Pemuda tampan dengan pakaian berkelas itu berjalan dengan elegan. Dia menghampiri seorang gadis yang sudah menunggunya dari tadi di sebuah restoran. Gadis itu tak kalah berkelas dengan pemuda tadi. Dress yang membalut tubuhnya berasal dari brand ternama dengan bandroljutaan rupiah. Belum lagi sepatu, tas dan aksesoris lainnya yang melengkapi penampilannya. Tidak ada satupun barang murah yang dia kenakan.
“Barra, sini.” Panggil sang gadis dengan senyum tercantik yang dia miliki.
Barra, pemuda tampan itu merespon dengan senyum lembut yang ditujukan pada kekasih hatinya, Julia. Mereka sudah menjalin kasih sejak dari SMA. Mereka tampak saling mencintai. Hanya saja... Barra tak pernah tahu, bahwa perasaan Julia tak pernah tulus. Dia hanya mengincar harta Barra saja. Siapa yang tidak tahu kalau Barra akan mewarisi Asha Group. Karena dia adalah anak pertama di keluarga Nofian. Anak dari Abraham Nofian.
“Sudah lama menunggu?” Tanya Barra penuh perhatian.
“Tidak, baru sampai kok.Bagaimana acara yang kamu hadiri?” Tanya Julia penasaran.
“Ah, membosankan. Hanya makan siang dengan staf perusahaan. Minggu depan aku akan mulai bekerja di perusahaan. Makanya mereka ingin melakukan penyambutan lebih dulu. Aku yakin mereka hanya ingin mencari muka padaku.” Jawab Barra dengan kesombongan yang sangat kentara di wajahnya.
“Kamu akan mulai bekerja? Kamu kan baru lulus kuliah Barra. Kamu tidak ingin main-main dulu sebelum masuk dunia kerja?” Tanya Julia setengah merajuk. Karena dia sudah punya rencana ingin mengajak Barra jalan-jalan keluar negeri.
“Tentu saja. Cepat atau lambat nanti aku yang harus memimpin perusahaan. Jadi akan lebih baik kalau aku belajar dari sekarang. Tapi tenang saja sayang, aku tetap akan meluangkan waktu sebanyak mungkin untukmu. Toh nanti aku pasti akan punya sekretaris pribadi. Jadi aku bisa melimpahkan perkerjaan pada sekretaris dan aku bisa menemanimu. Posisi Direktur tidaklah sesulit itu pekerjaannya.” Jawab Barra dengan nada enteng. Dia sama sekali tidak mengambil pusing tentang pekerjaannya. Tipikal tuan muda yang hanya tahu bagaimana cara menghamburkan uang saja.
“Kamu akan menjadi Direktur sayang? Wah.. hebat. Pasti gajinya besar kan? Apa aku akan lebih sering dapat hadiah?” Tanya Julia dengan mata berbinar.
Barra tersenyum bangga. “Tentu saja. Mana mungkin aku menjadi karyawan rendahan. Aku akan menjadi Presdir di masa depan. Tidak mungkin aku melakukan pekerjaan remeh kan. Dan tentu saja aku akan membelikan apapun yang kamu inginkan sayang.” Jawab Barra. Dia sudah dibutakan oleh cintanya. Dia sama sekali tidak bisa melihat bahwa Julia hanya memanfaatkannya saja.
Julia tersenyum senang. Tidak salah dia terus menempel pada Barra dari dulu. Meski pemuda itu posesif dan kadang menyebalkan. Namun dia bisa memenuhi semua keinginan Julia. Dia bisa hidup nyaman dan memiliki barang-barang branded semua berkat Barra. Karena keluarganya sudah sejak lama jatuh bangkrut. Namun Julia tidak ingin teman-temannya tahu kalau sekarang dia jatuh miskin. Dan dia memanfaatkan Barra agar tetap terlihat kaya raya.
“Sayang... Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Dubai sebelum kamu mulai kerja? Sudah lama kita tidak keluar negeri kan? Teman-temanku semua memamerkan foto jalan-jalan mereka. Hanya aku yang belum liburan tahun ini.” Kata Julia setengah merajuk. Dia tahu Barra tidak akan bisa menolak jika Julia sudah berakting seperti itu.
“Ah... benar juga. Maaf sayang, aku sampai lupa kalau kita belum liburan. Tenang saja, aku akan minta Evan mengatur semuanya. Besok pagi kita bisa langsung berangkat ke Dubai.” Jawab Barra menenangkan.
“Sungguh?! Terima kasih sayang. Kamu yang terbaik...” Kata Julia sembari mengecup pipi Barra kilat. Mereka berdua diliputi kebahagiaan. Meski dengan alasan yang berbeda.
*****
Anita tiba di restoran tempat kedua orang tuanya menunggu. Tampak Surya dan Mentari sudah selesai makan. Anita menghampiri mereka dengan langkah cepat. Dia ingin segera mencurahkan isi hatinya pada kedua orang tuanya. Anita memanglah sangat dekat dengan papa dan mamanya.
“Duduk sini sayang.” Sambut Mentari yang melihat kedatangan putrinya. Senyum hangat yang entah mengapa sangat dirindukan Anita itu terasa menentramkan hatinya yang sekarang sedang kacau.
Anita dengan segera menghambur ke pelukan mamanya. Tanpa mengatakan apapun, namun Mentari tahu, Anita sedang gundah hatinya.
Surya dengan segera memesankan minuman dan makanan untuk putrinya. Dia membiakan anak bungsunya itu untuk berlama-lama dalam pelukan mamanya.
“Ceritalah kalau sudah tenang.” Pinta Mentari yang khawatir dengan Anita.
Anita mengangguk. Dia menyesap lemontea yang baru saja diantarkan oleh waiter kepadanya. Anita menghirup nafas dalam. Bersiap menceritakan apa yang baru saja dialaminya.
“Pa,.. Ma,.. Anita tadi....” Anita menceritakan dengan sedetail mungkin dan sejelas mungkin pada kedua orang tuanya tentang permintaan Abraham. Sampai pada Abraham yang berlutut memohon di hadapan Anita. Surya tahu betul Anita dan Mentari paling tidak tega bila ada orang yang memohon dengan tulus pada mereka. Apalagi Abraham sampai berlutut pada Anita, sudah pasti hati Anita sudah menaruh iba.
“Anita... Pikirkanlah dulu segi positif dan negatifnya. Jangan hanya karena kamu merasa iba lalu kamu langsung menerima begitu saja. Karena rentang waktu kontrak ini tidak sebentar. Bisa saja kamu terikat sampai bertahun-tahun, karena patokannya tidak jelas. Dan lagi... bagaimana dengan reputasimu nanti?” Tanya Surya. Dia sangat mengkhawatirkan putrinya.
Anita merenung kembali. Dia sudah memikirkan banyak hal selama perjalanan menuju restoran tadi. Sebenarnya Anita hampir tidak kehilangan apapun kalau dia menerima tawaran ini. Justru sebaliknya, dia yang paling banyak diuntungkan. Apalagi kesempatan mengelola Asha Group. Perusahaan besar yang untuk menjadi karyawan disana adalah impian banyak orang. Dan Anita diberi akses untuk menjadi orang tertinggi disana. Itu adalah benefit paling besar baginya.
Hanya saja, dia takut melukai hati orang tuanya kalau sampai orang-orang tahu bahwa dia menikahi pria yang lebih cocok menjadi papanya. Dia tidak takut pada perkataan orang. Dia hanya takut kedua orang tua yang disayanginya itu akan terluka karena itu. Meski Abraham sudah berjanji tidak akan mempublikasi ini ke khalayak umum. Hanya untuk kalangan Asha Group saja, untuk menguatkan posisi Anita. Tapi Anita tahu, gosip itu sangat mudah menyebar. Apalagi pasti akan banyak orang yang tidak suka pada kehadiran Anita nanti.
“Sudah, Pa. Anita sudah memikirkannya dengan baik. Dan menurut Anita, masih lebih banyak sisi positifnya. Hanya saja, Anita takut Papa dan Mama akan terluka nanti. Karena pasti akan banyak berita miring tentang Anita.” Jawab Anita.
“Nak, kamu tahu Mama dan Papa selalu mendukungmu. Apapun keputusan yang kamu ambil. Dan kamu tidak perlu mengkhawatirkan kami. Karena kami percaya padamu. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi kami selain melihatmu bersedih. Maka dari itu, tentukanlah apa yang menurutmu paling baik. Kami akan selalu setuju dengan keputusanmu.” Kata Mentari. Dia mempercayai Anita sepenuhnya. Karena Anita memang tidak pernah sembrono dalambertingkah laku. Anak bungsunya itu selalu mempertimbangkan terlebih dahulu apa yang paling baik baginya.
Anita tersenyum mendengar jawaban dari orang tuanya. Dia merasa sangatlah berunung memilikiorang tua yang sangat pengertian dan menyayangi dirinya dengan sepenuh hati.
“Terima kasih, Mama, Papa. Anita senang bisa membantu Pak Abraham. Dan Anita akan memastikan Anita tidak akan terluka. Jadi Mama dan Papa tidak perlu cemas dengan Anita ya.” Kata Anita.
*****
Barra memandang gadis dalam balutan kebaya biru muda dengan seksama. Dia nampak familiar baginya. Seperti temannya waktu SMA dulu, Anita. “Hei sayang, bukankah itu Anita?” Tanya Barra pada kekasihnya yang terus menempel pada dirinya.
Julia nampak terkejut melihat sosok Anita yang duduk di pojokan ruangan restoran itu. Karena restoran ini adalah restoran bintang 5. Tidak sembarang orang bisa masuk kesana karena harga makanan disana yang tak masuk akal bagi kantong orang biasa. Apalagi Anita. Bukankah dia hanya anak pemilik cafe kumuh di kota A? Bagaimana mungkin dia bisa makan disana? Julia memandang penuh kebencian pada Anita. Sedari SMA dia sudah tidak suka padanya.
“Iya, sepertinya benar sayang. Apa dia bersama orang tuanya? Habis wisuda kayaknya. Masih pakai kebaya gitu.” Jawab Julia.
“Mau menyapa? Sudah lama kan kita tidak bertemu dengannya?” Tanya Barra.
Julia mengangkat alisnya, memandang Barra dengan cemberut. “Kamu kan tahu dari dulu dia tidak suka padaku. Untuk apa aku menyapanya?” Jawab Julia. Dia memutar balikkan fakta, karena sebenarnya dialah yang membenci Anita.
Barra menghela nafas pelan. “Ya sudah kalau tidak mau. Aku kan cuma menawarkan. Jangan cemberut gitu dong sayang.” Jawab Barra.
Namun Julia tiba-tiba mendapatkan ide. Dia tersenyum begitu manis pada Barra.”Ah, tapi kupikir memang lebih baik kita menyapa Anita deh sayang. Apalagi ada kedua orang tuanya.” Kata Julia.
Barra nampak bingung namun akhirnya mengikuti apa yang diinginkan kekasihnya. Mereka beranjak menuju meja Anita. Julia berjalan penuh percaya diri denganmenggandeng lengan Barra erat. Dia memeriksa pakaiannya sembari berjalan. Dia memastikan hari ini sudah memakai barang branded dari ujung kepala sampai ujung kaki. ‘Huh, lihat saja.. Aku akan mempermalukanmu di depan banyak orang, Anita...’ Julia tersenyum licik.