Part 13.

1103 Words
Mobil warna hitam kini berjalan membelah jalanan kota Kediri Jawa Timur. Hari ini Abah Abdul dan Adnan mengantarkan Althaf untuk pulang ke kediamannya, sekalian menghadiri acara maulid Nabi yang di adakan di pondok pesantren keluarga Althaf setiap hari jumat. Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih sepuluh jam. Akhirnya mereka sudah samping di kediaman Habib Razaq, Abahnya Althaf. Pak Rahmat, supir Abah Abdul menghentikan mobilnya di halaman masjid yang ada di pondok pesantren pimpinan Habib Razaq. Mereka berangkat pagi dan sampai di tempat ini menjelang maghrib. Sebentar lagi saatnya azan berkumandang di masjid ini sebagai penanda waktu untuk beribadah. "Abah Abdul, Adnan, sebaiknya kita istirahat di ndalem saja," kata Althaf membuka percakapan setelah melihat Abah Abdul berjalan menuju ke arah masjid. Dan Adnan mengikutinya di belakang. "Kita tanya sama Abah saja," sahut Adnan. Althaf mengangguk, kemudian melangkah mengikuti Abah Abdul dan Adnan menuju masjid. "Abah, lebih baik kita istirahat di ndalem saja, pasti Abah lelah setelah seharian ini melakukan perjalanan jauh," ucap Althaf saat melihat Abah Abdul duduk di teras masjid. Menunggu azan maghrib tiba. Pria dewasa itu tersenyum. "Nanti saja setelah salat maghrib." Allahu akbar... Allahu akbar... Terdengar suara azan maghrib tiba. Abah Abdul segera bangkit berdiri. "Abah ambil wudhu dulu." pamitnya meninggalkan Adnan dan Althaf. "Kita ke ndalem dulu atau jamaah maghrib dulu?" tanya Althaf. "Sholat maghrib dulu deh. Nanti barengan sama Abah ke ndalemnya." Adnan melangkah mengikuti Abah Abdul mengambil air wudhu yang ada di samping masjid. Selesai berwudhu, mereka duduk di dalam masjid menunggu Imam datang. Tak lama kemudian Habib Razaq datang dan memimpin salat berjamaah. Setelah selesai salat, Althaf mengajak Abah Abdul dan Adnan istirahat di ndalem. Di sana Ummi Solehah, Ibunya Althaf menyambut kedatangan mereka. Dengan ramah wanita dewasa itu mempersilakan mereka duduk. "Ummi." Althaf langsung memeluk Ibunya dengan sangat erat. Rasa rindunya sudah tidak bisa ia bendung lagi. "Ummi kangen sama kamu, Nak." Ummi Solehah mengusap-usap punggung anak laki-lakinya itu dengan lembut. "Assalamualaikum," ucap Habib Razaq yang baru saja datang ke ndalem. Bibirnya tersenyum saat melihat anak laki-lakinya pulang ke rumah. Juga melihat Abah Abdul, sahabatnya dulu waktu jadi santri di pondok pesantren. "Assalamualaikum, Gus Abdul." sapa Habib Razaq seraya melangkah mendekat ke arah sahabatnya itu. "Waalaikumussalam, Bib." Abah Abdul bangkit dari duduknya, maju tiga langkah, kemudian memeluk sahabatnya dengan sangat erat. "Bagaimana kabarnya? Baik, bukan?" tanya Habib Razaq. "Alhamdulillah, kabar baik." perlahan Abah Abdul melepaskan pelukannya. "Syukur alhamdulillah. Mari silakan duduk, Gus." Habib Razaq mengajak Abah Abdul duduk. Kemudian Adnan mendekat dan mencium punggung tangan Habib Razaq. "Abi." Althaf melangkah mendekati Ayahnya. Lalu memeluk Ayahnya yang sudah lama tidak pernah ia jumpai. Rasa haru kini terjadi di ruangan tersebut saat Althaf dan Ayahnya saling berpelukan melepas rindu. "Althaf, Abi senang kamu pulang dengan selamat. Abi sangat merindukanmu," "Alhamdulillah, Abah Abdul yang jemput kami di bandara kemarin. Althaf kangen sama Abi." "Abi juga kangen sama kamu, anak Abi ternyata sudah besar sekarang." Habib Razaq melepaskan pelukannya. Lalu kembali duduk di tempatnya semula. "Abi, Althaf izin ke dalam dulu," ucap Althaf minta izin. "Silakan," jawab Habib Razaq. Setelah mendapat izin, Althaf bergegas pergi ke kamarnya. "Bagaimana kabar keluargamu, Gus Abdul?" tanya Habib Razaq. "Alhamdulillah, baik. Kami sekeluarga sehat," jawab Abah Abdul. "Adnan dan Althaf sekarang sudah besar, padahal kita jarang bertemu dengan mereka, sekalinya ketemu sudah besar-besar," kata Habib Razaq di barengi suara tawa. "Iya, waktu memang cepat sekali berlalu, Bib. Dan kita sudah pada tua-tua." Abah Abdul pun tertawa saat mengatakan itu. Kedua sahabat itu saling melempar tawa. Adnan hanya diam mendengarkan Abahnya sedang berbicara. Laki-laki muda itu tak berani ikut serta dalam obrolan mereka. "Aku baru ingat, sepertinya kamu punya seorang putri, dulu terakhir kalinya bertemu dia masih kecil, masih kelas tiga SD kalau tidak salah, bener kan?" "Iya, dan sekarang diam sudah besar. Sebentar lagi lulus kuliah." "Wah, sudah besar ternyata. Bagaimana kalau kita jodohkan Althaf dan anak kamu itu?" Mendengar ucapan Habib Razaq, Abah Abdul tiba-tiba ingat, beberapa kali Abah melihat Althaf mencuri pandangan saat bertemu dengan Jihan. Pria dewasa itu yakin kalau ada sesuatu di antara mereka. Tanpa pikir panjang lagi, ia menyetujuinya. "Ide yang bagus itu, Bib." Abah Abdul tersenyum saat mengatakan itu. "Gimana, setuju nggak, Gus?" Habib Razaq memastikan. "Insya Allah, setuju." Mereka pun tertawa, membahas rencana perjodohan anak mereka. Adnan yang mendengarnya pun ikut bahagia dengan rencana Abahnya ini. *** Di tempat lain. Di dalam kamar, Jihan duduk di lantai kamarnya, ia sedang membaca buku seraya bersandar pada kaki ranjang. Drett... Drett... Drett... Tiba-tiba ponsel milik Jihan berdering. Dengan cepat Jihan menutup bukunya. Tangan kanannya meraih ponsel miliknya yang ada di atas nakas. Ponsel itu masih berdering, ia melihat nana Alex tertera di layar ponselnya. "Kak Alex?" dahi Jihan mengernyit. Sedetik kemudian ia tersenyum. Segera ia menekan tombol hijau untuk menerima panggilan telepon tersebut. "Halo, assalamualaikum, Jihan." terdengar suara Alex dari seberang sana. Dan baru kali ini laki-laki itu mengucapkan kata salam terlebih dahulu. "Waalaikumussalam," sahut Jihan. Bibirnya terus tersenyum saat mendengar suara Alex dari seberang sana. Bahkan suara itu mampu membuat jantung Jihan berdetak tidak normal. "Sedang apa?" tanya Alex dari seberang sana. "Sedang baca buku." "Oh..." Hening. Keduanya kini saling diam, tak tahu harus bicara apa lagi. Beberapa detik kemudian Alex kembali membuka suaranya. "Jihan." "Iya, kak?" "Besok antar aku beli buku lagi ya." Jihan merasa heran dengan laki-laki yang ada di seberang sana. Sudah beberapa hari ini Alex meminta Jihan menemaninya membeli buku di mal, kadang Alex mengajak ke perpustakaan juga untuk mencari buku. Sebenarnya ada apa dengan laki-laki itu? Jihan penasaran. "Insya Allah ya, kak. Jihan nggak bisa janji." "Semoga saja kamu bisa, Aamiin." Lagi, Jihan di buat aneh oleh laki-laki itu. Mulai kemarin omongan Alex selalu membuatnya heran. "Aamiin." Lagi-lagi mereka berdua terdiam. Keduanya bingung harus bicara apa lagi. Tok! Tok! Tok! Terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar Jihan. Tak lama terdengar suara Ummi memanggil. "Jihan..." Tok! Tok! "Bentar Ummi," sahut Jihan. "Kak Alex, Jihan di panggil Ummi, kita sambung nanti lagi ya," tanpa menunggu jawaban dari seberang sana, Jihan segera mematikan sambungan teleponnya. Gadis itu bergegas membuka pintu kamarnya. Dan mendapati Ibunya berdiri di depan pintu kamarnya. "Ada apa Ummi?" "Antar Ummi ke apotek yuk, ada obat yang harus Ummi beli sekarang." "Ini sudah malam Ummi," Jihan melirik jam yang ada di dinding kamarnya. Di sana menunjukkan pukul tujuh malam dan sebentar lagi azan isya. "Kepala Ummi tiba-tiba pusing." tangan Ummi Aisyah memegang kepalanya. Memijatnya pelan, berharap bisa membuat sakitnya sedikit reda. "Iya Ummi, Jihan antar sekarang. Ummi tunggu di depan, Jihan ambil jaket dulu." Tak biasanya Ummi Aisyah mengeluh sakit seperti ini. Membuat Jihan sangat khawatir pada Ibunya. Apalagi Abah dan kakaknya sedang tidak ada di rumah. Membuat Jihan semakin khawatir saja. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD