Chapter 1

1328 Words
Secangkir kopi di pagi yang dingin, Sambil menghirup udara sejuk yang disaring oleh pepohonan di sekeliling rumah. Menjadikan suasana yang tak bisa ditukar dengan apapun. Nyaman, sejuk, tenang dan damai. Alvaro Hendrik Pratama, Pria dua puluh tujuh tahun yang saat ini bekerja sebagai polisi itu, tengah menikmati paginya yang begitu sempurna. Menghirup aroma kopi yang menenangkan, Al bersenandung kecil untuk mengungkapkan isi hatinya saat itu. Dan seperti biasa, kopi itu buatan wanita paling berharga dalam hidupnya. Siapa lagi kalau bukan mamanya. Wanita cantik yang anggun namun ahli bela diri. Al kembali menyeruput kopi hangatnya, namun seseorang langsung membuatnya tersedak. "Abang!!" teriak seorang gadis dari dalam rumah. Al tahu siapa yang berteriak dan ini artinya sebentar lagi hidupnya yang baru saja sempurna, langsung hancur berantakan. "Abang! Kue adek yang di dalam kulkas mana? Kata Mama tadi abang makan cake!!Abang ambil kue Alya ya? " rengeknya pada Al. Al melirik adik perempuannya tersebut. Pagi indahnya akan segera berakhir. "Kue yang mana sih Dek? Kamu jangan nuduh gitu." "Ih. Kok dibilang nuduh. Jelas-jelas mama barusan bilang kalau abang makan Cake tadi." "Adek beli Cake semalam dan ditarok dalam kulkas. Paginya kok ilang?" "Pasti pelakunya abang kan?" "Abang yang ambil kan? Ayo ngaku!! Ntar sakit perut lho." Alvaro menghela nafas panjang, "cek dulu lagi sana!!" "Udah abang. Udah di cek ,tapi nggak ada juga. Masa Mpus yang ambil? Emang bisa kucing buka kulkas? Dongeng banget ini dunia kalau beneran bisa." "Abaaaang, pasti abang pelakunya." "Haaahh. bukan abang. Abang makan cake yang abang bawa juga semalam." "Abang beli? Mana pernah abang beli kue manis gitu." "Dikasih." "Dikasih siapa? Bohong." "Dikasih teman. Udah ah, adek gangguin pagi abang aja." "Ih! Serius ini." "Abang juga serius." balas Al. "Siapa yang kasih? Abang pasti mau cari aman aja kan?" "Ya Tuhan, nggak!! Nggak mungkin abang cari aman." "Terus cakenya mana?" "Ya mana abang tahu. Kamu yang salah tarok." Alya tak lagi membalas. Ia menatap Alvaro dengan tatapan sedih. Mata jernihnya mulai berkaca-kaca membuat Al akhirnya pasrah. Al menarik tangan Alya dan memintanya untuk duduk di hadapannya. "Gini aja. Abang udah bilang abang nggak ambil. Tapi untuk cari aman, nanti abang beliin kamu cake oreo, gimana?" Alya melirik abangnya. Ia mencoba mencari kebohongan di mata abangnya namun tak didapatkan. "Beli cake Oreo tempat Kak Elsa ya!" ucap Alya yang semakin keterlaluan baginya. "Kenapa harus cake nya Elsa?" tanya Al dengan nada sedikit kesal. "Karena Cake nya kak Elsa itu enak Bang." Seketika jawaban Alya membuat Al emosi. Ia mendelikkan matanya jengah, "Toko roti yang enak-enak banyak kali dek di Jakarta." "Adek nggak mau tahu, pokoknya Cake buatan kak Elsa. Dari tokonya kak Elsa.!!" Haaahh, "Ya udah deh iya." "Naaahh gitu dong. Janji ya bang." ulang Alya. "Iya janji." "Beliin ya." "Iya adikku sayang, princess nya abang Al." "Bagus." Ucapnya sambil terkekeh pelan. "Oya bang." Alya yang tadi sudah berdiri kembali duduk lagi saat ia ingin menyampaikan sesuatu pada abangnya itu. "Abang kan bilang, kita nggak boleh bohong dan abang juga bilang kalau udah janji harus ditepati." Alvaro menatap Alya curiga. Sepertinya ia paham kemana arah bicara adiknya tersebut. "Alya mau jujur sama abang." Hmmm. "Sebenarnya cake itu nggak ada.hehehhe." Tepat sasaran. Ia baru saja dikelabui adiknya sendiri. Jadi sedari tadi ia meributkan sesuatu yang sia-sia?. "Kan Alya udah jujur, jadi maafin Alya ya. Dan cakenya abang udah janji mau beliin." gadis itu tersenyum lebar seolah tak ada rasa salah sedikitpun. Alvaro menggertakkan rahangnya kesal. Ingin rasanya ia membuang adiknya ini namun bisa dipastikan ia akan dicoret dari KK jika benar itu terjadi. "Alya ke dalam dulu ya bang. Jangan lupa cake nya." Alya langsung berdiri. Ia bahkan berlari saat melihat raut wajah abangnya sudah tak baik. "ALYAAAAAAAA!!!" teriak Al keras membuat seisi rumah terkejut. Alya terpekik dan langsung berlari ke kamar orang tuanya. Di sana ia menemukan papanya baru saja selesai mandi dan untung Bastian sudah memakai pakaiannya. "Papa!" teriak Alya yang langsung memeluk papanya, Bastian. "Eh, adek kenapa? Kok peluk-peluk pagi-pagi?" tanya Babas. "Selamatin adek pa. Ada yang mau bunuh adek." "Ha?? Siapa? Siapa yang mau bunuh adek?" tanya Babas dengan nada kesal. "Hahahha. Mas mas, percaya aja sama anak gadisnya. Mas tahu sendiri lah kalau udah begini, Alya baru ngerjain siapa?" suara Ara terdengar dari kamar mandi. Babas langsung melirik ke arah istrinya tersebut dan dilanjutkan melirik Alya. "Kamu ngerjain abang kamu la..." Braaakk!! Alvaro muncul dari pintu masuk kamar orang tuanya. Wajahnya memerah kesal karena dikerjai oleh Alya. "Kenapa harus sembunyi sama papa?" tanya Al kesal. "Habisnya bang Al nakutin." rengek Alya. "Abang begini juga gara-gara kamu!!" "Kok Alya? Kan Alya cuma..." "Kamu bisa minta baik-baik kan? Pakai acara nuduh abang yang ambil. Padahal aslinya cake kamu itu nggak ada.." Alya terdiam cemberut. Ia seketika menatap Babas untuk meminta bantuan. Bastian menatap Ara dan istrinya itu hanya mengangkat bahunya acuh. Babas menarik nafas panjang. Punya anak sepasang tapi serasa punya anak sebelas. Susah sekali diaturnya. Babas menatap Alya lagi, "Kamu sudah kelas berapa?" tanya Babas pada anak gadisnya itu. "Kelas dua SMA.." "Berarti anak papa sudah besar kan?" Alya mengangguk. "Kenapa masih ngerjain abang kamu? Kan bisa minta baik-baik.." Alya terdiam. Ia menatap Al yang masih terlihat kesal. "Alya cuma mau bercanda doang kok pa." ucap Alya tertunduk. "Tapi bercandanya jangan seperti ini. Kamu sudah fitnah abang dek." ucap Al. "Alya nuduh Al nyuri kuenya dalam kulkas. Bahkan dia bawa-bawa mama. Padahal kue itu sebenarnya nggak ada." lanjut Al. "Abang kamu benar. Papa nggak tahu gimana kronologinya, tapi yang jelas, jika sama dengan yang abang kamu ceritakan, papa juga pasti marah." Alya semakim terdiam, "Maaf." ucapnya pelan. Al mendengar itu. Ia berjalan mendekati Alya dan memeluk gadis tersebut. Tinggi badan Alya hanya sampai d**a Al. Namun pelukan Al selalu membuat Alya tersenyum. Pelukan itu begitu hangat dan nyaman. "Jangan diulangi. Abang nggak marah kalau kamu mintanya baik-baik. Biasanya juga abang beliin kan? Tapi cara seperti tadi yang abang nggak suka." Alya membalas pelukan Al, "Maafin Alya ya bang." "Ya udah. Mau berangkat sekolah kan?" Alya mengangguk, "Tapi cakenya jadi di beliin kan?" Al seketika tertawa, ia mengacak rambut Alya membuatnya tak rapi lagi. "Iiih Abang Al, kenapa dirusak." teriak Alya. "Nanti nggak ada yang lirik." Al tak menjawab. Ia memilih keluar dari kamar orang tuanya. Bastian menghirup nafas lega. Gadis itu seketika berlari mengejar Al keluar kamar Sepeninggalan Al dan Alya, Babas langsung duduk di atas ranjang. "Alvaro itu cerdas mas. Ia bisa mengatasi masalah dengan mudah." ucap Ara. Babas menatap istrinya. Ia merentangkan tangan seolah memberi kode untuk Ara mendekatinya. Sadar dengan kode tersebut, Ara pun beringsut masuk ke dalam pelukan Babas. "Kita cuma punya anak dua, tapi berasa punya anak sebelas." ulang Babas yang kembali membuat Ara tertawa. "Kamu tahu kan? Masing-masing dari mereka punya keunikan masing-masing. Padahal Al seorang polisi yang kadang merangkap menjadi detektif. Tapi ia bisa bersikap manis pada adiknya. Di rumah ia tak terlihat sebagai abdi negara sedikitpun." "Kamu tahu itu artinya apa Mas?" Babas menggeleng pelan. "Itu artinya anak kamu mampu menyesuaikan diri. Ia mencopot statusnya saat di rumah. Dia persis seperti kamu. Di kantor kamu seorang boss, tapi di rumah kamu bahkan mampu menjadi sahabat untuk anak-anak. Aku bangga punya suami seperti kamu." Bastian tersenyum. Ia tak menyangka Ara akan membanggakannya sampai sejauh ini. Padahal dulu pernikahannya nyaris hancur. "Dan aku bangga punya istri yang sabar seperti kamu sayang. Jika dulu kamu tak sabar dan pergi, aku tak tahu apa hidupku bisa sebahagia ini. Apa aku akan mempunyai anak-anak cerdas seperti Alvaro dan Alya." Ara mengusap rambut suaminya, "Semua itu sudah ditakdirkan. Dan aku bersyukur ditakdirkan sama kamu mas." "I love you Sayang.." "Love you too mas.." "Waaaww..love you love you..!!" Pelukan Ara dan Babas terlepas karena kemunculan Alya secara tiba-tiba di depan kamarnya. Al memperhatikan itu dari belakang. Ia hanya geleng-geleng kepala melihat kenakalan adiknya. Padahal Alya sudah kelas dua SMA. Sudahlah. Ia tak mau ambil pusing. Hari ini ia harus ke markas. Karena baru saja ia dihubungi oleh kaptennya. Dan sepertinya ia akan diberi kasus baru setelah dua bulan tak ada kasus lagi. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD