Kenangan saat-saat bersama Lean seakan memaksa menyeruak dalam ingatannya. Kepingan yang membuatnya seketika mengelus d**a. Ada desir hebat yang memenuhi jiwanya kini.
Tetes-tetes bening yang semula hanya mengembun di sepasang mata bulatnya, mulai berdesakan mengaliri pipi. Sekuat apa pun ia berusaha menenangkan perasaannya yang tak menentu, tetap saja tak bisa mengenyahkan bayangan Lean yang selalu memiliki tempat tersendiri dalam hatinya.
Zivana sangat mencintai lelaki itu. Mimpinya menjalani biduk rumah tangga bersama Lean begitu besar. Kebersamaan selama ini telah menciptakan banyak memori indah layaknya pasangan yang jatuh cinta. Perhatian dan kasih sayang sang kekasih seakan lebih dari cukup untuk memenuhi hidup dan juga masa depannya.
Namun, semua bayang-bayang mimpi itu mulai pudar seiring penuturan Lean yang tak bisa menikahinya saat ini. Apakah ia memang tak berjodoh dengan lelaki itu? Ataukah masih harus menunggunya lagi? Sanggupkah ia kembali merangkai harapan yang entah kapan akan terwujud nyata?
Kembali hatinya mencelus. Kecewa dan terluka pada saat yang bersamaan kala ingatannya kembali pada penolakan lelaki itu untuk menikahinya dalam waktu dekat. Dan pada saat yang sama, hadir lelaki lain yang menawarkan bahtera pernikahan untuknya. Haruskah berpaling dan meninggalkan mimpinya bersama Lean?
Ada yang menghangat dalam dadanya saat potongan kenangan itu hadir dalam ingatannya. Perlakuan Lean yang romantis, sikapnya yang manis, dan segenap cinta sekaligus perhatian yang begitu didamba setiap gadis di muka bumi, tak terkecuali dirinya yang menang begitu mencintai lelaki itu.
Bahkan, ia sudah diperkenalkan pada keluarga besarnya sebagai kekasih. Bangga dan bahagia bisa berada di tengah-tengah orang tua dan saudara Lean ketika untuk pertama kalinya dibawa ke rumahnya.
Keluarga Lean memang cukup kaya raya dan terpandang. Almarhum sang ayah yang juga pengacara begitu dikenal memiliki dedikasi tinggi pada pekerjaannya. Ibunya yang juga keturunan konglomerat begitu disegani sebagi sosialita kelas atas.
Beruntungnya, Zivana juga berasal dari keluarga berada. Keturunan pejabat pemerintahan yang juga memiliki nama dan kredibilitas baik di lingkungan masyarakat. Tak heran bila ia pun dikenal sebagai anak keturunan orang penting di wilayahnya.
Dikenalkan sebagai kekasih di hadapan kelurahan Lean, tentu membuat Zivana berbunga. Itu sudah membuktikan jika dirinya memang memiliki tempat penting dalam hati lelaki itu. Keseriusan menjalin hubungan dengannya dapat dilihat dari hal tersebut.
Namun, ia tak menyangka jika Lean ternyata memiliki cita-cita yang tak bisa beriringan dengan bahtera pernikahan yang begitu diharapkannya. Pekerjaannya yang baru dirintis lebih utama dibandingkan hubungan percintaan yang telah terjalin sekian lama.
"Aku memiliki mimpi besar untuk jadi seorang pengacara, bahkan melebihi Papi," ujarnya kala Zivana menanyakan mimpi terbesar apa yang sangat ingin diwujudkannya pertama kali.
"Membuat Mami dan keluargaku bangga dengan pencapaian mimpi tersebut adalah kebahagiaan yang ingin kuraih pertama kali, Ziva," lanjutnya dengan mata berbinar seakan semua itu akan segera terwujud dalam waktu dekat.
"Apa cinta kita tidak ada dalam urutan yang pertama itu, Kak?" tanya Zivana hati-hati. Ia tak mau menyinggung atau membuat lelaki itu merasa tak enak hati dengan pertanyaannya.
"Cinta kita memiliki urutan terpenting dalam hidupku, tapi setelah pencapaian pertamaku itu."
"Berarti cinta kita berada di urutan yang kedua?" tanya perempuan itu meyakinkan, meski ia sendiri sudah tahu jawabannya.
Lean hanya mengangguk. Memenuhi semua keraguan Zivana yang berharap cinta mereka pun sama penting dengan pencapaian pekerjaannya. Namun, anggukkan itu sudah mewakili isi hati sangat kekasih. Ia tak perlu bertanya lagi.
"Maaf, Sayang, cinta kita bukannya tak penting, tapi aku harap kau mengerti, jika cita-citaku itu adalah hal yang ingin kucapai lebih dulu. Jika mimpiku terwujud, kita bisa membangun rumah tangga yang bahagia nantinya," ucap Lean seolah memberikan harapan bagi Zivana.
Namun, perempuan itu sudah telanjur kecewa. Cinta mereka tak begitu istimewa dibanding pekerjaannya. Rasanya apa yang mereka rangkai selama ini hanyalah sebuah perjalanan biasa saja yang akan dianggap angin lalu.
Tak terasa derai air mata jatuh perlahan, membuat lelaki di hadapannya terkejut dan langsung meraih tangan itu.
"Kenapa menangis, Ziva?" tanya Lean menatap lekat sang kekasih.
"Apa Kak Lean mencintaiku?" tanya Zivana memastikan. Walaupun ia tahu jawaban apa yang akan diterimanya, tetapi ia ingin meyakinkan hatinya jika lelaki itu memang mencintainya.
"Tentu saja aku mencintaimu, Ziva. Apa kau meragukan perasaanku?" tanyanya mengernyit heran.
"Setelah tahu jika hubungan kita berada di urutan kedua, aku ragu akan cintamu padaku, Kak," kata Zivana jujur.
"Sayang, pekerjaan dan cinta tidak bisa dibandingkan. Mereka memiliki tempat tersendiri di hati seseorang."
"Dan cinta kita tak lebih penting dari pekerjaanmu, kan?" tanya Zivana lagi sambil menangis.
"Sama pentingnya. Aku juga butuh kamu dalam hidupku, tapi prioritas utamaku yang pertama adalah mencapai cita-cita sebagai pengacara, baru setelah aku bisa mewujudkan itu, kita bisa menikah. Aku pun sudah memiliki pekerjaan pasti."
"Apakah tidak bisa cita-citamu itu sejalan dengan cinta kita?"
"Maksudmu?"
"Kita bisa menikah sembari kau merintis cita-citamu itu," jawab Zivana terbuka. Ia tak lagi memikirkan akan menyinggung perasaan Lean. Satu hal yang ingin ia ketahui adalah perasaan lelaki itu.
"Itu tidak mungkin, Sayang. Aku tak akan bisa fokus pada tujuan utamaku."
"Apa aku membuatmu tak bisa mencapai impianmu itu?"
"Bukan begitu maksudku, tapi aku ingin konsentrasi pada pekerjaan ini terlebih dulu."
"Intinya, aku tak lebih penting dari pekerjaanmu, Kak. Kau tak perlu menjelaskan alasan apa pun, aku hanya bisa menangkap itu," ujar Zivana kecewa.
"Aku mohon mengertilah, Ziva."
"Aku sudah mengerti sekarang. Jadi, kau tak usah khawatir kalau aku akan terus mendesakmu dengan permintaanku yang ingin menikah denganmu. Aku juga tak ingin memaksamu untuk memilihku. Aku sudah cukup tahu diri dengan apa yang kau impikan itu, Kak."
"Kau tak mau berjalan bersamaku mencapai mimpi itu, Ziva?"
"Impian kita berbeda, Kak, tapi harapan yang kugantungkan untuk bisa menikah denganmu itu pun yang utama. Namun, sepertinya aku sudah salah menilai, karena ternyata aku tak lebih penting dibandingkan pekerjaanmu. Jadi, aku tak bisa juga menunggumu hingga mencapai mimpi itu."
"Maksudmu, kau akan meninggalkanku?"
"Kau yang memaksaku untuk memilih, Kak."
"Kau bisa tetap bersamaku, Ziva. Kita saling mencintai dan bisa membangun rumah tangga setelah cita-citalu tercapai. Aku janji," katanya meyakinkan. Sejenak membuat Zivana berpikir, tetapi setelahnya ia tersenyum kecut.
"Aku tak bisa menjamin jika saat itu kau masih tetap dengan pemikiran saat ini."
"Kau meragukanku?"
"Aku lebih meragukan diri sendiri, jika hal yang kutakutkan terjadi saat itu, apakah aku masih kuat bertahan bersamamu atau kuat bertahan menghadapi hidup yang akan kembali dikecewakan untuk kedua kalinya."
"Aku mohon jangan berkata begitu, Ziva. Aku mencintaimu dan ingin menikah denganmu, tapi tidak dalam waktu dekat. Kuharap kau mau menunggu dan berjalan bersamaku sampai saat itu tiba."
"Entahlah, Kak. Aku perlu memikirkan semuanya lagi. Apakah aku mampu berjalan bersamamu sementara kau sudah mengecewakan harapanku."
"Aku memberimu waktu untuk memikirkan semua ini, tapi aku sangat ingin kau tak menyerah pada hubungan kita. Aku tak bisa menjanjikan apa pun saat ini, tapi aku tak pernah berniat membuatmu terluka. Aku ingin kau bahagia, Ziva."
Perempuan itu kembali menangis, tapi segera menyeka air mata yang jatuh. Tak ingin terlihat betapa hatinya begitu sakit saat ini. Ia akan memikirkan kembali hubungan mereka. Apakah ia akan sanggup berjalan bersama Lean ataukah menyerah pada keputusannya?