Begitu sampai di kantor, Nana langsung menghampiri ruangan Bu Tati untuk memberikan formulir absen yang belum sempat ia isi karena sebelumnya Frans mengajaknya ke Jepang secara tiba-tiba. Anehnya, Bu Tati tidak memarahi Nana sama sekali. Namun, Nana bisa merasakan wanita itu merasa tidak senang padanya. Begitu juga dengan semua pegawai kebersihan yang diam-diam memandanginya dengan sinis. “Nana!” Gadis itu menoleh ke belakang mendengar suara tersebut memanggilnya. Ia tersenyum lebar pada gadis yang melangkah cepat menghampirinya, “Kiky!” “Yaampun, Nana.. Padahal kita kerja di satu lantai, tapi kenapa susah sekali bertemu denganmu?” Kiky memeluk Nana singkat. Nana membalas pelukan Kiky, “Maaf, Ky. Aku tidak memiliki waktu untuk berkeliaran keluar dari ruangan Pak Earvin.” Kiky mengang

