---- Wajah Nana berubah pucat. Ia menutup mulutnya sendiri dengan satu tangan lalu menoleh ke sekeliling hanya untuk mendapati semua wajah tercengang yang tengah menatapnya tidak percaya. Belum juga Nana memberikan klarifikasi, tiba-tiba pergerlangan tangannya disambar pelan oleh Frans. Pria itu menarik Nana ke dalam rangkulannya. Ia mencengkram lengan atas Nana agar terus menempel padanya. Kedua mata tajam itu menatap Nana penuh kemenangan, “Kau sudah bukan bagian dari perusahaan ini lagi, Na. Kau sudah tidak bekerja di sini. Itu artinya tidak ada lagi yang perlu kita tutupi, benar? Aku tidak salah, kan?” Nana menggigit bibir bawahnya dengan geram. Ia mengalihkan padangannya kepada semua orang yang tengah menatap tidak percaya padanya. Sungguh, ia bahkan tidak tahu orang-orang itu bis

