MENANGIS DALAM DOA
"Ya Alloh, aku masih belum bisa melupakannya. sedangkan aku tau aku dan dia sama-sama tidak pantas bersama. bukankah lebih indah jika aku dan dia bisa melanjutkan hidup masing-masing tanpa saling memikirkan lagi" aku mengakhiri doa ku di malam ini.
meskipun aku telah memutuskan untuk mengakui segalanya pada mas Riko,
aku belum bisa sepenuhnya melupakan apa yang telah terjadi antara aku dengan trian.
kalau saja saat trian menjauh aku tidak pernah bertanya mengapa, karena rasa kehilanganku sendiri.
seandainya saat itu aku sadar kalau dia melakukan yang terbaik untuk ku agar aku dan mas Riko tetap baik-baik aja .
seandainya aku lebih bisa menjaga perasaanku, dan mencegah semuanya terjadi.
berulang kali ku kacak rambut dan kepalaku, aku tidak bisa tidur hingga hampir pagi.
aku seperti merasa terjebak dalam perangkap yang ku anyam sendiri. mungkin ini selesai bagi mas Riko, tapi belum bagiku. aku masih punya pr tentang trian. harus ada yang menggantikan ku jika aku memutuskan benar-benar meninggalkannya.
"mba vloi, sakit to kok ga keluar kamar ini sudah siang loh" terdengar Siti mengetuk pintu kamarku.
"ya ampun jam setengah 10 sit" aku terkaget melihat jam di ponsel ku saat membuka mata.
aku tidur hampir pagi yang membuatku terlambat bangun . aku segera keluar kamar karena perut ku menggantikan kokokan ayam karena lapar.
aku melihat makanan di meja sudah berkurang karena hanya aku yang belum sarapan .
"ibu kemana sit?" tanyaku sembari mengambil nasi.
"oh itu mba anu, tadi keluar sebentar katanya beli kain dan ngambil jahitan" Siti menuangkan minum di gelasku.
"kain apa?" tanyaku penasaran.
"kain itu loh mba kain jarik buat acara tujuh bulanan nya mbak vloi" jelasnya.
aku hampir lupa dengan acara ini, aku menghabiskan sarapan ku, dan kembali ke kamar . karena semakin besar kandunganku semakin terasa mudah sekali lelah .
aku membuka ponsel ku, ternyata ada 3 panggilan tak terjawab dari mas Riko, dan aku menelpon nya.
"kemana aja sayang, kok dari tadi di telponin ga di angkat" belum memulai bicara mas Riko sudah bertanya manja dari seberang telepon.
"iya sayang maaf ya aku kesiangan bangun" jawabku.
"kok tumben ?" mas Riko mungkin heran karena aku selalu bangun pagi.
"iya mas, aku semalem maraton Drakor" walaupun bukan itu alasanku tapi aku mencoba tidak membuatnya panik.
mas Riko mengabarkan kalau dia akan berangkat ke Jogja malam ini naik kereta,
dia juga menanyakan tentang trian apa kah ada menghubungi ku selama di Jogja.
aku tidak mengatakan kalau kita sudah bertemu selama trian disini. karena aku yakin mas Riko akan marah.
setelah menyelesaikan telpon aku baca pesan dari trian,
"kak, Kaka kasih nomer aku ke Kayla?" (trian)
"iya dia minta"( vloi)
benar, malam setelah kami bertemu Kayla meminta nomor trian kepadaku.
dan aku memberi nya.
"emang dia bilang apa" (vloi)
"dia ngajak aku ke heha sky besok sore". (trian)
"oh bagus donk kamu jadi ada temen selama di Jogja" (vloi)
pesan terakhir ku tidak di balas, entah mengapa aku merasa memang dia tampak tidak suka kalau aku terlihat mendukung dia dengan perempuan lain.
pagi harinya mas Riko mengabari ku kalau dia sudah turun dari kereta.
tadinya mas Riko mau naik taksi online, tapi karena aku dan ibu mau belanja ke pasar untuk perlengkapan tujuh bulanan ku besok akhirnya mas Riko pulang dengan kami dan pak darman .
aku bahagia sekali mas Riko datang, walaupun perasaanku sedang terpecah karena trian, tapi dia adalah satu-satunya masa depan bagiku.
tidak ada sedikitpun fikiran ku untuk meninggalkannya dan memilih trian. sama sekali.
"sayang, kenapa kok ngeliatin aku begitu" mas Riko menggerakan tangannya di depan mataku.
"eh, enggak mas kangen aja" jawabku spontan .
ibu dan siti menatap kami dengan senyuman geli, seperti mengolok pasangan yang lama tidak bertemu.
" wah seperti manten anyar to mbak (seperti pengantin baru kan mbak) " ledek pak darman.
kami langsung pulang ke rumah setelah ibu dan siti selesai belanja.
" dek, kamu kangen gak sama papa, lama ya gak di jengukin, oh kangen ya sama papa juga kangen" mas Riko menempelkan telinganya ke perut ku.
aku tersenyum mendengar percakapan mas Riko dengan anaknya yang di jawab sendiri.
" nah, kalau mamahnya kangen ga" mas Riko membisikan itu ditelingaku.
bulu kuduk ku seperti bergetar saat bibirnya menyentuh leher belakangku.
di lumat nya bibirku yang sudah beberapa bulan terasa kering karena tidak pernah di pakai berciuman.
tangannya melepas satu persatu kancing bajuku, melepas tali bra ku yang ukurannya sudah naik dua nomor .
bibirnya melaju dari leher hingga ke puncak bukit yang sedari tadi sudah menegang,.
"hehehehe" mas Riko tertawa karena perutku sudah membesar sehingga perlu posisi yang pas untuk memasukan rudalnya yang sudah basah dari tadi.
"ahhhgh...." aku meremas-remas rambut mas Riko, yang sedari tadi tidak berhenti menikmati dua buah jeruk yang berubah jadi melon .
sejak aku hamil aku memang hanya mau klimak satu kali, karena mencegah kontraksi rahim ku terlalu banyak.
"sudah kah sayang" tanya mas Riko yang masih menggoyangkan pinggang nya.
"aghh sudah sayang" jawabku sambil menggigit lengan ku sendiri menahan suara agar tidak terdengar dari luar.
"okehh sekarang giliran ku" mas Riko semakin bergairah memacu gerak nya.
" pelan sayang ingat aku hamil" ucapku tersengal-sengal kenikmatan .
"aghh...." terlihat raut wajah mas Riko sangat bahagia saat cairan putih itu tumpah di atas perutku yang besar.
setelah selesai membersihkan diri, kami sama-sama berbaring di atas ranjang. mas Riko memelukku dari belakang mengelus-elus perutku.
aku tidak pernah berbohong selama menikah dengan dia, hanya masalah trian ini aku menutupinya dari mas Riko. aku tau ini kesalahan yang fatal, tapi aku sadar dan berniat baik membenahi diri. aku harap kepercayaan mas Riko akan kembali lagi dan kami bisa menjalani kehidupan kami lebih baik lagi.
tidak sadar kami ketiduran sampai sore di dalam posisi yang tidak berubah.
" mbak vloi, mas Riko. kok Ndak makan-makan to " Siti mengetuk pintu kamarku.
aku terbangun dan keluar kamar, tampak sudah banyak ibu-ibu yang membantu ibuku memasak untuk persiapan besok.
tampak dekorasi siraman ku sudah siap di halaman belakang rumah .
" sit, bisa ambilkan aku dan mas Riko makan aja kah, anter ke kamar ya . pasti mas Riko sungkan mau makan diluar" pintaku pada Siti.
"o siap mbak ditunggu ya" jawab Siti sigap.
akhirnya kami makan berdua di kamar, karena mas Riko sungkan makan diluar.
"kak, kok trian ga mau ya aku ajak jalan" (Kayla)
hah, aku tercengang membaca pesan dari Kayla, bukan main anak ini. bahkan dia menolak gadis sesempurna Kayla .
" sayang, aku mau bantu bapak-bapak yang angkat meja buat prasmanan dulu ya" kata mas Riko sambil membawa piring kotor ke dapur.
aku bergegas menelepon trian.
sebelum mas Riko kembali.
"trian kenapa kamu gak mau sih di ajak Kayla jalan" tanyaku terburu-buru.
" kenapa sih kak kayanya pengen banget aku sama Kayla" jawabnya.
"ya bukan, tapi kan kasihan Kayla kalau kamu tolak, apa salahnya sih coba jalan dulu kenalan" kelasku.
"aduh Kaka ni bikin aku pusing aja, aku lagi ngerjain tugas ini udah ya" jawabnya mematikan telepon.
langsung ku hapus smua chat dan panggilan ku dan trian dari ponsel.
aku heran, trian dari Jakarta ke Jogja ingin sekali menemuiku, bahkan dia sempat bete saat tau aku datang membawa Kayla saat itu .
aku makin tidak habis fikir dan menerka-nerka yang terjadi di antara aku dan dia bukan sekedar hasrat . aku merasa dia memiliki perasaan lebih kepadaku. dan ini yang membuatku makin sulit melepaskan nya. karena aku yakin dia akan merasa kehilangan aku...sayapnya.
##
akhirnya acara tujuh bulanan ku berjalan lancar, tamu yang datang cukup banyak, sehingga hampir malam acara baru selesai.
"sayang, apa kamu masih belum percaya kalau ini anak kamu?" tanyaku sembari mengelus kepalanya yang di taru di atas pahaku.
"aku bukan gak percaya, tapi aku perlu meyakinkan diriku sndiri sayang" jawabnya menatap mataku.
"keluarga kamu juga belum tau aku hamil ?" tanyaku.
karena trian tidak tau pasti semua keluarga mas Riko juga tidak tau.
"iya, aku belum menceritakan nya sama siapapun" jawab nya .
aku tau mas Riko pasti punya alasan mengapa dia melakukan itu.
dan aku tidak akan menanyakannya. aku hanya sabar menunggu tes DNA anakku keluar .
dan selama itu juga tidak akan ada yang tau seberapa sedih nya hatiku menanti kembalinya rasa percaya suamiku .