Sari terduduk lemas setelah Zivana menceritakan kedatangan perempuan yang mengaku sebagai istri kedua Bram. Perempuan itu terlihat menahan amarah. Wajah yang memerah disertai kedua mata yang berkilat penuh emosi.
"Berani-beraninya perempuan itu datang kemari. Kenapa juga Bram memberitahu rumah ini segala, bikin kesal saja." Terdengar gemeletuk gigi perempuan paruh baya itu menahan amarah.
Zivana yang menyaksikan kekesalan sang ibu hanya mendesah, kembali nyeri merayap dalam hatinya. Ah, seperti mimpi buruk kejadian yang menimpa hidupnya kini.
Si kecil yang masih merengek dalam gendongannya, tiba-tiba muntah. Zivana yang terkejut, segera menepuk-nepuk punggung si kecil untuk menenangkan.
Setelah Rayya terkulai lemas, baru ia duduk di kursi, mengelus kening putri bungsunya yang bersimbah keringat, dan membersihkan sedikit sisa muntahan di sekitar mulutnya.
"Bawa aja ke dokter, Teh. Takutnya gara-gara menelan uang koin tadi, makanya Rayya seperti itu," ujar Sari terlihat khawatir. Meski ia dan sang ibu seringkali bersitegang, tetapi jika urusan anak, perempuan itu begitu peduli.
Zivana hanya mengangguk seraya menggendong Rayya menuju ke kamar untuk bersiap pergi ke dokter. Dengan sisa uang sepuluh ribuan yang hanya tinggal empat lembar, ia membawa si kecil ke dokter yang tempat praktiknya hanya terhalang satu rumah saja.
Tempat praktik dokter itu memang buka sampai siang hari. Namun, biasanya Dokter Irwan bisa dimintai tolong jika ada keluarganya yang sakit di luar jam prkatik. Dokter itu terkenal baik hati dan ramah.
Setiap kali keluarga Syam berobat ke sana, mereka tak pernah dimintai bayaran, dan Dokter Irwan pun tak menerima uang sepeser pun dari warganya. Katanya, hal itu sebagai wujud pengabdiannya terhadap warga kompleks perumahan tempatnya tinggal.
Hanya mengeluarkan uang untuk menebus obat yang telah diresepkan saja di apotik yang tak jauh dari rumah.
Zivana mengetuk pintu rumah sang dokter. Beberapa detik kemudian, terdengar sahutan dari dalam. Istri Dokter Irwan yang membukakan pintu, mempersilakan ia masuk ke dalam ruang praktik, lalu segera mengabari suaminya. Tak berapa lama, tubuh tinggi kurus milik Dokter Irwan muncul di ruang prkatik.
"Anaknya kenapa, Teh?" tanya Dokter Irwan seraya menghampiri, lalu menyentuh kepala Rayya yang tangisnya sudah reda.
"Tadi siang, kan, sempat kejadian Rayya hampir menelan koin uang logam lima puluh rupiah. Alhamdulillah, bisa saya keluarkan itu koin, malah sempat tertidur, tapi pas bangun, dia rewel dan nangis terus. Beberapa menit kemudian, dia muntah, padahal badannya ngga panas." Zivana menjelaskan kronologi kejadian.
Dokter Irwan menyuruh Zivana untuk menidurkan si kecil di atas ranjang tempat pemeriksaan. Beruntungnya Rayya tidak rewel saat perempuan itu membaringkannya. Dokter Irwan mulai memeriksa keadaan Raya dengan menepuk perlahan bagian perutnya.
"Coba buka mulutnya, Sayang!" perintah sang dokter. Zivana menirukan perintah itu. Rayya pun menurut. Diperiksanya kondisi mulut dan tenggorokan dengan senter kecil. Setelah memeriksa, Dokter Irwan kemudian duduk di kursi kebesarannya.
"Rayya ngga apa-apa, hanya terkena virus yang ada di logam itu. Saya akan resepkan obat untuk memulihkan kondisinya," ucap Dokter Irwan seraya menuliskan resep.
Zivana lega mendengarnya. Tak ada yang perlu ia khawatirkan akan kondisi Rayya. Namun, satu hal yang masih mengganjal hatinya kini. Bram. Akankah rumah tangganya tetap baik-baik setelah ini? Bagaimana jika lelaki itu tetap memilih memiliki dua istri? Akankah ia ikhlas menerima atau menggugatnya pisah?
Banyak pertanyaan silih berganti dalam pikiran Zivana saat ini. Tentang berbagai kemungkinan dan akibatnya jika hal yang ia khawatirkan itu terjadi.
Rasanya ia tak sanggup lagi berdiri tegak setelah apa yang menimpa rumah tangganya kini. Lelaki yang ia percayai akan memberikan surga dalam rumah kecil mereka, ternyata malah mencipta prahara.
Zivana mendesah seiring langkah kakinya keluar dari ruang praktik Dokter Irwan. Rayya sudah tenang dan terlelap dalam gendongan. Menyisakan gemuruh yang kembali menggelora dalam d**a perempuan itu.
_
Tanpa merasa bersalah, Bram memasuki kamar dan langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Zivana yang menahan kekecewaan sekaligus kesal sejak tadi sore, mendesah perlahan, lalu mulai berbicara.
"Kau tidak ingin menjelaskan apa-apa, Bram?" tanya Zivana ketus. Dari nada bicaranya, ia makin kesal karena sikap suaminya yang tak acuh, padahal masalah rumah tangga mereka tengah dalam suasana genting.
"Aku tak perlu menjelaskan apa pun. Sudah jelas kan semuanya? Mau penjelasan apa lagi?"
Zivana menghela napas. Bisa-bisanya lelaki itu menyepelekan masalah yang menimpa rumah tangganya kini. Apakah ia tak punya hati, hingga mengabaikan perasaan istrinya? Apa Bram pikir, sebuah perselingkuhan itu dianggap masalah yang biasa, takkan berdampak pada keutuhan sebuah pernikahan?
"Kau telah menghadirkan perempuan lain dalam rumah tangga kita, kau pikir pernikahan ini tak berarti apa pun?"
"Kau jangan terlalu naif, setiap laki-laki itu wajar jika mendua. Bukankah ayahmu juga melakukan hal yang sama?"
"Jangan bawa-bawa Papa dalam masalah kita. Aku meminta penjelasanmu, kenapa kau tega menduakan aku?" Tak terima dengan hinaan yang jelas-jelas ditujukan bagi sang ayah, Zivana mulai menaikkan nada suaranya.
Apa yang dikatakan orang tentang perbuatan seorang ayah yang menyakiti hati istrinya, akan dirasakan pula oleh anak perempuannya. Mungkin, hal itu yang kini tengah ia rasakan. Hatinya begitu nyeri. Kenapa justru hal itu harus ia alami.
"Aku ingin mencari kenyamanan lain. Kupikir, masa depan Dayu lebih menjanjikan."
"Jadi, kau sudah tidak nyaman denganku? Masa depan seperti apa yang sebenarnya kau cari, Bram?"
"Dia penyanyi, uangnya cukup banyak, dan yang pasti, dia masih single."
"Kau keterlaluan. Tidakkah kau ingat anak-anakmu di rumah? Berminggu-minggu tak pulang, mengabaikan kehidupan mereka. Apa kau pikir sudah layak disebut ayah?"
Zivana mencoba menahan amarah yang kian membuncah. Ingin berteriak sekeras mungkin, meluapkan luka di hatinya yang makin tersayat dengan ucapan suaminya.
Namun, ia memikirkan anak-anak. Apa kata mereka jika menyaksikan orang tuanya bertengkar hebat? Akan banyak pertanyaan dalam pikiran kecil mereka. Ia tak mau menambah beban itu.
"Sudahlah, Ziva. Aku tidak ingin banyak berdebat lagi denganmu. Sudah cukup Dayu memberondong dengan cerewetnya, jangan kau tambah lagi dengan kenaifanmu itu."
"Wajar jika seorang istri merasa sakit hati suaminya berselingkuh, Bram. Kau pikir aku akan baik-baik saja setelah mengetahui perbuatanmu itu?"
"Aku tak peduli soal itu. Pikirkan anak-anak jika kau bertindak bodoh lebih jauh lagi."
Bagai ancaman di telinga Zivana, kata-kata Bram malah makin menyakitinya. Sebegitu tak berartinyakah dirinya bagi Bram? Apakah rasa cinta yang dulu begitu besar, hilang seiring waktu? Berganti rasa ingin menyakiti dan ketidakpedulian terhadap pasangannya.
Zivana menangis dalam senyap. Hatinya begitu nyeri. Terluka berdarah-darah dengan perlakuan Bram yang dengan tega dan sengaja menyakiti. Ingin rasanya pergi dari semua keruwetan yang terjadi, tetapi bagaimana dengan anak-anak.
Mereka masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian darinya. Jika ia menghilang, itu berarti sang ibu yang harus mengambil alih tanggung jawab dalam menjaga dan merawat mereka.
Ia tak ingin mengalihkan beban itu pada ibunya. Hubungannya tak begitu dekat dengan perempuan yang telah melahirkannya itu, sungguh keterlaluan jika ia menyerahkan empat anak, dan lari dari tanggung jawab.
Apa pula kata anak-anak jika ia memilih pergi. Mungkin, kebencian akan tumbuh mengakar dalam jiwa mereka seumur hidup. Ia bergidik memikirkan hal itu.
Biarkan untuk saat ini, ia mengungkung nestapa tanpa tahu akan bermuara kemana. Mungkin jalan takdir telah menuntunnya pada keadaan yang tercipta saat ini. Ia tak bisa mengelak ataupun menghindar, selain menjalani dengan ikhlas.
Bagaimanapun Bram ayah anak-anaknya, jika ia nekat untuk pergi atau berpisah dari lelaki itu, yang akan jadi korban tentu keempat anaknya.
Sementara itu, di luar rumah keluarga Zivana, seorang lelaki tengah memperhatikan rumah besar itu. Ia berdiri di dekat warung yang terletak di pinggir jalan, tepat di seberang rumah yang sudah sejak sejam yang lalu ia amati.
Bukan kali ini saja ia melakukan hal itu. Hanya satu tujuan yang sejak awal ingin ia lakukan, tetapi ketakutan selalu menghantui, tak ingin identitasnya diketahui.
Maka dari itu, ia terkadang menyuruh orang untuk melakukan perintahnya. Cukup mengawasi dan melaporkan perkembangan tentang keadaan di rumah itu. Ia hanya ingin memastikan, jika apa yang terjadi di sana, sesuai dengan keinginannya.