BAB 1: Di Balik Bayang-Bayang Kursi Raja
Jakarta selalu terlihat dingin dari balik kaca lantai 45. Ardan Wijaya menyesap kopi hitamnya, menatap kerlap-kerlip lampu kota yang tampak seperti hamparan permata yang tidak berharga. Baginya, pemandangan ini hanyalah simbol dari target yang harus ia taklukkan, bukan sesuatu untuk dinikmati. Kota ini adalah papan catur raksasa, dan ia telah memainkan bidaknya dengan sangat presisi selama hampir dua dekade.
Nusantara Culinary Group adalah hidupnya. Ardan telah menghabiskan hampir dua dekade terakhir berpindah dari satu kota ke kota lain, membangun jaringan restoran yang memadukan resep tradisional dengan sentuhan modern. Ia adalah arsitek di balik setiap bumbu yang disajikan di atas meja para pelanggan. Ia hafal setiap inci standar operasional prosedur restorannya, dari cara menyajikan rendang hingga durasi memanggang bebek bumbu rujak. Namun, di usianya yang menginjak 38 tahun, Ardan menyadari satu hal: ia adalah raja tanpa mahkota yang sebenarnya. Ia memiliki semua aset di atas kertas, tetapi hidupnya sendiri bukan miliknya.
"Mas Ardan, laporan proyek kuliner di Bandung sudah siap di meja," suara halus Sarah memecah lamunan Ardan. Sarah adalah asisten yang paling mengerti betapa dinginnya dunia Ardan.
"Taruh di sana," jawab Ardan tanpa menoleh. Matanya masih tertuju pada lampu-lampu jalan yang bergerak lambat seperti aliran darah yang tersumbat.
"Ibu menelepon tadi pagi, Mas. Beliau bertanya apakah Mas sudah mempertimbangkan calon yang direkomendasikan bulan lalu?"
Ardan menghela napas panjang, bahunya sedikit tegang. Pertanyaan itu selalu datang, seperti hantu yang menolak pergi, menghantui setiap pagi yang ia lalui. "Katakan pada Mama, saya sedang sibuk dengan ekspansi cabang baru. Pernikahan bukan prioritas di tengah fluktuasi pasar saat ini."
Sarah berjalan mendekat, menyodorkan sebuah map. "Ibu tidak mau mendengar kata sibuk, Mas. Tadi beliau bilang, 'Katakan pada Ardan, bisnis besar tanpa penerus adalah investasi yang sia-sia.' Beliau terdengar sangat tegas."
Ardan memejamkan mata. Kata-kata itu terasa seperti belati yang menusuk ulu hatinya. Ibunya bukan sekadar menuntut menantu; ia menuntut seorang "mesin" untuk menghasilkan cucu yang akan menjaga nama Wijaya tetap abadi. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, Ardan merasa hidupnya telah dirancang oleh orang lain sejak ia lahir. Kakaknya, yang kini hidup tenang sebagai istri dari pengusaha properti kaya di luar kota, telah lepas tangan dari tanggung jawab ini. Semua beban itu, tanpa sisa, jatuh ke pundaknya.
"Penerus..." gumam Ardan sarkastik. Ia memutar kursi kerjanya, menatap Sarah yang berdiri kaku. "Sar, menurutmu apakah hidup ini hanya soal siapa yang mewarisi saham perusahaan setelah aku mati?"
Sarah terdiam sejenak, lalu menjawab dengan hati-hati, "Bagi Ibu, mungkin iya, Mas. Tapi bagi Mas sendiri?"
Ardan terdiam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu, karena ia sendiri tidak punya jawabannya. Ia bangkit dari kursi kerjanya, berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan. Bayangan pria yang menatap balik ke arahnya tampak sempurna—setelan jas bespoke yang membungkus tubuh atletisnya, rambut yang tertata rapi, dan tatapan mata yang tajam bagai elang. Namun, Ardan tahu ada yang hilang. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia tertawa tanpa memikirkan keuntungan. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia makan dengan perasaan bahagia, bukan sekadar menilai rasa untuk kepentingan riset bisnis.
"Setiap kali aku mencicipi masakan baru, Sar," Ardan bicara ke arah cermin, "aku tidak mencari rasa cinta atau kehangatan rumah. Aku mencari angka. Aku mencari margin profit. Apakah ini bisa dijual? Apakah bumbu ini terlalu mahal untuk diproduksi massal?"
"Itu karena Mas adalah seorang pebisnis," balas Sarah mencoba memaklumi.
"Bukan. Itu karena aku sudah mati rasa," potong Ardan tajam. "Aku merindukan sesuatu yang sederhana. Sesuatu yang jujur. Sesuatu yang tidak perlu dihitung dengan rumus efisiensi."
Ponselnya bergetar di atas meja, memutus lamunannya. Sebuah undangan datang melalui pesan singkat. Pergelaran Kuliner Nusantara: Menggali Jiwa Rasa. Sebuah acara pameran kuliner besar yang akan mempertemukan para pelaku usaha dari berbagai daerah.
Biasanya, ia akan memerintahkan tim manajer kulinernya untuk hadir. Tapi entah mengapa, kali ini ada dorongan aneh di dalam dadanya. Sebuah keinginan untuk keluar dari rutinitas yang menyesakkan ini, untuk merasakan sesuatu yang benar-benar nyata, jauh dari laporan laba rugi. Ia ingin mencari aroma yang tidak direkayasa oleh konsultan bisnis.
Ardan meraih kunci mobilnya, gerakan yang spontan dan mengejutkan bagi dirinya sendiri. "Sarah, batalkan semua pertemuan saya besok sore. Saya akan pergi ke pergelaran kuliner itu sendiri."
Sarah tertegun, matanya membulat. "Tapi Mas, itu hanya acara publik biasa. Apa perlu seorang CEO turun tangan langsung ke acara kelas menengah seperti itu? Mas punya rapat penting dengan investor besok sore!"
Ardan berbalik, matanya menatap Sarah dengan sorot yang tidak bisa dibantah. "Investor bisa menunggu, Sar. Keinginanku untuk merasa hidup tidak bisa. Batalkan. Atau aku yang akan melakukannya sendiri."
"Baik, Mas," Sarah mengangguk pasrah.
Ardan terdiam di depan pintu kantornya, tangannya mencengkeram gagang pintu dengan erat. Ia merasakan adrenalin yang sudah lama hilang kembali mengalir. "Aku butuh sesuatu yang lain dari sekadar angka. Aku butuh rasa."
Ia melangkah keluar, meninggalkan ruang kerjanya yang sunyi. Ia tidak tahu mengapa hatinya merasa gelisah, seolah-olah ia sedang melangkah menuju sesuatu yang akan mengubah hidupnya selamanya. Ia hanya tahu bahwa malam itu, di antara ribuan orang yang akan berkumpul, ia mungkin akan mencari sesuatu yang ia sendiri belum tahu bentuknya—mungkin secercah kebebasan, atau mungkin sebuah tamparan kenyataan.
Saat mobilnya membelah kemacetan Jakarta yang padat, Ardan menatap ke luar jendela. Langit malam kota itu terlihat kelabu. Sebuah firasat buruk—atau mungkin sebuah harapan—menyelimuti pikirannya. Ia tidak tahu bahwa dalam hitungan jam, seluruh logika bisnis dan hidup teraturnya akan diuji oleh seseorang yang tak pernah ada dalam daftar rencananya. Ia membayangkan sebuah dapur, sebuah aroma bumbu yang pekat, dan sosok yang mungkin berani menatapnya dengan pandangan menantang.
Tiba-tiba, ponselnya kembali berdering. Nama Ibunya terpampang di layar. Ardan membiarkannya berdering sampai berhenti sendiri, membiarkan keheningan kembali memenuhi kabin mobilnya yang mewah. Ia butuh ketenangan sebelum badai, sebelum ia melangkah ke tempat di mana ia akan dipaksa menanggalkan topeng CEO-nya.
Di dalam mobil yang melaju pelan, Ardan menyalakan radio. Musik klasik mengalun lembut, namun pikirannya justru melayang pada kenangan masa kecil—saat ia masih sering duduk di dapur, melihat ibunya memasak dengan bumbu yang ia tumbuk sendiri. Sebelum bisnis ini menjadi raksasa yang menelan hidupnya, makanan adalah bentuk kasih sayang, bukan komoditas.
Apakah ia benar-benar siap untuk melawan, atau ia hanya sedang menunggu seseorang untuk memberinya alasan untuk menyerah? Ardan tidak tahu. Yang ia tahu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia sedang menuju ke suatu tempat tanpa membawa agenda bisnis apa pun.
Dan tepat di persimpangan lampu merah, Ardan menyadari bahwa selama ini, ia telah memenangkan dunia, tetapi ia kehilangan dirinya sendiri di dalam sana. Besok, di tengah hiruk-pikuk aroma bumbu tradisional, ia akan mencari sisa-sisa dirinya yang hilang itu. Ia tahu ia tidak bisa terus-menerus hidup sebagai pion yang digerakkan oleh ekspektasi ibunya. Jika hidupnya memang harus memiliki penerus, apakah penerus itu harus berasal dari rahim yang tepat, atau dari jiwa yang mampu mewariskan nilai-nilai yang ia yakini?
Ardan menghirup napas dalam-dalam. Di kejauhan, lampu-lampu gedung pencakar langit Jakarta terlihat seperti tembok penjara yang megah. Ia tahu besok akan menjadi hari yang panjang, namun anehnya, untuk pertama kalinya, ia merasa bersemangat. Ia tidak sedang menuju ruang rapat, ia sedang menuju sesuatu yang lebih besar dari sekadar kontrak atau keuntungan kuartal. Ia sedang menuju takdirnya yang paling nyata.