"happy birthday trian, wish you all the best" (vloi)
saat ini usia kandunganku sudah 5 bulan.
aku mengirimkan pesan ucapan selamat ulang tahun untuk trian. hari ini dia ulang tahun . aku juga mengirimkan kado untuknya kealamat rumahku.
"kak, ini kado buat aku?" tanya trian girang dari seberang telepon.
dia menelepon ku beberapa saat setelah menerima paket dari mas ekspedisi. aku memberikan satu pasang sepatu yang sudah dari lama ia inginkan.
aku mengerti banyak hal tentang dia, makanan kesukaannya, film favorit nya, baju kesukaannya, merk sepatu kesukaannya, musik favorit nya, dan segalanya. tapi tidak satupun aku tau tentang hatinya, tentang perasaannya kepadaku.
aku pun tidak pernah sekalipun menanyakannya. semua pertanyaan ku tentang itu sudah dengan cepat aku jawab sendiri.
aku juga tau. dia tidak ingin membuatku berat karena perasaannya, karena dia sadar betul posisi kita.
saat ini aku sedang berusaha membuatnya tenang. dan tidak terlibat dalam masalah ku dengan Riko, meskipun semua masalah ini adalah trian alasannya.
"iya trian, itu buat kamu. kan kamu pernah bilang kamu pengen banget beli sepatu itu, tapi gara-gara mahal ga pernah jadi kan?" aku tertawa sedikit meledek nya .
dia tertawa sambil menggerutu dari sana, aku membayangkan bagaimana giginya berbaris rapih saat bibir nya terbuka karena tawa.
begitu manis pasti, lekas ku tepukan dua tanganku ke pipi dari sekilas bayangan rinduku pada Trian.
aku tidak mau tujuan ku ke Jogja gagal karena memikirkan dia. aku ingin rumah tangga ku kembali utuh dan baik-baik saja.
belum lama ku tutup telpon dari trian handphone ku kembali berdering, ternyata dari Riko.
"hallo sayang, kok kamu hari ini gak ngabarin aku sih??" tanya nya manja.
aku juga terkadang bingung dengan sikap suamiku sendiri terkadang dia begitu manis dan manja seperti tidak pernah terjadi apapun, tapi terkadang dia terdiam dan dingin yang membuatku yakin dia sedang memikirkan masalah kita.
"iya sayang. maaf, aku hari ini bikin kue kesukaan ibu tadi terus kecapean jadi aku tidur " padahal Siti tari ku tinggal sendiri yang melanjutkan karna aku menerima telepon dari trian.
beberapa hari ini Riko memang sedikit lebih protektif, mungkin karena usia kandungan ku makin membesar. atau sekedar karena perasaannya yang sedang tidak stabil.
cukup lama kami mengobrol lewat telepon, menanyakan banyak hal tanpa membahas masalah yang sudah terjadi. terasa tidak terjadi apa-apa. walau begitu di dalam hati ku dan hati Riko pasti masih menyimpan pertanyaan yang memang sengaja tidak kita utarakan demi menjaga perasaan satu sama lain.
"mbak vloi, ini loh kue nya sudah jadi" Siti memanggilku dari arah dapur.
aku beranjak dari kursi taman di teras belakang. menghampiri Siti yang sedang memotong kue menjadi beberapa bagian. ku lihat ibu juga sudah duduk di kursi makan .
"enak sit" ucapku sambil mengunyah kue.
"enak lah Siti yang buat " ibu menyahut sembari meledekku yang sedari tadi sibuk menerima telepon.
"kapan mas mu kesini? pasti kangen dia sama kamu" tanya ibu yang mengira aku hanya menerima telepon dari mas Riko saja.
"belum bisa cuti Bu, sebulan lagi mungkin baru bisa cuti. tapi aku bilang sama mas Riko sekalian pas usia kandunganku tujuh bulan aja" jawabku.
aku memang meminta mas Riko ambil cuti saat usia kandungan ku tujuh bulan. karena sekalian saat acara tujuh bulanan.
aku tidak jadi memejamkan mata, karena merasakan di dalam perutku mulai ada yang bergerak. aku mengubah posisi tidurku menjadi terlentang, ku rasakan lagi sungguh-sungguh, gerakan itu tiba-tiba muncul lagi.
aku tidak sabar ingin memberi tau ini pada mas Riko, aku mengambil ponsel ku dari atas meja, baru saja aku ingin menelepon mas Riko. lalu aku urungkan aku meneteskan air mata lalu kembali duduk di pinggiran kasur.
aku tidak yakin mas Riko akan merasakan bahagia seperti ku karena dia belum yakin bahwa ini anaknya.
aku membayangkan kami masih tidur di sampingnya, tidak ada kejadian yang membuat kami terpaksa berpisah seperti ini, membayangkan wajah mas Riko yang sangat bahagia saat ikut merasakan gerakan anakku dengan tangannya.
aku mengusap air mataku dan kembali berbaring, aku membuka aplikasi nonton di handphone ku, aku mencari film komedi untuk mengalihkan perasaan sedihku. tujuanku hanya agar aku tidak berlarut-larut dalam kesedihan malam ini.
##
"Sugeng enjing ndoro" sapa pak manto pada ibuku yang sudah duduk di kursi teras depan rumah.
aku duduk di samping ibu sembari membawa dua cangkir teh hangat. terlihat kabut masih tampak di sela-sela pepohonan. udara yang segar membuatku ingin ikut berjalan pagi juga dengan pak manto.
aku letakan teh ku yang baru ku seruput sedikit. dan berjalan pelan-pelan kelilin desa. ku lihat dari jauh Wulan sedang jalan bersama suaminya. perutnya besar, mungkin sudah hampir sembilan bulan.
"eh, vloi...sudah berapa bulan?" tanya nya dengan langkah mulai terpekeh karena kandungannya yang sudah besar.
"jalan enam lan" jawab ku .
aku iri melihat Wulan yang jalan pagi ditemani suaminya. dia adalah teman kecilku. dari semua teman sebayaku hanya aku yang merantau jauh. banyak di antara mereka yang bahkan masih tinggal di desaku.
aku melanjutkan berjalan lagi, dengan pertanyaan demi pertanyaan dalam otakku yang seperti nya ikut berjalan-jalan juga di dalam kepalaku.
memikirkan banyak hal dari mulai kehamilanku, mas Riko, trian dan kehidupan kami setelah ini. jujur aku stress tapi aku berusaha untuk kuat demi anakku.
tiba-tiba ponsel ku berdering,
"assalamualaikum vloi, sudah sarapan belum?" tanya mas Riko.
"belum mas, aku masih jalan pagi" jawabku.
"sabar ya sayang, nanti aku temani kamu jalan pagi kalau aku cuti" terlihat Riko menyemangati.
iya, sungguh itu yang aku inginkan, tapi tidak bisa aku utarakan bahkan pada suamiku sendiri, rasa bersalahku menutupi semua yang ku inginkan. karena aku tau dan merasa tidak pantas.
aku ingin anakku cepat lahir dan segera melakukan tes DNA.
selalu air mataku menetes saat aku memikirkan itu.
"kok diem?" terdengar suara Riko menunggu aku berbicara.
"ya sayang gapapa. nanti klo kamu cuti aja ya, aku gapapa kok, kadang Siti nemenin aku jalan pagi" aku berusaha tenang .
belum mas Riko menutup telepon nya, ada motif di layar handphone ku.
(message from trian)
"kak, kapan pulang sih, rumah sepi banget aku gak pernah sarapan"
ku baca sekilas ocehan trian dalam pesannya. aku yakin mas Riko tidak lagi mengisi stok telur dan mie instan di rumah sejak aku pergi.
"sayang, aku boleh tanya ga. selama aku di sini trian makan gimana ?" agak takut tapi aku merasa masih punya tanggung jawab soal makan trian.
"aku tinggalin uang di atas meja makan sebelum berangkat kerja sayang" jawab Riko.
kami menyudahi telepon karena mas Riko harus berangkat kerja.
syukurlah kalo mas Riko masih mau memperhatikan trian dengan memberinya uang sarapan. Karena Riko sudah janji sama aku untuk tetap baik.
tak terasa aku sudah sampai didepan rumah lagi, aku mencuci kaki ku karena kebetulan ada beberapa bagian jalan yang becek karena hujan semalam.
di meja makan sudah tersedia nasi goreng buatan siti.
aroma gurihnya memanggil perutku yang sedari tadi terasa lapar. memang baru enak makan aku setelah selam ini merasakan mual. tampaknya morning sickness ku sudah berakhir memasuki awal semester 3 kehamilan ku.
ku santap dengan lahap nasi goreng, ibu dan Siti yang duduk di depanku melongo melihat lahap nya suapan ku. Karena baru pagi ini aku merasa makanan dirumah ini enak sekali.
"minum e mbak " Siti menyodorkan segelas air putih padaku.
"Alhamdulillah, enak banget nasi goreng nya sit" aku menyelesaikan suapan terakhirku.
"nah, bgtu loh ndug. kan ibu seneng liat kamu lahap makannya" kata ibu yang masih menatap ku.
aku memang tidak pernah cerita tentang apa yang aku rasakan pada ibu, apa lagi mengeluh dengan apa yang aku hadapi, aku tidak ingin membuatnya susah . tapi hati seorang ibu selalu terikat dengan perasaan anaknya. walaupun yang ibu fikir selam ini aku sedih karena berjauhan dengan mas Riko saja.
selain baru enak makan, aku juga baru merasakan gerah di tubuhku. 5bulan aku mengandung, aku hanya mandi satu kali sehari. aku seperti takut air saat pagi hari. dan rasanya pagi ini aku ingin sekali berendam dan menggosok semua daki di tubuhku.
ku lihat di cermin tubuhku yang masih tanpa busana, dari sisi kanan kiri depan dan sesekali berbalik kebelakang. tampak membulat, tidak hanya perutku tapi bokong dan bagian dadaku.
aku ambil baju ku dari lemari dan hanya menemukan satu baju yang masih nyaman aku pakai karena hampir semuanya sudah sesak.
"sit, temani aku ke pasar yuk" aku menghampiri Siti yang masih memotong sayur di dapur.
"loh mau ngapain to mbak? " Siti menghentikan pekerjaannya.
"coba kamu lihat, semua bajuku sudah sempit sit" aku berputar-putar didepan Siti sambil memegang-megang perut dan bokongku.
"oh iya e, sudah mblenduk" Siti tertawa meledekku .
kami pergi ke pasar menggunakan taksi online. seperti pesan mas Riko saat aku pendarahan tiga bulan lalu.
"vloi, vloi" tampak dari jauh ada yang melambaikan tangan kepadaku.
aku dan dia sama-sama berjalan saling menghampiri.
ternyata Arini teman SMA ku.
dia tampak kurus sekali, wajahnya pucat tidak secantik dulu.
"hai vloi. kamu hamil, kamu gak berubah vloi. makin cantik malahan" serunya sambil memegang tangan ku.
"iya Rin. kamu apa kabar?" tanyaku agak sedikit cemas melihat kondisinya saat ini.
dulu Arini adalah salah satu primadona di sekolah, aku bahkan tidak ada apa-apa nya. tapi sekarang dia tampak lusuh, dengan celana jeans hitam yang warna nya hampir pudar .
"rmh vloi aku buru-buru mau nyeles, aku minta nomer mu ya " Arini mengeluarkan ponsel dari tasnya.
setelah bertukar nomer, kami berpisah aku mencari daster dan Arini entah kemana .
"yang ini bagus ya sit, bahannya juga tebel kayanya lembut juga" aku mencoba daster satu persatu.
setelah selesai kami langsung pulang karena perut ku sudah bunyi keroncongan karena lapar.
(message from arini)
"vloi aku mau banyak cerita sama kamu, kapan kita bisa ngopi bareng"
belum aku memasuki taksi online aku menerima pesan dari Arini. sepertinya ada yang ingin sekali dia sampaikan kepadaku.
"iya Rin, kapan aja aku bisa nanti kamu bilang aja tempatnya dimana ya" balasku .
sampai dirumah, aku langsung menuju dapur mencuci tangan dan mengambil makan , entah mengapa sekarang nafsu makan ku meningkat drastis. hampir tidak berhenti aku ngemil sepanjang jalan di pasar, tapi perutku masih juga terasa lapar dan perlu makan nasi.
"selamat tidur sayang, semoga mimpi indah ya" mas Riko sebelum menutup telpon.
malam ini aku tidur cepat. karena terlalu capek mengitari pasar mencari daster.
##
(message from arini)
"vloi, sore ini kamu sibuk ga? cafe Carita senja bisa?
aku membaca pesan dari Arini, sambil mencari Siti. karena aku perlu Siti untuk menemaniku kemana aku pergi.
"sit, sore ini bisa temani aku ketemu sama Arini? itu temenku yang ketemu di pasar kemarin" pintaku.
"o bisa mbak, tapi aku tak nyelesaikan tugasku dulu ya mbak, ini ibuk minta di buatkan iwel-iwel" Siti memasukan adonan kedalam bungkusan daun pisang.
seperti biasa, aku pergi naik taksi online.
"mas Riko, aku sore ini keluar sama Siti ke cafe Carita senja, ketemu sama teman sekolahku namanya Arini" vloi.
aku mengirim pesan w******p karena nomor mas Riko belum bisa dihubungi .terus terang ada rasa gelisah khawatir takut akan karma kalau saja mas Riko membalas ku. tapi ku buang jauh-jauh perasaan negatif ku.
"hai rin, sorry ya nunggu lama" ku sapa Arini yang sudah tiba lebih dulu di cafe.
"iya gapapa vloi, kamu apa kabar? baik?" tanya nya.
"Alhamdulillah, baik Rin. ibuku sakit jadi selama hamil aku di Jogja, suamiku datang 2 bulan sekali atau saat ada situasi penting. kalo kamu gimana apa kabar?" aku menjelaskan lebih detail.
belum di jawab pertanyaanku tiba-tiba ku lihat Arini meneteskan air mata.
"kenapa Rin?" tanyaku iba.
"aku ditinggalin suamiku pas aku hamil" Arini mengusap air matanya.
aku menatap urat dahinya tampak, matanya cekung dan rahangnya tampak jelas, begitu kurus. aku saja hampir tidak mengenalinya dari kejauhan.
"terus sekarang anak kamu umur berapa? " ku genggam tangannya.
"anakku umur 18 bulan, dia punya kelainan jantung vloi, aku bolak balik rumah sakit seminggu sekali" air matanya makin deras.
entah apa alasan suaminya pergi meninggalkan dia, tapi yang ku tau memang Arini tidak pernah lama jika menjalin hubungan sejak masih sekolah, tapi aku juga tidak pernah menyangka kalau nasibnya akan semengenaskan ini.
"aku kerja sendiri untuk menebus obat, membeli susu dan membayar pengasuh". jelas nya.
"kamu kerja apa?" tanyaku makin iba.
saat itu Arini menundukkan wajahnya, lalu menatapku.
"aku kerja di club' malam, kalau siang aku jadi sales produk kecantikan" dia tampak berusaha menahan air matanya.
aku mempertanyakan pekerjaannya dalam hati, ada banyak profesi di dalam club' malam, dari mulai waiters, cleaning servis, DJ, penari striptis hingga pekerjaan yang tidak ingin aku sangkakan yaitu "wanita malam" .
"yah vloi. yang ada dalam fikiran kamu benar" dia mungkin membaca raut wajahku .
"yang mana?" tanyaku .
" aku gak punya pilihan lain vloi, anakku butuh susu" dia memandangku dengan air mata yang membasahi pipinya.
hidup memang tampak tidak adil, bagaimana bisa wanita yang dulu begitu populer karena kecantikan nya sekarang memiliki nasib yang begitu menyedihkan.
"kenapa kamu ga berusaha cari kerja yang lain?" tanyaku.
"perusahaan apa yang mau Nerima lulusan SMA yang ijazah nya aja belum di ambil dari sekolah vloi?"
Arini memang cantik, banyak laki-laki yang suka padanya. tapi dia kurang bijaksana dalam menyikapi kelebihannya. uang SPP yang seharusnya dia bayar kan ke sekolah justru ia buat untuk berfoya-foya dengan teman-temannya.
dia juga sering berganti pacar dan hampir semua nya tidak ada yang bener. mungkin ini buah dari dia mensia-siakan masa mudanya.
aku tidak bisa menyalahkan dia, karena akupun tidak punya solusi. kami mengakhiri pertemuan kita sore itu.
aku mencari mushola untuk sholat magrib.
"mbak vloi, aku lagi gak solat. aku tunggu disini aja Yo?" tanya Siti sambil membawakan tasku.
entah mengapa, setelah semua cerita yang aku dengar dari Arini, membuatku begitu terpukul, antara kasihan dan prihatin dengan keadaannya, ada satu sisi dari hatiku yang berulang kali menyalahkan diriku sendiri.
bagaimana bisa aku dengan nasib yang sempurna, hanya karena godaan seujung kuku bisa jatuh dan terperosok kedalam kesalahan yang luar biasa.
aku menangis tersedu-sedu saat berdoa, aku memohon ampun pada Alloh atas semua yang telah aku perbuat. aku menangis sejadi-jadinya. tidak perduli pandangan orang yang menatapku dalam satu mushola itu.
sampai aku terkaget karena siti memanggil ku.
"mbak, uwes ? ini Lo mas Riko telepon" Siti berdiri di depan pintu mushola sambil mengisyaratkan tangannya ke telinga.
aku melipat mukena ku dan ku gantung lagi . aku berjalan ke arah siti sambil mengambil handphone yang diberikan Siti.
"halo mas, ada apa? maaf aku tadi solat magrib" sapaku.
mas Riko menanyakan kabar ku, dan meminta maaf karena baru bisa menelpon ku karena ada beberapa kerjaan yang harus ia selesaikan hingga petang.
hari ini banyak sekali pelajaran yang bisa aku ambil terutama dari kisah Arini, bahwa menghargai orang yang mencintai kita dengan tulus adalah imbalan kita pada kebaikan Tuhan telah memberikan jodoh yang baik.
karena tidak semua orang memiliki nasib yang sama baiknya dengan kita.