Terdengar langkah kaki berjalan menapaki anak tangga menuju ke lantai dua. Oma Rita baru saja pulang dari kantor. Wanita dewasa itu masih terlihat lebih energik dari usianya. Di usia yang sudah tidak muda lagi itu, Oma Rita masih harus mengerjakan pekerjaan yang ada di kantor miliknya. Anak satu satunya yang ia miliki memilih tinggal di Belanda dan jarang pulang ke Indonesia. Apalagi Ayah dan Ibu Alex punya bisnis di sana. Hanya sesekali datang untuk menjenguk sang Ibu saat tiba hari natal saja.
Langkah kaki itu terhenti saat melihat pintu kamar Alex yang tertutup dengan rapat. Ia merindukan cucunya, tanpa ragu wanita dewasa itu membuka pintu kamar tersebut.
Ceklek.
Ia mengedarkan pandangan matanya ke seluruh kamar. Tiba-tiba dahinya mengernyit saat tak melihat siapapun di dalam sana.
"Kemana Alex?" gumamnya bicara sendiri. Detik kemudian ia melangkah masuk ke dalam kamar itu.
Oma Rita sangat menyayangi cucunya, karena hanya Alex cucu satu satunya yang ia miliki, apapun yang cucunya minta, sebisa mungkin ia kabulkan. Apalagi ia punya banyak uang, jadi bisa melakukan apa saja yang Alex minta. Termasuk memasukkan Alex ke kampus yang sama dengan Jihan. Juga di kelas yang sama. Semuanya itu Oma Rita lakukan demi cucu semata wayangnya tersebut.
"Buku tentang Agama Islam?" ucapnya saat melihat tumpukan buku yang ada di atas meja belajar Alex.
Deg!
Spontan wanita dewasa itu terkejut. Dan dengan cepat ia melangkah mendekat.
Tangannya terulur mengambil buku yang ada di depannya. "Ini kan?"
Rasanya tak percaya jika Alex cucunya menyimpan buku tentang Agama Islam. Bukan hanya satu, tapi ada banyak sekali buku yang ada di meja belajarnya.
"Alex?"
Oma Rita membaca judul buku itu satu persatu, masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Kemudian ia membiarkan laci dan mendapati banyak sekali foto seorang gadis berhijab. Karena akhir-akhir ini Alex memang sering memfoto jihan secara diam-diam hingga Alex mempunyai banyak sekali foto gadis berhijab itu.
Sejenak Oma Rita memperhatikan foto gadis berhijab itu. Rasanya ia pernah melihatnya, tapi di mana?
Setelah kembali mengingat ingat akhirnya ia tahu, foto itu adalah foto yang sama yang ada di layar laptop Alex.
"Siapa gadis ini? Kenapa bisa Alex punya banyak sekali fotonya dan buku ini...?"
Rasanya sulit untuk di percaya, apa yang barusan ia lihat. Cucu kesayangannya itu bahkan sekarang berubah jadi suka membaca. Padahal dulu tidak seperti itu. Alex yang dulu lebih suka main game seharian penuh, apalagi saat masih tinggal di Belanda, Alex suka sekali ke klub malam bersama dengan teman-temannya.
Entah ini perubahan yang bagus atau tidak, yang jelas Oma Rita tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini. Ia merasa harus benar-benar menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada cucunya.
Tok! Tok!
"Selamat sore, Nyonya," sapa asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu.
Oma Rita menaruh foto yang ada di tangannya. Kemudian menutup kembali laci itu. Lalu menoleh ke arah asisten rumah tangga yang baru saja menyapanya.
"Permisi Nyonya, saya mau menaruh baju Tuan muda."
Oma Rita mengangguk tanda memberi izin. Manik mata warna coklat itu memperhatikan asisten rumah tangga yang sedang memasukkan baju baju Alex ke dalam walk in closed.
"Bik," panggil Oma Rita.
"Iya Nyonya?" wanita itu menoleh.
"Apa Alex sudah pulang?" tanya Oma Rita seraya berjalan mendekat.
"Mungkin sebentar lagi Tuan muda akan pulang. Biasanya memang pulangnya menjelang maghrib, Nyah." sahutnya seraya merapikan baju yang baru saja ia masukkan.
"Apa setiap hari Alex selalu pulang jam segini?"
Kepala asisten itu mengangguk pelan. "Iya." kemudian melangkah keluar dari kamar tersebut.
"Oh Tuhan, apa yang sebenarnya dia lakukan di luar sana?" wanita dewasa itu terlihat sangat khawatir pada cucunya. Entah pergi dengan siapa dan sedang berbuat apa di luar sana. Yang jelas, sejak melihat buku milik Alex, membuatnya lebih khawatir. Ia takut cucunya itu salah pergaulan.
"Aku harus menghubungi Sarah secepatnya, semoga saja dia tahu siapa teman-teman Alex di kampusnya." gumamnya seraya mengambil ponsel miliknya yang ada di dalam tas.
Ia mencari nomor Sarah, Dosen yang mengajar di kelas Alex. Setelah ketemu, Oma Rita segera menghubunginya.
Beberapa detik kemudian terdengar suara seseorang dari seberang sana.
"Halo?"
"Halo selamat sore, Sarah."
"Selamat Store."
Oma Rita tersenyum. "Boleh saya bertanya soal Alex?"
"Alex? Anda siapa?"
"Saya Omanya Alex, tantenya suami kamu, Sarah." jelas Oma Rita.
"Ah iya. Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Apa kamu tahu siapa teman-teman yang dekat dengan Alex?"
"Kalau soal itu, maaf saya tidak tahu. Setelah jam pelajaran selesai, saya tidak tahu lagi urusan di kelas itu."
Mendengar jawaban dari Dosen Alex, membuat wanita tersebut semakin penasaran dengan siapa saja teman yang dekat dengan cucunya. Hingga membuat perubahan seperti ini.
"Mulai sekarang tolong kamu awasi Alex, saya ingin tahu siapa saja yang dekat dengan dia."
Setelah mendapat persetujuan dari Sarah Oma Rita sedikit lega. Ia tidak pernah berpikir sebelumnya kalau Alex akan berubah seperti ini.
***
Malam hari ini Abah Abdul dan Adnan baru saja tiba di rumahnya. Ummi menyambut mereka di depan rumah.
"Assalamualaikum..." ucap Abah dan Adnan bersamaan.
"Waalaikumussalam," sahut Ummi Asiyah seraya tersenyum menyambut suaminya.
Tangannya terulur mencium punggung tangan suaminya. "Alhamdulillah, Abah dan Adnan sampai rumah dengan selamat. Ummi sempat panik saat kalian bilang jalanan macet."
"Ummi, ada oleh-oleh dari Ummi Solehah." Adnan memberikan satu kantung kresek besar warna hitam pada sang Ibu.
"Alhamdulillah." wanita dewasa itu menerimanya. Kemudian membawanya ke dalam rumah.
Wanita dewasa itu membuatkan teh hangat untuk suaminya. Abah Abdul duduk di kursi yang ada di dapur. Sedangkan Adnan memilih pergi ke dalam kamarnya.
"Abah, sudah makan belum?" tanya Ummi pada suaminya.
"Sudah tadi di sana," sahut Abah.
"Kalau mau makan malam? Biar Ummi siapkan untuk Abah."
"Tidak usah, Mi. Teh hangat saja sudah cukup untuk menghangatkan badan."
"Tunggu ya, Bah. Sebentar lagi teh hangatnya jadi."
Wanita dewasa itu memasukkan gula ke dalam cangkir yang berisi teh hangat. Lalu mengaduknya. Setelah selesai, ia memberikannya pada suaminya.
"Ini tehnya, Abah." Ummi menaruh cangkir berisi teh hangat di depan suaminya. Kemudian ia duduk di kursi yang ada di sampingnya.
"Menurut Ummi, bagaimana sikap Althaf setelah tinggal di sini beberapa hari?" tanya Abah Abdul.
"Anak itu baik. Dan ini bukan pertama kalinya Althaf menginap di sini, Bah. Dulu juga sering pulang bareng Adnan dan tinggal di sini selama liburan sekolah." tutur Ummi.
Abah Abdul mengangguk pelan seraya tersenyum. "Apa menurut Ummi, dia cocok dengan Jihan?" tanya Abah.
Wanita itu nampak berpikir sejenak. Beberapa detik kemudian ia berkata. "Maksudnya Abah?" Ummi Aisyah bingung dengan apa yang suaminya katakan.
"Habib Razaq berencana menjodohkan Jihan dan Althaf."
"Menjodohkan?" ulang Ummi memastikan dengan apa yang baru saja di dengarnya. "Apa Ummi tidak salah dengar?"
"Tidak, Ummi tidak salah dengar. Jihan akan di jodohkan dengan Althaf. Siapa yang bisa menolak permintaan Habib Razaq. Beliau orang terpandang, pemilik pesantren dan yayasan besar. Dan Althaf sendiri juga lulusan Mesir. Keluarganya juga sudah seperti saudara kita sendiri. Banyak hal yang membuat Abah setuju dengan permintaan Habib."
"Apa Abah sudah bicarakan ini dengan Jihan? Dia masih kuliah, seenggaknya Abah jangan ambil keputusan sendiri sebelum tahu jawaban dari Jihan."
"Tidak perlu. Jihan harus setuju dengan keputusan ini."
Ummi menatap suaminya dengan rasa tak percaya. Bagaimana bisa suaminya itu menyetujui rencana perjodohan anaknya, tapi tidak mengatakan terlebih dahulu dengan yang bersangkutan.
"Bah, biarkan anak- anak kita memilih jodohnya sendiri. Kasihan mereka kalau harus di jodohkan, lagi pula sekarang jamannya sudah berubah."
"Tidak ada berubah peraturan di rumah ini. Semuanya harus menurut keputusan Abah sebagai kepala keluarga."
Wanita dewasa itu terdiam. Suaminya itu memang tidak bisa di bantah.
"Tapi, Bah?"
"Bukankah dulu kita juga di jodohkan sama orang tua kita? Pun dengan anak-anak kita nanti. Jihan, Adnan, mereka berdua harus setuju dengan pilihan Abah."
Ummi Aisyah mengembuskan napas kasar. Ia tak pernah menyangka kalau anak anaknya akan ikut perjodohan keluarga. Padahal wanita itu ingin sekali anak-anaknya menikah dengan pilihannya sendiri. Karena jaman sekarang sudah berubah.
***