"Nak Althaf, besok Abah antar kamu pulang ke ndalem ya, sekalian Abah mau sowan. Sudah lama Abah tidak ketemu sama Abi, kamu."
Abah Abdul sedang berbicara dengan Althaf. Mereka berdua duduk di kazebo yang ada di depan rumah. Duduk santai seraya menunggu azan maghrib tiba.
"Iya, Abah." Althaf mengangguk seraya tersenyum.
Sama-sama dari Jawa Timur, Abah Abdul memilih merantau tinggal di kota Jakarta karena istrinya orang asli desa ini. Dia rela meninggalkan desa yang membesarkan namanya demi mengajar di tempat ini. Keluarga Abah Abdul juga mempunyai pondok pesantren di desanya. Tapi sekarang di urus oleh keluarga besarnya. Yaitu Adik dan kakaknya.
"Assalamualaikum, Abah, Mas Althaf. Ini teh hangatnya, silakan di minum." Jihan baru saja datang. Membawa tiga cangkir teh hangat juga satu toples berisi kue kering. Gadis itu menaruhnya di samping Abahnya.
Althaf nampak memperhatikan Jihan yang sedang menaruh baki. Dan Abah Ahmad dapat melihat itu.
"Permisi," ucap Jihan pamit.
"Terima kasih, Jihan." Althaf tersenyum seraya terus menatap punggung Jihan yang semakin menjauh.
Abah Ahmad tersenyum. Kemudian mengambil cangkir yang ada di sampingnya, lalu meminumnya.
Jihan berjalan menuju dapur. Ia bertemu dengan kakaknya di sana.
"Dari mana?" tanya Adnan baru saja keluar dari kamar mandi. Mendapati adiknya di dapur.
"Dari anter minuman untuk Abah dan Mas Althaf," sahut Jihan. Menaruh baki di atas meja.
"Aku udah di buatin juga apa belum?" tanya Adnan lagi.
"Apanya? Minuman?" Jihan menatapnya sang kakak dengan kesal. "Udah kok, tadi buat tiga. Udah aku taruh di gazebo depan."
Andan tersenyum seraya berjalan mendekat. Tangannya terulur mengacak pucuk kepala Jihan.
"Terima kasih, Adikku yang manja." sedetik kemudian ia melangkah pergi meninggalkan adiknya.
Jihan membenarkan hijabnya yang sempat Adnan acak tadi. Kakak laki-lakinya itu memang selalu usil kalau sudah bersama Adiknya.
"Sayang," panggil Ummi. Berjalan mendekati Jihan.
"Iya, Mi?" menoleh ke arah Ibunya.
"Tolong kamu belanja di warung ya, Jihan. Ada yang Ummi lupa beli tadi." perintahnya sembari memberikan selembar kertas pada Jihan. "Daftar belanjanya ada di situ."
"Iya, Mi." gadis itu mengambil kertas dari tangan Ibunya. Lalu bergegas pergi ke warung untuk membeli belanjaan yang Ibunya tulis di kertas tersebut.
Saat Jihan melewati halaman rumah, Althaf terus memperhatikannya.
"Kenapa Mas Althaf lihatin aku terus ya?" gumam Jihan bicara sendiri dengan pelan.
"Nak Althaf," panggil Abah Abdul.
"Eh! Iya, Abah."
Althaf tersenyum menatap Abah Abdullah. Berharap Abahnya Jihan tak tahu kalau sedari tadi dirinya terus memperhatikan anak gadisnya.
***
Keesokan harinya.
Keluarga Abah Abdul sedang menikmati sarapan pagi bersama di ruang makan.
Seperti yang Jihan duga, kalau Althaf memang benar-benar telah memperhatikannya. Jika Jihan melihat ke arahnya, laki-laki muda itu malah tersenyum tanpa malu.
"Ya salam, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Jihan pun membalas senyuman itu walau dengan terpaksa.
"Abah, Ummi. Jihan pamit berangkat kuliah sekarang." Jihan bangkit dari duduknya. Melangkah ke arah Abah dan Umminya.
"Abah antar ya?"
Kepalanya Jihan menggeleng dengan cepat. "Nggak usah, Bah. Jihan naik angkot saja seperti biasa," sahutnya.
"Kamu kuliah naik angkot?" tanya Adnan. Menatap tak percaya ke arah Jihan.
"Kenapa, Mas?" Jihan bertanya pada kakaknya. "Emangnya Mas Adnan pikir, aku berangkat kuliah di antar jemput gitu sama Abah atau Pak Rohim?"
"Bukannya begitu, emangnya Abah sudah percaya sepenuhnya sama Anak gadis Abah ini?" Adnan menatap Jihan dan Abahnya bergantian. "Bagaimana jika Jihan ke kampus tidak benar-benar naik angkot?" tuduh Adnan.
"Emangnya kenapa, Mas? Bukankah yang paling penting Jihan bisa jaga diri."
Sejak Adnan pulang ke rumah, Jihan merasa di jaga oleh seorang Satpam. Membuat gadis berhijab itu merasa tidak nyaman. Padahal Jihan kuliah demi mencari ilmu. Bukan yang lainnya.
"Sudah, sudah. Kamu berangkat sana, hari sudah hampir siang. Nanti kamu terlambat." perintah Abah mencoba melerai perdebatan kedua anaknya.
"Ya sudah, Jihan berangkat kuliah dulu, Abah. Assalamualaikum." gadis itu mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Tak lupa juga Jihan mencium punggung tangan Adnan, kakaknya. Dan saat pamit sama Althaf, Jihan menangkup kedua tangannya di depan d**a.
Seperti biasa, Jihan berjalan kaki dengan santai menuju jalan raya yang tak jauh dari rumahnya. Hampir setiap hari Jihan sudah terbiasa melakukan rutinitas itu.
Tangan Jihan melambai ketika melihat satu angkutan umum yang menuju ke arahnya.
Setelah angkot itu berhenti, Jihan segera naik ke dalam angkot tersebut.
Gadis itu duduk di kursi yang ada di dekat pintu.
Tak jauh di belakang angkot itu, ada mobil sport warna hitam kini berjalan mengikuti angkot tersebut.
"Ck! Sial. Kenapa bisa aku telat jemput Jihan lagi!" Alex memakai dirinya sendiri. Padahal ia sudah berusaha berangkat lebih awal, namun tetap saja ia tidak bisa berangkat ke kampus bareng Jihan.
Alex terus mengikuti angkot itu hingga sampai ke tempat tujuan.
Jihan melangkah keluar dari angkot tersebut. Lalu menyeberang jalan dan masuk melewati gerbang.
Tin! Tin!
Terdengar suara klakson mobil. Jihan yang semula berjalan di pinggiran jalan pun menoleh.
"Hai..." Alex membuka kaca mobil dan tersenyum saat Jihan menoleh ke arahnya. "Masuklah, Jihan."
"Nggak usah, Kak. Udah dekat kok." Jihan merasa tidak enak jika naik mobil Alex. Karena gedung kampusnya sudah dekat.
"Tak apa, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."
Kening Jihan mengernyit, ia tak tahu apa yang akan laki-laki itu bicarakan dengannya.
"Mau bicara apa, kak?" tanya Jihan penasaran.
Bibir Alex tersenyum simpul. "Masuklah dulu."
Gadis itu masih diam di tempatnya berdiri. Bingung antara mau masuk atau tidak.
"Ayok." Alex langsung menarik tangan Jihan. Entah kapan laki-laki itu turun dari mobilnya. Jihan tidak sadar akan hal itu.
"Duduklah," tutur Alex. "Tunggu ya," ucap Alex seraya menutup pintu mobilnya. Berjalan memutar kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Jihan.
Gadis itu merasa tidak enak jika berdua di dalam mobil seperti ini di lingkungan kampus. Jihan malu kalau di lihat teman- teman yang lain. Padahal jarak kelasnya dekat.
"Jihan, nanti siang bisa antar aku ke perpustakaan, nggak? Aku mau cari buku," kata Alex. Seperti biasa, laki-laki itu tak pernah basa basi jika bicara.
"Nanti siang?" Jihan mengulangi ucapan Alex. Dekat dengan laki-laki itu membuat Jihan gugup.
"Iya, aku ingin cari buku untuk di baca di rumah." tutur Alex.
Mendengar penuturan Alex, Jihan tiba-tiba saja tertarik. Ia baru tahu laki-laki seperti Alex suka baca buku.
"Emang kak Alex suka baca buku ya?" tanya Jihan ingin tahu. Tiba ia ingin tahu lebih tentang laki-laki itu.
"Huum," sahut Alex seraya tersenyum menatap Jihan. "Bisa kan?"
"Hem, gimana ya?" Jihan nampak sedang berpikir.
"Ayoklah Jihan, tolong bantu aku ya?" Alex memohon.
"Insya Allah ya, kak," jawab Jihan. Ia selalu mengucapkan kata itu. Karena Jihan tidak berani janji.
"I-insya a..." Alex menirukan ucapan Jihan dengan sedikit terbata-bata. Jujur kata itu baru terdengar di telinganya. Alex merasa ada banyak hal unik dari gadis itu. Yang membuat Alex semakin penasaran.
Mulai dari penampilan Jihan yang tertutup, namun tetap kelihatan cantik. Bahkan menurut Alex Jihan terlihat lebih cantik dari pada gadis di Negaranya yang ia kenal dulu. Unik, gadis itu bahkan tidak mau berpegangan tangan dengannya, pun untuk sekedar berjabat tangan. Padahal dulu Alex dan teman-teman perempuannya selalu berpelukan bahkan sering ciuman di pipi ataupun di bibir.
Jihan tersenyum. "Insya Allah, kak. Yang artinya jika Allah menghendaki. Jadi Jihan tidak berani janji. Tapi tetap kalau nggak ada halangan Jihan antar kak Alex ke perpustakaan kok."
"Baiklah, nanti kamu bisa kabari aku ya." kepala Jihan mengangguk.
"Kak, aku turun dulu ya. Itu di sana ada Wilda." Jihan membuka pintu mobil tersebut. Kemudian turun dari mobil itu. "Assalamualaikum." pamit Jihan sebelum melangkah pergi.
"Insya Allah? Assalamualaikum?" lirih Alex. Ia benar-benar belum paham sepenuhnya dengan apa yang Jihan ucapkan.
Di lingkungan keluarga dan teman-temannya tak ada yang mengucapkan kata-kata itu. Tapi Jihan berbeda. Entah sihir apa yang di miliki gadis berhijab itu hingga selalu membuat Alex penasaran dan tidak bisa tidur karena memikirkannya.
Beberapa detik kemudian, Alex mengambil ponsel miliknya lalu mengetik kata Assalamualaikum dan koko keluar banyak artikel tentang kata itu.
Alex mengklik salah satunya. Dan muncul apa ia cara. Laki-laki muda itu membaca isinya artikel tersebut dan mencoba memahaminya. Dan anehnya ia baru tahu tentang hal ini.
"Agama Islam?" Sepertinya banyak hal baru yang belum Alex tahu. Apalagi kata yang Jihan ucapkan selalu asing di telinganya.
Hidup di lingkungan bebas bergaul dengan siapa saja membuat Alex lupa kalau ia mempunyai keluarga. Kedua orang tuanya selalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Tak ada saudara ataupun keluarga dekat yang ada di sana. Laki-laki muda itu memilih pergi bersama teman-temannya di klub malam mencari hiburan. Padahal status mahasiswa masih melekat pada dirinya. Tapi Alex sudah berteman dengan minuman beralkohol dan dunia malam. Karena hal itu wajah di Negaranya.
Saat berada di Indonesia, ia merasa sangat berbeda. Apalagi setelah bertemu dengan Jihan. Gadis berhijab yang selalu membuatnya penasaran hingga tak bisa tidur.
***