Zivana tak bisa menjawab pertanyaan ibunya yang terkesan sinis. Sudah berulang kali perempuan paruh baya itu hanya memperkeruh suasana. Bukannya menenangkan sang anak, ia malah makin menyulut bara api yang memang sudah berkobar di d**a Zivana.
Jika sudah begitu, tak ada tanggapan selain lelehan air mata. Tak ada yang bisa menenangkan hatinya. Baik Bram ataupun sang ibu, sama-sama tak pernah memahami isi hatinya.
"Laki-laki seperti Bram tak pantas kau tangisi, hanya buang-buang energi," ucap Sari seraya duduk di bibir ranjang.
Zivana terbaring membelakanginya, menghadap tembok dengan pikiran yang berkecamuk. Saat ini, hatinya telah retak dengan pengkhianatan yang telah dilakukan sang suami.
Ia hanya butuh menenangkan diri saat ini. Namun, tak mungkin menyuruh sang ibu pergi dari kamar. Hal itu hanya akan memperkeruh keadaan, karena ia tahu, perempuan itu takkan terima.
"Sebaiknya kau pikirkan saja anak-anakmu. Selama beberapa hari ini kau telah mengabaikan mereka. Makan Mama yang urus, kebutuhan lain pun harus Mama yang lakukan. Seharusnya kau perhatikan mereka, Teh."
Zivana tersentak dengan penjelasan ibunya. Hanya karena terlalu larut memikirkan ayah mereka, hingga lupa memperhatikan anak-anak. Mereka masih terlalu kecil untuk bisa memahami keadaan yang terjadi padanya.
Namun, ia pun hanya bisa meratapi keadaan. Tak ada yang bisa mengerti betapa remuk redam perasaannya saat ini. Hingga untuk melakukan apa pun juga, ia tak berdaya.
"Mereka masih membutuhkan kasih sayang orang tuanya. Jika ayahnya seperti itu, sebagai ibu, Teteh harus bisa memperhatikan mereka lebih," ujar Sari bijak.
Zivana mengernyit. Tak biasanya sang ibu bicara sebijak itu. Ia bangkit. Menggeser tubuh hingga duduk bersandar ke kepala ranjang.
"Maafin Teteh, Ma," ucap Zivana hanya mampu mengucapkan itu. Ia tak mampu bicara lebih. Rasanya enggan hanya untuk menanggapi setiap ucapan sang ibu, tetapi ia tak bisa berdiam diri saja jika menyangkut anak-anaknya.
Meskipun hanya kata itu yang mampu terucap, tetapi dalam hatinya tercabik nyeri. Anak-anak harus menjadi korban dari apa yang telah dilakukan ayah mereka. Termasuk ia sendiri yang merasakan sakit itu. Lebih perih dibanding saat harus kehilangan cinta pertamanya dulu.
"Mama sih bisa ngerti, Teh, tapi anak-anak masih kecil, mereka ngga bisa memahami apa yang tengah terjadi dengan orang tuanya."
"Teteh hanya butuh waktu sendiri dulu, Ma. Kenyataan kalau Bram selingkuh, sungguh sangat menyakiti."
Sari tersenyum sinis. Ada luka dalam senyuman itu. Zivana memahami, jika sang ibu pasti teringat akan masa lalu yang pernah dialaminya. Dikhianati suami pernah ada di posisi perempuan itu.
Prahara dalam rumah tangga pernah menjadi bagian kisah perjalanan hidup sang ibu. Ia yang sudah dewasa kala itu, menjadi saksi sejarah kemelut yang terjadi dalam pernikahan orang tuanya.
Bahkan, masalah itu yang membuat sang ayah harus dipindahtugaskan ke Semarang, hingga membuat intensitas kepulangannya ke rumah terbilang makin jarang. Kian merenggangkan hubungan lelaki itu dengan keluarganya.
"Mama pun pernah merasakan sakit yang Teteh rasakan," ucap perempuan itu lirih. Membuat Zivana sejenak menatap lekat wajah itu dari samping. Ada gurat kesedihan yang tergambar di sana. Membuatnya ikut merasakan perih.
"Sebagai perempuan, kita harus sudah siap tegar menghadapi kenyataan, jika suami yang kita cinta satu saat akan berkhianat," imbuhnya tertunduk.
"Ternyata, sakitnya sangat menyiksa, Ma. Hingga untuk menjejakkan kaki saja terasa begitu sulit. Lemah tak berdaya," desis Zivana sambil mengurut d**a. Bulir bening dari kedua netra sudah meleleh mengaliri pipinya.
"Ya, sakit itu pernah Mama rasakan dulu. Di saat keluarga menghujat karena sikap Mama yang seperti mengabaikan mereka setelah menikah dengan Papa, memang diakui sebagai bentuk pengabdian pada suami. Namun, sakit sekali rasanya ketika semua yang telah Mama lakukan ternyata mendapat pengkhianatan. Tak ada keluarga yang mau peduli. Kebanyakan dari mereka malah mencibir."
Zivana meraih tangan sang ibu dengan lembut. Sari menoleh, menatap sesaat anak perempuannya. Kedua netra itu pun telah basah tergenang. Lelehan panasnya sudah mengalir deras tak terbendung.
"Mama tak bisa berbuat apa-apa saat tahu Bram melakukan hal yang sama padamu. Karena apa yang Teteh rasakan, takkan ada yang bisa menenangkan selain diri sendiri," lanjut Sari menambahkan.
Zivana mendesah. Ada rasa sesak di d**a kala sang ibu menceritakan kepahitan dulu. Kini ia bisa merasakan hal itu. Ia memang tak membenarkan sikap sang ayah yang sudah mengkhianati ibunya, tetapi ia tak pernah bisa membenci lelaki itu. Baginya, Syam masih menjadi nomor satu yang selalu bisa mengerti meskipun ia telah melukai seluruh keluarganya.
"Teteh harap, Mama sudah memaafkan Papa," harap Zivana lirih.
Sari menoleh ke arah putrinya. Menyapu air mata yang masih terus saja mengalir. Selalu seperti itu bila sudah mengingat masa lalu yang tak pernah bisa hilang dari memori.
Seumur hidup, satu kesalahan sang suami itu menjadi hal yang sangat menyakitkan. Satu-satunya kenangan paling buruk sebelum benar-benar pergi meninggalkan. Ia makin sakit, saat tahu kalau lelaki itu memiliki anak dari madunya.
"Maaf itu sudah lama Mama lakukan, tapi sakitnya takkan pernah bisa hilang," tukasnya sambil menerawang.
"Teteh akan menjadi lebih kuat setelah ini, Ma. Doakan Teteh, ya."
Perempuan itu hanya mengangguk. Menyentuh tangan Zivana lembut.
"Mama ingin Teteh tegar demi anak- anak."
Setelah berkata begitu, Sari beranjak dari duduknya, lalu melangkah keluar kamar, setelah sebelumnya menyunggingkan seulas senyum yang terkesan dipaksakan.
Zivana hanya bisa menatap nanar sosok sang ibu yang menghilang dari pandangan. Ia menghapus sisa basah di pipinya dengan punggung tangan. Tak ada yang bisa ia lakukan kini selain pasrah dengan keadaan.
Hatinya memang masih merasakan sakit yang teramat dalam. Kenyataan sang suami yang ia percaya bisa menentukan kebahagiaan, tetapi ternyata malah berkhianat.
Bukan hanya itu, perlakuan yang menyakitinya dan ketidakpedulian terhadap keluarga, membuat daftar kesakitan yang ia rasakan.
Ternyata sikap asli lelaki itu ditampakkan dengan jelas setelah beberapa tahun usia pernikahan mereka. Sungguh tak pernah Zivana sangka akan terjadi dalam hidupnya.
Bermula dua, pintar bersandiwara. Kata itulah yang mewakili keadaan Bram saat ini, dan ia telah tedtipu oleh keyampanan dan janji palsu yang diucapkannya. Ternyata ia tahu kini kenyataannya, buka Bram adalah biaya darat yang hanya mencari kesenangan duniawi semata.
'"Bun, Raya ngga bisa napas."
Tiba-tiba teriakan Evalia di ambang pintu kamar membuyarkan lamunannya. Segera Zivana beranjak dari tempat tidur.
"Kenapa, Kak?" tanya Zivana panik.
"Bunda ikut Kakak aja ke belakang," pinta putrinya yang juga terlihat panik dan ketakutan.
"Memangnya kenapa Rayya bisa sampai ngga bisa napas?" tanya Zivana lagi seraya mengikuti langkah putri sulungnya ke arah belakang rumah.
"Kayanya Raya nelen uang koin, Bun," terang Evalia, sontak membuat perempuan itu makin panik tak karuan.
Gegas, ia pun berjalan menuju belakang rumah, dan betapa tekejutnya Zivana kala mendapati putri bungsunya yang tengah megap-megap. Punggungnya tampak ditepuk-tepuk oleh Bi Warsih, tetangga rumah yang biasa bertandang ke rumahnya.
Hanya air mata yang mengalir di pipi bulat anak bungsunya. wajahnya sudah memucat campur merah legam. Zivana tak boleh panik. Ia harus tetap tenang dalam kondisi seperti ini. Keselamatan si bungsu berada di tangannya. Perempuan itu berharap, tak terjadi hal buruk menimpa balita yang tengah lucu-lucunya itu.