Rinai berbisik lirih bersama desau angin
Mengibaskan gerai yang basah diiringi dingin
Harapan itu harus menguar bersama angan
Tak pernah bertepi ke permukaan
***
Hujan sejak sore tadi mulai reda. Kelam malam mulai menampakkan singgasana keperkasaannya. Kaki-kaki kecil Zivana baru saja menjejak di pelataran rumah Alex, ketika suara serak itu menyapanya hangat.
"Kamu pulang sama siapa, Teh?" tanya Alex sambil menoleh ke pekarangan. Menyangka Zivana pulang dengan seseorang.
"Sama Luna, Om," ucap Zivana seraya menggigit bibir bawahnya menahan dingin. Sementara sebelah tangan menenteng tas sling bag, dan sebelah lainnya membawa kantong plastik berisi buku-buku yang tadi siang dibelinya bersama Luna di toko buku.
"Kenapa ngga pulang sama Lean?" tanya Alex lagi memastikan. Sudah hampir seminggu, lelaki itu tak kelihatan datang atau sekadar menjemput dan mengantar pulang keponakannya.
"Dia ada pekerjaan beberapa hari ini, Om. Jadi, kami pun jarang ketemu."
"Ya udah, sana cepet mandi, terus nanti jangan lupa makan. Tadi Tante Farah udah masakin udang asam manis buat Teteh," ujar Alex, kemudian duduk di sofa ruang televisi dan menyalakan tabung berukuran dua puluh inci itu. Sementara Zivana melenggang menuju kamarnya untuk bersiap mandi.
Tak berselang lama, perempuan itu tampak berjalan menuju ruang televisi yang merupakan tempat di mana keluarga itu biasa berkumpul, kemudian duduk di sofa, tak jauh dari omnya.
"Tante udah tidur, Om?" tanya Zivana yang baru saja selesai mandi dan membawa sepiring nasi beserta lauk udang asam manis yang sudah tersedia di atas meja makan.
"Udah dari habis isya tadi. Tante kelelahan karena sejak pagi mengerjakan pesenan bolu pengantin," ujar Alex masih fokus ke layar televisi di depannya yang menayangkan acara hiburan.
Zivana kembali menikmati makanannya dengan lahap. Berkeliling toko buku siang tadi, baru sempat terisi bakso dan es teh manis. Perutnya masih meronta minta diisi, apalagi lauknya cukup menggugah selera, salah satu menu favoritnya.
Canda riang anak-anak di lantai atas terdengar dari arah ruang makan saat Zivana menuang nasi dan lauk. Sudah beberapa hari ini ia jarang mengajak mereka bermain. Kesibukan kampus dan kebersamaan dengan Lean membuat waktunya terkuras, hingga saat sampai di rumah, hanya lelah yang terasa.
Memikirkan tentang Lean, seketika ada debar yang menyergap. Permintaannya dua hari lalu membuat pikiran Zivana kembali menerawang. Perkataan lelaki itu mampu mengikis kepastian akan cinta yang ia semai selama ini.
"Aku ingin hubungan kita beranjak ke yang lebih serius lagi, Kak," ujar Zivana mencoba mengemukakan keinginannya yang sudah beberapa hari ini ingin ia tanyakan.
Masa perkuliahannya akan segera berakhir. Meskipun niatnya untuk bekerja selepas kuliah nanti, tetapi ia ingin menjalani hubungan yang lebih serius lagi dengan Lean. Lelaki yang sudah dua tahun menjadi kekasihnya. Ia ingin melabuhkan hati dan masa depan hanya pada lelaki itu.
Kemapanan dan masa depan Lean yang sudah terlihat cerah, menjadi alasan untuk Zivana memantapkan pilihan menjalani hubungan ke jenjang pernikahan.
Semburat kelabu terlihat dalam wajah lelaki tampan itu. Zivana gusar. Apakah keinginannya bertentangan dengan lelaki itu? Lalu, kemana hubungan mereka akan di bawa?
"Maafkan aku, Ziva, bukannya tak ingin mempersuntingmu, tapi untuk saat ini aku belum siap. Karirku baru beranjak, ingin terfokus menjalani pekerjaan ini." Ucapan Lean membuat Zivana terpaku. Ia sama sekali tak menyangka jika kekasihnya yang sangat ingin ia habiskan sisa waktu hanya dengannya, ternyata belum siap untuk menjalani biduk rumah tangga.
Karir Lean yang baru berjalan kurang lebih setahun ini, memang membutuhkan konsentrasi khusus. Namun, tidak bisakah menjalani itu sembari mengarungi pernikahan? Ia akan sangat memahami ambisi kekasihnya yang begitu mendamba menjadi seorang pengacara terkenal, tetapi tak lantas membuat hubungan mereka menggantung tanpa kejelasan. Zivana membutuhkan kepastian. Sebagai perempuan, tentu ingin menikah saat sudah ada pendampingnya dan siap secara materi.
"Lalu, sampai kapan aku menunggumu siap melangkahkan hubungan kita ke yang lebih sakral, Kak?" tanya Zivana seolah memohon pada sang kekasih akan kejelasan hubungan mereka.
"Aku belum bisa memastikan itu. Satu hal yang pasti, aku mencintaimu. Kesetiaan untuk tetap melabuhkan hati hanya padamu takkan pernah berubah, tapi jika untuk menikah, saat ini bukan waktu yang tepat. Aku masih ingin mengejar karirku dulu."
Kembali Zivana menunduk. Memainkan ujung kemeja yang dipakainya. Menekuri lantai rumah makan tempat biasa mereka menghabiskan waktu bersama. Selera makannya seketika lenyap, padahal menu favorit bakmi ayam cah jamur itu begitu menggoda, tetapi ucapan Lean mampu mengubah suasana hatinya menjadi pilu.
"Maafkan aku, Ziva," ucap Lean sendu, sejurus kemudian ia menatap lekat kedua netra Zivana yang berembun. Lelaki itu memahami perasaan sang kekasih, tetapi ia pun tak bisa menjanjikan apa-apa saat ini.
Tak ada yang bisa diucapkan perempuan itu. Harapannya untuk berlabuh mulai terkikis. Meski cintanya masih selalu tertanam sedemikian dalam untuk lelaki itu, tetapi ia tak bisa membohongi hati, kecewa terhadap sikap Lean yang memupus mimpinya untuk membangun rumah tangga yang bahagia.
"Teh ...." Panggilan yang entah ke berapa kalinya itu terdengar samar di telinga Zivana. Ia menoleh, menatap Alex yang tengah melambaikan sebelah tangan di hadapan wajahnya. Dunianya kembali pada kenyataan.
"Iya, Om?" Zivana menyendok suapan terakhir makanannya ke dalam mulut. Ia tak bisa merasakan kenikmatan dari hidangan yang biasanya membuat nafsu makan bertambah. Kali ini ia tak bisa berkompromi dengan keadaan. Pikiran tentang hubungannya dengan Lean menjadi yang utama, meski berbagai cara telah ia lakukan untuk mengusir kegundahan.
"Teteh lagi ngelamun apa?" tanya Alex yang mengerutkan kening, heran dengan sikap keponakannya yang tengah menikmati makanan, tetapi pikirannya melayang entah kemana.
"Ngga ada, Om, hanya mikirin tugas kuliah aja yang numpuk," ujar Zivana berbohong. Ia belum bisa jujur tentang hasil obrolan dengan Lean. Ia pikir, belum saatnya untuk memberitahukan pada Alex mengenai hubungan mereka. Padahal, ia sempat ingin mengutarakan masalah yang terjadi pada lelaki berusia empat puluh tahunan itu, siapa tahu ada solusi tentang permasalahannya. Namun, entah kenapa tak kunjung mulut itu bersuara. Keraguan masih menggelayut dalam pikiran.
"Teteh yakin? Ngga ada hubungannya sama Lean?" selidik Alex seperti telah membaca pikiran keponakannya.
Sejenak Zivana gelagapan. Ia bingung, antara harus jujur atau menyimpan rapat dulu permasalahan itu. Ia tahu, omnya pasti akan dengan mudah membaca pikirannya. Sebagai seorang pengacara, tentu Alex sudah bisa membaca situasi yang terjadi dengan hanya melihat sekilas suasana yang ditampakkan lawan bicaranya. Namun, ia pun tak kuasa membahas lebih jauh mengenai hal itu.
"Baik kalau Teteh ngga mau cerita sekarang, Om paham. Lain waktu, Teteh bisa cerita. Siapa tahu Om bisa bantu masalah yang terjadi sama Teteh," ucap Alex bijak. Itulah yang disukai Zivana dari sosok lelaki itu. Bisa memahami perasaan kala ia belum mau bicara. Tak pernah mendesak ataupun menuntut harus mengatakan setiap masalah yang menimpanya.
"Makasih, Om." Hanya kata itu yang terucap dari bibir Zivana. Isi dalam piring makannya yang sudah tandas, menjadikan alasan untuk mengakhiri kekakuan di antara mereka. Segera bergegas ke belakang untuk menyimpan piring kotor dan langsung pamit menuju kamar untuk beristirahat. Padahal tak sedetik pun matanya mampu terpejam saat tubuh letihnya sudah direbahkan di atas kasur.
Kembali pikiran menerawang, menari-nari memenuhi hingga membuat kepalanya penat, tak juga matanya mampu terpejam rapat. Bahkan, kini turun hingga ke d**a yang mulai merasakan sesak. Mau tak mau, ia pun duduk dan menggeser tubuh mendekati jendela yang tirainya masih terbuka. Suasana remang taman samping rumah, membuat pikirannya sedikit beralih.
Tentang hubungannya dengan Lean, ia mulai ragu. Akankah berjalan mulus ke depan? Sementara lelaki itu akan lebih menyibukkan diri pada pekerjaannya. Mungkin ia bukanlah prioritas dalam hidup lelaki itu. Ambisi untuk mengejar karir lebih diutamakan. Ia harus mau mengalah menjadi nomor dua atau mungkin nomor ke sekian bagi Lean.
Netra bening itu berembun tanpa kompromi. Ia begitu mencintai lelaki itu. Sejak awal melabuhkan hatinya pada Lean, ia sudah yakin dengan perasaan dan masa depannya yang cerah bersama sang kekasih. Apalagi, om dan tantenya begitu menyukai Lean yang selalu bersikap sopan, cerdas, dan berambisi akan pekerjaannya.
Namun, ternyata semua itu tak menjamin kebahagiaannya saat ini. Keinginan untuk menjalani biduk rumah tangga bersama lelaki itu ternyata tak sejalan dengan harapan. Harus berapa lama lagi ia menunggu Lean tanpa kepastian? Sementara ia menginginkan hubungan lebih serius setelah dua tahun pacaran.
Zivana mendesah. Ia tak boleh menyerah oleh keadaan saat ini. Cintanya pada Lean begitu besar. Impian membangun masa depan bersama lelaki itu tak akan pernah berpaling meski rintangan menghadang dasi berbagai sisi. Itu sudah tekadanya. Ia tak akan melepaskan Lean dan menyerah begitu saja.
Walau harus menunggu lebih lama lagi, akan ia lakukan demi membina hubungan yang lebih sakral dengan sang kekasih. Saat ini, Zivana pun akan fokus pada kuliah semester akhir dan melanjutkan pekerjaan sesuai impiannya. Ia percaya, kisah cintanya dengan Lean akan menemukan titik terang suatu hari nanti.