Part 06.

1261 Words
Jam istirahat sudah tiba. Jihan dan Wilda keluar dari gedung kelas. Mereka berdua berjalan keluar sembari tersenyum. "Jihan. Kantin yuk," ajak Wilda. "Enggak ah. Aku mau duduk aja di taman, mau baca buku baru soalnya." Jihan menolak ajakan sahabatnya. "Baiklah, sahabatku yang satu ini memang kutu buku," ucap Wilda menggoda Jihan sahabatnya. "Nitip apa enggak?" "Nitip air mineral satu ya," memberikan uang pada Wilda. "Siap." Wilda berjalan menuju kantin meninggalkan Jihan. Setelah Wilda pergi, Jihan berjalan menuju ke taman yang ada di halaman kampus tempat ia menimba ilmu. Gadis cantik itu memilih duduk di bawah pohon besar yang rindang, Jihan duduk di kursi yang ada di bawah pohon itu. Semilir angin mulai berhembus, perlahan membuat ujung hijab pasmina milik Jihan terbang oleh tiupan angin. Gadis itu menunduk membaca buku baru miliknya. Jihan tidak tahu kalau dari seberang sana ada seorang laki-laki tampan yang melihatnya dan memotretnya dari kejauhan. Laki-laki itu tersenyum puas saat sudah mendapatkan beberapa potret Jihan. Saat melihat gadis itu duduk sendirian, tiba-tiba saja Alex ingin menemui gadis itu, perlahan ia berjalan mendekat ke taman di mana Jihan sedang asik membaca buku. Alex tersenyum. Lalu melanjutkan langkahnya mendekati Jihan. "Hai," sapa Alex saat berada tepat di depan Jihan. Jihan yang sedang menunduk membaca buku miliknya tiba-tiba saja mendengar suara laki-laki menyapa dirinya, perlahan Jihan mendongakkan wajahnya menatap laki-laki muda yang berdiri tepat di hadapannya. "Apa aku boleh duduk?" meminta izin pada Jihan saat laki-laki itu ingin duduk di samping gadis berhijab itu. Jihan tidak enak antara ingin menolak atau mengizinkan Alex duduk, tapi akhirnya ia mengangguk pelan. Melihat Jihan mengangguk Alex tersenyum lalu duduk di samping Jihan. "Hai Jihan, kamu sedang apa?" Alex terus menatap gadis yang ada di depannya, membuat Jihan semakin tidak nyaman. "Membaca buku," jawab Jihan dengan suara lirih, gadis itu terus menundukkan wajahnya. Duduk berdua dengan laki-laki yang bukan mahromnya membuat Jihan tidak nyaman, tapi gadis itu juga tidak ada hak untuk menolaknya karena ini tempat umum semua mahasiswa berhak untuk duduk di mana saja. "Hai. Eh kok kak Alex ada di sini?" tanya Wilda saat ia baru sampai di taman menghampiri sahabatnya. Wilda memberikan satu botol air mineral untuk Jihan sahabatnya. Dengan cepat Jihan berdiri menghampiri Wilda. "Terima kasih Wil," ucap Jihan. "Kak Alex mau minum juga?" Wilda menawarkan minuman miliknya. "Tidak usah. Terima kasih," Alex tersenyum menatap Wilda lalu bergantian menatap Jihan. Wilda menyadari kalau laki-laki muda yang ada di depannya itu mempunyai perasaan pada Jihan sahabatnya, itu karena saat pertama kali masuk kuliah laki-laki itu terus saja menatap Jihan, begitupun sekarang laki-laki itu mulai mendekati sahabat yang tidak pernah kenal dengan laki-laki yang bukan muhrimnya kecuali kakak dan abahnya. Kursi taman itu panjang, Wilda mengajak Jihan duduk bersama dengan Alex. Karena muncul ide jahil Wilda yang ingin menjodohkan Jihan dengan Alex laki-laki tampan keturunan Indonesia Belanda itu. Kalau saja Wilda masih jomblo pasti gadis itu sudah mulai mendekati Alex, tapi Wilda sudah mempunyai seseorang yang sudah ada di dalam hatinya, yaitu Farhan kakak satu tingkat yang kini sedang KKN di suatu daerah. Wilda duduk di tengah antara Alex dan Jihan, gadis itu sesekali melihat Jihan dan Alex secara bergantian. Jihan menundukkan wajahnya, sedangkan Alex terus saja menatap Jihan. 'Ya salam. Jadi obat nyamuk deh," Wilda menepuk dahinya. ***** "Jihan, bener kan apa yang aku lihat, kalau kak Alex itu suka sama kamu, beneran deh," Jihan dan Wilda kini berjalan bersama keluar dari perpustakaan. Seperti biasa mereka berdua selalu mampir ke tempat yang penuh dengan buku itu untuk meminjam beberapa buku, mereka berdua mempunyai hobi yang sama yaitu suka sekali membaca, bahkan buku novel juga menjadi salah satu buku favorit mereka. "Nih." Wilda memberikan satu buku novel dengan judul *Ta'aruf Dalam Islam* untuk sahabatnya. Wilda memang sengaja meminjam novel itu untuk Jihan agar bisa membuka sedikit hati sahabatnya itu. "Apa ini Wil? Novel?" tanya Jihan heran. "Iya, sekali- kali baca novel tentang ta'aruf, biar menambah wawasan kita Jihan," Wilda kadang lupa kalau sahabatnya itu kelewat polos berlebihan. "Tapi ini untuk apa Wilda?" "Untuk mendekati kak Alex, ha ha ha," Wilda berlari, Jihan segera mengejar sahabatnya itu. Kedua gadis itu berlari di halaman perpustakaan. Semua orang menatap mereka berdua. "Sudah Wil, malu di lihat banyak orang," ucap Jihan dengan napas tersengal. "Biarin aja Jihan, ayok." Wilda memang gadis dengan kadar malu nol derajat, ia tidak pernah malu dengan siapapun, sangat berbeda dengan Jihan gadis yang sangat pemalu. ****. Di dalam kamar malam ini, seorang laki-laki muda kini sedang menatap laptop miliknya lebih tepatnya menatap foto seorang gadis berhijab yang ada di layar laptop itu. Seperti biasa setelah pulang kuliah Alex mulai memindahkan file foto Jihan ke dalam laptop miliknya. Entah kenapa laki-laki itu sangat mengagumi gadis berhijab itu, seakan ada kedamaian di dalam hatinya saat melihat hijab Jihan. Saat berada di luar negeri Alex hanya melihat gadis yang berpakaian seksi dan mewarnai rambutnya dengan warna pelangi, itu sangat berbeda dengan Jihan gadis yang menutup seluruh tubuhnya dengan gamis dan hijab yang membuatnya sangat berbeda dengan kebanyakan gadis yang pernah Alex kenal. "Jihan. Kenapa saya selalu ingin bersamamu?" tersenyum menatap foto itu. Ceklek. Suara pintu kamar Alex terbuka. Oma berjalan masuk ke dalam kamar cucu laki-lakinya yang sedang duduk menatap layar laptop. Oma berpikir kalau cucunya itu sedang belajar. Namun alangkah terkejutnya saat menatap layar laptop Alex ada foto seorang gadis muslim cantik berhijab yang sedang di tatap Alex sambil tersenyum. 'Astaga,' batin oma terkejut. "Lex, kamu sedang apa sayang?" mencium pipi Alex. "Eh oma bikin kaget saja. Untung cucu oma yang ganteng ini tidak jantungan," oma tersenyum. "Kamu sedang apa sayang?" tanya oma, wanita paruh baya itu ingin mendengar jawaban dari Alex. "Ini oma, sedang melihat foto teman Alex yang cantik oma, cantiknya beda, Alex suka," Deg! Oma semakin terkejut saat mendengar jawaban cucunya itu. Sejak kapan Alex kenal gadis berhijab yang menjadi temannya itu, karena yang oma tahu cucunya tidak pernah pergi keluar dari rumah selain kuliah. Apalagi mereka sangat berbeda. Membuat oma semakin ingin tahu lebih tentang hubungan mereka. "Lex, di mana kamu kenal gadis itu, sayang?" oma semakin ingin tahu jawaban apa yang akan di berikan oleh cucunya itu. Belum sempat Alex menjawab pertanyaan Oma, tiba-tiba saja ponsel milik Alex berdering. "Sebentar ya oma," Alex mengambil ponsel miliknya yang berada di atas meja. "Papa? Oma ini panggilan video dari, Papa," Alex tertawa bahagia saat papa-nya menghubungi dirinya lewat Video call di aplikasi hijau. "Angkat sayang," titah Oma. Alex mengangguk lalu menekan tombol hijau agar bisa melihat dan mendengar suara dari papa-nya. "Halo selamat sore papa!" Alex terlihat bahagia saat bisa melihat papa dan mamanya dari layar ponsel. "Selamat sore Lex, ma, kalian apa kabar?" sapa papa dan mama Alex dari seberang sana. "Puji Tuhan. Kami di sini baik-baik saja. Semoga kalian di sana juga baik-baik saja sayang," Kata oma pada anak dan menantunya yang ada di seberang sana. Alex terus saja tersenyum saat bicara sama orang tuanya, Alex banyak bercerita bagaimana dia di sini, bagaimana dia kuliah dan menjalani kehidupan bersama dengan oma di Indonesia. "Syukurlah Lex kalau kamu senang berada di sana bersama oma, papa sama mama mau lanjut bekerja dulu, selamat sore sayang, ma, i love you," "I love you Pa, Ma," Alex menutup sambungan video call nya. Tok Tok! Suara seorang mengetuk pintu kamar Alex. Oma segera membuka pintu itu, ternyata asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya yang mengetuk pintu tersebut. "Maaf nyonya, makanannya sudah siap semua," Oma mengangguk, lalu asisten rumah tangga itu pamit pergi. "Lex, ayo turun kita makan dulu sayang," ajak oma. "Siap oma," jawab Alex dengan semangat. Kini oma dan Alex berjalan menuju ke ruang makan. Mereka berdua makan malam bersama. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD