Nana tidak kuasa menggigit bibir bawahnya yang terasa belepotan oleh minyak. Ia langsung membuang wajah ke samping dan hendak melompat turun dari pangkuan Frans. Namun, lagi-lagi pinggangnya ditahan oleh pria itu. “Kau mau ke mana? Jangan marah, Nana. Aku hanya bercanda,” Ucap Frans. “Tidak ada bercanda yang seperti itu, Frans. Lepaskan aku. Aku akan membereskan ini. Sepertinya jika aku marah pun, kau tidak akan peduli.” Desis Nana dengan kedua mata menyipit. Akhirnya Frans melepaskan Nana hingga gadis itu bisa langsung turun dari pangkuannya, “Kau tidak pandai berbohong. Kau tidak marah karena kau menyukainya. Haha..” “Tutup mulutmu, Frans.” Omel Nana dengan membereskan sampah di atas meja. Kelihatannya Frans tidak merasa bersalah sama sekali. Entah mengapa pria itu bisa-bisanya memak

