Begitu tangannya terlepas, Nana langsung meraih kemejanya yang terbuka untuk menutupi bagian tubuhnya yang terekspos. Ia masih menangis hingga tidak dapat bicara lagi. Air matanya terus mengalir deras bagai pipa bocor. Frans menggeleng dengan wajah horror, “Ti.. tidak.. apa yang aku lakukan?” gumamnya dengan melihat ke sekeliling untuk menyadari bahwa ia sedang berada di kamarnya. Tangisan Nana dengan ajaibnya membuat mabuk Frans tiba-tiba menghilang, mengembalikan kewarasannya. Frans tidak bisa membayangkan jika ia tidak tersadar dari mabuknya dan melanjutkan kejahatannya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Ia mungkin akan memotong kedua tangannya sendiri karena menodai gadis yang ia cintai. “N-nana.. A-aku..” Frans terbata. Bingung harus berkata apa dan melakukan apa, se

