Lamaran

1428 Words
Kita tak pernah tahu, pada siapa akhirnya hati akan berlabuh Sedalamnya cinta yang dipersembahkan sekian lama Kandas hanya karena harapan yang tak selaras kenyataan Terseret bersama kepahitan yang mulai meracuni "Maukah kau menikah denganku?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut lelaki yang sudah sering kali datang ke rumah Alex untuk sekadar berbincang-bincang bersama yang lain. Zivana tentu saja terlonjak kaget mendengar permintaan itu. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba tawaran untuk membangun rumah tangga disodorkan padanya. Justru dari lelaki yang baru saja dikenal. Tidak, keluarga lelaki itu sudah dikenal cukup lama oleh omnya. Anak pemilik perkebunan cengkih di Manado yang memiliki rumah mewah di kawasan elit Kota Jakarta. Pekerjaannya hanya luntang-lantung tak jelas. Namun, kekayaan keluarganya tujuh turunan pun tak akan habis. Apalagi, kakak-kakak lelaki itu memiliki pekerjaan yang menjanjikan masa depan. Fandi Makaley, nama lelaki itu. Seorang non muslim yang merupakan anak bungsu keluarga Makaley. Alex mengenal keluarga itu dengan baik. Salah satu kakak Fandi pernah meminta bantuan hukum padanya. Sejak saat itu, hubungan Alex dan Keluarga Makaley pun terjalin cukup dekat. Fandi yang senang bergaul dan humoris, merasa senang bisa mengenal Alex yang juga asyik diajak berdiskusi dan mengobrol berbagai hal. Jangan ditanya kecerdasan lelaki itu. Meskipun tak memiliki pekerjaan pasti, tetapi ia sarjana ilmu komunikasi. Sesuai dengan bidang yang disukai Zivana. Awalnya Zivana merasa risih dengan sikap Fandi yang terkesan mencari perhatiannya. Namun, lama-kelamaan, sikap humorisnya mampu mencairkan suasana. Ketegangan yang dirasakan perempuan itu setelah masalah demi masalah terjadi antara ia dan Lean, mulai terlupakan seiring kehadiran Fandi. Namun, permintaan untuk menikah dengan lelaki itu, sungguh di luar dugaan. Selain perbedaan keyakinan, tak ada sedikit pun rasa cinta di hati Zivana untuk Fandi. Jadi, tak mungkin bisa membangun rumah tangga melihat dua hal itu saja. "Kau tak percaya kalau aku memintamu untuk menikah denganku, Ziva?" tanya Fandi kian menegaskan keseriusannya. Zivana sejenak terpaku. Ia tak menyangka, lelaki itu ternyata serius dengan maksudnya tersebut. "Menikah bukan perkara mudah, Fan," ujar Zivana menyadarkan lelaki itu akan arti sebuah pernikahan. "Memang tak mudah untuk kita bisa menikah. Namun, aku sudah pikirkan semua itu. Apa pun keinginanmu, akan kukabulkan, asalkan kau mau menerima lamaranku," ucapnya makin membuat Zivana salah tingkah. "Apa alasanmu memintaku untuk menikah denganmu?" tanya Zivana ingin memastikan keseriusan lelaki itu. Ia merasa, Fandi hanya mengikuti emosinya sesaat. Mungkin ia terobsesi ingin segera menikah, dan mengajak perempuan yang dikenal untuk mau menerima lamarannya. Bukannya apa pun bisa dibeli dengan kekayaan yang dimiliki. Meskipun memang tidak semua hal bisa diganti dengan materi, tetapi setidaknya uang salah satu solusi saat orang sudah tak lagi punya pilihan. Zivana sering kali mendapati cerita seperti itu dari ayahnya. Seorang mayor polisi yang sudah malang melintang dalam dunia Intelijen Keamanan Polri. Pengalaman sang ayah dalam menangani para penentang hukum seringkali diceritakan padanya. Jangankan penjahat yang sudah jelas berseberangan dengan pranata umum sipil, ada pula oknum yang seharusnya menegakkan hukum pun tak jarang bersekongkol dengan mafia kriminal hanya demi mengeruk materi. Tak sedikit oknum pejabat yang rela menggadaikan harga diri demi sebuah kekuasaan. Saat kondisinya sudah terpepet, membutuhkan lebih banyak materi untuk memuaskan nafsu, biasanya jalan pintas itu ditempuh tanpa memikirkan akibatnya. Salah satu contoh yang tidak menutup kemungkinan bisa terjadi di sisi kehidupan lain. Hal itu tidak berlaku bagi Zivana. Kekayaan sang ayah sudah lebih dari cukup untuk menghidupinya. Ia tak perlu menggadaikan harga diri demi mendapatkan uang lebih. Namun, ada sesuatu yang menggelitik hati kecilnya. Jika lelaki yang dicintai setengah mati menunda-nunda pernikahan dengan alasan pekerjaan, lalu kenapa Fandi malah dengan mudah memintanya untuk menikah? "Aku mencintaimu." Sebuah alasan utama seorang lelaki sudah cukup umur dalam membina mahligai rumah tangga meminta perempuan yang dicintainya untuk menikah. Ya, cinta adalah fondasi utama sebuah hubungan. Namun, masalahnya ia tak mencintai Fandi? Sudah cukup alasan untuk menolak lamaran lelaki itu. "Kalau kau mau berpindah keyakinan mengikuti agamaku, mungkin bisa jadi bahan pertimbangan menerima lamaranmu." Entah dari mana ide itu berasal. Tiba-tiba muncul begitu saja dan terucap tanpa mampu terfilter. Zivana seketika menyesali ucapannya barusan, tetapi tak mungkin menarik kata-katanya lagi. Apa yang sudah terucap, tak mungkin ia tarik kembali. Pantang baginya menganggap obrolan serius dengan candaan yang justru akan menurunkan harga dirinya. Namun, menerima lamaran Fandi jika lelaki itu bersedia berpindah agama? Apa hal itu sanggup dilakukannya? Keputusan yang bodoh jika hal itu benar-benar terjadi. Sayangnya, ia tak punya pilihan selain menunggu jawaban. "Aku bersedia." Samar dalam pendengaran Zivana saat Fandi mengucapkan kata itu. Ia tak menyangka kebodohannya benar-benar akan menjadi kenyataan. Haruskah menarik ucapannya kembali? Menikah bukanlah main-main. Banyak hal yang harus dipertaruhkan dalam hidup mereka dan juga keluarga. Sanggupkah menjalani itu nanti? Memikirkannya saja sudah membuat kepala Zivana berdenyut nyeri. Keinginannya untuk menikah dengan Lean tentu berbeda dengan pernikahan antara ia dan Fandi. Meskipun lelaki itu mau mengabulkan keinginannya, tetapi fondasi utama sebuah hubungan tak ia miliki. Akankah pernikahannya bahagia nanti? Zivana mendesah bersamaan dengan posisi Fandi yang bergeser mendekatinya. Kini lelaki itu hanya beberapa jengkal saja di hadapannya. Suasana halaman rumah Alex di tengah malam hari yang mulai sepi, membuat perempuan itu sedikit bergidik. Pikirannya sudah menjurus ke hal yang tidak diinginkan, tetapi entah kenapa tubuh itu terasa kaku hanya untuk digerakkan. Bergeming tanpa suara. Hanya deru napas yang memburu disertai degup jantung yang makin berdebar kencang. Kedua tangan Zivana terkepal dengan keringat dingin di sekujur badan. Hanya sepasang mata bulatnya yang mampu terpejam rapat. Pasrah dengan apa yang akan dilakukan Fandi padanya. Ada yang menghangat di hatinya kala genggaman tangan itu terasa. Perlahan Zivana mulai membuka mata, menatap lelaki di hadapannya yang jarak antara mereka hanya tinggal sejengkal saja. "Aku yakin memilihmu sebagai istri. Rela berpindah keyakinan hanya untuk bisa menikah denganmu. Jika kau benar-benar bersedia menjadi istriku, secepatnya aku akan bicara dengan Om Alex dan juga ayahmu," ucap Fandi terlihat serius. Kedua netra itu berkabut. Tak kuasa Zivana mengucap sepatah kata pun, hanya bisa menatap lekat seraya meyakinkan hati jika pilihannya mungkin saja bisa goyah. Saat tatapannya belum beranjak dari lelaki itu, tiba-tiba terdengar gebrakan di pagar depan. Seketika Zivana dan Fandi pun menoleh. Sekilas bayangan sosok lelaki berjalan menjauhi gerbang rumah. Meski dalam keremangan, perempuan itu hapal dengan sosok yang berjalan menjauh itu. Segera ia beranjak, menyusul keluar pagar. Masih dilihatnya lelaki jangkung dengan langkah lebar-lebar. "Kak Lean," teriak Zivana tak peduli dengan suasana sepi kompleks perumahan yang sudah beranjak malam. Lelaki yang dipanggil tak menoleh, Zivana berlari mengejar. Kembali dipanggilnya nama lelaki yang cintanya masih begitu besar di hati. Barulah Lean berhenti, masih membelakangi. Terengah-engah Zivana mencoba mengatur napas saat kedua kakinya sudah tepat berada di balik punggung lelaki, yang sudah kurang lebih sebulan ini lebih asyik dengan pekerjaannya. "Kak ...," panggilnya lirih. Lelaki itu pun berbalik, menatap lekat perempuan yang selalu dicintainya. Ada kilatan kemarahan di mata elang itu. Wajahnya pun tergambar jelas menahan kesal. "Apa yang ingin kau jelaskan?" tanya Lean tanpa basa-basi. Zivana sejenak mengatur napas yang masih menyisakan sesak. Mengembuskan napas perlahan. "Lelaki itu melamarku." Lean terlihat tersenyum mengejek. Memalingkan wajahnya yang makin menampakkan kemarahan. "Kau menerimanya?" tanya Lean kembali menatap Zivana. "Haruskah aku menerimanya?" tanya perempuan itu balik bertanya, membuat Lean menautkan kedua alis. "Kenapa kau bertanya padaku?" "Karena lamarannya telah membuatku salut. Keberaniannya yang jelas-jelas tahu kalau aku tak mencintainya membuatku seketika meminta hal sangat penting dalam hidupnya." "Memangnya kau minta apa darinya?" "Berpindah keyakinan." "Kau luluh hanya karena itu?" tanyanya sinis. "Keyakinan bukanlah permainan untuk dipertaruhkan. Apalagi untuk sebuah pernikahan yang sakral." Lean terdiam. Sejenak mengakui kebenaran dari kata-kata perempuan di depannya, tapi jika Zivana menerima lamaran hanya karena syarat yang diajukan, bukankah itu seperti luapan emosi sesaat? "Aku tanya untuk terakhir kalinya padamu, Kak. Hanya untuk memastikan pilihan. Apakah kau benar-benar tak ingin menikahiku saat ini? Jika kau berubah pikiran, aku rela merendahkan harga diri untuk menarik permintaanku pada lelaki itu," ucap Zivana menantang Lean. Ia sangat berharap jawaban kekasihnya akan sesuai harapan. Biar urusan Fandi, akan ia pikirkan nanti. "Aku mencintaimu, Ziva. Namun, jawabanku tetap sama. Saat ini, aku belum siap untuk menikahimu," jawab Lean membuat harapan Zivana hancur berkeping-keping. Dengan pengakuan itu, kandas sudah mimpi membangun mahligai cinta. Ia harus merelakan kenyataan. Siap menerima lamaran Fandi, dan meninggalkan Lean. Dalam hati Lean berharap, Zivana tak gegabah dengan keputusannya untuk menerima lamaran lelaki lain. Ia ingin, perempuan itu mau menunggunya lebih lama. Namun, ia tak sanggup meminta. Telah begitu dalam mengecewakan perempuan yang dicintainya. Tak ingin lagi menuntut, sementara ia pun tak bisa memberikan apa yang diharapkan Zivana. Keduanya memendam kepedihan dalam porsinya yang berbeda. Bukan karena tak ada lagi cinta di antara keduanya, tetapi keadaan yang membuat ego itu akhirnya muncul dan ingin membuktikan, jika tanpa cinta pun bisa tetap berada dalam impian akan masa depan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD