Kepulan asap putih keluar dari mulut pria itu, setelah ia menghisap cerutunya dalam-dalam. Kedua iris coklatnya melirik pada seorang wanita yang sedang membersihkan sofa kulit panjang yang terletak dekat dengan meja kerjanya. “Cepatlah. Aku sedang ingin sendiri.” Ujar Frans dingin. “Baik.” Angguk Lensy, seraya mempercepat gerakan tangannya. Jantung wanita itu berdegub memburu ketika merasakan aura suram yang beredar di dalam ruangan itu. Akhir-akhir ini, ia baru menyadari bahwa Frans akan menjadi sangat galak setelah berhubungan. Awalnya, Lensy pikir itu hanya kebetulan. Namun, sepertinya itu adalah sebuah kebiasaan. Ia tidak tau mengapa, dan tidak berani bertanya juga. “Apa jadwalku sore ini?” Tanya Frans dengan bangkit berdiri dan mengaitkan kancing kemejanya yang terbuka setengah. I

