Jihan memilih untuk kembali ke dalam kamar. Membaca buku pemberian Wilda, sahabatnya. Buku tentang ta'aruf yang Wilda pilihkan untuknya.
Entah atas dasar apa sahabatnya itu menyuruh Jihan membaca buku itu. Padahal Jihan tahu kalau di dalam Agamanya tidak memperbolehkan laki-laki dan perempuan untuk berpacaran.
Tapi setelah membaca buku itu Jihan sekarang mengerti, tak semuanya harus di hindari. Ataupun di jauhi. Yang terpenting sekarang adalah bisa jaga diri dan jaga hati. Dan semuanya itu balik lagi kepada pilihan masing-masing orang.
"Lumayan menarik juga bukunya," gumam Jihan bicara sendiri. Kemudian ia membuka lembar berikutnya dan kembali membaca.
Sepertinya gadis itu mulai terhanyut dalam isi buku itu. Hingga ia terus membuka lembaran demi lembaran berikutnya.
Hingga tengah malam, Jihan masih saja terjaga. Padahal dia sudah beberapa kali menguap. Tapi ia tak mengindahkan rasa kantuknya demi membaca buku itu hingga akhir.
Hingga subuh menjelang. Jihan baru selesai membaca buku tersebut. Dari kantung matanya jelas terlihat kalau semalaman dia tidak tidur.
"Hoaam..." Jihan menutup mulutnya dengan tangan kiri. Kemudian ia duduk sejenak sebelum bangkit berdiri.
Ia menaruh buku yang semalaman ini membuatnya tidak tidur karena penasaran itu di atas nakas.
"Lebih baik aku salat subuh dulu." gumamnya seraya berjalan pelan menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
"Ya ampun!" seru Jihan dari dalam kamar mandi. Sedetik kemudian ia keluar dari sana dan berlari menuju lemari. Mengambil pembalut, kemudian kembali masuk ke dalam kamar mandi lagi.
Bruk!
Jihan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah ia kembali dari kamar mandi.
"Tidur saja deh."
Akhirnya gadis itu memejamkan matanya setelah semalaman terjaga karena membaca buku hingga halaman terakhir.
Karena haid, Jihan tidak salat, ia memilih memejamkan matanya sejenak setelah azan subuh selesai. Lagi pula hari masih gelap dan Jihan masih punya waktu untuk istirahat sebelum membantu Ibunya di dapur menyiapkan sarapan pagi nanti.
Detik demi detik berlalu hingga berganti menit dan jam. Jihan masih terlelap di dalam kamarnya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Dan gadis itu masih terbuai di alam mimpi.
"Assalamualaikum, Ummi." sapa Adnan yang baru saja datang ke dapur. Menyapa Ibunya yang sedang sibuk memasak.
"Waalaikumussalam, Nak." Ummi menoleh sambil tersenyum ke arah anak laki-lakinya yang baru saja pulang setelah lama menimba ilmu di tempat yang sangat jauh.
"Masak apa pagi ini, Ummi?" tanya Adnan. Aroma masakan itu sudah menggoda indera penciumannya. Hingga membuat perutnya lapar.
"Masak ayam kesukaan kamu, mumpung kamu di rumah. Setiap kali Ummi kangen kamu, Ummi selalu masak seperti ini, membayangkan kamu makan dengan lahap, Adnan. Ya ... Walau ujung-ujungnya Jihan yang selalu menghabiskan masakan Ummi." tutur Ummi Aisyah. Wanita dewasa itu benar-benar sangat merindukan anak laki-lakinya.
Adnan menanggapi ucapan Ummi dengan tersenyum. Adnan sendiri pun sangat merindukan Umminya. Tapi, sebisa mungkin laki-laki itu menahannya, kegigihan dalam mencari ilmu lebih penting dari pada apapun. Lagi pula ia sudah berada di Negara yang jauh dari Indonesia. Mau kangen pun rasanya percuma karena tak akan bisa bertemu.
"Oh iya, Mi. Jihan mana? Tumben tidak kelihatan?" tanya Adnan.
"Iya tumben dia belum turun juga. Coba kamu lihat di kamarnya. Mungkin sedang mengaji atau sedang mengerjakan tugas kuliah," sahut Ummi seraya mencicipi kuah masakannya.
"Iya, Mi. Adnan Cari Jihan dulu ke kamarnya." pamit Adnan. Ia bergegas pergi meninggalkan dapur. Kemudian menaiki anak tangga menuju ke lantai dua.
Sesampainya di kamar Jihan, laki-laki mengetuk pintu kamar tersebut.
Tok! Tok! Tok!
Adnan mengetuk pintu tersebut.
"Jihan..."
Tok! Tok!
Ia kembali mengetuk pintu tersebut. Namun tak ada jawaban dari dalam. Setelah diam beberapa saat, Adnan memutuskan untuk masuk ke dalam kamar sang Adik.
Dengan sedikit ragu laki-laki itu melangkah masuk. Semuanya sudah berubah, terakhir masuk ke dalam kamar ini saat Jihan masih sekolah sekolah menengah atas. Dan sekarang adiknya itu sudah menjadi seorang gadis yang sangat cantik.
Adnan mengedarkan pandangan matanya ke seluruh kamar tersebut. Kening Adnan mengernyit saat melihat sosok yang sedang berbaring di atas tempat tidur itu.
"Jihan?" ucapnya. Ia langsung berjalan mendekat ke arah Jihan yang sedang tertidur dengan lelap.
"Ck, ck, ck. Bagaimana dia bisa tidur setelah salat subuh?" Adnan bicara sendiri. Kepalanya menggeleng pelan. Heran melihat adik gadisnya yang satu ini.
"Eugh..." lenguhan kecil keluar dari bibir gadis itu.
"Jihan! Ini jam berapa?" tanya Adnan. Memperhatikan Jihan yang masih belum sadar akan kedatangannya.
"Heeem..." Jihan meringsut. Matanya mengerjap pelan.
"Bangun, Jihan!" Adnan menarik selimut yang menutupi tubuh sang Adik.
"Heeem." perlahan mata Jihan terbuka. Antara sadar atau tidak, ia mencoba untuk duduk.
"Jihan, jam segini masih tidur. Mentang-mentang hari minggu, terus kamu mau malas-malasan gitu?!"
"Hah! Mas Adnan, kenapa ada di kamar Jihan?" gadis itu mencari selimut untuk menutupi wajahnya. Malu, karena kakak laki-lakinya tiba-tiba berada di dalam kamarnya.
"Lihat." Adnan menunjuk ke arah jam yang ada di dinding. Di sana jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit. "Jam berapa itu?"
"Jam tujuh," Jihan menjawab dengan malas. Sedetik kemudian ia menutup matanya dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur lagi.
"Bangun, Jihan! Anak gadis tidak boleh malas-malasan!" seru Adnan. Kepalanya menggeleng pelan saat memperhatikan adiknya itu. "Apa seperti ini kelakuan kamu setiap hari?"
"Aku ngantuk, Mas ... Biarkan aku tidur sebentar saja," rengeknya pada sang kakak agar membiarkan dirinya kembali tidur.
"Bangunlah, kita jalan-jalan pagi sekarang. Althaf sudah menunggu kita di depan. Aku sudah terlanjur janji sama dia kemarin, kalau pagi ini mau ajak dia jalan-jalan keliling desa ini."
Jihan membuka matanya. "Apa harus dengan aku jalan jalannya?" tanya Jihan.
"Iyalah. Setelah beberapa tahun aku baru pulang ke desa ini lagi. Bangunan, jalanan dan sarana yang ada di desa ini semuanya sudah berubah. Kalau kami jalan- jalan sendiri resikonya auto nyasar, Jihan."
Tawa Jihan meledak mendengar penuturan sang kakak. Ia baru sadar kenapa sedari tadi kakaknya mengganggunya tidur hanya ingin mengajaknya jalan-jalanan. Ternyata Adnan sendiri tidak tahu jalan di desa ini.
"Ha ha hah. Ya ampun, aku beneran lupa kalau Mas Adnan baru pulang," ucap Jihan di sela tawanya.
"Nggak usah ngeledek. Cepetan bangun, Abah dan Ummi sudah menunggu di ruang makan." Adnan menarik tangan Jihan dengan sedikit memaksa. "Setelah sarapan kita jalan-jalan. Althaf sudah menunggu kita."
"Aku mandi dulu." Jihan segera bangkit dari tidurnya. Berjalan menuju lemari mengambil handuk bersih yang ada di dalam sana. Setelah itu dia langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Jangan lama-lama mandinya!" seru Adnan tepat di depan pintu kamar mandi.
"Iya, Mas!" sahut Jihan dari dalam sana.
Adnan hanya bisa menggeleng pelan. Tingkah adik perempuannya itu memang tidak berubah. Malah semakin parah magernya dari pada dulu.
Sekilas Adnan melihat buku milik Jihan yang ada di atas nakas. Keningnya mengernyit saat membaca judulnya.
"Apa Jihan membaca buku itu?" gumamnya bicara sendiri. Adnan yakin kalau Jihan tahu batasan-badan hubungan laki-laki dan perempuan. Karena setahu Adnan, Jihan tidak pernah berteman dengan laki-laki di rumah maupun di sekolah.
Beberapa detik kemudian Adnan kembali melangkah keluar dari kamar Jihan.
***
Selesai sarapan, Jihan mengantar Adnan dan Althaf jalan-jalan santai keliling kampung.
Jihan dan Adnan berjalan di depan. Sedangkan Althaf mengikuti mereka dari belakang. Laki-laki muda itu terus saja memerhatikan gadis cantik yang ada di depannya.
Hari ini Jihan terlihat cantik dengan memakai gamis warna biru tua dan hijab phasmina dengan warna senada.
"Oh iya, kamu tahu jalan menuju desa sebelah nggak? Aku baru ingat kalau di sana dulu ada sungai dan sawah," kata Adnan.
"Tau, tapi kalau jalan kaki agak jauh sih. Tau gini tadi mendingan pakai motor Abah atau pakai sepeda biar nggak capek," sahut Jihan seraya memperhatikan sekeliling jalanan yang ia lewati. Sesekali gadis itu menyapa warga sekitar dengan ramah.
"Tak apa, kita bisa jalan dengan santai sambil melihat lihat tempat ini." celetuk Althaf. Baru kali ini laki-laki itu membuka suaranya. Saat Jihan menoleh ke arahnya, ia tersenyum dengan manis.
"Gus Althaf sudah setuju. Bagaimana denganmu, Jihan? Mau mengantar kami jalan-jalan ke sana?" tanya Adnan.
Sejenak Jihan menatap Adnan dan Althaf secara bergantian. Detik kemudian gadis itu mengangguk seraya tersenyum.
"Baiklah, ayok aku antar."
Jihan memimpin jalan. Kakak dan temannya mengikutinya dari belakang.
Mereka bertiga berjalan melewati desa sebelah, kemudian melewati tanah kosong.
"Eh, itu sungainya..." celetuk Adnan. Ia seperti anak kecil yang senang melihat air. Adnan berlari lebih dulu meninggalkan Jihan dan Althaf yang masih berjalan santai.
Di tempatnya tinggal, Adnan tidak pernah melihat sungai dan air seperti di desa ini. Di sana ia jarang keluar kecuali membeli kebutuhan pribadi atau ada urusan penting.
"Apa kamu capek, Jihan?" tanya Althaf.
"Nggak kok, Gus," sahut Jihan. Agak sedikit malu karena baru kali ini Althaf mengajaknya bicara berdua. Biasanya mereka bicara bersama dengan keluarga lainnya.
"Jangan panggil, Gus. Panggil Althaf saja." tuturnya.
"Ah, nggak enak, Gus. Masa harus manggil nama. Gus Althaf kan anak Habib Rozaq. Masa Jihan harus panggil nama sih. Nanti jadi nggak sopan," sahut Jihan agak sedikit risih.
"Kalau gitu anggap saja aku seperti kakakmu, bukankah keluarga kita sudah lama kenal dan sudah seperti saudara?" tutur Althaf.
Jihan menundukkan wajahnya seraya tersenyum. Ia merasa Althaf terus memperhatikannya.
"Panggil saja aku seperti kamu memanggil kakakmu." titahnya.
Seketika Jihan mendongakkan pandangannya memberanikan diri melihat laki-laki yang sedari tadi terus menatapnya.
"Apa aku bisa memanggilmu dengan, Mas?" ucap Jihan dengan hati-hati. Walau bagaimanapun juga Althaf seorang Gus anak Kiyai besar yang harus di hormati.
"Iya." Althaf mengangguk pelan seraya tersenyum ke arah Jihan.
"Baiklah, Mas." Jihan tersenyum saat mengatakan itu.
"Terima kasih, Jihan."
Keduanya saling melempar senyum. Tapi Jihan merasa dirinya jadi risih ketika bersama dengan Althaf.
Dari kejauhan Adnan memperhatikan Jihan dan Althaf.
"Apa yang mereka bicarakan?"
Adnan seperti seorang Satpam yang selalu mengawasi Adik perempuannya itu.
"Hey ... Kemarilah! Airnya dingin..." Adnan sengaja main air. Ia senang sekali bisa melihat air sungai yang bersih ini.
"Iyakah?!" sahut Althaf seraya berlari mendekati sahabatnya itu. Setelah mendekat, ia duduk di samping Adnan dan memasukkan kakinya ke air tersebut.
"Dingin kan airnya?"
"Iya."
Jihan hanya bisa memperhatikan dua orang laki-laki yang sedang bermain air itu. Benar-benar mereka seperti anak kecil.
***