Kedatangan perempuan cantik dengan rambut keriting sebahu itu membuat Zivana tertegun. Ia membawa bayi dalam gendongannya.
"Maaf, dengan siapa,ya? Ada keperluan apa datang kemari?" tanya Zivana langsung memberondongnya dengan pertanyaan.
Sesaat perempuan itu bergeming. Menatap lekat wajah Zivana, lalu menyunggingkan seulas senyum. Tak berapa lama ia pun berucap, "Aku Dayu, istri Mas Bram, dan ini putri kami, Kinara."
Penjelasannya mampu membuat Zivana terdiam, tetapi dalam hatinya bergejolak tak menentu. Jadi, inikah perempuan yang telah membuat suaminya berminggu-minggu tak pulang? Berpaling dari pernikahan yang dijanjikan akan selalu berlimpah kebahagiaan? Alasan yang beberapa saat lalu disangkal lelaki itu.
Perih dan terluka hatinya kini. Sudah sejauh itukah hubungan Bram dengan perempuan yang kini telah berani datang ke rumahnya dan dengan entengnya mengatakan itu?
"Mau apa kau kemari?" tanya Zivana dengan nada ketus. Hatinya telah meluap kepedihan yang sejak tadi tertahan hanya karena tak ingin ada pertengkaran dengan suaminya. Namun, kedatangan perempuan itu tak bisa lagi meredam amarahnya.
"Sudah berhari-hari Mas Bram tak pulang. Aku berhak menanyakan langsung padanya. Dia ada di sini, kan?" tanyanya sambil celingukan ke dalam rumah.
"Apa kau tahu siapa aku?" geram Zivana mencoba menahan emosi agar tetap menjaga kewarasannya.
"Zivana, istri pertama Mas Bram," ucapnya tanpa beban.
"Beginikah perilakumu datang ke rumah orang untuk mencari suamimu? Di depan istrinya kau masih berani menampakkan diri."
"Jangan pura-pura tak tahu dengan perlakuan Mas Bram, Mbak. Aku pikir kau sudah tahu perbuatan suami kita itu. Bagaimanapun, aku dan Kinara berhak atas Mas Bram. Makanya aku datang kemari untuk berbicara langsung. Bisa tolong panggilkan?"
Sakit. Rasa itu begitu merajam jiwanya yang sudah nyeri. Makin terluka dengan sikap pongah perempuan itu. Dengan seenaknya datang tanpa merasa bersalah. Membawa bayi yang tidak berdosa hanya untuk membuktikan jika mereka adalah bagian penting dari kehidupan Bram.
"Pergilah dari sini! Selesaikan urusan kalian, tetapi bukan di sini. Aku tak sudi rumah ini menjadi tempat perundingan orang yang telah berkhianat," ucap Zivana tegas. Tak ada lagi kesopanan yang ia tampakkan pada tamunya. Ia merasa bukan saatnya memperlakukan tamu seperti raja. Perempuan itu adalah alasan rumah tangganya retak, dan menorehkan perih di hati.
Zivana tak bisa bersikap sopan atau berpura-pura baik-baik saja di depan siapa pun saat ini. Sebagai istri yang telah dikhianati suaminya, wajar bila sikapnya diliputi amarah.
Beruntung saja saat ini ia tak ngamuk-ngamuk dan mencakar wajah mulus perempuan itu. Ia masih bisa menjaga kewarasannya untuk tak bertindak secara fisik.
"Setidaknya, kau bisa panggilan dulu Mas Bram kemari, kan, Mbak?" tanyanya lagi seperti memerintah. Ingin sekali segera menutup pintu dan berlalu dari sana. Wajah tanpa dosa itu kian membuat Zivana muak. Namun, ia mencoba menahan diri untuk masih bersikap wajar.
Baru saja hendak berbalik untuk memanggil Bram yang sebelum menuju ruang depan, sempat ia lihat tengah berbaring di kamar, tepat di samping Rayya yang masih terlelap, lelaki itu sudah berdiri di belakangnya.
"Ada apa ini?" tanya Bram sambil melongok ke ambang pintu. Ia tampak terkejut mendapati perempuan yang masih berdiri di sana.
"Kau?" Bram bergeser sedikit lebih mendekat ke arah perempuan itu. Zivana otomatis melangkah mundur, memberikan ruang bagi mereka.
"Ada apa kau ke sini?" tanya Bram dengan mimik wajah yang terlihat kesal.
"Kau sudah berhari-hari tak pulang, jelas saja aku mencarimu ke sini, Mas."
"Tolong, selesaikan masalah kalian bukan di rumahku," cetus Zivana memecah obrolan mereka.
"Bawalah dia dari sini, Bram. Baru setelah itu, selesaikan urusan kita," imbuh Zivana sambil berlalu pergi dari sana menuju kamar. Ia sudah tak lagi peduli dengan perempuan itu.
Kini ia tengah menata hatinya yang hancur berantakan. Perempuan mana yang bisa menerima pengkhianatan suaminya begitu saja? Apalagi jelas-jelas ia dimadu. Sungguh sangat menyakitkan.
Ternyata benar omongan orang selama ini, yang pernah melihat Bram dengan perempuan lain di Cirebon. Bukan hanya sekali hal itu didengarnya. Ia hanya diam menanggapi sindiran halus dan prasangka mereka.
Mencoba percaya jika suaminya tak seperti apa yang dikatakan orang. Karena sebuah pengkhianatan akan sulit ia maafkan, apa pun alasannya.
Segera ia menghapus tetes air mata yang tak bisa diajak kompromi untuk bisa berhenti mengalir, ketika Rayya menggeliat dan merengek di sampingnya. Ia mencoba menenangkan dengan mengusap punggung si bungsu dengan lembut.
Biasanya gadis kecil itu segera terlelap kembali jika ia sudah melakukan itu, tetapi entah kenapa, kini rengekannya makin keras. Membuat Zivana segera menggendongnya.
Sejenak Rayya terdiam sambil mengalungkan kedua tangan di pundaknya. Tangisnya pun sudah tak terdengar. Namun, tak berapa lama ia kembali merengek. Kali ini tangisnya makin keras.
Sudah berkali-kali Zivana menenangkan, tetap saja anak itu rewel. Bingung harus melakukan apa, ia pun segera membawa si bungsu keluar kamar.
Virna dan Prima yang mendengar tangisan keras adiknya segera keluar dari kamar. Langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Zivana tak begitu menanggapi. Hanya memberitahu jika Rayya hanya rewel saja.
Kedua anaknya itu hanya duduk di kursi ukiran yang tak jauh dari tempat Zivana berdiri. Mereka terlihat cemas dengan keadaan adiknya yang tak bisa ditenangkan. Tak lama kemudian, Sari tergopoh menghampiri sambil bertanya, "Kenapa Rayya rewel begitu?"
"Ngga tahu, Ma, mungkin badannya lagi ngga enak. Dari tadi digendong, ngga juga reda tangisnya," ujar Zivana sambil menepuk-nepuk punggung putrinya dengan lembut.
"Coba kasih minum dulu," saran Sari sambil berlalu untuk mengambil air minum.
Tak lama kemudian, Sari datang dari arah dapur sambil membawa gelas berisi air putih. Ia menyodorkan gelas itu ke tangan Zivana yang langsung menerima dan mencoba memberikannya pada Rayya. Anak itu menolak.
"Kamu mau apa sih, Dek?" desah Zivana lelah. Sudah hampir lima belas menit Rayya rewel tak karuan. Membuat ia bingung harus melakukan apa lagi. Jika putri bungsunya itu menginginkan sesuatu, biasanya langsung bilang meski dengan bahasa yang masih cadel, tetapi kali ini seperti ada yang tengah dirasakan gadis kecil itu.
Diraba keningnya, tak panas sama sekali. Mungkin pengaruh dari kejadian tadi siang yang membuat Rayya rewel. Ataukah ada hal lain yang tak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata?
Peristiwa yang baru saja terjadi pada Zivana, mungkin langsung terhubung dengan putri bungsunya itu. Kelakuan sang ayah dengan perempuan yang datang tadi, sedikit banyak mempengaruhi perasaan, baik Zivana maupun Rayya.
"Ajak Bram untuk membawa Rayya ke dokter, Teh," perintah sang ibu seraya menuju belakang rumah.
"Mama mau kemana?" tanya Zivana segera.
"Memanggil Bram. Bukannya tadi dia sedang ngopi di teras belakang?"
Zivana mendesah. Harus bicara apa pada ibunya tentang keadaan yang sebenarnya terjadi barusan?