Babak Baru

1446 Words
Bayang masa lalu yang tak pernah bisa pergi Terseret bersama kenangan yang masih melekat Mimpi yang dirangkai sedemikian indah Seakan hanya ilusi yang membebani _ Maret 1985 Zivana menekuri lantai cokelat kamarnya yang berhiaskan dekorasi serba putih. Bunga-bunga terhias di beberapa bagian sisi tirai yang menutupi dinding. Ranjang kayu yang tak berkelambu sudah beralaskan seprai putih polos. Kamar yang sudah ditinggalkan kurang lebih enam bulan itu sudah berubah menjadi kamar pengantin. Beberapa jam lalu, akad nikah digelar di rumah mewahnya yang dikenal dengan "Saung Si Teteh". Kawasan elit tepat di pinggir jalan jalur Cirebon-Bandung yang seketika menjadi pusat perhatian warga setempat karena adanya pesta yang meriah. Keluarga Syam dikenal sebagai orang yang dermawan dan rendah hati. Mayor Syam adalah seorang polisi berdedikasi tinggi. Tugasnya yang sering berpindah-pindah tempat mengharuskan ia dan keluarganya tak bisa menetap hanya di satu daerah saja. Namun, selepas masa jabatannya sebagai komandan Polairud, lalu dipindahtugaskan menjadi Kasat Reskrim di kota yang sekarang, ia pun mulai membangun sebuah rumah dekat dengan orang tuanya. Tak hanya itu, orang tua Sari, ibu Zivana pun pernah menjabat sebagai camat di daerah tersebut, hingga warga setempat sangat mengenal keluarga itu dengan baik. Keluarga kaya dan terhormat. Tak heran, saat pesta pernikahan putri satu-satunya keluarga Syam digelar, warga setempat berbondong-bondong ikut menghadiri. Turut bahagia bagi kedua mempelai. Namun, entah kenapa, dalam hati Zivana tak ada sama sekali perasaan itu. Sebuah keputusan yang tiba-tiba ia sesali. Menerima lamaran lelaki yang kini sudah sah menjadi suaminya, bukan sebenar-benarnya keputusan dari hati. Kekecewaan karena dianggap tak penting bagi hidup Lean, membuat ia harus melakukannya. Lahar panas itu mulai merembes, mewakili apa yang ingin ia suarakan. Betapa jelas dalam ingatan ketika Fandi untuk kedua kali meminta ia untuk menjadi istrinya. Ada keraguan dalam hati untuk menerima tawaran itu, tetapi kekecewaannya terhadap Lean memgubur rasa ragu yang bersarang, berganti keyakinan jika tawaran lelali itu sungguh-sungguh. Zivana luluh dengan sikap Fandi yang seakan tak peduli dengan perasaan cinta yang belum hadir di hatinya. Hal terpenting adalah ia mau menerima lamaran itu. Soal cinta, akan bisa tumbuh seiring waktu berjalan. "Aku tak peduli jika kau belum mencintaiku, karena cukup kau berada di sisiku saja sudah membuat hati ini bahagia," ucap Fandi yang memang jatuh cinta pada Zivana. Bukan soal cinta yang tidak aku miliki padamu, tetapi juga soal keyakinan kita yang berbeda, Fandi," ujar Zivana terlihat khawatir. "Aku, kan, sudah bilang akan berpindah pada keyakinan. Apa itu tidak cukup sebagai bukti keseriusanku untuk membangun rumah tangga bersamamu?" "Itu saja tidak cukup sebagai syarat menjalin hubungan dalam ikatan suci pernikahan. Kita memerlukan hal lainnya untuk bisa mewujudkan rumah tangga yang sempurna." "Jika maksudmu adalah cinta, maka kita bisa membangunnya pelan-pelan. Aku mencintaimu, dan yakin bisa menumbuhkan cintamu padaku, Ziva." Zivana tak mengelak. Usaha Fandi begitu gigih dan tak kenal kata menyerah meski keraguan menggelayut begutu jelas. Hingga akhirnya, perempuan itu pun luluh juga. Menerima lamaran dengan segenap kekecewaannya terhadap Lean. "Teh ...." Panggilan dari balik pintu kamar membuyarkan kesedihan Zivana. Lelaki paruh baya yang begitu ia hormati itu sudah membuka handel pintu, membuatnya segera menghapus basah di pipi. Mencoba sebisa mungkin menampakkan wajah semringah layaknya pengantin yang baru saja menggelar akad nikah. Ia tak ingin sang ayah merasa terluka dengan keputusannya yang tiba-tiba, apalagi jika tahu ia tak bahagia. "Teteh lagi apa?" tanya Syam seraya menghampiri putrinya yang duduk di bibir ranjang. Ia pun duduk di samping anak perempuannya sambil mengusap punggung anak kesayangan dengan lembut. "Teteh hanya ingin istirahat sejenak, Pa," ujar Zivana berbohong. Menyembunyikan dengan senyuman yang mengembang. "Teteh lagi ngga menyembunyikan sesuatu dari Papa, kan?" tanya lelaki itu lagi menyelidik. Ada kekhawatiran dalam hatinya akan kebahagiaan yang tak begitu diperlihatkan anak kesayangannya itu. Zivana segera menggeleng. "Ngga ada, Pa. Memangnya kenapa Papa bertanya seperti itu?" Perempuan itu penasaran dengan pikiran sang ayah yang tiba-tiba bertanya. Ia takut, perasaannya diketahui oleh lelaki yang selalu bisa merasakan apa pun yang ia rasa. "Papa merasa Teteh menyembunyikan sesuatu. Ingat, kebahagiaan Teteh adalah yang utama. Jadi, apa pun yang terjadi, buat hidup Teteh bahagia, maka Papa pun akan ikut bahagia," ucap Syam membuat Zivana seketika tersentak. Ia tak menyangka, ayahnya merasakan apa yang ada dalam hatinya saat ini. Zivana segera memeluk sang ayah. Merebahkan kepala dalam d**a bidang lelaki itu. Merasakan dekap hangat yang Syam berikan. Ada ketenangan sekaligus kesedihan menyeruak secara bersamaan. Ingin mengatakan yang sejujurnya tentang keputusan yang tiba-tiba ia ambil, dan seketika disesali. Namun, ia tak ingin membuat ayahnya bersedih dan ikut kecewa. Hal itu bisa memengaruhi pikiran dan otomatis menjadi sarang penyakit sepanjang ia benar-benar tak merasakan kebahagiaan. Mungkin, ia harus menyimpan rasa itu sendiri. Mengubur penyesalan tanpa siapa pun tahu. Ia telah menetapkan masa depan yang diyakini akan membawanya dalam sebuah hidup yang bahagia. Ia pun tak bisa menilai, apakah penyesalan akan pernikahannya itu akan berlangsung lama atau justru bisa berubah setelah menjalani biduk rumah tangga dengan Fandi nanti? Tak ada yang bisa menebak kemana jalan takdir akan menuntun kita. Seperti apa hidup yang akan terjadi nanti. Termasuk Zivana sendiri. Ia tak bisa menentukan akan bagaimana kehidupannya setelah ini. Setidaknya untuk saat ini ia harus bisa memainkan peran sebaik mungkin sebagai anak, istri, dan seorang Zivana yang selalu menampakkan wajah ceria, senyum yang selalu terbit di bibirnya yang mungil, dan sikap yang bisa menempatkan diri dalam segala situasi. "Ayo, kita temui tamu-tamu yang ingin melihat pengantin wanitanya yang cantik!" Syam mencoba mengajak putrinya untuk keluar kamar. Bagaimanapun, Zivana adalah ratu sehari yang harus selalu menampakkan diri di hadapan para tamu undangan. Tak enak bila harus berlama-lama bersembunyi meskipun dengan alasan untuk beristirahat. Perempuan itu menurut, mengikuti sang ayah beranjak dari kamar, menuju ruang resepsi yang masih dipenuhi banyak orang. Senyumnya segera disambut suka cita para tamu yang hadir. Syam merangkul putrinya menuju pelaminan. Disambut Fandi yang sedari tadi duduk sendiri. _ Rumah mewah dua lantai menyambut kedatangan Zivana dan Fandi. Kediaman keluarga Makaley begitu besar dan megah. Kawasan elit di kota Jakarta itu saja sudah membuat bulu kuduk merinding. Bukan karena takut atau suasana mencekam, tetapi lebih kepada bangunan tinggi menjulang berikut pagar yang membatasi rumah. Sungguh mengagumkan. Bak di film-film yang biasa Zivana saksikan di televisi atau bioskop. Rumah keluarga suaminya itu seperti istana raja, yang halamannya saja luas membentang, menyambut kedatangan mereka. Seorang pelayan dengan pakaian seragamnya tergopoh-gopoh menyambut mereka, dan segera membawakan troli. Sebuah ruangan besar tampak di bagian depan rumah saat pintu terbuka. Seorang pelayan lain menyambut dengan menundukkan badan, sama persis dengan yang dilakukan pelayan sebelumnya. "Di mana Mami?" tanya Fandi pada pelayan sambil berjalan, menuntun Zivana yang sejak tadi mengekor dan hanya terdiam. Pelayan tadi mengikuti Fandi seraya berkata, "Nyonya ada di kamarnya, Den." Segera Fandi mengajak Zivana menuju lantai dua, berjalan menuju kamar ibunya yang terletak di ujung lorong. Suasana rumah begitu sepi. Hanya terlihat pelayan yang menyambut kedatangan mereka tadi. Perempuan itu tak menyangka, rumah mewahnya selama ini ternyata jauh dibanding dengan rumah keluarga suaminya yang lebih besar dan megah. Rumah yang akan ia tempati sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan, karena Fandi akan mengerjakan proyek bersama sang kakak di Jakarta. Mau tak mau, ia pun harus mengikuti suaminya. Meskipun harus tinggal dengan keluarga yang baru dua kali dikenalnya. Pintu kamar berukuran besar itu beberapa kali diketuk. Sebuah suara menyambut dan menyuruh masuk. Fandi membuka handel pintu. Ruangan kamar yang dipenuhi berbagai ornamen serba mewah menyambut Zivana, membuat takjub kedua netra perempuan itu. "Mami ...," panggil Fandi pada perempuan yang duduk di kursi ukiran yang terletak di sudut kamar. "Anak Mami tersayang," ujar perempuan itu seraya memeluk Fandi yang menghampirinya. Selama beberapa saat mereka pun saling mendekap dalam hangat. Membuat Zivana hanya bergeming menyaksikan ibu dan anak itu seperti sudah lama tak bertemu. Padahal, saat pernikahannya, ia hadir beserta kakak-kakak Fandi. Hanya berselang satu minggu saja mereka tak bertemu. Menyadari ada orang lain juga dalam kamar itu, membuat pelukan pun terurai. Secara bersamaan, Fandi dan maminya pun menoleh ke arah Zivana. "Kau tak mau memeluk Mami, Sayang?" tanya perempuan yang memakai atasan puff sleeves dipadu dengan rok high-waisted itu, terlihat begitu elegan. Zivana segera menghampiri Diana, ibu mertuanya, lalu memeluk perempuan itu. Mereka pun terlibat pembicaraan selama beberapa saat. "Kau harus tinggal di sini, Ziva. Apa pun keinginanmu, tinggal katakan saja pada Fandi dan pelayan di sini. Mereka akan memenuhi semua yang kau butuhkan," ucap Diana meyakinkan menantunya jika kehadirannya di rumah itu akan mendapat perlakuan yang istimewa. "Iya, Mami, terima kasih banyak sudah perhatian pada Ziva." "Fandi anak kesayangan Mami. Sebagai istrinya, tentu Mami pun akan menyayangimu. Memperlakukanmu dengan baik agar kau betah tinggal di sini." Zivana mengulas senyum. Tak seperti bayangannya memiliki mertua yang sinis, Diana justru sebaliknya. Hangat dan menyenangkan. Ia mulai lega dengan kehidupan yang akan dijalani. Ia harus melupakan masa lalu yang masih saja terseret bersama saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD