7: Kerja Bersamaku

1186 Words
Istirahat makan siang kali ini tidak bisa dinikmati oleh Jasmine sendirian. Rhein yang sedari pagi mengiriminya pesan membuat gadis itu tidak berkonsentrasi bekerja. Bagaimana tidak, setiap beberapa menit sekali, pesan singkat pemuda itu akan memenuhi kotak pesan ponsel Jasmine. Hingga ia terpaksa meletakkan ponsel itu kedalam loker pegawai. Setelah selesai bekerja, kemudian Jasmine membereskan peralatannya dan bersiap untuk makan siang. Dia tadi sempat memasak semur telor dan sambal tumis sebagai bekal. Ketika membuka loker, tenyata ia menemukan hampir sepuluh pesan dan missed call dari Rhein. Dalam hati ia mengeluh. Andai saja pemuda itu tidak berpacaran dengan July, Jasmine mau-mau saja menghabiskan waktu meladeninya. Kalau begini, bukankah ia sama saja menusuk July dari belakang? Aagh.. Jasmine bingung harus bagaimana. Kepalanya yang tak gatal sudah berkali-kali ia garuk. Usahanya untuk menghindari Rhein mengakibatkan dia banyak melamun hingga akhirnya tertabrak. Kali ini dia jelas tidak mau mengambil resiko yang sama. Tapi yang pasti, dia harus tegas. Bicara langsung dengan pemuda itu pastilah akan membuat segalanya lebih jelas daripada kucing-kucingan seperti ini. Dan begitulah. Tak lama mereka sudah duduk berdua di kantin kantor, dengan Jasmine bersama bekalnya, dan Rhein yang memesan dua mangkok soto daging berkuah santan dengan isian daging dan jeroan yang berlimpah. Air liur Jasmine terbit tatkala kuah soto mengepulkan asap dan aroma yang menggiurkan. Begitu juga dengan sambal yang diperciki dengan jeruk. Dia tidak ingat kapan terakhir kali menikmati makan soto. Apakah saat ditraktir staf marketing dua bulan lalu atau tiga bulan lalu. Gadis itu meraih kotak bekalnya. Mencoba membukanya dengan perlahan sambil berpikir bahwa masakannya cukup enak dibandingkan dengan soto yang ada dihadapannya saat ini. Namun gerakan tangan Rhein lebih cepat. Ia meraih kotak bekal itu kearahnya dan bicara dengan santai kepada Jasmine. "Bekalmu buat aku. Kamu makan aja nasi sama sotonya. Abisin 2 mangkok kalo perlu, dan kita pesen lagi kalo kurang." Mata Jasmine melotot. Dua piring, dikiranya dia kuli yang butuh energi banyak biar bisa ngangkut karung. Hihihi. Sementara itu dilihatnya Rhein membuka kotak bekal itu dan tersenyum saat menemukan lauk yang ada disana. " Kamu masak sendiri,Jas?" Tanyanya sambil membuka bungkusan semur telor dan menuangkannya ke sebuah mangkuk kosong yang ada dimeja mereka. Jasmine mengangguk. "Tapi nggak enak kayaknya. Aku nggak seahli mama kamu kalo soal masak. Yang penting bisa isi perut aku aja." Rhein sepertinya mengabaikan ucapan Jasmine karena dalam waktu yang singkat beberapa sendok nasi sudah masuk kemulutnya. "Enak kok. Belajar masak dari mana?" "Dulu pernah kerja di rumah makan selama dua tahun. Sempat diajarin masak juga." Rhein manggut manggut mendengarkan jawaban Jasmine. Namun saat mendapati bahwan gadis itu bahkan belum menyentuh makanannya, pemuda itu mulai menyuruhnya makan. Walau agak canggung, akhirnya Jasmine memutuskan untuk menyendokkan nasi dan soto kepiring dan mulai makan. Rasa soto kantin itu begitu nikmat sehingga Jasmine merasa terharu bisa mencicipinya lalu ia mulai semangat makan,membuat Rhein yang ada didepannya menjadi tersenyum. Tidak terasa, untuk pertama kalinya Jasmine merasa makan siangnya ia habiskan dengan lahap. Apakah karena menunya memang nikmat, ataukah karena makan bersama pemuda itu. Mengingat beberapa kali kesempatan makan bersama mereka lebih banyak menghabiskan waktu dalam hening. Hari ini Rhein banyak bicara dan herannya Jasmine pun mau-mau saja menjawab ocehan pemuda itu. Sehingga ia hampir lupa dalam usahanya menjauhi Rhein. Sampai suara dering ponsel bergambar apel digigit keluaran terbaru berbunyi mengagetkan mereka. " July?" "Aku lagi sama Jasmine.." "Iya, pulang sendiri nggak apa-apa. Aku nggak jemput? Beneran? Ya udah.." "Bye" Jasmine tidak tahu apa yang dikatakan July pada Rhein. Tapi sejauh yang ia dapat tangkap adalah pemuda itu tidak akan menjemput July pulang. Lalu kenapa hal itu bisa terjadi,pikirnya. Anehnya Rhein kembali mengajaknya makan siang padahal seharusnya ia ada urusan dengan July, bukan dirinya. "Rhein, kamu nggak perlu ngajakin aku makan siang kayak gini terus-terusan deh. Aku ngerasa nggak enak." Rhein saat itu sedang menyeruput sisa kuah soto di mangkuknya, seolah-olah telepon dari July tadi adalah hal yang biasa. "Jangan gara-gara aku kamu dan July jadi renggang. " Pemuda itu cuma manggut-manggut sekadarnya. "Iya,Jasmine." Katanya santai. "Aku serius Rhein. Terus soal pulsa pagi tadi. Aku nggak bisa nerima. Lagian sampe sebayak itu kamu kirim ke aku. Kapan habisnya coba?" "Ya, kalo kamu balesin SMS aku, pulsa segitu juga cepet habis, Jas. " Jasmine heran dengan sikap pemuda itu. Kenapa ia menganggap kiriman pulsa senilai satu juta rupiah adalah hal yang enteng padahal dirinya saja harus bekerja susah payah, sehingga untuk membeli pulsa sepuluh ribu saja kadang terasa berat. "Aku kan nggak cuma megang hape terus kalo kerja. Bisa-bisa aku dipecat." Mendengar kata dipecat, Rhein yang tadi terlihat santai langsung menegakkan bahunya,dan serius menatap Jasmine. Ia tidak pernah memikirkan efek yang ia lakukan terhadap gadis itu apabila dirinya terus-menerus mengiriminya pesan atau telepon. Padahal sejak semalam, saat Jasmine membalas pesannya ia sangat bahagia. Posisi Jasmine menyadarkannya bahwa gadis itu harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. "Ehm, Jas. Kamu pernah berpikir buat cari pekerjaan lain?" Jasmine mengangguk lemah. "Pernah sih, dulu. Cuma nggak banyak perusahaan yang mau nerima tamatan SMA, apalagi kondisiku yang ... eh, nggak setanggap orang lain, belum apa-apa kadang nggak lolos seleksi awal." Dia hampir saja keceplosan mengucapkan kondisi penyakitnya. Perusahaan mana yang mau menerima pegawai penyakitan. Mereka tidak akan suka mendapati pekerjanya sering bolos atau lupa saat melakukan tugasnya. "Kamu nggak mau cari-cari lagi atau gimana gitu." Jasmine tersenyum kecil. "Nantilah, Rhein. Kalau ada yang butuh sama tenagaku." Dengan cepat Rhein membalas omongan gadis itu. "Kerja di perusahaanku mau? Kemarin baru buka lowongan loh dan ada posisi untuk tamatan SMA. Gimana?" Sesungguhnya perusahaan milik Rhein tidak butuh pegawai baru. Namun dia menjadi semangat sekali menawarkan salah satu posisi untuk Jasmine. Apa saja asal tidak melihatnya berkubang dengan sapu,alat pel dan tong sampah yang membuat gadis itu seperti pelayan. Dia sungguh tidak rela setiap kali mendapati Jasmine sibuk menggosok keramik atau juga mengelap kaca jendela. Membayangkannya saja membuatnya terasa tidak berdaya. Jasmine tidak menjawab. Tetapi matanya yang bersitatap dengan mata Rhein seolah mencari celah apakah pemuda itu memang benar mengatakan yang sejujurnya atau malah mencari-cari alasan agar Jasmine tergoda. "Waduh, Rhein. Itu serius atau main-main?" "Ya seriuslah, Jas." Balas Rhein. "Gimana, mau ya?" Jasmine menggigit bibirnya. "Aku nggak mau kalo ini akal-akalan kamu, lagian nanti orang-orang dikantor kamu bakal mikir apa tentang aku. Aku nggak mau karena kamu aku bisa kerja disana. KKN itu namanya." "Ya nggak lah, Jas. Nanti kan kamu juga di tes. Berkualifikasi nggak di jabatan yang akan kamu jalani nantinya. Waktunya nggak mengikat kok. Kerjanya santai dan bisa buka hape. Kita lebih banyak pegang gadget biar bisa berhubungan dengan konsumen. Mau kan? "Segitu kepengennya kamu nyuruh aku buka-buka hape gitu, Rhein. Kalau udah kerja di kantor kamu, ngapain lagi kamu harus SMSan sama aku. Tinggal ngomong aja kenapa?" "Jadi kamu mau kerja di tempatku?" "Ya,nggak gitu dong. Aku nggak bisa seenaknya ngundurin diri. Lagian aku betah disini. Ada bu Tanti yang sudah kuanggap ibu. Ditempatmu belum tentu ada yang sebaik beliau." Rhein menghela napasnya. Sepertinya usahanya untuk membujuk Jasmine bekerja di perusahaannya bukanlah hal yang mudah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD