Rintik hujan gerimis turun lembut dari langit kelabu, membasahi bumi yang diam dalam kesedihan. Tanah basah dan aroma khas hujan menciptakan suasana yang sendu, seakan alam turut merasakan kehilangan yang mendalam. Para pelayat—dengan air mata menggenang di mata masing-masing—berdiri mengelilingi sebuah nisan marmer putih yang begitu indah dan elegan, diukir dengan nama yang akan selamanya terpatri dalam kenangan mereka, ‘Alicia Moore Maximilian’. Butiran air hujan mengalir pelan di permukaannya seperti air mata langit yang turun berduka. Raymond berdiri tegak di bawah payung hitam, mengenakan jas hitam yang mulai basah di bagian pundak—yang tidak tertutup payung—oleh rintik hujan. Wajahnya seperti topeng yang tak terbaca—campuran antara kesedihan dan rasa bersalah yang mendalam. Tatap

