Bab 06 - Terpaksa Menikah

1083 Words
Di luar ruang UGD. “Barra…,” suaranya pecah. “Katakan kalau itu semua tidak benar. Katakan kalau kamu tidak akan menikahi siapa pun! Apalagi—” suaranya bergetar. “—anak korban kecelakaan itu.” Barra menutup mata sejenak. Mencoba menenangkan napas yang sejak tadi terasa sesak. “Alya, dengarkan aku dulu—” “Tidak!” Alya menyela, air matanya jatuh. “Kenapa kamu harus menanggung semuanya sendirian? Kenapa kamu memilih menghancurkan hidup kita berdua?” Barra mendekat dan memegang kedua bahunya. Lembut tetapi penuh tekanan emosional. “Alya… Aku tidak ingin menikah dengan siapa pun kecuali kamu. Kamu tahu itu,” suaranya parau. “Tapi aku… Aku juga tidak mau masuk penjara. Semuanya bisa kacau. Dan kita tidak bisa bertemu lagi.” Alya menggeleng keras. “Itu kecelakaan! Kamu tidak berniat! Dan mereka tidak berhak memintamu menikah hanya karena itu—” “Tapi tidak ada cara lain lagi, Alya. Nenek juga sudah setuju dengan semuanya.” Alya menunduk, bahunya bergetar. “Jadi kamu memilih menikah dengan dia… Daripada aku?” Ucapan itu menghantam Barra tepat di dadanya. Ia menarik napas panjang. Suara lorong rumah sakit terdengar seperti gema yang jauh. “Alya… Aku mencintaimu. Kamu tahu itu. Tapi aku tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa aku harus melakukan ini semua. Tidak ada pilihan lain, Alya. Nenek dan Mamah juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa.” Barra menelan ludah, suaranya pecah. “Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Semua ini terlalu cepat. Terlalu berat.” Alya meraih tangannya. Menggenggamnya erat seakan itu satu-satunya hal yang bisa menahan dunia agar tidak runtuh. “Aku tidak ingin kamu menghancurkan hidupmu demi sesuatu yang tidak bisa diperbaiki. Aku ga mau kehilangan kamu. Kamu harus janji, walaupun kamu sudah menikah dengannya, kamu tetap mencintai aku. Dan jangan pernah kamu memiliki rasa sedikit pun dengannya.” Barra menatapnya lama. Sangat lama. Seolah mencari sesuatu di balik mata Alya yang penuh cinta sekaligus kecemasan. “Aku janji. Aku tidak akan mencintai dia sampai kapan pun. Ini hanya sebatas cara supaya aku tidak di penjar. Kita akan tetap seperti ini. Aku akan tetap mencintaimu.” Alya pun akhirnya luluh. Mereka berdua saling berpelukan. Langkah pelan namun tegas terdengar di ujung lorong. Barra dan Alya sama-sama menoleh. Dan di sana berdiri Nenek Barra. Wanita sepuh dengan tongkat kayu gelap. Raut wajahnya dingin namun sorot matanya penuh keputusan yang tak bisa diganggu gugat. “Barra,” ucapnya pelan namun keras seperti palu. “Kita harus pergi sekarang. Baju pernikahanmu sudah siap. Surat-surat juga sudah diurus. Asisten Nenek sedang menunggu di mobil.” Alya berdiri mematung di samping Barra. Tubuhnya kaku, wajahnya pucat. Segala kata yang tadinya ingin ia teriakkan, protes, permohonan, bahkan kemarahan, semuanya menguap begitu saja. Tenggorokannya terasa mengering, suaranya hilang. Ia hanya bisa menatap Barra dengan mata yang penuh luka. Barra mencoba menelan napas yang terasa menusuk. “Nenek… Apa tidak ada cara lain?” Neneknya menggeleng pelan. “Kalau kamu tidak menikahinya sekarang, keluarga korban akan membawa ini ke pengadilan. Kamu tahu apa yang akan terjadi. Kamu kehilangan perusahaan, jabatan, dan… Kebebasan.” Nada suaranya lembut namun tegas seperti batas yang tak bisa ditembus. “Nenek hanya ingin menyelamatkan kamu.” Barra mengepalkan kedua tangannya. Sendi-sendi jarinya memutih. Ia menoleh ke Alya, berharap menemukan kekuatan di matanya. Namun Alya sudah tidak sanggup berbicara apa pun. Tidak ada protes. Tidak ada permohonan. Tidak ada kata-kata lagi. Barra mendekatinya satu langkah. Ingin menyentuh tangannya tetapi Alya melepaskan diri sebelum ia sempat mengangkatnya. Menunduk, bahunya bergetar. Ia begitu hancur. Sampai kata saja tidak mampu keluar. Nenek Barra mengangguk ke arah Barra. “Ayo.” Barra akhirnya menghela napas panjang. Napas seseorang yang menyerah sepenuhnya. Ia menunduk dalam-dalam. Seolah memohon maaf pada dunia, pada dirinya sendiri, dan pada wanita yang ia cintai. Kemudian ia berjalan mengikuti Neneknya. Langkahnya berat namun pasti. Setiap langkah menjauh dari Alya terasa seperti mematahkan sepotong lagi dari hatinya sendiri. Alya hanya berdiri diam. Menonton punggung pria yang ia cintai menghilang di tikungan lorong rumah sakit. Ia tahu, malam ini Barra akan menikahi wanita lain. Namun Alya tidak akan tinggal diam begitu saja. ***** Di dalam ruang UGD yang kini disulap seadanya menjadi tempat akad. Suasana terasa jauh lebih sunyi dibanding sebelumnya. Lampu neon yang terlalu terang memantulkan cahaya putih pada tirai-tirai tipis menciptakan bayangan lembut di dinding. Seolah rumah sakit sendiri ikut menahan napas. Barra berdiri di dekat ranjang pasien dengan jas hitam rapi yang dipakaikan oleh asisten Neneknya. Rambutnya disisir ke belakang. Namun mata merah dan sorot kacau itu tak mampu disembunyikan. Jemarinya bergetar halus di sisi tubuhnya. Seakan tubuhnya menolak kenyataan yang sedang berlangsung. Di sebelahnya, Kirana, putri sulung korban berdiri dengan gaun putih sederhana yang baru dibelikan Nenek Barra. Gaunnya tidak mewah, tetapi tampak sangat indah di tubuhnya. Wajahnya tetap sembab, matanya masih bengkak. Namun ia berusaha tegar demi Ayahnya yang menggenggam tangan kirinya erat-erat. Adiknya berdiri dengan pakaian seadanya. Masih menangis kecil, menatap Ayahnya yang terbaring lemah. Di sekitar mereka, Nenek Barra dan Mamahnya berdiri dengan sikap serius. Tidak ada senyum. Tidak ada kebahagiaan khas pernikahan. Yang ada hanya beratnya tanggung jawab, kesedihan, dan keputusan yang lahir dari kondisi darurat. Seorang penghulu duduk di kursi kecil dekat ranjang. Menyiapkan buku nikah. Suaranya sengaja dikecilkan. Menyesuaikan dengan ruangan rumah sakit yang dipenuhi suara mesin monitor yang sesekali berbunyi rendah. Ayah Kirana terbaring pucat di ranjang. Nafasnya berat, dadanya naik turun dengan susah payah. Selang infus menempel di lengan, dan oksigen membantu setiap tarikan napasnya. Meski demikian, dengan semua kekuatan yang tersisa ia membuka mata perlahan saat penghulu memintanya untuk memulai. “Kami mulai ya, Pak…,” ucap penghulu lirih. Semua orang menahan napas. Dengan suara serak yang hampir tak terdengar, Ayah Kirana menggenggam sudut selimut sambil berusaha mengangkat kepalanya sedikit. Kirana langsung menunduk, mendekat, memegangi tangan Ayahnya dengan gemetar. Ayah menatap Barra. Sorot mata penuh duka sekaligus harapan. Lalu ia mengucapkan lafaz akad nikah. Patah-patah namun jelas. “Saya… Nikahkan… Putri saya… Kirana Larasati… Binti Aditya. Kepada… Barra Buana… Dengan… Mas kawin—” Nafasnya tersendat. Kirana menahan air mata. Penghulu membantunya melanjutkan pelan. Memastikan setiap kata terlontar. Ayah itu berusaha lagi. Suara seperti bisikan terakhir dari d**a yang nyaris habis. “…Mas kawin… Dua gram cincin emas dibayar tunai.” Hening. Sangat hening. Semua mata beralih pada Barra. Penghulu menatapnya, menunggu ijab kabul. Barra menutup mata sejenak. Jemarinya mengepal. Bahunya naik turun menahan emosi. Kemudian dengan suara bergetar namun berusaha tegas, ia menjawab. “Saya terima nikah dan kawinnya Kirana Larasati binti Aditya… Dengan mas kawin tersebut… Dibayar tunai.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD