"Kau tidak bisa egois seperti itu, Demeter! Olympus adalah rumah bagi seluruh dewa!"
"Kurasa tidak semua juga, sayangku Hera."
"Jangan menyela perkataanku, Zeus! Ini semua karena salahmu! Tidak seharusnya kau memberikan hak itu padanya!"
"Iya, iya. Aku yang salah. Kau wanita. Kau selalu benar."
.
.
"Lalu kau mau aku bagaimana, Hera? Aku hanya melindunginya dari rasa sakit hati! Lihatlah dewa-dewa yang haus akan cinta itu! Jangan lupakan Zeus yang tidak bisa menjaga mata dan hatinya ini!"
"Hei, kenapa aku lagi?"
"Sebab kau laki-laki!"
"Baiklah. Aku diam. Aku kalem. Silakan lanjutkan, Nona-Nona. Tapi tolong jangan ada yang meruntuhkan pilar, Hefaistos sedang merajuk minta kawin."
.
.
"Kau dengar apa yang dikatakan Zeus? Bagaimanapun juga, aku berhak untuk melakukan ini. Kau tidak bisa melakukan apapun, Hera."
"Kau salah, Demeter. Sebagai dewi pernikahan, aku berhak memberkati siapapun yang saling mencintai. Anak itu akan mendapatkan kembali kekuatannya saat dia menemukan cinta sejati. Bila saat itu tiba, tidak ada seorang pun, bahkan dirimu sendiri, yang bisa merintanginya."
.
.
.
Melodi lira yang mengalun indah membuat kelopak mata Persephone terbuka. Netra cokelat hazelnya mengisut saat berkas-berkas cahaya matahari yang menyilaukan menyeruak tanpa permisi dari celah jendela. Persephone lantas mengambil posisi duduk sambil mengucek mata. Semalam ia memikirkan dunia bawah-- tempat tinggal Hecate--yang dipimpin oleh raja bernama Hades sampai ia tertidur dan terbawa mimpi.
Gurat kebingungan di wajah Persephone berganti menjadi raut bahagia manakala menyadari sesuatu. Tidak ada satu pun di dunia ini yang bisa memainkan lira dengan begitu indah kecuali seseorang dalam dugaannya. Dengan terburu, Persephone lantas menyibak tirai.
"Apollo!" Persephone berseru senang. Perkiraannya tidak meleset. Di atas rumput duduk bersila Apollo sambil memainkan lira. Jemarinya sibuk memetik dawai dengan lincah, diiringi nyanyian para nimfa yang membentuk paduan suara.
Apollo menoleh. Bibirnya menyunggingkan senyum yang membuat kawanan nimfa Naiad di pinggir danau serempak melenguh dengan tatap mata memuja. Nyanyian mereka berubah menjadi harmonisasi desau kagum. Seperti halnya Artemis--saudara kembar Apollo, dewa musik tersebut memang sangat rupawan. Meskipun dari lawakan Hermes, kabarnya Apollo selalu gagal dalam hal cinta.
"Selamat pagi, Apollo!"
"Selamat pagi, Persephone! Kau terlihat baik."
Apollo menggeser duduknya, memberi ruang bagi Persephone. Hatinya melapang melihat dewi musim semi itu tampak ceria, mahkota bunga di kepalanya semakin bermekaran, kelopaknya bahkan mulai menyelip di sela-sela rambut.
Setelah mendengar kabar dari Artemis kemarin, Apollo menjadi tidak tenang. Suadarinya itu dengan tidak sengaja mendengar percakapan Zeus--ayahnya--dengan para kiklops yang menjaga perbatasan Sisilia. Mereka menyebut masalah besar yang diwanti-wanti para dewa akan terjadi di pulau tersebut dalam waktu dekat, yang salah satu lokasinya adalah tempat tinggal Persephone.
Dengan kemampuan nubuatnya, Apollo sudah berusaha melihat masa depan, namun visiunnya terhalangi oleh kekuatan magis yang masif. Ramalannya tak dapat tembus. Sama seperti ketika ia berusaha membaca rahasia-rahasia Olympus yang disembunyikan Zeus. Satu-satunya bayangan yang bisa disaksikan Apollo adalah wilayah Sisilia yang hancur. Dan tentu saja, hal tersebut mengundang tanda tanya dan kekhawatiran besar, terutama akan nasib Persephone.
Apa ada hal terkait dengan Sisilia yang termasuk dalam rahasia dewata mulia raya?
Apollo berdecak. Sebagai penguasa pulau Sisilia, harusnya Helios yang menyaksikan segala kejadian di bumi bisa memberi keterangan. Namun biang gosip alam semesta itu sedang sibuk memacu kereta kudanya untuk menerangi dunia sambil menahan kantuk setengah mati.
Helios sebenarnya sudah beberapa kali mengajukan cuti, namun Zeus menolak permohonan tersebut. Apollo tahu ayahnya tidak siap menerima komplain dari berbagai pihak karena gerhana dadakan.
Berangkat dari masalah itulah, Apollo berkunjung ke Sisilia sebelum pagi, saat Persephone masih lelap dalam tidur. Apollo mengirimkan nubuat dalam mimpi Persephone lewat melodi liranya. Barangkali dengan demikian, ia bisa menemukan petunjuk.
"Ya," balas Persephone semangat. "Tidurku sangat nyenyak."
"Benarkah? Apa kau bermimpi indah?" Apollo menajamkan penglihatan, berusaha menembus pikiran Persephone, namun penghalang yang dibuat Demeter sangat kuat. Lagi-lagi yang ia temui hanya manik cokelat bergradasi dengan iris warna-warni yang memantulkan cahaya. Sejenak Apollo terpegun. Mata Persephone yang besar dan berkilau memang sangat indah. Bila terus begini, justru dirinya yang akan terhipnotis.
"Entahlah, mimpiku aneh."
"Oh, ya? Boleh kutahu mimpi seperti apa itu?" Apollo berdeham. Bila Artemis mendengarnya, tentu ia akan disebut kepo. Belakangan ini Artemis mengajari seorang demigod--yang tak lain saudara kesekian mereka dari lain ibu--cara berburu. Dan kembarannya tersebut sekarang tertular beragam istilah-istilah manusia.
Persephone tampak menimbang, lalu dengan ragu menjawab, "Aku melihat ibuku, ayah Zeus, dan ...."
"Dan?"
"Ibunda Hera."
Dahi Apollo berkerut samar. Dugaannya semakin menyudut.
Ayah dan Ibunda Hera? Tak salah lagi, Sisilia pasti menyimpan rahasia penting.
"Apollo? Apa kata-kataku membuatmu sakit hati?" Persephone menyatukan kedua tangan di depan d**a. Apollo dan Artemis adalah keturunan murni Zeus dari titan Leto, sebab itu Hera tidak menyukai keduanya. Berkali-kali Hera mengirimkan monster untuk mencelakai Leto, namun Apollo dan Artemis yang kuat selalu berhasil menyelamatkan ibu mereka.
Apollo menggeleng, tatapannya melembut. "Tentu tidak, Persephone. Ibunda Hera tidak sekeras dulu, walau belum bisa menerima aku maupun Artemis sepenuhnya."
"Begitukah? Apa ibunda Hera tidak pernah memerahi kalian lagi?"
"Ya. Tidak terlalu sering lagi." Apollo tertawa kering. "Jadi, apa yang mereka lakukan dalam mimpimu?"
Persephone mengingat-ingat sebentar lalu menghela napas. "Entahlah, Apollo. Mereka seperti membicarakan sesuatu."
Apollo melenggut maklum. Dipandanginya Persephone yang memantik pangkal tanaman perdu dengan ujung jari. Tunas-tunas muda langsung bermunculan dan tumbuh mengikuti alur gerak jemarinya yang lentik. Apollo betah memandang Persepone yang bersenandung riang, namun suara kepak yang mengganggu memaksanya menoleh. Sejurus kemudian, ia lantas merutuk. Siapa lagi bila bukan si utusan "dewa express".
"Hermes!" panggil Persephone semangat. Ia berbalik dan bangkit menyambut Hermes dengan atribut kebesarannya yang tak lain Petasos dan Talaria, helm dan sepatu bersayap.
Hermes mendarat dengan satu kaki tersilap, hampir tergelincir. Salah satu sayap di sandalnya mengepak kurang sempurna. Apollo yang melihat itu setengah mati menahan tawa.
"Hai, Persephone!" Hermes berdeham dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Wajahnya berubah menjadi merah padam saat menyadari kehadiran Apollo di sana.
"Hai, saudaraku!" sapa Apollo dengan menekankan kata "saudara". "Perlu sandal baru, huh?"
"Oh! Hai, saudaraku!" Hermes memasang senyum penuh keterpaksaan dengan penekanan yang sama. "Ternyata kau di sini juga. Eksistensimu rupanya tidak begitu kuat untuk disadari."
Sial! Apollo merutuk dalam hati mendengar Hermes meremehkan eksistensinya, namun ia sadar harus menjaga wibawa. Alhasil, Apollo pun menarik sudut bibirnya membalas senyuman Hermes. "Tak masalah. Aku selalu memaklumi kepayahanmu."
Persephone mendesah melihat perang dingin antara Hermes dan Apollo. Keduanya memang tidak pernah akur sedari dulu. Meski begitu, Persephone tahu baik Apollo maupun Hermes tetap peduli satu sama lain.
"Jadi, apa yang membawa jones sepertimu berkunjung ke sini?" tanya Hermes pongah saat para nimfa mulai menjeritkan namanya.
"Jones?" Persephone memiringkan kepala. "Apa itu? Julukan baru untuk Apollo?"
Hermes terbahak lalu dengan gerakan kilat berpindah ke sebelah Persephone "Ya, Persephone. Jomlo ngenes yang selalu patah hati!"
"Daripada kau, playboy kelas dewa!"
"Masih mending daripada sadboy gagal move on."
"Diam, Ojol!"
"Ojol itu istilah apa lagi?"
"Ojek online, Persephone." Apollo memalingkan wajah Persephone dari Hermes. "Semacam layanan transportasi dan angkutan. Persis seperti tugas tukang pos pengantar surat ini!"
Hermes menampik telunjuk Apollo yang terarah padanya. "Jangan menunjukku sembarangan, jurangan sapi!"
"Dasar dewa pencuri!"
Apollo dan Hermes kini saling menatap dan berkacak pinggang.
"Kenapa? Mau kuajari cara mencuri hati?" Hermes menghadap pada kumpulan nimfa di pinggir danau dan mengedipkan sebelah mata.
Seketika, kawanan nimfa menjeritkan nama Hermes dengan histeris. Apollo yang melihat itu segera bertindak. Selaku dewa pelindung nimfa, ia jelas tidak terima ada dewa lain yang dipuja lebih dari dirinya. Segera setelah ia menjentikkan jari, para nimfa kembali menghamba padanya.
Hermes masih tidak mau kalah. Ia melemparkan cium jauh yang kembali berhasil mencuri perhatian kelompok nimfa tersebut, namun Apollo kembali mengambil alih.
Keadaan tersebut terus berlangsung silih berganti. Hermes berulang kali berganti pose untuk tebar pesona, sementara Apollo tetap kukuh mempertahankan otoritasnya.
Persephone sampai dibuat pusing melihat para nimfa tercangak kanan-kiri. Sekejap menoleh pada Hermes, sekejap menoleh pada Apollo.
"Hermes, Apollo, hentikan!" Persephone merentangkan tangannya memperantrai Hermes dan Apollo. "Kalian punya tugas yang mulia dan hebat. Kalian punya kuil masing-masing dan dipuja banyak manusia. Jangan saling menjatuhkan seperti itu!"
Apollo dan Hermes kompak menghentikan aksinya.
"Kalau kalian yang tinggal di Olympus saja merendahkan satu sama lain, bagaimana dengan aku yang tidak bisa melakukan apa-apa ini?" Persephone memalingkan wajah. "Kalian memandangku seperti apa?"
"Kami tidak bermaksud begitu, Persephone." Hermes menepuk pundak Persephone dan merendahkan tubuhnya hingga pandangan mereka sejajar. "Lagipula, hei, siapa yang bisa menumbuhkan taman bunga yang indah selain dewi musim semi kita ini?"
Persephone melipat bibir mendengar Hermes perkataan Hermes. Pujian yang diberikan Hermes justru membuat perasaannya menjadi gamang, terlebih saat ia menatap Apollo. Persephone tahu Apollo mengetahui rahasia di balik kemampuannya tersebut.
"Benar, Persephone. Lihatlah bunga-bunga yang menari mengikuti gerakanmu." Apollo berdeham kecil karena tak sengaja mendukung Hermes. "Coba tunjukkan pada kami lagi."
"Tapi ...."
"Tak mengapa," tukas Apollo menyakinkan. Sorot matanya mengingatkan Persephone pada Demeter. Sorot mata yang membuat Persephone merasa disayangi, namun juga dikasihani.
Persephone akhirnya melenggut kecil. Ia menuju salah satu tanaman berbatang kayu. Persephone memejamkan mata dan memfokuskan pikiran, tanaman dengan jaringan pembuluh yang keras membutuhkan konsentrasi besar. Ia kemudian memusatkan energi pada ujung jari, berusaha merasakan inti sel batang kayu yang disentuhnya, lalu dengan satu tarikan napas, tanaman tersebut ditarik ke atas.
"Hebat, Persephone!" pekik Hermes saat tanah bergetar dan tanaman kayu tersebut tumbuh meninggi.
Para nimfa yang menyaksikan hal tersebut ikut bersorak menyerukan namanya.
"Persephone! Persephone! Persephone!"
Apollo menepuk pelan kepala Persephone. "Lihat? Bagaimana pun, kau sudah berlatih untuk melakukan ini."
"Terima kasih, Apollo," tutur Persephone tulus, "dan juga Hermes."
Hermes mengangguk, sekilas diliriknya Apollo yang tersenyum pongah padanya. Jelas sekali dewa pemusik itu bangga sebab didahulukan dibanding dirinya.
"Nah, karena hari masih pagi, bagaimana kalau kita bermain sebentar?"
Apollo memicingkan mata pada Hermes yang memberi tawaran tiba-tiba. Suatu kemustahilan bagi dewa picik itu mengajaknya bermain tanpa ada niat terselubung.
"Bermain apa?" tanya Persephone antusias.
"Petak umpet." Hermes menatap Apollo penuh arti. "Aku akan menyembunyikan barang dengan keahlianku mencuri, lalu Apollo harus yang bisa melihat masa depan harus bisa menemukannya. Persephone akan menjadi juri. Bagaimana?"
"Siapa takut!" balas Apollo mantap. Ia tahu benar ini hanya akal-akal Hermes untuk menantangnya, namun hatinya tergelitik untuk mengalahkan dewa pelindung para pencuri tersebut.
Hermes menyeringai. Matanya bergerak cepat. Pada mulanya ia mengincar ranting pohon salam yang tersemat di mahkota Apollo, namun ia tidak ingin membuat soloist Olympus itu murka karena mencuri barang peninggalan mantan gebetannya--yang dengan miris lebih memilih menjadi pohon salam ketimbang menerima cinta dewa tampan tersebut. Ya, takdir cinta Apollo memang semengenaskan itu.
Pada akhirnya, Herms menjatuhkan pilihan pada liontin batu permata bersinar yang dikenakan Persephone.
"Jangan itu!" Apollo berseru begitu membaca gelagat Hermes, namun gerakan si gesit "dewa express" tersebut terlalu cepat untuk dicegah. "Jangan kalung Persephone!"
"Kalungku?" Persephone yang tidak menyadari aksi Hermes meraba-raba lehernya dengan panik.
Gurat kesal yang terukir di dahi Hermes karena Apollo lebih dulu membaca niatnya berganti menjadi ekspresi kebigungan saat melihat Persephone pucat pasi.
"Persephone?" panggil Hermes tak mengerti.
"Tidak!" Persephone mundur dengan tubuh gemetar dan langkah tersaruk-saruk. Rasa takut yang menguasai membuat kelopak bunga berwarna cerah di kepalanya meredup dan menjadi suram. Saat tak sengaja tangannya menyentuh pohon kayu yang sudah tumbuh tinggi, batang tanaman tersebut tiba-tiba saja mengerut, menghitam, lalu perlahan-lahan mati.
Apollo bertindak cepat dengan membuat udara statis untuk menahan serpihan batang kayu yang ambruk. Sementara Hermes melesat menyelamat Persephone.
Air mata yang menggenang di pelupuk Persephone mulai meluruh begitu menyaksikan tanamannya hancur dalam sekejap, terlebih saat kawanan nimfa menatapnya ngeri.
"Persephone, apa yang terjadi?" Hermes mengeluarkan liontin Persephone dari sakunya. "Kalungmu ...."
Tanpa menunggu Hermes merampungkan kalimatnya, Persephone berbalik. Ia meraih liontinnya lalu berlari masuk ke dalam kastil sambil tersedu. Air matanya yang jatuh ke tanah menghidupkan bunga poplar di sepanjang jejak yang ia tinggalkan.
"Persephone, tunggu!" Apollo yang sudah membereskan serpihan batang pohon menahan lengan Persephone, namun sebuah visualisasi masa depan yang terlintas di benaknya membuat ia terhenyak sehingga Persephone dapat meloloskan diri dengan mudah.
Apollo terpaku di tempat, mengabaikan Hermes yang kesulitan membuka kuncian pintu kastil dari lilitan sulur berduri, juga kawanan nimfa yang mulai berbisik-bisik. Saat menyentuh tangan Persephone barusan, ia melihat dunia bawah. Underworld. Hades realm.
Satu ketakutan membayangi Apollo.
Apa jangan-jangan, Persephone akan ... mati?
❀❀❀
TBC