Kembali takdir menguji di tahun ketiga pernikahan. Ujian yang justru menjadi awal ketidakberdayaan Zivana dalam menghadapi kehidupan. Di saat kehamilan keduanya yang tinggal beberapa hari menuju persalinan, sang ayah yang begitu ia sayangi, harus meninggalkan pergi untuk selamanya.
Jerit histeris memenuhi seluruh ruangan rumah. Syam yang begitu gagah perkasa, terkena serangan jantung seketika saat hendak melaksanakan salat isya di kamar.
Kondisinya yang memprihatinkan, langsung dilarikan ke rumah sakit dekat rumah. Namun, karena peralatan yang belum memadai, sehingga mengharuskannya dirawat di rumah sakit Bandung.
Panik, gelisah, dan takut menjadi satu. Zivana jelas tak ingin kehilangan ayahnya. Sosok yang berwibawa, selalu melindungi, dan menjadi garda terdepan dalam kehidupannya itu adalah salah satu hal berharga yang ia punya. Bagaimana ia bisa hidup tanpa sosok sang ayah?
Kenangan-kenangan masa lalu seolah memaksa kembali menyeruak dalam ingatannya. Indahnya masa kecil yang berlimpah kasih sayang sang ayah, bahkan sering kali disisiri rambut panjangnya kalau hendak masuk seolah, teringat jelas dalam ingatan.
Syam adalah ayah yang membanggakan. Bukan karena pekerjaannya sebagai seorang polisi, tetapi banyak petuah hidup yang selalu memberinya kekuatan, pelajaran, sekaligus arti tentang bagaimana menjalani hidup yang keras.
Mungkin karena ia anak perempuan satu-satunya, sehingga sikap Syam memang lebih terhadapnya, tetapi hal itu tak membuat Zivana manja. Justru hal tersebut dimanfaatkan Syam untuk memberikannya banyak pembelajaran tentang ketekunan, kesabaran, dan kekuatan.
Meskipun perempuan, tetapi Zivana terlihat berani, bahkan dibanding kedua saudara lelakinya. Keberaniannya itu ditimbulkan dari didikan sang ayah yang selalu mengatakan jika hidup ini keras. Jika kita tidak berani menghadapi tantangan di depan, maka kita sendiri yang akan tergerus oleh keadaan.
Hati Zivana jelas terkoyak saat mendengar keadaan sang ayah yang tak bisa diselamatkan. Ia menyesali, kenapa saat ayahnya dibawa ke rumah sakit, tak memaksa untuk ikut serta. Kenapa pula dengan ibunya yang harus pulang hanya untuk mengurus syarat-syarat kesehatan sang ayah yang mungkin bisa diwakilkan oleh kakak lelakinya.
Hal itu yang sangat ia sesali, sekaligus makin membuatnya tak menyukai sang ibu. Kehilangan ayahnya bagai kesendirian selepas itu. Ia seperti tak memiliki pegangan yang bisa diandalkan. Sementara selama ini, hanya lelaki itu yang bisa membuat ia bertahan dari setiap kesakitan.
Bahkan, kala ibu yang telah melahirkannya sering bersitegang dengannya, hanya sang ayah yang mampu meredam, dan mengembalikan dalam kondisi normal. Bijaknya dalam bertindak menjadi pelajaran berharga untuknya kelak.
"Kau tak perlu menangis begitu. Bukankah kematian pasti akan terjadi pada setiap orang?" Bram dengan entengnya bicara seperti itu. Ia tak merasakan apa yang kini membuat dadanya serasa akan meledak.
"Aku menyesal karena tak ada di samping Papa saat ia mengembuskan napas terakhirnya," ucap Zivana penuh emosi di sela isak tangis yang belum juga reda.
"Kamu, kan, lagi hamil besar, mana bisa bepergian jauh. Kalau tiba-tiba melahirkan di jalan bagaimana? Apa tidak jadi tambah repot semua orang?" Kembali kata-kata itu bagai jarum yang sengaja ditusukkan pada tubuhnya. Sakit dan perih.
"Bahkan itu lebih baik dibanding aku di sini tanpa menemani saat-saat terakhirnya," ucapnya sendu.
"Sudahlah, jangan kau sesali apa yang sudah terjadi. Kematian Papa sudah takdir dan kau harus menerimanya dengan ikhlas." Bram mencoba bijak, tetapi entah kenapa hal itu justru membuat Zivana makin sakit.
"Padahal aku hanya ingin pengertianmu, tapi kenapa kau malah makin menyakitiku," gumam Zivana lirih, menunduk sambil menelungkupkan kedua tangan ke wajahnya."
"Aku hanya berpikir realistis, Zi. Kejadian ini memang tak diinginkan, tapi mau bagaimana lagi? Kita tak bisa mengembalikan Papa selain menerima kepergiannya. Hidup harus terus berjalan, ingat kandunganmu yang sebentar lagi melahirkan, jangan sampai hal ini memengaruhi pikiranmu, sehingga berdampak pada anak kita."
Zivana mengelus perut buncit di mana anak keduanya berada di sana. Bukan hanya kematian Papa yang memengaruhi pikirannya saat ini, tetapi juga sikap Bram yang akhir-akhir ini mulai berubah.
Perangainya menjadi tak terkendali. Terkadang kasar dan sinis, apalagi jika ia sudah mendebat atau tak setuju dengan apa yang dilakukannya. Bram akan dengan mudahnya emosi. Hal tersebut membuat Zivana terkejut dan tak menyangka jika suaminya bisa bersikap seperti itu.
Tak jarang pertengkaran terjadi di antara mereka. Karena masih menumpang di rumah orang tua, membuat Zivana terkadang hanya bisa meredam kekesalan dan kekecewaannya terhadap lelaki itu.
Jika saja mereka tinggal terpisah, mungkin ia akan dengan berani melawan sang suami yang sudah semena-mena melalaikan kewajibannya sebagai sosok yang sudah seharusnya bertanggung jawab dalam keluarga.
"Saat ini, setidaknya kau perlu menopang tubuh untuk menyaksikan Papa yang terakhir kali." Setelah berkata begitu, Bram melengos pergi meninggalkannya sendiri di kamar.
Tak ada penghiburan atau kata-kata menguatkan lain yang bisa sedikit menenangkannya. Bram seakan tak peduli dengan perasaannya saat ini yang dalam keadaan tak karuan, tak bisa berpikir dengan jernih.
Pikiran kalut ditambah dengan kondisi kehamilan yang sudah mendekati masa perkiraan lahir, membuat Zivana tak sadarkan diri. Ditambah dengan kemelut rumah tangganya yang sudah menimbulkan intrik beberapa bulan terakhir.
Kejadian yang memenuhi pikirannya, tentu saja menjadi beban yang kian menumpuk, dan tak sanggup lagi ia pikul. Sosok ayah yang selalu menjadi andalannya untuk berkeluh kesah, justru harus pergi meninggalkannya lebih dulu.
Sebuah janji yang pernah diucapkan Bram, memudar seiring kejadian yang menguji rumah tangganya. Justru di saat tengah hamil besar, kedua hal yang berharga dalam hidupnya harus terenggut paksa dan menimbulkan tanda tanya besar.
Kehilangan merupakan takdir yang sudah pasti terjadi. Jika tidak ditinggalkan, sudah pasti akan meninggalkan. Zivana menyadari hal itu. Namun, sebagai manusia biasa, ia merasa Tuhan tak adil padanya. Lelaki cinta pertama dalam hidup yang menjadi perisai kasihnya justru lebih dulu meninggalkannya.
Terpukul, jelas hal itu dirasakan Zivana. Apalagi mengingat kondisi rumah tangganya yang mulai digoncang prahara. Ia tak tahu pada siapa harus berbagi lara. Sang ibu yang diharapkan bisa menjadi tumpuan curahan hati, tentu bukan pilihan, karena hubungan di antara mereka pun tak pernah berjalan baik.
_
Prosesi pemakanan sesuai protokol kedinasan dilaksanakan begitu khidmat. Tangisan kehilangan anggota keluarga menyayat seiring diangkutnya jenazah ke tempat peristirahatannya yang terkahir. Lagi-lagi Zivana meraung histeris kala tubuh yang sudah terbujur kaku itu mulai dimasukkan ke liang lahat.
Rasanya ia tak terima jika sang ayah secepat itu pergi meninggalkannya. Kesendirian dan kesepian akan begitu terasa menyiksa tanpa kehadirannya. Saudara sang ayah beberapa kali mengatakannya agar ikhlas melepas lelaki cinta pertamanya itu.
Zivana hanya menangis tersedu saat tanah merah mulai mengubur jasa sang ayah. Kini, tak ada lagi yang bisa ia andalkan. Hanya dirinya sendiri yang mampu mengendalikan hidup. Tanpa sosoknya ia harus berdiri tegar menghadapi berbagai masalah yang akan selalu muncul di depan.
"Tetaplah kuat meski badai menerjang kehidupan, karena kalau kita lemah, kita akan tersapu oleh kejamnya keadaan." Kata-kata sang ayah seakan terngiang jelas di saat-saat terakhirnya. Seolah adalah petuah yang harus ia lakukan di saat kondisinya saat ini.
Apakah itu pertanda jika sang ayah akan pergi meninggalkannya?
Setiap apa yang dikatakannya seperti penguat sekaligus penyemangat bagi kehidupannya. Ia tak pernah menyangka jika hal terakhir yang dilakukan ayahnya adalah kenangan-kenangan berharga yang suatu saat akan mengantarkannya pada hidup yang lebih baik.