Sesal

1260 Words
Mei 1986 Zivana memandang bayi cantik nan mungil yang terlelap di sampingnya. Baru beberapa hari lalu ia melahirkan sang putri tercinta dengan jalan normal. Kelahiran cucu pertama dari anak perempuan satu-satunya dalam keluarga Syam begitu sangat dinantikan. Syam dan Sari tampak bahagia menyambut cucu mereka yang jelita. Begitu pun dengan kerabat dan para tetangga yang ikut merasakan kegembiraan lahirnya anggota baru dalam keluarga Syam. Evalia Shaqueena Makaley. Sebuah nama indah yang berarti perempuan yang diharapkan akan menjadi pemimpin yang bersifat tenang dan memesona. Nama yang dari setiap doa tercipta sebuah harapan akan masa depan bagi sang putri memiliki kehidupan bahagia. Sebagai ayah, Fandi tak ada di sana, menyaksikan kelahiran putri pertamanya. Ia beralasan hendak menyelesaikan pekerjaannya yang tak bisa diwakilkan apalagi ditinggalkan. Zivana pun harus mengurut d**a pilu saat ia harus terpaksa pulang sendiri dengan diantar saudara suaminya. Kurang lebih setahun mereka membangun bahtera rumah tangga, tetapi tak sedikit pun Zivana merasakan bahagia. Bahkan, cintanya belum juga tumbuh untuk suaminya. Entah kenapa, ia belum bisa menerima lelaki itu dengan rela. Tak bisa rasa cinta tumbuh meski perhatian Fandi begitu besar terhadapnya Sesal yang tertinggal bersama kenangan masa lalu, selalu membayang di pelupuk mata. Menyeretnya dalam kubangan nestapa yang tak juga mau beranjak pergi. Ia baru menyadari, ternyata landasan cinta dalam sebuah hubungan apalagi ikatan sakral pernikahan harus tetap ada, karena itu adalah dasar dibangunnya kebahagiaan. Lelah dan akhirnya pasrah atas apa yang menimpa hidup. Zivana tak bisa menentang takdir meski ingin sekali ia keluar dari lembah yang telah ia cipta sendiri. Apa yang telah diputuskan, sudah lebur bersama pernikahan yang sebenarnya tak diharapkan. Penuh emosi ia melakukan apa yang seharusnya tak pernah dilakukan, yang malah akan membuat masa depan lebih suram dari yang ia bayangkan. Namun, semua sudah terjadi. Ia tak bisa mengembalikan semuanya ke masa silam. Apalagi, kini telah hadir buah hati yang tak berdosa, yang tak tahu kesalahan apa yang telah diperbuat kedua orang tuanya. Ia harus memutuskan langkah apa yang harus ditempuh. Demi kebahagiaan ia dan putrinya. Zivana tak bisa selamanya terbelenggu dalam pernikahan yang tak memberinya rasa tenang dan nyaman. Meskipun berlimpah harta dan kemewahan, tetapi ia tak bisa terus-menerus berpura-pura tersenyum, padahal hatinya terluka. Berhari-hari ia memikirkan tentang masa depan. Sudah saatnya memutuskan apa yang selama ini selalu tertahan dalam hatinya. Pernikahannya dengan Fandi seperti duri dalam daging. Tak ada hari yang membuatnya menyenangkan. Ia terpaksa menjalani pernikahan tanpa cinta itu hanya karena keluarga suaminya yang begitu baik dan hangat. Cinta lelaki itu pun begitu besar padanya, tetapi tak sedikit pun hatinya tersentuh atau ingin mencoba belajar mencintai. Namun, sekuat apa pun ia berusaha, pada akhirnya menyerah akan keadaan. Gagal untuk bisa menerima suami seutuhnya, Zivana pun harus segera bertindak. Ia hanya manusia biasa yang menginginkan hidup bahagia. Maka, keputusan yang sudah diambilnya itu dengan berat hati ia ungkapkan pada keluarganya. "Teteh yakin dengan keputusan itu?" tanya Syam seraya menatap lekat putrinya. Lelaki paruh baya itu sangat terkejut dengan keputusan yang diambil putrinya. Ia tak menyangka, di saat anak mereka lahir, justru membuat Zivana mengambil keputusan untuk berpisah dari suaminya Sebenarnya Syam udah merasakan ada yang aneh dengan rumah tangga Zivana. Sejak pertama kali menikah, wajah itu tak pernah menampakkan raut semringah layaknya pengantin baru. Meski waktu telah berlalu, tak juga lelaki itu dapat merasakan kebahagiaan dalam hidup anak perempuan kesayangannya. Zivana menunduk selama beberapa saat. Sebenarnya ia tak ingin membuat orang tuanya terluka dengan keputusan yang hendak diambil, tetapi ia tak punya pilihan. Mereka harus tahu apa yang akan ditempuh ke depan. Apa pun risikonya nanti, ia siap menerima. Asalkan bisa terlepas dari belenggu pernikahan yang mengungkungnya dalam nestapa. "Teteh sudah pikirkan itu matang-matang?" tanya Sari meyakinkan. Ia pun tak ingin rumah tangga anak perempuannya hanya bertahan seumur jagung. "Iya, Ma, Pa, Teteh sudah pasti dengan keputusan ini," ujar Zivana sambil menepuk-nepuk Evalia yang berada dalam gendongannya. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangga Teteh?" Syam kembali bertanya. Ia ingin tahu keadaan rumah tangga putrinya selama ini, hingga harus memutuskan untuk mengakhirinya. "Maaf, Pa, jika selama ini Teteh berbohong tentang rumah tangga Teteh dan Fandi yang sebenarnya tak bahagia." "Apa Fandi kasar sama Teteh?" tanya Sari menyelidik. Zivana menggeleng. "Engga, Ma. Fandi tak pernah kasar sama Teteh, hanya saja, Teteh tak mencintai dia. Itu yang membuat pernikahan kami tak bahagia." "Apa Fandi merasakan hal yang sama dengan Teteh?" Syam ingin tahu lebih dalam. Apakah benar hanya karena tidak mencintai Fandi menjadi alasan utama keputusan itu dibuat? Ataukah ada hal lain yang memicu ketidakbahagiaan putrinya? Zivana bergeming selama beberapa saat. Tidak mencintai Fandi memang alasannya untuk memutuskan berpisah. Namun, lelaki itu justru tak setuju dengan keinginannya. Masalah itu pernah ia kemukakan pada sang suami, dan jelas saja Fandi menolak. Ia tak ingin berpisah dengan Zivana, karena jelas-jelas ia mencintainya. "Teh ...." Panggilan Sari membuyarkan lamunan Zivana. Ia tak kuasa menjawab pertentangan suaminya yang tak menginginkan perpisahan, tetapi keputusannya justru sudah bulat dan matang. Tak ada hal yang bisa menghalangi keinginannya untuk mengakhiri rumah tangga yang sudah dibina kurang lebih setahun itu. "Fandi menolak perpisahan kami." Syam dan Sari saling melempar pandang. Tentu saja, masalah perpisahan itu berasal dari Zivana yang tak merasakan bahagia. Namun, jika Fandi tak menginginkan perceraian mereka, alasan apa yang membuatnya kuat untuk mengakhiri rumah tangga? Apa karena tidak mencintai Fandi? Bukankah sejak awal, perempuan itu dengan suka rela menerima lamarannya? Tak ada paksaan dari siapa pun. Tak ada pula kekerasan atau perlakuan tidak menyenangkan baik dari diri Fandi ataupun keluarganya yang membuat Zivana terluka, hanya karena batin yang tersiksa, harus menjalani bahtera pernikahan karena sebuah keterpaksaan saja, yang akhirnya memutuskan perpisahan itu. Cinta memang tak bisa dipaksakan. Sekuat apa pun menjalani agar cinta itu tumbuh dalam hati, tetapi jika tak jua datang, apakah harus tetap mempertahankan sebuah hubungan yang dirasa malah tak sehat jika harus terus berpura-pura bahagia. Hati tak bisa dibohongi. Zivana pun tak munafik, menginginkan hidup yang membuatnya senang dan nyaman. Tidak mengungkung ego demi kebahagiaan orang lain, hingga membuatnya malah makin menderita. "Jika keputusan Teteh sudah bulat, Papa dan Mama hanya bisa mendukung. Sebagai orang tua, tentunya kami menginginkan kebahagiaan Teteh dan juga Evalia. Namun, yang jadi masalahnya, Teteh harus bicarakan lagi hal ini baik-baik dengan Fandi. Dia harus bisa menerima keputusan Teteh dengan ikhlas." Syam mencoba bijak menanggapi keinginan putrinya. Ia pun tak bisa memaksa untuk Zivana tetap mempertahankan rumah tangganya. Jika tak bahagia, ia pun tak rela putrinya menderita terus-menerus. Sebagai orang tua, mereka hanya bisa mendukung setiap keputusan sang anak, jika dirasa hal itu untuk kehidupan yang lebih baik. "Teteh akan membicarakan lagi hal ini dengan Fandi. Teteh mohon doa Papa dan Mama, agar apa yang diinginkan dapat berjalan dengan baik tanpa hambatan. Selama ini, Teteh sudah melakukan kesalahan, tak ingin mengulangi lagi kesalahan yang sama dengan terus berpura-pura bahagia," ungkap Zivana membuat kedua orang tuanya paham. "Kami akan selalu mendoakan kebahagiaanmu, Nak," ucap Syam seraya menyunggingkan seulas senyum, menenangkan putrinya, lalu meminta Evalia untuk ia gendong. Evalia menggeliat dalam gendongan kakeknya. Ia belum merasakan apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya. Tidurnya yang lelap tak terusik meski Syam mengelus lembut pipi tembem itu, terkadang menjawil dagunya yang mungil. Sementara Zivana asyik dengan pikirannya sendiri. Penyesalannya yang terburu-buru untuk menikah saat itu, kini harus berdampak pada putrinya, yang harus menjadi korban permasalahan orang tuanya. Ia pun tak menginginkan hal itu terjadi, tetapi tak juga ingin memendam luka lebih lama lagi. Justru karena menginginkan kebahagiaan bagi dirinya dan Evalia, ia harus memutuskan hal itu. Bukankah untuk membahagiakan orang lain, kita harus bisa membahagiakan diri sendiri terlebih dulu? Zivana kini mengerti akan hal itu dan akan mulai menata lembaran baru meski statusnya nanti hanya seorang single parent.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD