Tora hanya diam dengan leher menegang hingga urat-uratnya nampak agak menyembul keluar. Rahangnya mengerat karena ia menahan rasa sakit yang teramat besar di hatinya. Sesuatu yang meremukkan jantungnya. Karena tidak merasa ada lagi yang perlu dibicarakan, Nana bangkit berdiri, “Aku tidak ingin mati memendam perasaanku. Cinta bukan berarti harus memiliki. Meski aku mencintai Frans, bukan berarti kami akan bersama. Aku akan berusaha untuk keluar dari kehidupan Frans, begitu juga dari kehidupanmu. Aku ingin kalian berdua menjalani hidup kalian, kembali seperti ketika parasit bernama Nana belum masuk ke dalamnya. Sekali lagi, aku minta maaf, Tora. Terima kasih untuk semuanya.” ucapnya sebelum melangkah pergi. Tora masih duduk mematung di kursinya. Kedua tangannya masih mengepal kuat. Di sala

