cinta 365 hari part 7

1286 Words
"kak, senin nanti aku ada acara studi banding di Jogja, nanti aku mau main ke rumah kak vloi boleh?" tanya trian dari telepon. aku terdiam sejenak mendengar pertanyaan trian. antara takut kalau sampai mas Riko tau dan menutupi perutku yang semakin membuncit. terkadang aku berfikir, apa yang perlu aku khawatirkan sehingga harus menutupi kehamilanku dari trian? sedangkan aku punya suami yang sah. semua karena mas Riko yang belum bisa sepenuhnya percaya kepadaku. aku pun tidak tau rencana apa yang ada di kepala mas Riko tentang ini semua. "kak ei kok diam aja ?" trian menyadarkan ku dari lamunan. "oh, ya trian...boleh tapi kita ketemuan diluar aja ya nanti. alamat aku susah di cari". aku memberi alasan. setelah kami menutup telpon, ponsel ku kembali berdering. ternyata mas Riko. "ya mas...." aku mengangkat telpon. "kamu udh makan blm sayang?" kok aku telponin dari tadi sibuk terus nadanya. kata riko "oh iya mas, tadi temen aku yang kemarin aku ceritain telpon ". aku mengarang cerita. seperti biasa kami berbicara di telepon cukup lama. "sit, besok temani aku cari sweater ya, di toko trift biasa aku beli jaket" tanyaku menghampiri Siti yang sedang mengupas buah mangga. "untuk apa to mba, kan seminggu lalu baru beli jaket sudah ga muat to?" tanya siti heran. memang seminggu yang lalu aku baru saja membeli jaket di tempat itu, tapi jaket yang ku beli tidak terlalu longgar untuk menutupi kehamilan ku jika nanti jadi bertemu dengan trian. terus terang aku ingin sekali dia tidak jadi studi banding ke Jogja. aku merasa gugup dengan apa yang akan aku bicarakan . aku juga merasa takut jika trian menginginkanku lagi. "vloi, kalo kamu gak capek nanti sore ikut ibu ya. kita kerumah ibu Retno dia punya butik kebaya di jalan solo. daripada kamu bosan dirumah". tiba-tiba ibu mengajak ku keluar. "ooo...yang dulu suka main kesini ya sama anak nya yg masih kecil cantik itu?" tanyaku semangat. Tante Retno memang pekerja keras dari muda she is single parents. suaminya pergi ninggalin dia pas dia hamil Kayla anaknya. sejak kejadian itu Tante resto sering kerumah krna dia tinggal sebatang kara di Jogja. tapi kabar nya Tante Retno sudah menikah lagi dan di karuniai 1 orang putra . "nah itu inget ndug, ya sekarang udah gede to anaknya, kalo ga salah smester 3 atau 4 gtu loh . kan selisih sama kamu cuma 7th atau brpa ya pokoknya kamu SMP dia kan sdh sekolah to dulu itu" ibu coba mengingat-ingat sembari mengeluarkan belanjaan dari keranjang belanja. ku lihat ada banyak macam buah yang ibu beli, tampak nya ingin membuat pie buah, kebiasaan ibu jika ingin berkunjung ke rumah temannya selalu membawakan makanan buatan sendiri. karena sebelum ibu sering sakit, ibu memang jago masak hampir semua teman nya tau kalau masakan ibu enak sekali. "yaudah sit, nanti aku mampir beli sweater nya sama ibu aja, sekalian jalan" aku menepuk pundak Siti yang belum baru selesai mengupas mangga. akhirnya aku pergi dengan ibu, karena takut terlalu malam kami memutuskan untuk lebih dulu mencari sweater baru lanjut kerumah Tante Retno. karena tidak searah. pak darman mengantar kita sore ini. beliau adalah orang almarhum bapak saat bapak masih ada. "ndug, kamu kok beli sweater gede banget begitu to, kelelep kamu kalo pake itu" kata ibuku tertawa geli. "gapapa Bu biar hangat aja" jawabku. aku merasa ada yang salah dari aku, ini anakku, aku menikah resmi dengan mas Riko, semua orang juga tau. tapi kenapa aku berniat menyembunyikan nya dari trian. tidak ada yang lain selain hanya untuk menjaga perasaannya. aku belum benar-benar tau yang terjadi antara aku dan trian beberapa waktu lalu. dan aku juga sedang memisahkan perasaanku sendiri, perduliku terhadap saudara nya Riko atau perasaan yang lebih dari sekedar itu . "assalamualaikum" ibu mengetuk pintu jati berukuran besar. "waalaikum salam, wealah sudah sampai to Bu, Monggo masuk" sambut ramah Tante Retno yang masih keliatan sangat muda walaupun usianya hampir setengah abad. rambut nya di ikat ke atas, menggunakan dress rumahan selutut. tubuhnya masih seperti anak umur 25an. "Monggo duduk sini, ini vloi kan tambah cantik kamu sekarang. loh tunggu ini kamu hamil to Masya Alloh Alhamdulillah" ucap Tante Retno sembari mengusap perut ku . "iya Tante, Alhamdulillah" jawabku sungkan sembari memberikan bingkisan kue pie buatan ibu. tidak lama kami mengobrol di ruang tengah, ada suara salam dari luar. tampak wanita cantik berjalan ke arah kami . "nah....ini Kayla ingat gak vloi, yang dulu suka main sama kamu kalo Tante main kerumahmu" Tante Retno menyuruh Kayla duduk di sebelahnya. "iya Tante ingat, sekarang sudah besar ya. cantik lagi" ucapku. " Tante sering cerita tentang kamu ke Kayla, ngasih tau kalo kamu lagi di Jogja. dia ini pengen sekali punya Kaka perempuan vloi. dan dulu ya cuma kamu yang dia anggap kakaknya" terlihat gigi Tante Retno saat tersenyum, tampak ramah sekali. "sekarang kuliah dimana kay?" tanya ku. " di UGM kak " jawab Kayla tersenyum manis. " calon dokter gigi vloi" Tante Retno mengusap lengan Kayla. ramah, sama ramahnya dengan Tante Retno, ibunya. entah mengapa saat melihat Kayla tersenyum aku ingat pada trian, Kayla tampak sabar dan hangat. mungkin wanita seperti ini yang pantas mendampingi trian. selain aku. kami berpamitan setelah makan malam bersama, sesampainya di rumah aku langsung beristirahat. aku mengecek ponselku, tidak ada pesan atau telpon dari mas riko. karena mas Riko tau kalau aku pergi dengan ibu, dari situ dia tidak menelepon ku karena takut mengganggu, aku hanya melihat notif pesan dari trian . (message from trian ) "kak, aku jadi berangkat besok pagi ke jogja aku nginap di hotel Malioboro" aku membacanya setengah bingung, salah kah jika aku menemuinya tanpa seizin Riko, tapi kalau aku minta izin jelas tidak akan di izinkan, sedangkan itu justru akan membuat trian curiga. "oke trian nanti kamu kasih tau aja kita ketemu dimana ya"( vloi ) trian memberi tau ku bahwa kita akan bertemu di depan benteng Vredeburg, ujung Malioboro. aku membayangkan dia pasti akan mengajakku menelusuri lorong kaki lima sampai paling ujung. karena ini kali pertama dia berkunjung ke Jogja. aku izin kepada ibu dan mas Riko untuk keluar bersama Kayla, anak Tante Retno, karna memang aku sengaja mengajak dia. "Hay trian, apa kabar" aku menyambut uluran tangan trian. "wih sweater baru nih, bagus lagi kak. boleh lah tukaran sama aku" ucap nya yang masih sama seperti sebelum aku tinggal ke Jogja. "enak aja baru juga beli" jawabku karena setengah khawatir jika sampai dia benar-benar memintanya sebelum aku pulang kerumah. "pelit ihh" olok nya lagi. "trian ini kenalin namanya Kayla dia sepantaran sama kamu kayanya, anaknya temen ibu ku" sembari memperkenalkan Kayla yang sedari tadi diam aja. trian bahkan tidak memperhatikan aku Dateng membawa gadis secantik Kayla. dan malah fokus sama sweater yang aku pakai. "Kayla" Kayla memperkenalkan diri pada trian dan di balas jabatan tangan dari trian. pertemuan kami berakhir di ujung Malioboro, aku dan Kayla berpamitan pulang karena takut Kayla pulang terlalu malam. "cantik kan Kayla ? kamu mau ga aku kasih nomer telpon nya. dia jomblo loh, calon dokter" ( vloi) aku mengirimkan pesan singkat pada trian saat masih di dalam taksi online, Kayla pulang dengan taksi online yang berbeda dengan aku. "apa an sih kak vloi, harusnya tu tadi aku mau ajak Kaka singgah dulu ke hotel masa ketemu cuma bentar banget" (trian) aku tercengang sendiri membaca balasan dari trian. setengah gugup dan ada sedikit rindu dengan perangainya . "astagfirullah" aku menepuk pipiku sendiri. "kenapa mbak" tanya driver online ku. "oh tidak pak tadi ada yang lupa di beli tapi gapapa sudah terlanjur" jawabku. aku berniat mendekatkan trian dengan Kayla sebelum trian tau kalo Riko sudah tau semuanya. tapi aku sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengenalkan mereka lebih dekat. "makasih ya pak" aku turun dari mobil. Siti menyambutku dengan payung karena kebetulan sejak perjalanan pulang hujan turun cukup deras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD