Bab 5. Ketahuan

1197 Words
Kania mundur beberapa langkah, kakinya sempat tidak seimbang karena terkejut melihat siapa yang ada di belakangnya. “Pak Indra?” Kania menurunkan bola matanya melihat banyak kantong berisi sayur di tangan lelaki itu. “Rumah Bapak di sekitar sini?” “Bukan rumah saya, Nona Kania. Kebetulan ada kerabat keluarga saya yang tinggal di sini. Kenapa anda kaget begitu?” Indra menoleh ke belakang seolah-olah melihat sesuatu untuk memastikan kemudian menatap Kania lagi. Wanita itu menggelengkan kepalanya, lalu mempersilakan Indra untuk jalan lebih dulu karena bagaimanapun juga Indra itu sekretaris Rehan, ia khawatir apa yang Indra lihat di rumahnya nanti akan dilaporkan pada Rehan meskipun tampaknya lelaki itu tidak mengetahui hubungan mereka di masa lalu. Setelah Indra berjalan belok ke kiri tepat pada pertigaan kecil yang ada di utara rumah Kania, wanita itu mulai kembali melanjutkan langkahnya sampai pada depan rumah, geraknya lebih cepat dan tak mengizinkan anaknya ke depan dulu, khawatir Indra melihat Arkana saat berjalan pulang. “Arka main di dalem aja ya, ke rumah om nanti dulu, oke!” katanya merayu Arkana, beruntung bocah itu patuh dan mengajak Kania ke kamar saja. Sementara itu, hampir saja Rehan ketahuan oleh Kania kalau tadi Indra tidak lebih cepat datang dan mendorongnya menjauh kemudian menggantikannya. Lelaki itu sudah berada di mobil, mencoba menenangkan diri. Tetapi, dirinya harus ketahuan dan mengaku pada Indra soal tindakan cerobohnya dua hari itu yang diam-diam mengikuti Kania-karyawan sendiri. “Kau benar ada kerabat di sana?” tanya Rehan usai sekretarisnya kembali. Indra menghela nafasnya sejenak. “Hanya mantan konsumen saya dulu,” jawabnya. Hening, tampaknya memang Rehan harus mengaku karena yang dilakukannya bukan hal kecil, apalagi Kania itu karyawan di perusahaannya, sedangkan Rehan sendiri selain sebagai atasan, statusnya patut dipertimbangkan sebagai suami orang. “Apa nona Kania adalah wanita itu?” tanya Indra pada akhirnya. Rehan menoleh. “Dari mana kamu tau?” “Maaf, Pak. Saya tidak sengaja mendengar gerutuan bu Karin tentang anda,” akunya. Ketahuan, Rehan merasa memang tak perlu dirahasiakan lagi. “Apa yang anda cari di hubungan yang sudah selesai itu?” tanya Indra karena ia harus memastikan Rehan baik-baik saja. Rehan menggelengkan kepalanya, susah untuk menjelaskan, bahkan Karin juga tidak mengetahui kenyataan sebelum perpisahan itu terjadi kalau dirinya sempat menginap di hotel bersama Kania yang mungkin menumbuhkan nyawa baru di rahim wanita itu. Sialnya, waktu itu terasa biasa saja dan penyesalan selalu datang di akhir saat dirinya merasa kacau. “Saya hanya ingin tau apa dia mengandung anak saya atau tidak,” kata Rehan sembari memijat pangkal hidungnya. “Dia mengatakan tidak, tapi rasa penasaran membawa saya ke sini dan kemarin saya melihat dia menjemur baju anak-anak, di rumahnya pun ada mainan dan sepeda kecil,” jelasnya. Mendengar itu, Indra memilih diam dulu karena semua yang dikatakan Rehan pun juga dilihatnya. Kania itu janda tanpa anak di data perusahaan, tetapi kondisi rumahnya seperti keluarga kecil yang lengkap. “Apa dia punya saudara, Pak? Ada kemungkinan itu anak saudaranya,” cetus Indra tak asal menarik kesimpulan. Rehan menipiskan bibirnya, entah kenapa hal seperti itu terpikirkan olehnya sama sekali, sedangkan sejak dulu ia mengetahui kalau Kania mempunyai adik laki-laki, bisa saja adiknya menikah dan mempunyai anak, lalu mereka tinggal di rumah yang sama karena kasihan kalau Kania harus kesepian. “Kenapa aku nggak mikir itu?” batin Rehan tersadar. *** Pagi sekali, Kania pergi ke rumah sakit bersama adiknya karena mendadak Arkana demam tinggi dan sesak nafas, sedangkan alat bantu di rumah rasanya kurang untuk menenangkan bocah itu. Terpaksa, hari itu di luar jadwal cuti bulanannya untuk mengantarkan Arkana kontrol, Kania mengajukan izin datang terlambat pada kepala bagiannya karena tak mungkin izin tidak masuk yang pasti menghapuskan jadwal cuti rutin. “Nona Kania izin terlambat hari ini, Pak.” Indra tampak langsung membungkam mulutnya. Kening Rehan mengerut, ia sudah cukup tenang kemarin karena dugaan Indra tentang anak yang ada di rumah Kania. “Maaf, saya tidak akan ikut campur dan membahasnya lagi, Pak.” Indra berjanji. Rehan tampak mengangguk, kalau memang harus seperti itu hubungan mereka dan tak bisa diperbaiki maka dirinya pun akan kembali mengambil jarak pada Kania. Lagipula, wanita itu sudah menjawab tegas kalau tak pernah hamil anak dari benihnya. Namun, nyatanya saat staf pemasaran mengirimkan data ke ruangan Rehan siang harinya, staf itu meminta maaf karena ada sedikit kendala dari salah satu admin yang izin tidak masuk hari itu. “Tidak masuk? Sakit? Sudah ada cover dari perusahaan?” tanya Rehan sembari memeriksa berkas di depannya. “Semestinya iya, Pak Re, karena Kania karyawan kontrak resmi perusahaan, bukan dari CV.,” jawab staf itu. Kania? Rehan mengangkat kepalanya menatap lurus staf itu, katakan saja kalau dirinya memutuskan menjaga jarak dan tidak peduli seperti sebelum mereka bertemu kembali juga rasa penyesalan ada di hatinya. Faktanya, ia langsung cemas saat mengetahui kalau Kania sakit, padahal tadi izin terlambat kemudian berubah menjadi izin sehari penuh. “Sakit apa dia?” tanya Rehan spontan. “Iya, Pak?” Staf itu menggaruk kepalanya, ia tak mengetahui pasti. Indra lantas mengambil alih. “Maksud Pak Rehan, pastikan penyakitnya bisa di cover asuransi perusahaan juga. Kalau tidak, minta dia mengumpulkan kwitansi dan pengajuan ganti nanti,” jelasnya. “Oh, baik, Pak. Akan saya sampaikan nanti, saya permisi!” Indra mengangguk kemudian memastikan staf itu sudah pergi dan pintu tertutup rapat. Tak lagi membahas sesuai janjinya, ia hanya menunggu tindakan apa yang akan Rehan lakukan, setidaknya Indra bisa berjaga-jaga karena jangan sampai Rehan melakukan hal yang dampaknya kurang bagus dan fatal, apalagi Karin sedang berlibur sendiri ke luar negeri sejak hari pertama Rehan menjadi direktur. “Ndra,” panggil Rehan sambil memainkan bolpoinnya, mau sekuat apa, nyatanya terus kepikiran. “Ya, Pak.” Rehan mendesah frustrasi. “Datang lagi ke kampung itu dan pastikan Kania!” titahnya. Tak ada alasan lain, tidak mungkin juga mendadak ke rumah sakit, Rehan hanya bisa mengandalkan sekretarisnya itu. “Pak—” “Hanya ingin tau sedikit saja, saya tidak akan bertindak lebih,” potong Rehan mengetahui kecemasan Indra untuk berhenti, sebab itu terlalu berbahaya untuk karir Rehan ke depannya. Indra mengangguk, sore itu juga sepulang kerja Indra beralasan seperti kemarin dan menyempatkan diri mampir ke rumah Kania. Walaupun kemarin dirinya jalan lebih dulu, tetapi dari celah gang itu Indra tentu melihat rumah mana yang Kania tuju. Wajah Kania memucat saat melihat Indra ada di depan rumah dan bertamu, bahkan wanita itu sempat diam saja, tak merespon salam dari sekretaris bosnya. “Dari mana anda tau rumah saya?” tanya Kania tersadar. Indra menunjuk rumah tetangga. “Saya bisa bertanya, Nona Kania. Oh ya, apa ada masalah serius?” “Masalah?” Kania bingung menjelaskan apa. “Anda izin tidak masuk, menurut keterangan staf lain anda sedang sakit dan berobat. Apa semuanya di cover dengan aman? Apa ada penyakit yang serius?” Indra nyaris keceplosan. “Em, iya. Maksudnya, tidak, Pak. Saya hanya sakit—” “Ibuuukk! Kok lama cih!” teriak Arkana spontan mengejutkan keduanya. Wajah Kania semakin pucat, sedangkan Indra yang tetap berwajah datar, memaksa dirinya untuk tidak terpancing dan seolah-olah tak mendengarnya. Ibuk? Suara itu kembali terdengar, tetapi bukan suara saja, melainkan Arkana berlarian ke depan dengan selang kecil yang masih melekat di hidungnya. “Ibuk, ayo!” ajaknya sambil memeluk kaki Kania.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD