehan versi kecil di depan mata.
“Dia terbiasa dekat sampai memanggilku begitu, Pak,” katanya lagi, sedangkan Rehan diam saja, tetapi Kania justru semakin panik. “Pak Indra, saya sudah merasa lebih baik, jadi rasanya cukup dengan asuransi yang ada, semua bisa diklaim. Saya—”
“Nona Kania, siapa namanya?” Indra memotong sembari menunjuk Arkana yang tengah bermain lewat ekor matanya.
Kania menoleh ikut melihat anaknya. “Ar-Arkana,” jawabnya gugup.
Indra mengangguk kemudian berdiri, melihat itu Kania spontan ikut berdiri dengan kedua kaki gemetaran. Perasaannya kacau dan takut luar biasa kalau sampai Indra mendekati anaknya juga menanyakan banyak hal. Indra bergerak sedikit saja, Kania langsung mengambil tindakan. Beruntung, lelaki itu hanya menyapa Arkana dari jauh sebelum berpamitan.
“Ibuk, siapa tadi?” tanya Arkana melangkah kecil ke Kania.
“Teman kerja, Ibuk. Ayo, ke kamar lagi!” jawab Kania lantas menggendong putranya itu.
Kania mendekap Arkana cukup erat sambil menciumi kening putranya itu, usai mengakui Arkana sebagai anak dari adiknya, Kania merasa bersalah sekali pada anaknya itu, kalau saja Arkana sudah memahami banyak kalimat, pasti anak itu sakit hati.
Tubuhnya gemetaran, semoga saja Indra tak membahas hal tadi bersama Rehan.
“Ibuk, mau peluk!”
“Iya, Sayang. Ibuk peluk Arka sampai puas, sini, Nak!” kata Kania sambil menyeka air matanya yang menetes diam-diam saat menggendong Arkana tadi karena rasa bersalahnya. “Udah enakan ya, hem? Sehat ya anak Ibuk!”
Arkana mengangguk, melihat bola mata jernih itu sialnya Kania kembali ingin menangis. Ia terus meminta maaf atas ucapan dan segala kekurangannya untuk Arkana.
Sementara itu, fakta lain yang Indra dapatkan di tengah keributan senyap rumah tangga atasannya itu, ternyata ada anak kecil yang menjadi korban atas keegoisan para orang tua. Bahkan, statusnya disembunyikan. Pria itu dilema, mau membantu menjaga keutuhan rumah tangga Rehan yang sangat amat berdampak tinggi pada perusahaan, tetapi risikonya mengabaikan nasib anak kecil atau mengatakan semua, sedangkan kehancuran di depan mata.
[Ndra, sudah ada info? Dia sakit apa?]
Indra menghidupkan mesin mobilnya kemudian melaju. “Gejala tipes, Pak,” jawabnya asal.
[Ya Tuhan, sekarang bagaimana?]
“Nona Kania aman di rumah karena ada keluarga adiknya, Pak. Anda jangan cemas!”
Maaf, Indra rasa belum saatnya atau mungkin bukan haknya membuka semua tanpa persetujuan Kania yang bisa saja terancam kalau fakta itu diketahui Rehan sekarang.
“Saya akan mengkonfirmasi beliau soal cuti tambahan, Pak. Baik!” Indra mengakhiri panggilan itu.
Masalah itu bukan hal sepele, apalagi tadi Indra melihat ada selang oksigen dan beberapa persediaan tabung oksigen di rumah.
“Sakit apa dia?” gumamnya bertanya-tanya.
***
Memang sudah diberikan hak cuti tambahan, tetapi Kania yang merasa dirinya baik-baik saja dan tak mau mengganggu jadwal cuti rutinnya memutuskan untuk masuk saja, lagipula ada ipar yang membantu menjaga Arkana di rumah.
Kania bergabung dengan dua karyawan lain yang hendak naik lift, ia memeluk tasnya sembari membalas sapaan yang lain. Akan tetapi, saat wanita itu menoleh ke kiri, kedua sudut bibirnya spontan kaku. Seorang pria berjas abu-abu menatapnya dengan sebelah alis terangkat.
“Mati aku!” Kania langsung memutar tubuhnya dan berlari kecil menyusul yang lain masuk ke lift.
Tak mau ketinggalan kabar mantan istrinya itu, Rehan mengejutkan Indra dengan beralih melangkah lebar memasuki lift karyawan dan berdiri tepat di depan Kania.
“Pagi, Pak Re!”
“Ya, pagi.” Rehan membalas singkat, tetapi ramah. Ia melirik kecil wanita di belakangnya, lalu kembali fokus menunggu.
Di lantai tiga, dua orang lainnya sudah turun, lalu di lantai empat hanya tersisa mereka bertiga. Indra yang mengerti isyarat dari bosnya itu pun langsung turun dan membiarkan Rehan membawa Kania langsung ke ruangannya.
Kania yang terkejut tak sempat menolak, tubuhnya didorong berpindah lift pada lantai yang sepi hingga berdua saja bersama Rehan sampai pada lantai paling atas. Mereka pun turun langsung di ruangan Rehan.
“Pak Re!” Kania berusaha melepaskan tangannya.
Rehan tak bergeming, lelaki itu membawa Kania duduk ke sofa panjangnya kemudian menempelkan punggung tangannya ke kening Kania.
“Pak—”
“Sudah ada cuti tambahan, kenapa tidak dipakai? Kalau masih sakit, jangan sok kuat dan nekat masuk! Perusahaan mudah saja mencari karyawan baru, jadi pikirkan kesehatan!” potong Rehan mengomel.
Kania mengerjap bingung, pasalnya bukan hanya memeriksa suhu tubuh Kania. Rehan juga memberikannya minuman hangat yang ada di meja lelaki itu.
Jahe? Rehan menyukai minuman yang dulu selalu dicemooh saat Kania membuatkannya. Ah, Kania tidak percaya itu.
“Kenapa melihat saya saja, hem? Minum, Kania!” titah Rehan menunggu, ia mau memastikan Kania meneguk jahe hangat itu.
Kania tidak menjawab, tetapi mencicipi minuman hangat itu seteguk saja kemudian menjauhkannya.
“Terima kasih, permisi, Pak!” katanya sambil beranjak.
Rehan mengangkat kedua alisnya, lelaki itu tentu saja tidak akan membiarkan Kania pergi tanpa menjawabnya. Pintu ruangan itu terkunci otomatis karena Rehan menekan tombol di remote-nya.
Kania berbalik. “Pak!”
“Saya bertanya, Kania,” katanya.
Mata Kania terpejam singkat. “Saya akan cuti kalau saya masih sakit, saya sudah baik-baik saja, nggak butuh cuti lagi. Sudah?”
Entah kenapa melihat Kania kesal, Rehan justru senang. Ternyata, wanita yang selalu mengalah dan lembut padanya itu bisa kesal juga dan enak sekali dilihat.
“Buka pintunya!” pinta Kania.
Rehan melirik remote kecil di sakunya. “Habiskan dulu jahe hangatnya, baru saya bukakan!”
Kania menganga tak percaya, tetapi demi bisa lepas dan pergi, wanita itu terpaksa mengambil dan menghabiskan minuman jahe sesuai perintah.
“Sudah, ayo buka!” Kania menyeka sudut bibirnya.
“Minuman jahe buatanmu lebih enak daripada ini,” katanya.
“Pak Re!” protes Kania merasa dipermainkan.
Rehan tak bergerak sama sekali, wanita di depannya tampak frustrasi, anehnya Rehan menikmati momen itu.
Kania menggigit bibir bawahnya, ia harus mencari cara supaya lelaki itu mau membebaskannya. Tidak mungkin memunculkan fakta tentang Arkana, Kania harus mencari alasan lain.
Dengan sangat terpaksa, Kania mengatakannya. “Kak, tolong!”
Air muka Rehan spontan berubah mendengar panggilan itu, setelah sekian lama.
“Kamu panggil saya apa, Kania?” tanyanya memastikan.
Kania mengangguk. “Kak, tolong! Aku cuman karyawan biasa di sini, Kakak mau mereka semua bikin aku terancam karena ada di sini lama?”
“Tidak,” jawab Rehan cepat. “Panggil saya dengan sebutan itu lagi, Kania!”