Part 07.

1300 Words
Suara alarm berbunyi dengan nyaring di kamar seorang gadis. Jihan yang semula tidur, perlahan membuka matanya. Tangannya meraih jam yang ada di atas nakas kemudian mematikannya. Jam di dinding menunjukkan pukul dua tengah malam. Jihan bangun dari tempat tidur lalu bergegas menuju ke kamar mandi yang ada di sudut kamarnya. Selesai mandi dan berganti pakaian. Jihan mengambil mukena yang ada di dalam lemari. Kemudian memakainya. Sajadah berwarna merah kini sudah terbentang di sudut kamarnya. Gadis itu kini mulai menunaikan salat malam. Sejenak untuk melepaskan rindunya akan sang pencipta. Di dalam keheningan malam Jihan mulai memanjatkan doanya dihadapan sang maha kuasa. 'Apa yang terjadi denganku, kenapa tiba-tiba aku ingat kak Alex dan ucapan Wilda?' gumam Jihan dalam hati ketika selesai solat dan berdoa. Entah kenapa akhir akhir ini gadis itu selalu teringat ucapan Wilda sahabatnya juga selalu ingat dengan sosok Alex anak baru di kelasnya. "Ya Allah. Kok aku masih ingat terus, ya?" ucapnya seraya memukul - mukul kepalanya sendiri dengan tangan. Kemudian mengembuskan napas kasar. Berharap ingatan itu akan menghilang. Namun ternyata tidak juga. Malah ingatan itu semakin memenuhi kepala gadis berhijab itu. "Astagfirullah ... Mendingan aku mengaji saja biar bisa lupa sama dia." Jihan bangkit kemudian meraih Al-Qur'an yang ada di atas meja belajarnya. Jihan kembali duduk. Perlahan gadis itu membuka kitab suci Al-Qur'an dan tak lupa membaca Basmalah. "Ar-rohmaan." "Allamal-qur-aan..." "Allamahul-bayaan..." Suara Jihan terdengar merdu saat melantunkan ayat suci itu. Detik demi detik, menit demi menit sudah berlalu, gadis itu selesai membaca satu surah Ar-rahman. Hati Jihan tiba-tiba saja menjadi tenang. Tak seperti sebelumnya yang selalu ingat dengan senyuman Alex. Ah, Wilda memang selalu menggodanya. Dan menyindir Jihan yang jomlo tak punya pacar. Bukankah pacaran dalam Islam itu di larang? Itulah yang membuat Jihan galau sekarang ini. Jihan mengembuskan napas lega setelah dirinya sudah tidak mengingat senyum Alex lagi. °°°°°°° Abah dan Ummi sedang duduk di ruang makan menikmati secangkir teh hangat bersama. "Jihan mana, Mi? Tumben belum turun." tanya Abah saat tak melihat Jihan anak gadisnya. "Kayak tidak tahu anak Abah aja, dia biasanya turun sekalian berangkat kuliah," sahut Ummi sembari menyiapkan piring dan menaruhnya di atas meja. "Iya, dia berbeda sekali dengan kakaknya." Selesai menyiapkan piring, kini Ummi mengambilkan nasi untuk Abah sarapan. Setelah itu Ummi duduk di kursi yang ada di samping suaminya itu. "Pelan - pelan nanti Jihan pasti akan tahu sendiri, Abah." Abah mengangguk setuju. Tak lama kemudian Jihan datang ke ruang makan dengan tas ransel berwarna merah muda miliknya. "Assalamualaikum, Abah, Ummi." sapa Jihan yang baru saja datang. Kemudian gadis itu duduk di samping Ibunya. "Waalaikumussalam..." sahut Abah dan Ummi secara bersamaan. "Jihan, hari ini Abah ada pengajian di luar kota. Kamu temenin Ummi ya." ujar Abah. Pria dewasa itu hari ini ada acara pengajian di luar kota. Seperti biasanya Abah selalu sibuk dengan acara pengajian bersama dengan teman temannya sesama Ustaz dan Kiyai. "Insya Allah jihan jaga Ummi. Abah tenang saja." jawabnya dengan semangat seraya tersenyum manis. Abah Abdul menganggukkan kepalanya pelan seraya menatap anak gadisnya yang kini mulai menikmati makanannya. "Jihan, baca doa dulu sebelum makan." Ummi mengingatkan Jihan. Gadis berhijab itu lupa membaca doa sebelum makan. "Astagfirullah ... Jihan lupa, Mi." Mendengar ucapan Jihan, Ummi hanya bisa menggelengkan kepalanya menatap anak gadisnya yang manja itu. Setelah Jihan membaca doa, dia kembali makan makanan yang ada di depannya. "Abah, nanti berangkat jam berapa?" tanya Ummi ingin tahu. "Insya Allah setelah selesai sarapan, Ummi." Jihan dan keluarganya kini menikmati sarapan pagi bersama. Setelah itu Jihan pamit berangkat kuliah. "Abah, Ummi. Jihan pamit berangkat kuliah dulu." pamit gadis berhijab itu. Mengulurkan tangannya di depan Abah dan Ummi. Jihan mencium punggung tangan kedua orang tuanya dengan takzim. "Jihan, tunggu sebentar lagi, kita berangkat bareng. Abah akan mengantar kamu kuliah hari ini. Kebetulan kita satu jalur, Abah lewat jalan depan kampus kamu." ujar Abah saat Jihan berpamitan. Jihan mengangguk pelan seraya tersenyum. "Baik Abah." Gadis itu duduk di kursi yang ada di teras menunggu sang ayah bersiap. Jihan membuka ponsel miliknya dan ternyata ada pesan dari Wilda yang baru saja masuk. Belum sempat Jihan membaca pesan itu, Abah lebih dulu datang dan mengajaknya berangkat. "Jihan, ayok berangkat." ajak Abah Abdul, keluar dari rumah berjalan menuju ke halaman seraya membawa tas besar miliknya dan kini menaruhnya ke dalam bagasi mobil. Jihan tak menjawab, tapi gadis itu langsung berjalan mengikuti Abahnya dari belakang. "Abah, Jihan. Kalian hati-hati." ujar Ummi yang kini berdiri di samping mobil. Wanita dewasa itu kini mencium punggung tangan suaminya. "Hati-hati di jalan, Abah." pesannya. Abah Abdul tersenyum. "Insya Allah, Abah akan hati hati." Setelah mengatakan itu, Abah Abdul masuk ke dalam mobil dan diikuti oleh Jihan. "Assalamualaikum..." ucap Abah Abdul sesaat setelah masuk ke dalam mobil. "Waalaikumussalam..." jawab Ummi seraya tersenyum. °°°°°°°°°° Wilda duduk sendirian di dalam ruang kelas. Ada beberapa mahasiswi lainnya juga yang ada di dalam ruangan itu. Gadis itu menunggu Jihan sahabatnya. Mata Wilda menatap layar ponselnya, menunggu balasan pesan dari Jihan yang sudah centang biru tanda sudah di baca, namun ternyata tidak ada balasan apapun dari sahabatnya itu. "Tumben tidak balas?" gumamnya bicara sendiri saat melihat layar ponselnya. Sembari menunggu, Wilda mengambil buku dari dalam tas, lalu membacanya. Tak lama kemudian Jihan datang. "Assalamualaikum, Wilda." "Waalaikumussalam, Jihan. Kamu sudah datang? Aku sudah menunggu kamu dari tadi." "Iya, maaf ya. Aku belum sempat balas pesan kamu." jawabnya seraya duduk di kursi yang ada di belakang Wilda. Lalu melepaskan tas ransel yang masih menggantung di pundaknya dan menaruhnya di atas meja. "Tidak apa-apa. Kamu berangkat bareng siapa? Kak Alex?" tanya Wilda ingin tahu. "Bareng Abah." Wilda mengerutkan dahinya seraya menatap Jihan. "Kamu bareng Abah?" Dengan cepat Jihan menganggukkan kepalanya. "Iya, aku tadi berangkat bareng Abah. Kenapa Wilda?" "Tadi pagi tuh, kak Alex bilang mau jemput kamu, dia hubungi aku tadi pagi." Deg. Seketika Jihan teringat tadi saat dia berpapasan dengan mobil yang tidak asing baginya. Mungkinkah itu mobil milik Alex? "Jihan, kenapa melamun begitu?" Pertanyaan Wilda menyadarkan Jihan dari lamunannya. Membuatnya sedikit gugup saat terkejut. "Em, aku tidak tahu itu." "Sepertinya kak Alex menyukai kamu deh Jihan." "Ah, tidak mungkin, Wilda." sanggah Jihan dengan cepat. "Aku yakin itu, Jihan. Buka hatimu untuk dia, menurutku dia laki-laki yang baik, tidak ada salahnya kita saling berteman kan. Bukan berarti pacaran." Jihan diam memikirkan ucapan sahabatnya itu. Gadis itu juga merasa kalau dirinya sering memikirkan laki-laki itu. Namun Jihan sadar kalau dirinya tidak mungkin berpacaran dengan laki-laki itu. "Aku..." belum sempat Jihan bicara, tiba-tiba saja Alex datang menghampiri mereka. "Jihan..." sapa laki-laki itu seraya berjalan mendekat. Kemudian berdiri tepat di samping Jihan. Jihan dan Wilda kini mengangkat pandangannya melihat Alex. "Tadi aku jemput kamu, tapi ternyata kamu sudah berangkat, aku bertemu dengan ibu kamu." lanjut laki-laki itu seraya menatap Jihan. Deg. Jantung Jihan tiba-tiba mau copot saat mendengar ucapan Alex. Bagaimana bisa dia tiba-tiba saja menjemput Jihan di rumahnya tanpa bilang terlebih dahulu. Lalu apa kata ibunya nanti. Mungkin Jihan akan di hukum tidak boleh keluar dari rumah. Atau mungkin Jihan akan di larang datang ke kampus lagi oleh ayah dan ibunya. "Ka-kak Alex, ke-kenapa tidak bilang dulu kalau mau jemput?" ucap Jihan dengan terbata-bata karena terkejut. "Aku hanya ingin memberimu kejutan dengan menjemputmu di rumah. Tapi aku hanya bertemu dengan ibumu tadi." Deg. Lagi-lagi Jihan terkejut dengan ucapan Alex Mungkinkah yang tadi Wilda katakan memang benar kalau laki-laki itu mempunyai rasa pada dirinya. "Cie, yang tadi di jemput di rumahnya." goda Wilda. Membuat wajah Jihan seketika memerah seperti tomat. 'Apa yang harus aku lakukan sekarang, kak Alex, kenapa kamu seperhatian itu denganku? Ya Allah ... Kenapa hatiku rasanya jadi begini?aneh, aku menjadi aneh jika ada di dekat kak Alex.' batin Jihan dalam hati saat melihat Alex tersenyum manis ke arahnya. Membuat jantung Jihan berdetak lebih kencang seperti mau copot. °°°°°°°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD