Part 12.

1332 Words
Pulang Kuliah. Alex duduk di depan mobilnya, menunggu Jihan yang sedang pergi ke toilet bersama dengan Wilda. Laki-laki muda itu mengedarkan pandangan matanya ke seluruh halaman tempat itu. Sungguh berbeda dengan yang ada di tempat kuliahnya dulu. Di sini hampir semua perempuan memakai hijab. Mahasiswanya juga semuanya tidak banyak tingkah seperti dirinya dulu. "Sepertinya aku akan berada di sini lebih lama. Agar aku bisa selalu bersama dengan Jihan." Alex bicara sendiri. Senyum-senyum sendiri saat membayangkan wajah cantik Jihan ada di depannya. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya agar tidak terlalu gugup. Baru membayangkan pergi bersama dengan Jihan saja Alex sudah gemetaran, apalagi nanti pergi beneran. Di dalam toilet, Jihan sedang merapikan penampilannya. Sedangkan Wilda sedang mencuci tangannya dengan air di wastafel. "Wilda, Ayok ikutilah, masa aku harus berdua sama kak Alex." Jihan menatap temannya itu dengan tatapan memohon. Berharap Wilda mau ikut dengannya mengantar Alex ke perpustakaan. "Nggak bisa, Jihan. Aku sudah ada janji sama kak Abid, mumpung dia pulang KKN." "Huft, oke deh. Mentang-mentang yang mau ketemu pacarnya, cie..." goda Jihan seraya menyenggol bahu Wilda dengan bahunya. Wajah Wilda memerah, ia tersipu malu karena Jihan menggodanya. "Oh iya Jihan, menurut kamu nikah saat masih kuliah atau nikah setelah lulus kuliah?" tanya Wilda. Mata Jihan membulat saat mendengar ucapan Wilda. "Kamu mau nikah sama kak Abid?" tanya Jihan penasaran. Dengan cepat Wilda menggelengkan kepalanya. "Nggak kok," sanggahnya. "Terus apa?" Jihan menatap sahabatnya itu dengan penuh selidik. "Sebenarnya, keluarga kak Abid minta kita tunangan dulu sih, tapi aku masih kuliah dan kakak Abid juga masih KKN," sahut Wilda seraya membenarkan hijabnya. "Lalu?" Jihan menatap Wilda. "Belum tahu, makanya pulang kuliah ini aku akan di ajak bertemu dengan keluarganya dia." Mendengar ucapan sahabatnya itu, tiba-tiba Jihan terdiam. Beberapa detik kemudian ia baru membuka suaranya. "Wilda, kok aku tiba-tiba sedih ya?" suara Jihan terdengar lirih. Tapi Wilda masih bisa mendengarnya. "Sedih kenapa?" "Kalau kamu nikah, ntar kalau kuliah aku sama siapa dong?" Tawa Wilda meledak saat mendengar ucapan Jihan. Sahabatnya itu memang terlalu polos. Jihan memasang wajah sedih. "Kok malah tertawa sih, beneran aku sedih, loh." "Walaupun menikah sekarang, aku akan tetap kuliah sampai lulus. Lagian sayang tahu kuliah kurang tiga semester lagi lulus, masa mau berhenti." "Hem ... Benar juga ya, kalau saja aku di suruh nikah sama Abah sekarang, aku tidak mau. Aku memilih kuliah dulu sampai lulus. Baru deh nikah sama..." ucapan Jihan tiba-tiba berhenti. Ia tidak bisa melanjutkan ucapannya itu karena dirinya sekarang saja jomlo sejati alias tidak punya pacar. "Sama kak Alex. Aku yakin kalau kalian bakalan jodoh, wajah kalian berdua tuh hampir mirip walaupun beda. Kamu lebih indo-arab, sedangkan kak Alex indo-belanda. Tapi kalian tuh hampir mirip loh." tutur Wilda. "Entahlah, aku merasa kita berbeda. Kayak langit dan bumi yang nggak pernah bisa bersatu." Jihan merasa ada sesuatu yang membuatnya ragu saat berdekatan dengan Alex. Siapa dia, bagaimana dia, Jihan sendiri tidak tahu. "Buka hatimu kalau kau memang merasakan sesuatu. Jika tidak, teruslah seperti biasa. Bukannya aku mau ngajakin kamu untuk pacaran, Jihan. Tapi berteman dengan lawan jenis juga tidak ada salahnya. Jangan menutup diri untuk berteman dengan siapapun. Jadi, harus tetap positif thinking." tutur Wilda. Jihan mengangguk pelan seraya tersenyum menatap sahabatnya. Tak ada niatan menjalin hubungan dengan laki-laki manapun, tapi Jihan ingin membuka hati untuk berteman siapapun sekarang. Wilda benar, tidak ada salahnya berteman dengan banyak orang, laki-laki perempuan toh sama saja asal tetap pada batasan. Drett... Drett... Drett... Ponsel milik Wilda berdering. Dengan cepat gadis itu membuka tas miliknya dan mengambil benda pipih yang ada di dalam tas tersebut. "Halo, assalamualaikum." Wilda membuka percakapan dengan seseorang yang ada di ujung sana. "Temui aku sekarang, aku sudah menunggumu di tempat biasa," ucap seseorang yang ada di seberang sana. "Baik," "Assalamualaikum." "Waalaikumussalam." Setelah itu, Wilda mematikan sambungan teleponnya. Dan menaruh kembali ponselnya ke dalam tas. "Jihan, aku duluan ya, kak Abid sudah menungguku." pamit Wilda seraya menepuk pundak Jihan dengan pelan. Jihan mengangguk sembari tersenyum melepas kepergian sahabatnya. Sejak mengetahui Wilda akan menjalin hubungan serius dengan Abid, kakaknya tingkatnya di kampus, Jihan merasa sendirian sekarang. Padahal itu belum terjadi, masih rencana keluarga Wilda dan Abid. "Ya ampun, kenapa aku jadi sedih begini, harusnya aku senang karena sahabatku sudah mau menikah." Jihan berbicara sendiri. Detik kemudian ia baru ingat kalau Alex sedang menunggunya. "Astagfirullah, kak Alex." Jihan bergegas keluar dari toilet tersebut. Dengan langkah cepat Jihan menyusuri koridor kampus tersebut. Dari kejauhan mata gadis itu melihat seseorang yang sudah lama menunggunya di depan mobil. "Maaf, kalau aku lama di toilet," ucap Jihan sesaat setelah ia menghampiri Alex. Laki-laki muda itu tersenyum. Ia yang semula duduk, kini turun dari mobil. "Ayok masuk." ajak Alex seraya membukakan pintu mobil untuk Jihan. Gadis itu mengangguk pelan. Kemudian masuk ke dalam mobil tersebut. Dan diikuti oleh Alex. Mobil sport warna hitam kini berjalan pelan meninggalkan tempat tersebut. Sesekali laki-laki itu memperhatikan gadis berhijab yang duduk di sampingnya. "Jihan." panggil Alex. "Iya?" Jihan menoleh ke samping. Di mana ada Alex yang sedang menyetir di sana. "Kita ke perpustakaan dulu ya, ada buku yang aku cari." Gadis itu mengangguk pelan. "Iya." Tak lama kemudian, Alex menghentikan mobilnya tepat di depan perpustakaan. Segera laki-laki itu turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Jihan. "Ayok masuk." tanpa sadar Alex menarik tangan Jihan. Mengajak gadis berhijab itu masuk ke dalam tempat tersebut. Jihan terus memandangi tangannya yang di pegang Alex. Entah kenapa Jihan diam tak menolak. Ia tahu ini salah, tapi kenapa ia tidak bisa berbuat apa-apa? "Oh, maaf." Alex melepaskan tangannya. "Aku tanpa sengaja menarik tanganmu, maafkan aku Jihan." Dapat ia lihat kalau Alex laki-laki yang baik. Dalam hati kecilnya, Jihan merasa nyaman jika berada di dekatnya. Apalagi Alex dulu pernah menyelamatkan dirinya dari para preman. Itu membuat Jihan percaya kalau laki-laki yang ada di depannya itu orang baik. "Kak Alex mau cari buku apa?" tanya Jihan mengalihkan pembicaraan. "Banyak, aku mau cari buku banyak buat di baca di rumah jika merasa bosan," sahut Alex. Tiba-tiba mata Jihan berbinar. "Iyakah, kak Alex suka baca buku?" Kepala Alex mengangguk pelan. "Sangat suka." "Wah, kalau begitu sama dong, aku juga suka sekali baca buku kalau di rumah. Biar nggak bosan." "Ohya?" "Huum." Entah sejak kapan keduanya kini mulai akrab. Jihan dan Alex berbicara banyak hal. Jihan menceritakan tentang buku buku yang pernah ia baca. Alex mendengarkan yang dengan antusias. Sesekali mereka tertawa bersama. "Kak Alex mau cari buku apa?" tanya Jihan setelah mereka sampai di dalam perpustakaan. "Hem..." Alex bingung harus menjawab apa. Yang jelas tujuannya kemari untuk mencari buku tentang Agama Islam. "Buku pelajaran, buku bacaan, novel?" Alex berjalan beberapa langkah meninggalkan Jihan saat matanya menangkap sampul buku yang bertuliskan SEJARAH AGAMA ISLAM. Segera Alex mengambil buku itu. "Jihan." panggil Alex saat melihat Jihan melamun. "Ah iya." gadis berhijab itu menoleh. "Sudah ketemu bukunya?" "Sudah." Alex menunjukkan buku yang ada di tangannya. "Alhamdulillah..." Jihan bernapas lega. "Tapi, aku masih mau cari banyak buku lagi tentang Islam. Kamu bantu cari ya," pinta Alex. Dan Jihan menganggukkan kepalanya pelan. Keduanya kini mencari buku yang ada di rak. Apapun yang ada tulisannya Islam, Alex langsung mengambilnya. Tak peduli itu buku sejarah, buku novel atau kitab terjemahan. Semuanya Alex ambil. Hingga memenuhi keranjang plastik yang ia bawa. "Banyak banget bukunya, kak?" tanya Jihan, heran melihat buku yang Alex pilih sebanyak itu. "Aku akan membacanya satu persatu." "Wah, ternyata kak Alex hobi baca ya, aku kira orang seperti kakak tidak suka baca, ternyata aku salah." "Emangnya apa yang kau pikirkan tentang aku?" "Ah, tidak. Tidak ada." sanggah Jihan. "Jihan, restoran mana yang enak di dekat sini?" tanya Alex seraya mengusap-usap perutnya yang tiba-tiba kelaparan. "Aku merasa lapar." "Emangnya kak Alex mau makan apa?" "Apa saja yang menurutmu enak." "Baiklah, kita cari restoran yang ada di dekat sini." Jihan melangkah lebih dulu. Alex tersenyum karena hari ini ia bisa pergi jalan-jalan bersama dengan Jihan. Itu sudah membuat Alex sangat bahagia. Karena ia tahu gadis seperti Jihan susah kalau di ajak pergi dengan alasan yang tidak masuk akal. Kira-kira besok Alex bakal cari alasan apa lagi ya biar bisa pergi bersama dengan Jihan lagi? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD