BAB 4

1114 Words
            “Anita kan?” Tanya Julia dengan senyum merekah dan kesopanan paripurna. Dia memandangi Anita dari atas sampai bawah. Setelan kebaya murahan yang harganya pasti tidak sampai satu juta. High heels Zara yang sudah outdate. Dan tas yang bahkan bukan dari brand ternama. Julia mengejek Anita dalam hati. Puas rasanya melihat orang yang di bencinya itu dalam keadaan yang jauhhhh di bawahnya.             Anita memandang kedua orang yang menghampiri mejanya itu. Dia berusaha mengingat-ingat siapa mereka? Cukup lama baginya untuk mengingat mereka karena sudah 4 tahun lamanya tidak bertemu. “Ah.. kamu Barra kan? Dan yang ini...” Anita berusaha mengingat tapi dia benar-benar tidak ada gambaran siapa orang yang ada di samping Barra.             “Ah, ini Julia. Kita dulu satu SMA kan. Masa lupa.” Jawab Barra dengan cepat. Dia melihat perubahan raut wajah Julia. Kekasihnya itu pasti merasa sedih karena Anita bahkan tidak mengingat dirinya.             “Oh, ah.. Iya benar.” Jawab Anita sekenanya. Karena dia sama sekali tidak ingat siapa itu Julia. Padahal Anita bukan anak yang kuper sewaktu SMA. Dia kenal hampir semua anak satu angkatan. Kecuali mereka-mereka yang pendiam atau para trouble maker yang sengaja dihindari Anita. Mungkin Julia merupakan salah satu diantara kelompok itu?             Julia segera menguasai dirinya dari rasa marah yang hampir saja meledak. Anita yang selama ini dianggapnya sebagai saingan itu bahkan tidak mengingatnya? Sombong sekali dia. ‘Lihat saja, akan aku permalukan kamu hari ini!!’             “Selamat siang, om, tante..” Sapa Julia dengan senyum indahnya. Dia memang gadis yang cantik. Kulitnya yang putih merona, ditambah matanya yang bulat dengan bulu mata yang lentik, memancarkan aura kecantikan yang kuat. Wajah polos bagaikan bidadari yang berhasil meluluhkan hati tuan muda Nofian.             “Selamat siang.” Jawab Surya dan Mentari bersamaan.             “Duduklah bersama kami.” Ajak Mentari dengan hangat. Dia senang bisa bertemu dengan teman-teman Anita.             “Tidak perlu tante, kami hanya ingin menyapa sebentar karena melihat teman lama. Saya tidak bisa duduk di sembarang tempat karena nanti dress yang saya kenakan bisa berkerut. Saya hanya duduk di kursi khusus di area VVIP.” Jawab Julia dengan penuh kesombongan. Dia mengelum dengan hati-hati dress DIOR pemberian Barra yang dia kenakan. Dia sengaja melakukannya untuk memamerkannya pada Anita. Bahwa dia mengenakan brand ternama dengan harga yang fantastis.             Anita merasa tak senang dengan sikap Julia. Dia tidak bodoh. Dia tahu Julia sedang ingin menyombongkan dirinya. Entah dengan alasan apa. Karena Anita bahkan tidak ingat siapa dirinya. Terlebih lagi kedua orang tua Anita terlihat tidak nyaman dengan sikap Julia.             “Bagaimana kabar kalian?” Tanya Anita basa basi. Dia berencana akan ‘memaksa; mereka pergi setelah mereka menjawab pertanyaannya.             “Tentu saja baik. Kami baru saja lulus dari Universitas terbaik di negeri ini.” Jawab Julia dengan bangga. Dia benar-benar ingin mengalahkan Anita dari segi apapun.             Anita nampak tidak peduli. Karena baginya, kuliah dimanapun sama saja. Dia sudah memilih Universitas dengan fakultas bisnis terbaik. Dan dia puas dengan ilmu yang didapatkannya.             “Ah, selamat ya. Kalau begitu...” Kata-kata Anita terhenti saat segelas lemontea yang belum habis diminumnya itu menggutur kebaya yang ia kenakan.             “Aduh... maaf, aku tidak sengaja.” Jawab Julia dengan raut khawatir yang dibuat-buat. Anita memandang sinis pada Julia. Dia tidak lagi memikirkan kesopanan. Sudah sangat jelas Julia sengaja menumpahkan gelas itu. Julia terang-terangan mencari masalah dengannya. Anita tidak punya alasan untuk diam saja dipermalukan seperti itu.             “Apa-apaan sih?!” Bentak Anita dengan nada tinggi. Dia tidak terima diperlakukan seperti itu. Julia terkejut dengan reaksi Anita. Sejauh yang diingatnya, Anita adalah anak yang kalem dan tidak suka pertengkaran. Dia tidak menyangka Anita akan membentaknya seperti itu. Namun Julia segera menguasai keterkejutannya dan kembali berakting.             “Ah,,, Maaf... Aku tidak sengaja.” Kata Julia dengan nada bersalah. Wajahnya terlihat sangat sedih.             “Tidak sengaja?! Jelas-jelas tempat berdirimu dan letak gelasku berjauhan. Mana ada tanganmu TIDAK SENGAJA berpindah sejauh itu hanya untuk menyenggol gelasku!!” Balas Anita dengan bentakan.             “Aku benar-benar tidak sengaja. Lagipula.. Kebaya mu kan hanya barang murah. Tidak masalah kan basah sedikit. Tidak akan meninggalkan noda.” Jawab Julia lirih. Wajahnya sudah hampir menangis. Anita tidak habis pikir. ‘Jadi itu tujuannya?’ Julia ingin menegaskan bahwa Anita tidak sekelas dengannya. Karena Julia mengenakan pakaian branded sedangkan Anita hanya mengenakan pakaian murahan. Tapi untuk apa? Mereka bukan musuh. Teman juga bukan. Untuk apa Julia sampai ingin mempermalukannya seperti ini?!             “Hah!! Kebaya murahan? Apa kalau ini barang murah terus kamu bebas menyiram orang lain seperti ini?!” Tanya Anita. Dia berusaha menahan suaranya agar tidak membentak lagi.             “Sudahlah Nita..” Kata Mentari berusaha menenangkan anaknya.             “Tapi Ma, dia keterlaluan. Apasalah Nita sampai dia menyiram Nita seperti ini?” Jawab Anita tidak terima.             “Sayang, aku takut..” Bisik Julia pada Barra.             Barra yang selalu overprotectif pada kekasihnya itu langsung menyela Anita. “Ini terimalah sebagai permintaan maaf kami. Julia bilang tidak sengaja kan. Kenapa kamu membesar-besarkannya seperti ini?” Kata Barra penuh kecewa. Dia meletakkan 10 lembar uang seratus ribuan di meja Anita, lalu pergi menjauh sambil merangkul kekasihnya dengan erat.             Anita melongo melihat apa yang baru saja Barra lakukan. Apa sebenarnya masalah mereka? Mereka duluan yang menghampirinya, lalu sendirinya membuat masalah. Sekarang pergi begitu saja setelah melukai harga dirinya? Siapa saja yang punya mata pasti tahu kalau Julia tadi sengaja menumpahkan gelas lemontea nya tadi. Tapi Barra dengan butanya tetap membela kekasihnya sampai seperti itu? ‘Dasar menyebalkan!!’             “Apa-apaan mereka itu?” Kata Anita dengan geram.             “Sudahlah Nak. Lupakan saja.” Kata Surya menenangkan. Meski dia sendiri sebenarnya sangat marah melihat anaknya diperlakukan seperti itu. Namun sekarang mereka sedang di tempat umum. Tidak baik jika mereka membuat keributan disana.             “Nita kesel, Pa. Mereka datang menyapa cuma mau cari gara-gara saja. Memang apa salah Nitasampai mereka mempermalukan Nita seperti ini?! Ini pertama kalinya aku bertemu mereka setelah lulus SMA. Nita bahkan nggak yakin kalau nita kenal sama yang namanya Julia itu.Punya dendam apa sih dia sampai jahat banget ke Nita.” Runtuk Anita. Dia benar-benar merasa marah sekarang.             “Papa mengerti, tapi kita sedang di tempat umum sayang. Tenangkan dirimu.” Jawab Surya penuh pengertian.             Anita mengangguk mengerti. Dia tidak ingin membuat orang tuanya khawatir. “Ayo pulang saja, Ma, Pa.” Ajak Anita.             “Tapi kamu belum makan, Nak.” Kata Mentari.             “Aku sudah tidak berselera, Ma. Lagipula bajuku basah begini. Nanti makan dirumah saja.” Jawab Anita. Moodnya sudah rusak gara-gara pasangan kekasih nggak jelas itu.             “Baiklah.” Jawab Surya.             Mereka beranjak keluar restoran itu. Orang-orang banyak yang memperhatikan mereka. Sungguh pengalaman yang sangat memalukan. Pastilah banyak yang memperhatika kejadian tadi. Ditambah lagi pakaian Anita yang basah, semakin membuatnya menjadi pusat perhatian. Anita hanya berharap tidak ada orang yang dikenalnya disana. #to be continue___  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD