Keesokan paginya Sharen yang terbiasa bangun awal itu terbangun pukul 5 pagi. Sharen segera menggosok gigi dan mengambil wudhu untuk menjalankan sholat subuh. kemudian berganti pakaian olah raga setelan celana trening pendek diatas paha namun tidak ketat dengan atasan tanpa lengan croptee dan menutupnya dengan tengtop longgar untuk jogging dan olahraga ringan di taman sekitaran komplek.
Sebelum menjalankan niatnya Sharen menghampiri ibunya yang sedang repot di dapur untuk membuat makanan beserta teman2 ARTnya. "bu.. Sharen jogging dulu ga jauh kok sekitaran komplek sini aja" pamit Sharen sambil mencium pipi ibunya. dan ibu yang masih marah pada Sharen hanya menjawab "iya" tanpa melihat dan berpesan apapun pada Sharen."hhhhaaahhh..." Sharen hanya bisa menghela nafas pasrah dengan jawaban ibunya sambil berlalu kedepan.
Sharen jogging santai sambil menikmati suasana pagi jakarta yang lumayan sejuk dan berhenti di taman lingkungan komplek. disana ada beberapa fasilitas olah raga, Sharen mencoba semua alat2 olahraga gratis itu tanpa melewatkan satu alatpun. Setelah dirasa cukup Sharen segera kembali ke rumah mami dengan berjalan santai karena sudah cukup lelah melakukan banyak aktifitas olahraga.
"Assalamu'alaikum..." ucap Sharen sambil masuk rumah besar itu.
"Walaikumsalam... mami kira kamu belum bangun sayang"
"Mami lupa ya Sharen biasa bangun pagi2 buta"
"heeemmmm.. ya sudah sana buruan mandi bau acem kamu abis olahraga"
"Mami iiihhh... biar penuh keringat gini Sharen ga BB miii..."
"hahahhahaaa... iya iyaa sayang.. mami becanda kok" kata mami sambil peluk dan cium pipi kanan Sharen.
"mamiiii... udaaaahh.. ga marah kan sama Sharen?" tanya Sharen terbata takut mami kembali marah padanya.
"ga sayang... papi bener harusnya mami bangga punya anak hebat pemberani dan ga manja kayak kamu. asal jangan diulangi lagi yaaa nak... besok2 kalau mau kesini lagi sendirian boleh tapi harus naik pesawat dan kasih kabar dulu sama ibu, mami/papi! okeh?? bisakan sayang seperti itu? biar kami semua tenang. seberani dan semandiri apapun kamu,, sebesar dan sedewasa apapun kamu,, kamu tetap seorang anak yang mesti dilindungi orang tuanya. Apalagi kamu anak perempuan tanggung jawab kami belum bisa berhenti sebelum kamu menikah. ditambah kamu secantik ini sayang,,, siapa yang ga khawatir kalau kamu pergi jauh sendirian. Pasti banyak yang suka kamu yang mau jahatin kamu diluaran sana. karena itu kemarin ibu marah besar sama kamu, mami juga tapi mami tahan kasian kamu kalau semua marahin kamu. jadi mami hanya bisa membuat ekspresi marah saja, biar kamu ga merasa ada yang bela. eeehhh papi muncul malah bilang kamu hebat. capedeh mami" tepok jidat mami mengakhiri nasehat panjang lebar untuk Sharen.
Sharen yang masih ada dalam pelukan mami tersenyum senang karena mami sudah ga marah lagi "makasih yaaa mami cantik kuh sayaaaang..." sambil cipika cipiki ke mami Anis.
"iyaaa sayang.. untungnya aja kemarin kamu naik kereta yang exclusiv jadi aman perjalanannya. coba naik yang ekonomi,, udah mami kurung kamu ga mami kasih keluar kamar selama disini"
Sharen bergidik ngeri mendengar ancaman mami untuknya. sambil cengar cengir Sharen berkata "hihihiii... Sharen masih punya takut lhaaa mii.. kalau naik kereta ekonomi sendirian..."
"Sudah ngerti kamu sekarang..?!" tanya ibu menyahut dari arah belakang menghampiri mereka "kenapa kami bisa semarah itu kemarin?!" itu karena kami kelewat sayangnya sama kamu Sharen. Untungnya ayah telp ibu menjelaskan kalau kamu naik kereta exclusiv, ibu jadi lega"
Sharen beranjak dari pelukan mami berpindah ke pelukan ibunya "enggeh ibu sayang... maturnuwun pangapuntenipun nggeh... janjipun mboten maleh2" Ibu memeluk erat penuh sayang pada Sharen "janji lhooo yooo orah dibaleni maneh, kowe iku cah wedok ayu pisan rupane, mesti noh ibu kwuatire orah umum nganti emosi koyok wingi kae" mami Anispun ikut memeluk Sharen dan bu Artin bersamaan. dan adegan mesrah itu diamati oleh papi yang hendak minta sarapan pada mami.
"ehhheeemmm... jadi papi ga dipeluk nih mentang2 mami dan ibunya sudah ga marah lagi..." kata papi mengagetkan 3 wanita yang sedang berpelukan itu. mendengar hal itu Sharen melepas pelukan 2 ibunya dan bergegas menghampiri papinya "ooohhh jadi ada yang cemburu nih... ga Sharen peluk?"
"Lhooo kan memang papi belum kangen2an sama kamu naaakkk" Sharen langsung berhambur kepelukan papinya "iyaaa papi Sharen juga kangen banget sama papi...Trus kalau papi kangen,, mau ajak Sharen liburan kemana kali ini...??" tanya Sharen sambil menggoda papinya.
"hahahahahaaaa... ternyata kamu tetap saja ada maunya kalau peluk2 papi gini"
"hihihiiii... lha kan papi yang bilang mau kangen2an sama Sharen,, yaaa udah sekalian aja Sharen minta liburan sama papi"
"okeh karena kamu disini cukup lama,, biar papi kosongkan jadwal dulu yaaa.. baru nanti kita liburan bareng.. mau?"
"hoorrreee... mau banget lha piii.. makasih ya pii.. muach muach"
"akhirnya papi dapat cium juga dari anak gadis papi" kata papi bahagia melihat kelakuan Sharen yang kegirangan mendengar janji liburan keluarga, dan Sharen hanya cengar cengir saja sebelum akhirnya dia bertanya pada ibu apa ada yang bisa dibantu di dapur
"bu... masak sampun rampung dereng? Sharen bantu nggeh?" ibu menggeleng kemudian berkata "orah usah ndhuk.. wes rampung kabeh penggaweane, kowe adus wae kono... kok yo orah isin bar ngolahrogo banjur rangkul2 mami papi orah adus disik.. mambu to ndhuk..."
"iiiibuuuuu... Sharen kae orah kecut bu ambune masio sugih keringet ngene..."
kata2 Sharen membuat semua orang tuanya tertawa bersama
"malah ngguyu kabeh kih piye toh jane??? seneng men marai Sharen isin!! ucap Sharen berlalu menunju kamarnya untuk mandi tak lupa menghentakkan kakinya tanda Sharen lagi sebel. dan para orang tua itu semakin lebar saja tertawa melihat kelakuan Sharen seperti itu yang membuat mereka rindu, marah2 dengan kalimat bahasa jawa sambil bibirnya monyong2.
Sampai kamar Sharen yang merasa gerah karena marah2 itu memilih ngadem di balkon kamarnya yang nyambung jadi 1 dengan balkon kamar Mas Sadam anak laki2 papi mami. seketika Sharen ingat bahwa dari semalam Sharen belum melihat makhluk itu. Sharen rindu dan penasaran juga bagaimana rupa mas Sadam sekarang. Karena semenjak Sharen kelas 7 SMP belum pernah ketemu mas Sadam sama sekali, sebab ibu Sharen yang lebih sering pulang ke Jogja bersama mami papi dan Numnum yang sengaja ke Jogja karena Ayah Sharen kembali jatuh sakit. Dan Mas Sadam tidak pernah mau ikut ke Jogja.
"hahahaaa... gimana ya sekarang wajahnya si dudi dudi dam dam itu?? sekarang berarti dia udah mau kelas 12 dong ya.. secara selisih umur kita 2th" Sharen bermonolog sendiri kemudian mengingat lagu yang sering dinyanyikannya bersama Numnum waktu kecil untuk menggoda si Sadam.
"Dudi dudi dam dam dudi dudi dam... dudi dudi dam dam dudi dudi dam" tanpa disadari ada yang melihatnya sedang bernyanyi dan melenggak lenggok layaknya penyanyi sedang konser diatas panggung, dari pintu kaca balkon kamar sebelah Sadam tersenyum memperhatikan perempuan cantik itu.
"ehheeemmm..." deheman Sadam mengagetkan Sharen yang sedang berlakon konser itu. Sharen menoleh kekanan melihat siapa yang mengganggunya konser itu. Seketika pandangan mereka bertemu dan hening untuk beberapa saat karena mereka sama2 saling mengagumi satu sama lain. Sadam melihat Sharen lebih dekat dengan penampilan masih dengan kostum olahraganya yang cukup minim itu terkesan seksi sehat segar dan bugar tanpa melupakan wajah Sharen yang manis itu. Sharenpun memperhatikan Sadam yang masih baru bangun dengan rambut acak2an itu juga terlihat lebih tampan seksi dan manis dalam bersamaan.