"Aku minta cerai, Mas." Kata-kata itu sudah berkali-kali Fandi dengar, tetapi ia hanya menanggapinya seperti angin lalu. Ia jelas tak menerima keinginan Zivana yang baginya adalah permintaan penuh emosi.
Bagaimana tidak, istrinya memang belum bisa mencintai dirinya sepenuh hati, tetapi bukan berarti memutuskan untuk berpisah dikala tak kunjung rasa itu hadir bukan?
Cinta itu bisa datang karena dipupuk, dan sepertinya Zivana tak pernah melakukan itu sejak awal pernikahan mereka. Cinta pertamanya dengan Lean telah mengubur perasaan cinta untuk yang lain.
Tak diberikannya lelaki lain untuk mengisi hatinya. Dengan kata lain, Fandi adalah pelarian dari segenap kekeceewan Zibana terhadap Lean dan hal itu yang membuatnya tak pernah bisa terima. Tekadang ia pun melampiaskannya dengan cara hura-hura atau lebih memilih kongko bersama teman-temannya.
Sejak awal, Fandi sudah menyadari jika cinta istrinya hanya diperuntukkan bagi Lean. Kekecewaan karena permintaan untuk menikah dengan lelaki itu ditolak, akhirnya menerima lamarannya. Ia tahu risiko melamar Zivana kalau itu. Namun, ia berharap bisa mengobati luka hati sang istri jika ia menikahinya.
Fandi mengira jika Zivana akan memberikan tempat untuknya bisa berbagi suka duka dengan membangun bahtera rumah tangga. Namun, bayang-bayang masa lalu seakan selalu menyeretnya bersama pernikahan mereka. Sang istri tak juga memiliki cinta untuknya.
Fandi mendesah, menyugar rambutnya kasar, lalu duduk di sisi ranjang, membelakangi istrinya yang sejak awal ia datang ke rumah sang mertua, disambut dengan muka masam, karena kecewa ia tak bisa menemaninya melahirkan.
"Apa karena kamu tak pernah mencintaiku, sehingga kau bersikukuh minta cerai?" tanya Fandi tanpa melihat wajah sang istri.
"Itu alasan utama, tetapi lebih dari itu, aku tak bisa membina rumah tangga dengan lelaki yang selalu mengutamakan pekerjaan dibanding istri dan keluarganya," sindir Zivana sinis.
"Aku bekerja untuk kebutuhan kita."
"Kebutuhanmu, karena kebutuhanku hampir Kak Tesa dan suaminya yang memenuhi," sela perempuan itu mulai emosi.
Selama pernikahan mereka, memang semua kebutuhannya dipenuhi kakak ipar tertuanya. Mereka memang tinggal dalam satu rumah. Terkadang Zivana ikut menjaga dan mengurus Aliando, putra pertama Tesa dan Arman.
Kasih sayang dan perhatian kakak iparnya begitu besar terhadapnya. Semua yang Zivana perlukan selalu terpenuhi. Itu pula pesan Diana, sang ibu mertua yang tinggal di luar negeri untuk menjaga dan mengurus menantu perempuannya.
Bukannya Fandi tak pernah memberinya nafkah, tetapi lelaki itu lebih sering menghabiskan apa yang didapat bersama teman-temannya atau memenuhi kebutuhan lain yang tidak begitu penting.
Hal itu yang tekadang memicu pertengkaran mereka. Sikap Fandi yang masih belum dewasa menjadi sumber selisih paham antara keduanya.
Saling mempertahankan ego masing-masing membuat Zivana dan Fandi seringkali terpisah jarak. Lelaki itu lebih memilih tinggal dengan temannya atau menginap di hotel tanpa mau menyelesaikan masalah yang terjadi.
Zivana lelah menghadapi sikap suaminya yang kekanak-kanakan. Mungkin karena posisinya anak bungsu dan begitu dimanja oleh Diana, jadi apa pun harus selalu sesuai dengan keinginannya.
Tesa dan Arman tak jarang memberi nasihat pada Fandi jika saat ini posisinya sudah sebagai kepala rumah tangga yang harus bisa mengatur dan bertanggung jawab penuh terhadap Zivana.
Jika pada Zivana, mereka hanya bisa memberikan kata-kata penguat agar perempuan itu bisa sabar menghadapi sikap Fandi yang egois dan kekanak-kamakan.
"Bukan hanya itu, kau masih belum bisa bersikap dewasa dalam menyikapi permasalahan rumah tangga kita. Selalu ingin menang tanpa memedulikan pendapatku," lanjut Zivana lirih.
"Aku melakukan itu semua karena kecewa padamu."
"Apa yang membuatmu kecewa padaku, Mas?" tanya Zivana heran.
"Aku tak pernah memiliki tempat terpenting di hatimu, Ziva. Kau tak pernah bisa mencintaiku," ujar Fandi lirih.
Zivana bergeming. Ia memang mengakui kesalahannya itu. Belum berhasil mencintai suaminya adalah sebuah kesalahan dalam hubungan, karena bagaimanapun rasa cinta adalah pondasi utama dalam menjalin ikatan. Sayangnya, ia tak pernah berhasil menumbuhkan rasa itu untuk Fandi.
"Jika soal itu, aku minta maaf, Mas," sesal Zivana.
"Apa Lean masih menempati posisi penting di hatimu? Apa kau tak pernah bisa melupakan lelaki itu?" tanya Fandi menahan emosi.
"Dia cinta pertamaku, sulit untuk bisa melupakannya begitu saja," jawabnya jujur, membuat hati Fandi perih berdarah-darah.
"Apa cintaku tak pernah cukup untukmu bisa melupakannya?"
"Maaf, Mas." Hanya kata itu yang mampu Zivana ucapkan. Ia pun menyesali apa yang sudah terjadi. Cintanya untuk Lean tak pernah pudar, dan ia tak pernah bisa menumbuhkan rasa itu untuk suaminya.
"Lepas dari cinta yang belum juga ada untukmu, aku pun menyayangkan sikapmu yang kekanak-kanakan. selalu lari dari masalah dan tak pernah peduli dengan perasaanku."
"Apa kau juga peduli dengan perasaanku, Ziva?" tanya Fandi sinis.
"Setidaknya aku peduli pada pernikahan kita, Mas."
Fandi menunduk, merenungkan kesalahannya yang memang selalu lari dari masalah dan tak pernah memperbaiki kesalahan yang telah diperbuatnya.
"Aku akan memperbaiki semua itu asalkan kau tidak lagi meminta cerai." Fandi berharap kali ini Zivana mau mempertimbangkan keinginannya.
"Maaf, Mas, keputusanku sudah bulat," jawab Zivana dengan tetes-tetes air mata yang sudah jatuh berderai.
"Kau tidak memikirkan Evalia? Dia baru saja lahir dan membutuhkan aku sebagai ayahnya," ucap Fandi sambil melirik putrinya yang terlelap di atas ranjang.
"Justru karena aku memikirkan anak kita, maka aku harus mengambil keputusan ini. Aku harus bahagia agar Evalia juga bahagia."
"Jadi, kau tak pernah bahagia bersamaku?" tanya Fandi menatap lekat perempuan itu.
"Ya, aku tidak bahagia bersamamu, Mas," jawab Zivana menunduk. Air matanya sudah tertumpah, tak bisa lagi membendung rasa yang selama ini ia tahan sendiri.
Menghadapi Fandi seperti menghadapi anak kecil yang kali ini menurut, besoknya mengulangi lagi kesalahan yang sama. Ia sudah tak bisa lagi tahan dengan semua sikap suaminya.
Fandi kembali menyugar rambutnya, lalu mengusap wajahnya berkali-kali, kemudian menghampiri Zivana dan bersimpuh di hadapan istrinya.
"Aku minta maaf jika sikapku selama ini membuatmu tertekan dan terluka. Mungkin aku terlalu egois, lebih mementingkan keinginanku dibanding memikirkan persaanmu. Aku benar-benar minta maaf, Sayang. Aku janji akan mengubah semua itu. Tolong beri aku kesempatan," ucapnya lirih dengan air mata yang sudah jatuh berderai.
Zivana tak menjawab. Ia menangis dalam senyap menyaksikan Fandi yang memohon seperti biasanya jika menyesali kesalahannya. Namun, yang tak bisa ia terima adalah lelaki itu selalu saja mengulangi hal yang sama setelah ia memberikan maaf.
"Tolong beri aku satu kesempatan lagi," pintanya memohon sambil meraih tangan sangat istri.
"Kau sudah sering kali melakukan hal ini, Mas, dan aku berkali-kali memberikanmu kesempatan, berharap kau bisa berubah, tapi hal itu tak kunjung terjadi. Kau masih tetap sama, mengulangi kesalahan sebelumnya dan kembali meminta maaf. Aku lelah, Mas."
"Kali ini aku sungguh-sungguh, Sayang. Tolong beri satu kesempatan lagi. Demi Evalia," ucapnya sambil mencium punggung tangan sang istri.
"Beri aku waktu untuk memutuskan, Mas," jawab Zivana akhirnya.
Meski ia sudah bulat dengan keputusan untuk berpisah dari Fandi, tapi ia tak tega mengungkung ego, setidaknya di hadapan lelaki itu kini. Ia akan memberi ruang di anatara mereka sampai siap mengatakan apa yang sudah diputuskannya.
"Benarkah kau akan memikirkan kembali keputusanmu itu?" tanya Fandi terlihat semringah.
Zivana hanya mengangguk pelan, membuat wajah di hadapannya tampak berbinar, lalu dengan segera memeluk sang istri erat.
"Terima kasih kau mau memikirkan keputusanmu itu, Sayang," bisik Fandi di telinga istrinya.
Maafkan aku, Mas, karena keputusanku sudah bulat untuk berpisah dengamu, bisik Zivana dalam hati.