Zivana segera bersimpuh di belakang tubuh si bungsu yang sudah pucat pasi. Rayya mengalami asfiksia, yaitu ketidakmampuan bicara dan bernapas. Sebagai ibu, ia harus bisa bersikap tenang, tetapi gegas mengambil tindakan.
Ajaran sang ayah tentang pertolongan pertama pada orang yang tersedak, ia rekam baik-baik dalam ingatannya, dan kini dipraktikkan dengan cara mencondongkan tubuh putrinya ke depan, setelah itu, ia memberikan lima pukulan dengan tumit tangan di antara kedua tulang belikatnya.
Tak berapa lama, uang koin 50 rupiah bergambar komodo itu keluar dari mulut si kecil. Zivana dan yang lainnya merasa lega sekaligus ngeri melihatnya.
Rayya terbatuk-batuk, wajahnya memerah, napasnya terengah-engah seraya mengeluarkan air mata. Ia segera menghambur dalam pelukan ibunya.
Zivana menepuk-nepuk punggung si bungsu. Netranya sudah berkaca-kaca, lega sekaligus sedih. Akibat kelalaiannya dalam menjaga anak-anak, ia hampir kehilangan gadis kecil berumur dua tahun itu.
"Alhamdulillah, Neng Rayya bisa selamat," ujar Bi Warsih lega. Ia terlihat khawatir dengan keadaan Rayya. Perempuan paruh baya itu hampir setiap hari datang ke rumah, hanya untuk ikut menjaga anak-anak. Ia tanpa pamrih menemani bermain atau sekadar menyuapi si bungsu.
Sayangnya, saat kejadian itu, ia baru saja datang ketika Rayya megap-megap sambil memegangi tenggorokannya. Dari keterangan Evalia, sesaat sebelumnya, si bungsu tengah memainkan uang koin lima puluh rupiah berwarna kuning dan bergambar komodo.
Namun, belum sempat si sulung mengambil uang koin itu, Rayya sudah menelannya bak permen yang biasa ia beli di warung belakang rumah.
Rayya masih merangkul ibunya. Ia masih ketakutan dengan kejadian barusan. Zivana pun mohon pamit untuk membawa putrinya ke kamar. Mencoba menenangkan dan menidurkannya di ranjang. Beberapa menit kemudian, si bungsu pun sudah terlelap, masih sesenggukkan, tetapi sudah mulai terlihat tenang.
Seketika bayangan Zivana menerawang. Jika saja ia telat datang menolong putrinya, tentu kini ia takkan bisa mendapati Rayya dalam keadaan hidup. Kasus tersedak bisa mengakibatkan kematian jika saja telat mendapatkan pertolongan atau salah dalam penanganan.
Beruntung ia banyak mempelajari mengenai pertolongan pertama pada beberapa penderita seperti itu dari sang ayah. Hingga tak perlu panik saat hal itu terjadi tadi.
Namun, kejadian yang menimpa Rayya menjadi bahan perenungan. Selama ini, ia telah lalai menjaga anak-anak terutama si bungsu yang masih sangat membutuhkan dirinya sebagai ibu.
Ia terlalu larut dalam kesakitan yang ditorehkan ayah mereka. Begitu mendalami perasaan sedih dan mengungkung penderitaan tanpa sadar jika anak-anak pun ikut merasakan derita.
Hanya saja, mereka tak bisa protes dengan perubahan sikap orang tuanya. Zivana berjanji untuk lebih memperhatikan anak-anak mulai saat ini. Ia tak ingin kejadian seperti tadi terulang lagi.
Bagaimanapun, keempat anaknya adalah harta yang paling berharga dalam hidup. Tak ada yang bisa menggantikan dengan apa pun juga di dunia.
Kembali air meleleh dari kedua netranya. Penyesalan itu hanya menjadi pembelajaran untuk bisa lebih bersikap lebih bijak dalam menyikapi setiap masalah.
Sesakit apa pun itu, ia masih punya anak-anak yang butuh perhatian dan kasih sayang orang tua. Sudah ayahnya yang tak begitu peduli, ia tak ingin sosok ibu pun ikut memudar dalam ingatan mereka.
Selama beberapa hari ini, hanya sang ibu yang lebih sering menemani dan mengurus anak-anak. Zivana terlalu larut dalam penderitaan yang ia cipta sendiri.
Sebagai nenek, Sari begitu menyayangi keempat cucunya itu. Terutama pada si sulung, Evalia. Nasib anak gadis berusia delapan tahun itu begitu miris. Sejak bayi, ia sudah diabaikan oleh ayah kandungnya. Tak pernah sedetik pun mendengar kabar lelaki itu mencari putrinya.
Sebelum Syam meninggal, ia sangat menyayangi Evalia. Seringkali gadis berambut panjang itu dibawa serta berjalan-jalan ke hutan lindung yang terletak di seberang rumah, dengan menaikkan tubuh anak itu ke atas pundak sang kakek.
Tawa riang dan teriakan kecil menggema di sepanjang jalan setapak menuju ke dalam hutan. Putri pertama dari anak perempuannya itu merupakan anugerah terindah bagi Syam dan Sari.
Memang ada cucu lain dari anak-anak lelakinya, tetapi pada Evalia, mereka memperlakukannya dengan berbeda. Kasih sayang yang berlebih dibanding pada cucu yang lain. Mungkin karena sejak kecil, Evalia tak pernah mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari ayah kandungnya.
Mendapatkan ayah sambung, malah sama saja, tak pernah disamakan dengan tiga anak yang lain, terksesan pilih kasih.
Kesedihan Evalia seringkali terlihat tatkala gadis itu menangis di sudut kamar atau sengaja mengadu pada Sari. Di saat ketiga adiknya diberikan mainan baru misalnya, ia tak mendapatkan bagian. Sebagai anak tiri, ia merasa sendirian. Tak pernah diperhatikan oleh Bram yang sudah hidup bertahun-tahun dengannya di rumah itu.
Jika sudah begitu, Sari hanya bisa menenangkan cucu kesayangannya. Tak jarang menggantikan dengan membelikan mainan yang diinginakan Evalia.
Pantas saja gadis itu lebih dekat dengan sang nenek dibanding ibunya, kareka kasih sayang dan perhatian dari perempuan yang terkadang cerewet itu, lebih besar dibanding yang sang ibu berikan.
Zivana tak pernah protes. Ia memahami keadaan itu. Sebagai ibu, ia sudah memberikan kasih sayang dan perhatian bagi keempat anaknya. Terlepas ia tak seperti Sari yang menyayangi cucu-cucu dengan memanjakan dan menuruti setiap keinginan, pada akhirnya anak-anak pun akan menilai sendiri, betapa besar kasih sayang dan ketulusan hati yang ia punya untuk mereka.
_
"Bunda, Kakak nangis di kamar." Ucapan Virna terdengar samar di pendengaran Zivana.
Kedua netranya mengerjap, baru saja beberapa saat lalu ia terlelap di samping Rayya. Perempuan itu beranjak, kemudian duduk di tepi ranjang.
"Kakak kenapa nangis, Neng? tanya Zivana sambil menguap. Ia masih duduk, memulihkan kondisi pasca terlelap tadi.
"Mungkin karena tadi Ayah marahin Kakak," ucapnya membuat Zivana terbelalak.
"Ayah? Memangnya Ayah ada di rumah?" tanya perempuan itu merasa heran. Bukankah tadi suaminya pergi begitu saja? Dia pikir lelaki itu seperti biasa, pergi jauh dan entah kapan akan kembali lagi.
"Ada, Bun. kata Ayah, tadi denger Rayya nelen uang koin, lalu nyalahin Kakak," terang Vira menjelaskan.
Gegas ia bangkit dan menuju kamar yang ditempati anak-anak, tepat berada di samping kamarnya. Pelan ia membuka daun pintu, melihat anak gadisnya tengah telungkup di atas ranjang. Ia pun menghampiri dan duduk di samping putri sulung yang membelakanginya.
"Kakak kenapa?" tanya Zivana hati-hati. Gadis itu tak menjawab. Hanya terdengar isak tangis tertahan di sana.
"Kakak dimarahin Ayah?" Perempuan itu langsung bertanya, karena dari keterangan Virna, kakaknya menangis setelah dimarahi Bram. Ia belum sempat menanyakan lebih lanjut penyebab lelaki itu sampai memarahi Evalia.
"Kak, cerita sama Bunda. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Kalau Kakak sakit hati karena Ayah marah, jangan diambil hati. Ayah tidak serius marah sama Kakak, pasti ada alasan kenapa hal itu sampai terjadi," ucap Zivana berusaha bersikap bijak.
"Ayah ngga pernah sayang sama Kakak. Ayah nyalahin Kakak karena lalai jaga Ade. Makanya Ayah marah sambil nunjuk-nunjuk, dan bilang Kakak anak ngga berguna," ucap Evalia di sela isak tangisnya. Hati Zivana seketika perih. Begitu tega Bram memarahi anak sulungnya seperti itu.
"Ayah ngga serius bilang seperti itu, Kak. Ayah hanya emosi karena apa yang terjadi sama Ade bisa menyebabkan Ade meninggal."
"Kakak memang ada di sana saat kejadian itu, dan Kakak berniat ngambil uang koin yang Ade mainin, tapi karena Abang merengek minta dibukain jajanannya, jadi Kakak bukain dulu jajanan Abang," ucap Evalia menjelaskan kejadian saat itu.
Zivana memang berniat ingin mencari tahu apa yang terjadi sesaat sebelum Rayya menelan uang koin itu. Namun, sebagai ibu ia harus bersikap bijak. Jangan terkesan menyalahkan anak yang lain. Karena di sana ada ketiga anaknya yang juga tengah bermain bersama.
Ia menunggu momen yang tepat, setelah semua keadaannya nyaman, hingga bisa menanyakan kronologis kejadian itu dengan perasaan yang sudah tenang.
Ia tak menyangka, Bram ternyata datang dan malah langsung menyalahkan Evalia atas kejadian yang menimpa Rayya. Ia tak bisa menyalahkan gadis itu sepenuhnya. Evalia belum bisa bertindak cepat untuk mengutamakan hal mana yang lebih prioritas ia pilih terlebih dulu.
Rengekan Prima, anak ketiganya tentu lebih utama dibanding harus mengambil uang koin yang tengah dimainkan Rayya.
"Bunda juga nyalahin Kakak, kan, dengan kejadian itu?" Evalia tiba-tiba bersuara. Nada bicaranya seolah menekankan jika semua orang pasti menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa Rayya.
"Bunda ngga pernah menyalahkan Kakak. Dalam hal ini, Bunda yang salah, karena seharusnya Bunda yang menjaga kalian. Kakak tak seharusnya memikul tanggung jawab untuk menjaga adik-adik yang memang masih membutuhkan penjagaan yang lebih."
Setelah Zivana berkata begitu, Evalia bangkit, lalu duduk di samping ibunya.
"Maafin Kakak, Bun," ucapnya lirih.
Zivana segera memeluk putrinya. Kedua netra itu sudah siap meluapkan lahar panas, tetapi coba ia tahan sekuat mungkin. Ia harus bicara dengan suaminya. Tak seharusnya Bram menyalahkan Evalia, apalagi sampai memarahi hingga membuat gadis itu terluka.