Kemelut

1503 Words
Kelahiran putra kedua dari pernikahannya dengan Bram memberikan warna baru dalam kehidupan Zivana. Dengan rupa tampan dan kulit putih mulus membuat siapa pun berdrcak kagum memuji parasnya. Wajah yang mirip ayahnya itu begitu dibanggakan Bram. "Ini generasi penerus Ayah nantinya," ucap Bram ketika pertama kali melihat putranya dengan wajah semringah. "Semoga dengan kelahiran putra kita, bisa membuat rumah tangga makin bahagia, ya, Sayang," harap Zivana. Lelaki itu hanya melirik sekilas ke arah sang istri yang masih terlihat lemas, tak menanggapi ucapannya, lalu kembali asyik menggendong putranya. Zivana berharap dengan kebahagiaan yang dirasakan Bram, akan mengubah perangai lelaki itu. Kehadiran anak lelakinya bisa membuat sang suami lebih baik bertanggung jawab terhadap keluarga. Selama ini, Bram selalu seenaknya dalam bertindak. Sesuka hati dalam menentukan keputusan tanpa mau mendengarkannya sebagai istri. Jangankan meminta pendapat, menanyakan keadaannya dan anak-anak pun tak pernah. Ia pulang ke rumah jika ingin, dan itu pun hanya bertahan selama beberapa hari saja tanpa menjaga kualitas kebersamaan bersama keluarganya. Hal itu yang seringkali memicu pertengkaran di antara mereka. Bahkan, hingga anak ketiga mereka lahir pun, siapa Bram tak menjadi lebih baik, malah semakin menjadi. Jarang di rumah dan sudah mulai berani main perempuan. Entah apa yang ada dalam pikiran lelaki itu hingga tega m*****i pernikahan dengan mengkhianatinya. Kejadian itu bukanlah drama rumah tangga biasa, tetapi kenyataan pahit yang harus ditelan mentah-mentah oleh Zivana sebagai istri. Bukan hanya itu, anak-anak mereka yang mulai tumbuh besar pun jadi korban tidak bertanggung jawabnya Bram. Jika sudah begitu, Zivana hanya bisa mengurut d**a pilu dengan kenyataan hidup yang menimpanya. Bersuamikan lelaki yang tidak peduli pada kebahagiaan keluarga dan lebih mementingkan kesenangannya sendiri. Cinta yang disangka akan membawanya dalam kebahagiaan, ternyata malah merenggut sebagian mimpinya tentang masa depan. Ia tak kuasa melawan takdir, tak juga bisa berontak. Bukan karena terlalu cinta atau takut kehilangan, tetapi lebih kepada anak-anak yang tak ingin makin merasakan penderitaan. Selama ini, ia telah egois hanya memikirkan kebahagiaannya saja, tanpa tahu apa yang dirasakan anak-anak. Harus hidup tanpa figur ayah? Memikirkannya saja sudah membuat hati Zivana nyeri. Cukup Evalia yang harus menjadi korban dari ayah yang tidak bertanggung jawab. Jangankan memberi nafkah, sekadar menanyakan kabar atau datang saja, sudah tak pernah. Betapa akan merasa sakit hati anak itu nanti, jika mendapat kenyataan, sang ayah tak pernah menganggapnya ada. Sebagai ibu, ia mempunyai beban moral pada Evalia. Hanya karena rasa cinta yang tak pernah ada untuk ayahnya, hingga memutuskan untuk berpisah, dan berakhir dengan hilangnya lelaki itu dalam kehidupan mereka, tentu akan membuat hati itu retak berserak. Sang ayah yang diharapkan bisa menjadi tumpuan harap, malah hilang tanpa jejak. Kehadiran Bram yang ia sangka akan menjadi pengganti ayah untuk putri pertamanya, ternyata tak ada beda. Seringkali ia menangis dalam diam kala Evalia diabaikan di antara anak-anaknya yang lain oleh lelaki itu. Ia pun tak jarang mengingatkan suaminya untuk berbuat adil, tetapi hal itu tetap saja terjadi. Membuat Zivana miris dan perih. Pekerjaan Bram yang mengharuskan pulang-pergi ke luar kota, membuat hubungan mereka makin tak karuan. ikatan batin dengan anak-anak pun kian renggang. Mereka seperti hidup tanpa sosok ayah. Hanya sesekali bertemu bila lelaki itu pulang, selebihnya kosong. Itu pun intensitas kebersamaan mereka hampir tak ada. Hanya dalam hitungan menit saja bisa bertahan. Bram lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kongko bersama teman-temannya atau menghabiskan waktu dengan tidur seharian di rumah. Zivana tak bisa berbuat apa-apa. Bakan, setelah kelahiran anak keempatnya dua tahun setelah kepergian sang ayah, tak mengubah perangai buruk yang diperlihatkan suaminya. Satu kesalahan yang dilakukan Zivana adalah memilih pasangan hidup yang tak memiliki dasar iman kuat, hingga menyebabkan hubungan rumah tangga mereka tak berlandaskan ibadah. Ia lupa, kebahagiaan yang tercipta berasal dari Sang Mahakuasa. Kurangnya keimanan dalam diri Zivana pun membuat ia terjerumus dalam lembah nestapa, yang justru makin membenamkan diri beserta anak-anak terperangkap di dalamnya. Kumandang azan yang seringkali ia dengar seringkali diabaikan. Ia lupa, panggilan itu bukan hanya sekadar kewajiban sebagai hamba, tetapi menjadi suatu kebutuhan seorang muslim yang taat pada setiap perintah-Nya untuk melaksanakan ibadah, untuk mendapatkan ketenangan batin, mendapatkan kedamaian dalam menjalani kehidupan. Zivana sudah lupa bagaimana gerakan salat setelah lepas masa sekolahnya dulu. Tak adanya peringatan dari kedua orang tua, membuat ia pun tak memprioritaskan ibadah utama sebagai seorang muslim. Ditambah dengan mendapatkan suami yang tak bisa menuntunnya pada jalan Allah, membuat ia makin terperosok jauh, tak mengenal Allah dengan baik. Islam yang tertulis di kartu pengenalnya hanya sebuah hiasan belaka. Pada hakikatnya, ia tak benar-benar mengenal agamanya dengan baik. Di saat rumah tangganya tengah diguncang lindu, Zivana belum juga mau mengadu. Hatinya sejenak tergerak untuk mencurahkan segala keluh kesahnya pada Sang Mahakuasa, tetapi setelah urusan duniawi menghalangi, ia pun lupa. Padahal, berkali-kali Allah menegurnya dalam berbagai cara, tak juga ia sadar untuk kembali pada Sang Maha Pencipta. Zivana telah melupakan Tuhan, hingga tak tahu caranya untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang hamba. Permasalah yang terjadi antara ia dan Bram makin melebar. Bukan hanya karena lelaki itu jarang pulang dan seenaknya memberikan nafkah untuk menghidupi ia dan anak-anak, tetapi ketahuan bermain dengan perempuan lain, yang membuat Zivana murka. Jelas ia tak terima dikhianati. Setiap kali suaminya pulang, hal itu pasti menjadi pembahasan dan yang membuat pertengkaran hebat di antara mereka terjadi. Merasa sakit hati, Zivana protes dan meminta Bram untuk menghentikan aksi gilanya dengan perempuan lain. Bukannya takut karena ketahuan, lelaki itu malah balik marah. "Aku hanya memintamu untuk menghentikan kegilaanmu dengan perempuan lain. Aku tak mau dikhianati." Zivana masih menahan kesal dengan sikap suaminya yang malah marah sudah ketahuan selingkuh. "Aku juga tak suka dilarang-larang. Aku laki-laki, bebas melakukan apa pun yang kumau," ucap Bram tak kalah ketus. Dengan enteng ia berkata begitu sambil merebahkan tubuh di atas kasur. Baru beberapa menit lalu ia datang. Anak-anak yang menyambutnya pulang hanya ditanggapi sekilas, lalu masuk kamar. Zivana sudah menunggu dengan wajah emosi. Kabar tentang pengkhianatan Bram dari sesama rekan kerjanya yang kebetulan tengah pulang, membuat perempuan itu naik pitam. Ia tak rela dikhianati. "Kau pulang seenaknya, menafkahi kami pun alakadarnya, lalu sekarang kau datang dengan santainya membenarkan perbuatanmu yang telah berselingkuh? Apa kau waras, Bram?" Zivana makin emosi dengan sikap cuek suaminya. Bram tak peduli. Ia bergerak membelakangi Zivana yang masih berdiri di dekat jendela. Sebuah bantal diraihnya untuk menutupi telinga. Kesal karena tak mendapat tanggapan, perempuan itu menghampiri. Mengambil bantal dengan kasar. "Ingat, Bram, kau sudah punya anak tiga. Tak kasihan melihat mereka yang sangat membutuhkanmu. Kau malah lebih asyik berduaan dengan perempuan lain, menghabiskan uang yang seharusnya kau berikan untuk menghidupi keluargamu" ujar Zivana tepat di hadapan lelaki itu. Bram yang merasa terganggu, segera bangkit dari tidur, duduk di tepian ranjang dengan matanya yang melotot. "Itulah yang membuatku mencari perempuan lain. Sikapmu yang bawel ini yang membuatku muak. Belum lagi sindiran ibumu yang buat telinga ini risih. Kalian sama saja, cerewet!" "Selama ini aku sudah mengikuti keinginanmu untuk menjadi istri yang baik, tapi tetap saja kau pulang seenaknya, tak memedulikan kami. Lalu, apakah aku harus diam saja melihat tingkahmu yang sudah mengkhianatiku?" "Setidaknya kau jadilah istri yang baik, Ziva. Sudah beruntung kau tidak aku ceraikan, karena kau masih menjadi istri yang terbaik. Hanya saja aku butuh hiburan saat tengah bekerja di luar sana. Jadi, sebaiknya pahami itu, dan terima dengan rela," ucap Bram sambil melengos pergi. Zivana pikir Bram akan melepas rindu dengan anak-anak, tetapi ternyata lelaki itu malah pergi entah kemana. Ia tidak akan menjadi istri bawel jika Bram bisa menempatkan posisi dan kewajiban sebagai suami sekaligus ayah. Namun, di setiap kepulangannya yang tak pasti, selalu saja kekesalan yang perempuan itu dapatkan. Selama ini, ia sudah cukup bersabar mendapat perlakuan buruk yang dialami, menerima uang sekadar hanya untuk bisa memenuhi makan beberapa hari, selebihnya uang pensiunan sang ibu yang ditinggalkan almarhum ayahnya yang ikut serta memenuhi kebutuhan hidup ia dan keempat anak. Terkadang Zivana malu karena selalu menyusahkan ibunya, yang meski sering kali berselisih pendapat, tetapi perempuan paruh baya itu masih saja perhatian jika menyangkut soal kehidupan anak-anaknya. Uang pensiunan yang tak seberapa, terpecah dengan kebutuhan hidup mereka berlima. Bahkan, tak jarang berutang karena kekurangan uang di pertengahan bulan. Perempuan itu miris memikirkan nasib mereka yang kian menderita. Kedua saudara lelaki Zivana tak bisa berbuat apa-apa. Keadaan mereka pun tak jauh berbeda. Dengan rumah tangga yang memiliki anak lebih dari tiga, mengharuskan mereka usaha sendiri-sendiri demi mempertahankan hidup. Zivana yang masih menumpang di rumah orang tua, tentu saja hanya mengandalkan nafkah yang diberikan alakadarnya dari sang suami, dan kebanyakan mengandalkan uang pensiunan ibunya. "Kenapa lagi dengan Bram?" tanya ibunya yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu kamar. Zivana menghela napas berat, menjatuhkan diri di atas ranjang dengan posisi terduduk lesu. Air matanya sudah mengalir deras, tak kuasa menahan luka yang dialaminya. Dikhianati suami ternyata sakitnya begitu dalam. Rasa kedua kaki tak bisa lagi menopang tubuh dengan benar. Sesaat lalu, emosinya memuncak karena ingin segera meluapkan apa yang tersimpan dalam hati, tetapi saat hal itu sudah terungkapkan, bahkan mendapat tanggapan yang makin menyakitkan, hanya tinggal rasa lemas yang menguasai. Ia tak berdaya, tak kuasa melakukan apa-apa. Dikala sang ibu menanyakan apa yang terjadi dengan Bram, Zivana pun hanya bisa menghela napas panjang sambil menyeka air matanya yang berderai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD