Jihan masuk ke dalam kamarnya. Ia terus menghindari pertanyaan Ummi tentang siapa laki-laki yang tadi pagi mencarinya. Jihan takut kalau nanti di ceramahi habis habisan sama wanita dewasa itu.
Walaupun mereka hanya berteman di kampus, tapi Jihan tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Tapi yang Jihan tidak tahu, kenapa bisa Alex senekat itu menjemput di rumahnya.
"Astagfirullah. Kenapa bisa aku malah memikirkan kak Alex, sih?" Jihan bergumam sendiri. Kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya menerawang menatap langit- langit kamarnya.
Di dalam hati kecil gadis itu merasa ingin sekali mengenal laki-laki itu. Tapi terkadang Jihan takut karena ia merasa banyak perbedaan antara mereka.
Tok Tok Tok!
"Jihan!"
Panggil Ummi seraya mengetuk pintu kamar anak gadisnya.
Ceklek.
"Cepetan mandi, setelah itu bantu Ummi masak. Barusan Abah telepon, katanya ia sudah menjemput Adnan di bandara. Kita harus siap- siap menyambutnya."
Wanita dewasa itu menatap ke arah putrinya yang masih berbaring malas malasan di atas tempat tidur.
Putri satu satunya yang ia miliki itu memang unik sekaligus aneh.
"Iya, Ummi."
Dengan pelan Jihan bangkit dari tidurnya. Kemudian duduk di tepi ranjang seraya menguap.
"Ummi tunggu di dapur sekarang." setelah mengatakan itu, Ummi keluar dari kamar Jihan.
Melihat Umminya pergi, jih langsung bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hari ini Adnan, kakak Jihan sudah pulang ke Indonesia setelah beberapa tahun ini menimba ilmu di Negara Mesir.
Laki-laki muda itu sangat gigih dalam mencari ilmu. Tidak seperti Jihan yang tidak mau di masukkan ke dalam pesantren. Ia malah memilih kuliah di Universitas Negeri.
Sepuluh menit kemudian, Jihan keluar dari kamar mandi. Gadis itu berjalan menuju lemari dan mengambil pakaian di sana. Gamis warna maroon dan hijab warna hitam menjadi pilihannya. Setelah itu ia bergegas keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga menuju ke dapur yang ada di lantai satu.
"Mi, masak banyak banget. Yang datang hanya Mas Adnan loh. Jihan yakin kalau dia nggak bakalan bisa habisin makanan sebanyak ini. Pasti nanti Jihan yang di suruh habisin semuanya. Huft." gadis itu protes saat melihat banyak makanan yang Ummi masak. Belum lagi sayuran mentah yang belum di masak.
"Tidak usah protes, kamu iris buah melon ini. Setelah selesai, kamu iris juga buah semangka itu." wanita dewasa itu menunjuk ke arah semangka yang ada di atas meja. Mata Jihan mengikuti tangan Umminya.
"Iya, Mi." Jihan langsung melakukan apa yang tadi Umminya perintahkan.
"Hari ini tuh ada teman Adnan yang akan menginap di rumah ini. Jadi kita harus menyiapkan banyak makanan. Apalagi kakak kamu itu sudah lama tidak makan masakan Ummi, jadi Ummi ingin hari ini Ummi masak spesial buat Adnan."
"Hem ... Paham, Mi. Jihan tidak bisa membayangkan, bagaimana bisa Mas Adnan bertahan hidup di sana ya? Bahasanya berbeda, makanannya juga. Jihan nggak bisa bayangin kalau hidup di sana. Pasti nangis setiap hari." gumam Jihan.
"Ya pasti kamu tidak bisa. Mondok di pesantren yang dekat saja kamu nangis setiap hari minta pulang. Apalagi di luar negeri. Kamu pasti nggak bakalan bisa." timpal Ummi.
"Karena Jihan sayang Ummi, jadi Jihan nggak bisa jauh dari Abah dan Ummi."
Wanita dewasa itu hanya bisa menggeleng pelan. Heran dengan anak gadisnya itu.
*
Satu jam berlalu. Semua makanan sudah siap di atas meja makan.
Jihan dan Ummi sudah tidak sabar lagi ingin segera melihat anak laki-lakinya yang sudah lama tidak berjumpa.
Terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Ummi yakin itu pasti suami dan anaknya sudah datang.
"Sepertinya Abah sudah datang. Ayok Jihan kita keluar. Ummi sudah tidak sabar lagi melihat Adnan." wanita dewasa itu bergegas keluar dari ruang makan. Berjalan menuju ke depan rumahnya.
Abah dan Adnan turun dari mobil. Dan di ikuti oleh teman Adnan.
"Assalamualaikum, Ummi..." sapa Adnan, anak laki-laki yang sangat ia rindukan beberapa tahun ini.
"Waalaikumussalam, anakku... Ummi kangen banget sama kamu." wanita dewasa itu memeluk anaknya dengan sangat erat. Rasa haru kini menyelimuti hatinya. Melihat anak laki-lakinya pulang dengan sehat dan selamat itu menjadi hal yang paling utama bagi Ummi.
"Kamu tidak berubah sayang. Masih sama seperti anak Ummi dulu." tangan Ummi mengusap-usap punggung Adnan dengan lembut.
"Mas Adnan sudah pulang ya, Mi?" tanya Jihan yang baru saja datang ke teras setelah tadi ia ke kamar mandi terlebih dahulu.
Jihan menatap Adnan yang sedang berpelukan dengan Umminya. Lalu pandangan mata Jihan terarah pada sosok laki-laki yang berdiri tepat di samping Abahnya.
Laki-laki muda terlihat tampan dengan peci warna hitam menghiasi kepalanya. Kemeja warna putih juga sarung warna hitam khas anak santri. Merasa di perhatikan oleh jiahn
"Jihan." panggilan dari Adnan menyadarkan gadis itu dari lamunan.
Seketika Jihan menoleh ke arah sang kakak.
Jari Adnan menyentil kening Jihan. "Jaga pandangan."
"Hish. Sakit tau." desis Jihan. "Pulang-pulang langsung ceramah." sindir Jihan. Kedua tangannya bersidekap di depan d**a.
"Sebagai kakak, aku hanya mengingatkan adikku yang bandel ini." Adnan mencubit pipi Jihan dengan gemas setelah itu ia memeluknya dengan erat.
"Kakak kangen sama Kamu, Jihan. Sudah lama kita tidak bertemu. Kamu sudah besar ternyata."
"Jihan juga kangen sama Mas Adnan."
Kakak beradik itu saling berpelukan melepaskan rasa rindu mereka.
"Oh iya, Ummi. Kenalkan, dia Althaf putra Habib Razaq." Abah Abdullah mengenalkan Althaf pada Ummi Aisyah, istrinya.
Wanita dewasa itu menyambutnya dengan ramah. "Oh ... Pantas saja sangat mirip dengan beliau. Ternyata putranya."
"Mari masuk, kalian pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh."
Ummi mengajak semua orang masuk ke dalam rumahnya. Menyuruh mereka duduk di ruang tengah. Jihan dan Ummi kini berjanan menuju ruang makan. Mengambil buah dan makanan ringan yang tadi sudah ia siapkan.
"Jihan, buahnya taruh di sini. Tolong kamu ambil gelas lagi di dapur ya," perintah Ummi. Ia sibuk menata piring berisi buah buahan di atas baki.
"Iya, Mi." Jihan berjalan menuju dapur. Mengambil dua gelas dan membawanya ke ruang makan.
"Kamu bawa gelas dan minumannya ya, Ummi bawa buahnya." titah Ummi.
"Iya," sahut Jihan.
Gadis itu mengikuti Ibunya berjalan menuju ke ruang tengah dengan membawa baki yang di atasnya ada empat gelas dan satu teko berisi teh manis hangat.
"Silakan, hanya camilan seadanya," ucap Ummi Aisyah seraya menaruh piring berisi buah di atas meja.
"Terima kasih, Ummi," ucap Adnan. Sedangkan Abah Abdul dan Althaf kini sedang mengobrol membicarakan pondok pesantren milik Habib Razaq Abahnya Althaf.
Saat melihat Jihan menuangkan air minum ke dalam gelas. Diam-diam Althaf memperhatikannya.
Jihan tahu kalau teman kakaknya itu melihatnya. Seketika gadis berhijab itu menundukkan wajahnya. Setelah gelas yang ada di depan Abahnya penuh, kini beralih ke gelas yang ada di depan Althaf. Dengan sedikit gemetar ia menuangkan minuman.
'Kenapa dia terus melihatku?' batin Jihan dalam hati. Saat Jihan meliriknya, laki-laki itu tersenyum ke arahnya. Seketika mata gadis itu terpejam.
'Ya Allah, kenapa dia tersenyum ke arahku?' batinnya lagi.
"Terima kasih, Jihan," kata Althaf setelah melihat Jihan selesai menuangkan minuman ke gelasnya.
Suara itu terdengar adem di hati Jihan. Pantas saja kalau dia anaknya seorang Habib dan mempunyai pondok pesantren besar.
Jihan mengangguk sembari membalas senyum Althaf. Walau bagaimanapun juga Althaf adalah tamu sekaligus teman kakaknya yang harus ia hormati di rumah ini. Kemudian gadis itu memilih kembali ke dalam kamarnya.
***