03. Solace ❀

1529 Words
*Happy-Reading* Tidak ada manusia di dunia ini yang mengenal nama Persephone. Baik para penyair, pendeta kuil, hingga mereka yang memuja di perayaan Thesmophoria. Thesmophoriazusae  hanya mendewakan nama Demeter. Sementara ia disebut-sebut sebagai Kore, julukan yang berarti "gadis muda". Persephone tahu benar, baik festival maupun persembahan di sana diperuntukkan semata-sama untuk ibunya. Tak jarang, di pesta yang penuh bunga dan buah tersebut Persephone merasa terkucil. Persephone harus senantiasa mempertahankan senyum, demi permintaan Demeter agar bumi terlihat cerah. Sekalipun di dalam hatinya ada badai berkecamuk. Selama ini Persephone pun lelah membohongi diri. Ia sadar, sekeras apapun ia berlatih, semua keajaiban yang tercipta hanya karena kekuatan ibunya. Persephone tahu, tanpa kalung yang menghubungkan mereka, ia bukanlah apa-apa. Pada hakikatnya, bumi dan seluruh isinya hanya bergantung pada Demeter sementara dirinya tak lebih dari dewi minor yang tidak layak dipuja manusia. Harapan Persephone sebenarnya tidak terlalu muluk. Persephone bukan ingin mendengar orang-orang melangitkan namanya, seperti Apollo yang disembah para orakel, Artemis yang dilayani oleh para gadis remaja di kuil, serta Athena yang namanya diabadikan untuk sebuah kota. Jauh daripada itu, Persephone hanya ingin keberadaannya diakui. Persephone ingin berinteraksi dengan dewa-dewi lain meski sebagai dewi minor. Persephone ingin bebas, tidak terpenjara di padang Sisilia yang indah, tetapi sunyi dan menjenuhkan. Persephone ingin keluar berjalan-jalan, menjelajahi sudut mana pun di bumi ini. Bahkan di dunia bawah sekalipun tidak masalah. Akan tetapi, saat Persephone melayangkan pandangan ke luar jendela, satu ketakutan besar seketika membayangi. Suara retak batang pohon yang rebah karena ulahnya terdengar seperti jeritan menyayat hati. Kelopak bunga yang selalu merekah di kepala Persephone semakin sayu, menyadari  cepat atau lambat, kejadian-kejadian tidak disengaja seperti tadi bisa terulang kapan saja. Capat atau lambat, rahasianya akan terungkap. Setitik air mata kembali melintas di pipi Persephone. Apa memang hidupnya ditakdirkan untuk tinggal di padang Sisilia dan kesepian selamanya? “Persephone ….” Sebuah bisikan yang merambat di udara diiringi kilauan debu menyapa telinga Persephone. Lekas, ia menghapus air mata dan melangkah menuju jendela. “Hecate?” seru Persephone. Dugaannya tidak meleset saat mendapati dewi berpenampilan ala gothic tersebut melambaikan jari. Namun, kali ini ia tidak sendiri. Seekor anjing hitam berjaga di sebelah kakinya. “Furvus!” Persephone mengembangkan senyum lalu bergegas menuruni tangga. Sulur mawar berduri yang merintangi pintu kastilnya menyusut, membuka jalan. Hecate menepuk kepala anjingnya yang menyambut Persephone dengan segera. Furvus bukan tipikal anjing betina yang jinak, sering kali ia menyalak pada arwah penasaran yang membandel, tak jarang pula pada Hermes saat mereka mendebatkan jadwal shift untuk berjaga di kuburan. Namun, tidak pada Persephone. Anjingnya itu mendadak jinak. Seperti sekarang, saat Furvus bergelung manja di pelukan Persephone. “Dia lebih terlihat seperti peliharaanmu dibanding aku.”  Hecate mendengkus. Persephone mendongak pada Hecate yang menghempaskan diri di sebelahnya. “Maaf.” “Kenapa minta maaf?” Hecate melipat tangan di depan d**a, jengah mendengar Persephone yang selalu merendahkan diri. Sebagai putri satu dari enam dewa pendahulu Olympus, Persephone semestinya bisa mengangkat dagu. Persephone berpikir sejenak kemudian berujar ragu. “Karena … Furvus?” Purvus yang merasa namanya disebut mendongak sebentar, sebelum kembali merebahkan kepala di pangkuan Persephone. Sementara Hecate menghela napas. Satu hal yang ia dapati dalam diri Persephone adalah perasaan mawas yang berlebihan. Barangkali karena Demeter terlalu membatasi putrinya, Persephone sangat hati-hati dalam bersikap. Persephone terlalu menjaga perasaan orang lain, bila tidak boleh disebut terlalu penakut. “Jangan sungkan begitu, Persephone.” Hecate mengamati kelopak bunga yang melingkar di kepala Persephone sebelum melanjutkan, “Aku sengaja membawa Furvus untuk menghiburmu.” “Menghiburku?” Persephone menoleh cepat. Hecate mengangguk kecil. Ia tahu persis apa yang terjadi di padang bunga tersebut pagi tadi. Sebab itulah ia berinisiatif mengunjungi Persephone dengan membawa serta Furvus. Namun, jangan salahkan dirinya yang tidak bisa berbasa-basi dan memperhalus kata. “Apa Hermes bercerita?” Persephone menyentuh pangkal rerumputan dengan ujung jari, tetapi sedetik kemudian ia lantas mengepalkan tangan. Teringat batang kayu yang sukses dibuatnya hancur membuat ia masih sedikit sangsi. “Ya. Katanya dia dan Apollo membuat keributan.” Hecate mengibaskan tangan, berusaha mencari kalimat yang tidak menyingggung. “Jangan salah paham. Hermes hanya mengkhawatirkamu. Dia meminta bantuanku untuk menyampaikan permintaan maaf.” Hecate kemudian melanjutkan cerita pertemuannya dengan Hermes saat berganti shift di pintu gerbang Underworld. Hermes yang memandu arwah untuk menyeberangi sungai terlihat tidak fokus, berulang kali Hecate mendapatinya termenung, seperti sedang memikirkan sesuatu. Bermula dari situ, Hecate yang tidak tahan untuk tidak bertanya kemudian memancingnya bercerita. Dari penuturan Hecate, Persephone bisa menangkap bilamana Hermes tidak membeberkan rahasia tentang kekuataannya. Hal tersebut membuat Persephone semakin merasa bersalah sebab telah mengabaikan Hermes dan Apollo dan mengusir mereka secara tidak langsung dengan mengunci pintu. Padahal sejatinya, keduanya tidak melakukan kesalahan. Bahkan Hermes bersedia membereskan kekacauan yang terjadi dan Apollo memanipulasi ingatan para Nimfa tanpa diminta. “Bukan salah mereka,” kata Persephone setengah berbisik, tetapi terdengar jelas oleh Hecate di sebelahnya.  “Aku tidak tahu masalah apa yang terjadi, Persephone. Ya, Hermes dan Apollo memang tidak pernah akur barang sekali.” Hecate tartawa canggung, berharap Persephone tidak curiga, kemudian merangkul dewi musim semi tersebut. “Tapi bila kau merasa demikian, kurasa itu artinya kau memaafkan mereka.” Persephone hanya melenggut kecil. Sementara Hecate memutar otak untuk mencari cara agar bisa menghibur Persephone, sesuai kesepakatannya dengan Hermes. Sebagai dewi penyihir, Hecate bisa membaca gelagat yang disembunyikan Hermes. Ia tahu ada bagian yang tidak diceritakan sang dewa dengan seribu bakat yang memusingkan. Setelah negosiasi yang cukup lama—berhubung Hermes terlahir dengan bakat memutar-balikkan kata-kata—barulah Hecate mengetahui fakta di balik kekuatan Persephone. Namun, demi menjaga hubungan baik mereka dan agar Persephone tidak sungka—tepatnya semakin sungkan—padanya, Hecate memilih pura-pura tidak tahu. Hecate memberi Persephone sikutan kecil.  “Bila tidak, kurasa Athena akan turun tangan melerai mereka.” “Athena?”  “Kau tidak ingat masalah ternak Apollo?” Hecate terkikik geli, suaranya yang nyaring sampai menggetarkan udara. “Bahkan Yang Mulia Zeus harus turun tangan waktu itu.” Persephone pun ikut tertawa. Memang sejak lahir Hermes sudah berulah. “Bunga di kepalamu mekar lagi.” Hecate menjentikkan jari dengan gaya khasnya dan menunjuk mahkota bunga di kepala Persephone. “Cantik,” pujinya tulus. Persephone mengulas senyum dan tersipu. “Kau juga—“ “Cantik?” Hecate menyela dan kembali terkikik. “Keren. Kau keren, dan itu sama saja dengan cantik.” Persephone berujar sunggu-sungguh. “Kecantikan itu relatif, Hecate.” “Tapi jelek itu mutlak,” sambung Hecate mengerucutkan bibir. “Begitu kata Hermes.” Persephone mendesah sesaat menepuk pundak Hecate. Telunjuknya kemudian mengarah pada koloni jamur berwarna cerah yang tumbuh di permukaan selongsong kayu di pinggiran sungai. “Coba lihat jamur di sana. Indah sekali, bukan?” Hecate memutar kepala mengikuti telunjuk Persephone. Benar saja. Setiap kali berkunjung ke Sisilia, jamur yang tampak mengilap tersebut sering kali mencuri perhatiannya.  Tak ayal, ia langsung mengamini. “Sayang sekali, jamur itu beracun. Sebab itu tidak ada tumbuhan lain yang mendekat dan mereka hanya dapat tumbuh pada batang kayu yang telah mati.” Persephone melirik Hecate yang mengangkat alis kemudian beralih pada satu tumbuhan rambat berduri yang membelit tiang kastil. “Berbanding terbalik dengan sulur ini. Meski tampilannya tidak lebih menarik dengan jamur yang tadi, mereka menjaga tiang agar tetap berdiri kokoh.” Hecate yang mendengar penuturan Persephone terhenyak. Hecate yang keras kepala jarang sekali tergugah, tetapi kata-kata Persephone berhasil menembus hatinya. “Karena memberi manfaat, tanaman ini lebih banyak dicari daripada jamur beracun di sana.” Persephone pelan-pelan mengulurkan tangan, menarik ujung sulur tanaman rambat yang langsung bergerak ke arahnya. “Demikian pula denganmu, Hecate. Kau selalu tampil percaya diri dan berjasa besar bagi para arwah. Kau cantik, dengan caramu itu. Benar kan, Furvus?” Furvus yang bergelung di pangkuan Persephone menyalak satu kali sebagai persetujuan. “Terima kasih, Persephone. Aku belum pernah mendengar pujian seindah itu sebelumnya.” Hecate menarik kedua sudut bibirnya. Binar mata Persephone yang memancarkan ketulusan sungguh lebih indah dari permata langkah koleksi Hades di dunia bawah. Kau memiliki keduanya, sambungnya dalam hati saat memeluk Persephone. Persephone segera membalas pelukan Hecate. Wangi musk yang menyapa indranya terasa sudah sangat familier. “Demeter akan kembali. Aku harus bergegas.”  Hecate mengamati wajah Persephone lekat-lekat sebelum melepas rengkuhannya. “Jangan bersedih lagi. Bumi akan kering bila kau mengurung diri di kastil.” Persephone mengangguk lalu melambaikan tangan, membalas Hecate yang mulai melangkah pergi. Dalam hati Persephone berandai-andai Hecate bisa tinggal lebih lama bersamanya, atau mungkin mereka bisa bermalam dan bercerita banyak hal sampai pagi menjelang. “Persephone!” Seruan dari dalam kastil membuat Persephone mengerjapkan mata dan lekas memutar badan. Sesaat sebelum berbalik, Persephone merasa seseorang tengah memperhatikannya dari seberang danau. “Siapa di sana?” tanya Persephone pada dirinya sendiri. Pandangannya ditajamkan, tetapi tidak ada apapun yang ia jumpai selain tanaman pengangkal sihir yang tegak berdiri, tidak terusik sama sekali. “Tidak ada siapa-siapa.” Persephone bergumam kecil. “Mungkin hanya perasaanku saja.” Panggilan Demeter yang kembali terdengar kemudian membuat Persephone mempercepat langkah menuju kastil. Sebelum menutup pintu, kembali diperhatikannya hutan di tepi danau. Entah mengapa, Persephone merasa yakin ada sesuatu yang memperhatikannya dari seberang sana.   ❀❀❀ TBC *Thesmophoria : festival keagamaan Yunani kuno, yang diadakan untuk menghormati dewi Demeter dan putrinya, Persephone.  *Thesmophoriazusae : para perempuan yang merayakan festival  Thesmophoria 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD