Harapan yang Mulai Sirna

1312 Words
Bram tampak menyugar rambutnya kasar saat Zivana datang, dan langsung menyalahkannya atas perlakuan lelaki itu pada Evalia. "Bagaimana aku tak marah, Eva sudah besar, sudah seharusnya menjaga adik-adiknya. Tentu saja aku menyalahkannya karena lalai menjaga Rayya," geram Bram mengedarkan pandangannya ke sekitar kebun belakang rumah. Setelah memarahi Evalia, rupanya lelaki itu masih bisa menikmati secangkir kopi yang ia buat sendiri, sambil memandangi pohon-pohon mangga yang tengah berbuah di halaman belakang rumah. "Tak seharusnya kau memarahi Eva sekeras itu, hingga membuatnya menangis. Cukup menasihatinya baik-baik, dia pun akan mengerti." Zivana mencoba meredam emosi dengan berbicara pelan. Ia duduk di hadapan suaminya yang masih berkobar amarah, terlihat dalam kilatan mata itu. "Aku jelas emosi saat itu. Telat saja mendapat pertolongan, Rayya bisa mati. Tak menyesalkah kau jika hal itu terjadi?" "Tentu saja aku orang pertama yang akan menyesali jika hal buruk terjadi pada Rayya, tetapi bukan berarti kita pun harus menyakiti hati Eva dengan cara memarahinya. Aku sudah berniat akan menasihatinya nanti, setelah keadaannya mereda." "Kelamaan, Eva akan merasa jika perbuatannya itu benar," gerutu Bram, lalu menyesap kopinya yang sudah mulai dingin. "Dia masih anak-anak, Bram. Pikirannya masih pendek untuk bisa menentukan mana yang lebih prioritas ia dahulukan. Saat itu, Prima pun tengah merengek meminta jajanannya dibuka oleh Eva. Dia juga berpikir akan mengambil uang logam itu dari tangan Rayya, tapi setelah mendiamkan Prima. Ia tak menyangka, adik bungsunya akan secepat itu memasukkan koin ke mulutnya." "Maka dari itu, aku menyalahkan Eva, kenapa tak segera mengambil uang logam itu dulu setelah ia melihat Rayya memainkannya." Masih saja lelaki itu tak mau kalah. Membuat Zivana geram harus menjelaskan apalagi pada suaminya, jika sebagai orang tua, mereka harus bersikap lebih bijaksana pada anak-anak. Apalagi mereka masih kecil-kecil. Tak seharusnya diberikan beban tanggung jawab begitu besar untuk menjaga adik-adiknya yang memang memerlukan perhatian ekstra. "Dia masih belum bisa memahami sejauh itu harus bertindak, Bram. Sebagai orang tua, kita yang harus bisa memahami dan memberitahunya pelan-pelan," ucap Evalia masih dengan nada biasa. Ia tak ingin emosinya yang sudah hampir meluap dalam d**a, malah akan makin memperkeruh suasana. "Aku terkadang tak habis pikir, kau selalu saja membela anak itu. Padahal dia sudah besar, sudah bisa diserahi tanggung jawab menjaga adik-adiknya yang masih kecil-kecil." "Aku yang tak habis pikir dengan jalan pikiranmu itu. Selalu saja menyalahkan Eva atas kesalahan yang ia lakukan. Ia memang bukan anak kandungmu, tapi sekarang kau ayahnya. Seharusnya bisa bertindak sebagai seorang ayah yang bijak, jangan malah terkesan pilih kasih dan membedakan. Anak itu sudah merasakan kalau perlakuanmu berbeda dibanding pada ketiga adik-adiknya." "Entah kenapa, aku memang tak bisa lebih menyayanginya. Hanya karena ia anakmu saja yang membuatku harus menerima sebagai bagian dari keluarga kita, tapi bagaimanapun, bagi ketiga adik-adiknya, ia tetaplah kakak mereka." "Itulah yang membuat sikapmu terlihat jelas bagi Evalia. Ia sangat membutuhkan kasih sayang ayahnya dan berharap hal itu darimu, tapi kau tidak pernah bisa memberikan itu padanya." "Dia bukan anak kandungku, jadi jangan paksa aku untuk menerima apalagi menyayanginya," jawab Bram seenaknya. "Terlepas dari itu, kembali pada persoalan kau memarahinya, aku harap tak pernah terulang lagi. Meski kau tidak menyayangi Evalia, setidaknya hargai ia sebagai manusia." Zivana menghela napas sesaat sebelum melanjutkan ucapannya. "Dia masih anak-anak. Seharusnya kitalah sebagai orang tua yang menjaga mereka. Jangan bisanya menyalahkan atas hal buruk yang menimpa salah satu di antara mereka. Kita yang seharusnya introspeksi. Begitu pun denganmu." "Loh, kenapa jadi aku yang dibawa-bawa?" "Kau ayah mereka, sudah seharusnya kau juga memiliki kewajiban menjaga mereka selama di rumah." "Selama beberapa hari aku kerja di luaran, sudah lelah tak karuan. Giliran pulang, aku igin menikmati masa liburanku dengan istirahat. Apa itu salah?" Bram tak mau kalah. Ia terus membela diri. Melakukan pembenaran atas apa yang dilakukannya selama ini. "Memang tidak, tetapi ada saatnya kau bisa meluangkan waktu untuk anak-anak. Makin hari diperhatikan, sikapmu kian berubah. Apalagi sejak main gila dengan perempuan lain," cetus Zivana sambil memalingkan wajah dari tatapan tak suka suaminya. "Aku mohon, jangan memulai hal itu lagi. Aku sedang tak ingin berdebat saat ini. Benar-benar ingin istirahat. Jangan rusak mood-ku dengan ocehanmu itu." Sejenak Zivana mendesah. Merasakan beban di dadanya membuat ia sesak. Lelaki yang sudah tujuh tahun menjadi suaminya itu ternyata keras kepala. Merasa diri sudah benar menjadi kepala keluarga selama ini. Padahal, jika dirinci, begitu banyak nilai minus yang harus segera diperbaiki dalam dirinya. Sebagai istri sekaligus ibu, ia pun masih belum sempurna. Masih banyak kekurangan yang membuat suami dan anak-anak merasa tidak nyaman. Namun, ia pun mengakui hal itu, dan ingin terus memperbaiki. "Kau pikir aku tak ingin suasana yang nyaman saat kau pulang? Hanya saja, selama kepergianmu, sudah menumpuk masalah yang harus kita selesaikan. Salah satunya tentang perselingkuhanmu itu." "Aku bilang tidak selingkuh. Terserah kau mau percaya atau tidak!" dalih lelaki itu masih tidak mau mengaku. "Sudah banyak saksi yang melihat perbuatanmu itu, Bram. Masih saja kau mau mengelak?" "Ini yang membuatku tak betah berlama-lama di rumah. Risih dengan ocehanmu. Kalau kau diam, ganti dengan cerewetnya Mama yang membuat kepala ini pening." "Kalau begitu, mari kita bicara baik-baik." "Bicara apalagi? Aku mau tidur!" ujarnya sambil melenggang, berjalan melewatinya menuju ke dalam rumah. Zivana kembali mendesah. Selalu seperti itu jika ia menginginkan pembicaraan yang serius. Bram selalu saja menghindar dan tak mau menyelesaikan masalah yang terjadi. Itulah sebabnya, masalah selalu menumpuk tak terselesaikan. Ia teringat akan masa lalu yang begitu indah. Awal-awal pernikahan yang bahagia bersama Bram yang romantis dan memenuhi janjinya untuk bisa selalu membuat senyum itu terhias di bibirnya. Ah, andai saja lelaki itu selalu bisa memenuhi janji yang diucapkan dulu, pasti tak akan ada prahara dalam rumah tangganya kini. Sebagai istri, Zivana merasa gagal untuk tetap bisa melayarkan kapalnya agar tetap mengarungi luasnya lautan, meski gelombang pasang menerjang. Ia kini tengah terombang-ambing badai, tanpa tahu kemana arah yang harus dituju. Karena sebagai suami, Bram seperti ingin berlayar sendiri. Jalan yang mereka tempuh bagai dua arah yang akhirnya bercabang, tak lagi satu tujuan. Berbagai pertengkaran kerap menjadi pewarna dalam hari-hari mereka. Selalu saja ada intrik-intrik untuk memulai perselisihan itu terjadi. Zivana merasa ia berhak menuntut suaminya untuk bisa lebih bijak dan adil memerankan tokoh sebagai kepala rumah tangga. Apalagi ada anak-anak yang masih membutuhkan kerja sama keduanya dalam mendidik dan membimbing mereka. Terutama kasih sayang dan perhatian sebagai orang tua. Namun, sepertinya Bram terkesan mengabaikan perannya sebagai ayah. Ia merasa sudah benar menjalankan figur itu pada anak-anak. Padahal, sosok ayah bukan hanya tentang mencari uang dan mendampingi saja, tetapi lebih kepada dukungan moral dan material. Ketiganha harus seimbang. Sementara selama ini, jangankan materi yang seringkali diabaikan dengan alasan susah mendapatkan uang, kebutuhan moral yang seharusnya dapat dijalankan dengan baik, ikut tergerus bersama kesibukan lelaki itu di luar sana. Kabar terakhir itulah yang membuatnya makin terluka. Sebuah pengkhianatan harus ia terima, justru dari lelaki yang ia percaya akan memberinya bahagia. Dengan janji-janji yang ditawarkan sebelum menikah, yang membuat ia luluh dan mau menerima, seketika lenyap tak berbekas. Berganti dengan serpihan-serpihan luka yang ditorehkan setiap saat. Makin menumpuk hingga menjadi bongkahan karang berisi kesakitan. Sungguh pernikahan yang makin membuat ia merasa berada dalam bara api. Haruskah Zivana tetap bertahan atau harus mencari jalan penyelesaian? Namun, apa yang harus ia lakukan jika tetap mempertahankan rumah tangga yang mulai tak sejalan? Sejauh ini, ia masih memikirkan anak-anak yang akan menjadi korban keegoisan orang tuanya jika ia menyerah. Itulah sebabnya ia tetap bertahan dalam kubangan nestapa yang sudah membuatnya muak. Lagi-lagi, ada yang harus dikorbankan demi sebuah kebahagiaan. "Bun, ada tamu di depan." Tiba-tiba lamunan Zivana menguap seiring kedatangan Virna. Segera ia menghapus basah yang sesaat lalu mengalir di pipinya. "Tamunya siapa, Neng?" tanya perempuan itu bangkit dan langsung menuju ke dalam rumah. "Neng lupa nanya, Bun, maaf," ucapnya terlihat menyesal. "Ngga apa-apa, Sayang. Biar nanti Bunda yang lihat, ya," hiburnya seraya melangkah ke arah depan rumah. Sementara Virna langsung masuk ke kamar yang menyatu dengan kakaknya. Mereka tardengar mengobrol. Tak begitu jelas, karena Zivana segera menuju ke depan rumah untuk melihat siapa yang datang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD