Mereka melangkah keluar menuju lorong. Mencari sosok yang sejak tadi menunggu dengan kepala tertunduk. Seakan tak berani menatap siapa pun. Saat mereka menghampirinya, Barra, Mamahnya, Neneknya dan Alya mendongak pelan. Matanya merah oleh rasa bersalah dan takut.
“Ayah… Mau bertemu Anda,” ujar Kirana hati-hati.
Barra tertegun, seolah tak percaya.
“Saya… Masuk? Sekarang?”
Kirana dan Davina mengangguk.
”Saya ikut,” ucap Mamahnya.
”Saya juga,” sambung Neneknya.
Kirana dan Davina tidak bisa menahan. Kini akhirnya bukan hanya Barra yang masuk ke dalam UGD, tetapi Mamahnya, Neneknya, termasuk Alya. Pintu UGD kembali terbuka. Kali ini untuk membawa seseorang yang tak pernah mereka duga akan berdiri di sisi ranjang Ayah mereka.
Begitu mendekati ranjang, Ibu dari Barra segera menunduk dalam.
“Kami… Kami minta maaf sebesar-besarnya,” ucapnya dengan suara gemetar.
“Kami siap bertanggung jawab. Biaya rumah sakit, ganti rugi, apa pun… Kami akan siapkan.”
Neneknya mengangguk cepat. Bahkan sudah membuka tas kecilnya. Menyiapkan amplop tebal yang jelas berisi uang.
“Kami tidak ingin kejadian ini jadi panjang. Tolong terima ini sebagai permohonan maaf kami…”
Namun Ayah yang terluka itu mengangkat tangan lemah, menghentikan mereka. Tatapannya tajam. Berbeda dari tubuhnya yang masih lemah.
“Tidak,” katanya pelan namun jelas.
“Bukan itu yang saya mau.”
Ruangan seketika hening.
Kirana dan Davina saling memandang bingung. Barra menelan ludah. Merasa firasat buruk merayap naik di punggungnya.
Ayah mengatur napas, lalu menunjuk pelan ke arah Barra.
“Saya mau dia,” katanya.
“Kamu bertanggung jawab atas hidup saya… Maka tanggung jawab itu akan kamu bayar dengan masa depan anak saya. Kamu harus menikahi anak pertama saya, Kirana.”
Kirana membeku, terpaku di tempat. Wajahnya langsung memucat. Tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
Barra tersentak, langkahnya mundur setengah langkah.
“Saya… Apa? Tidak! Pak, saya tidak bisa menerima syarat seperti itu. Saya memang salah, saya lalai, tapi... Pernikahan? Itu bukan… Itu bukan sesuatu yang bisa dijadikan tuntutan!”
Ayah menatapnya dengan dingin.
“Kamu menolak?”
“Saya… Saya tidak bisa,” jawab Barra lebih tegas namun suaranya bergetar.
Ayah mendengus pelan.
“Kalau begitu...,” ucapnya.
”Saya akan laporkan kejadian ini. Kamu akan masuk penjara. Saya tidak main-main.”
Ibu Barra tersentak kaget.
“Pak, jangan begitu... Anak saya tidak sengaja! Kami siap membayar ganti rugi berapapun!”
Neneknya ikut menangis, memohon.
“Jangan masukkan dia ke penjara, Nak…”
Tapi Ayah tetap pada pendiriannya.
Sementara itu, Kirana berdiri terpaku. Antara marah, takut, dan tak mengerti mengapa Ayahnya mengambil keputusan sepihak yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Barra menatapnya, sama terkejut dan terguncangnya.
Neneknya maju selangkah, lebih dulu daripada Ibu Brra. Tangan tuanya gemetar, namun sorot matanya berubah tegas. Bukan lagi hanya ketakutan, tetapi juga ketidakrelaan melihat masa depan cucunya dan reputasi keluarganya hancur dalam satu malam.
Ia menatap korban yang terbaring di ranjang. Lalu bicara dengan suara pelan namun tegar.
“Cucu saya memang salah… Sangat salah. Tapi saya tidak bisa membiarkannya masuk penjara. Dan saya tidak bisa membiarkan perusahaan keluarga kami yang sudah saya bangun dan jaga sejak puluhan tahun runtuh hanya karena satu kelalaian.”
Barra terbelalak.
“Nenek, apa yang Nenek...”
Nenek mengangkat tangan, menahan.
“Diam, Nak. Ini sudah terlalu jauh.”
Ia kembali menatap korban.
“Jika itu syarat Anda… Maka saya setuju.”
Ibu Barra terkejut besar.
“Bu! Kita tidak bisa memaksakan pernikahan seperti ini!”
“Ini bukan tentang keinginan,” kata Neneknya. Nada suaranya seperti baja.
“Ini tentang konsekuensi. Jika kita menolak, Barra dipenjara, dan perusahaan kita akan jadi berita buruk. Semua kerja keras keluarga kita selama ini akan hilang.”
Barra menggigit bibirnya, wajahnya pucat.
“Nenek… Aku tidak mencintai dia. Dan aku bahkan ga mengenal dia.”
Nenek menoleh kepadanya, menatap dalam-dalam.
“Cinta bisa tumbuh. Nama baik yang sudah hancur tidak akan kembali.”
Kata-kata itu berat, menghantam ruangan seperti palu. Korban terlihat puas, meski tubuhnya masih lemah.
“Bagus. Kalau begitu, kita sepakat.”
”Tapi, Yah. Aku juga tidak mau menikah dengan laki-laki yang ga aku kenal,” protes Kirana.
”Iya. Aku juga ga mau punya kakak ipar seperti dia, Yah” sambung Davina.
”Nak, maafkan Ayah. Tapi ini semua demi kebaikan kalian berdua. Kalau nanti Ayah ga ada, kalian berdua ada yang menjaga. Dan Ayah yakin jika laki-laki ini bisa menjaga kalian berdua. Karena Ayah ga selamanya bisa ada di samping kalian berdua.”
”Ayah ga boleh berbicara seperti itu. Dia aja sudah menabrak Ayah sampai seperti ini. Bagaimana dia bisa menjaga kami berdua, Yah. Yang kami butuhkan cuma Ayah.”
”Sudah ya, Nak. Pernikahan akan dilakukan malam ini juga di sini. Di depan saya.”
”Apa?” jawab Barra dan Alya secara bersamaan.
Udara di ruangan itu terasa lebih dingin. Menusuk seperti pisau.
“Saya tidak setuju,” ucap Alya dengan tegasnya.
Nenek menengok ke arahnya sambil mengerengitkan keningnya. Sekaligus ada rasa kesal di dalam dadanya. Karena seorang sekretaris berani ikut campur masalah keluarganya.
“Kamu siapa suruh angkat bicara?”
“Maaf, Bu. Ini semua tidak bisa terjadi. Pak Barra tidak mencintainya.”
“Kamu tidak usah ikut campur. Lebih baik kamu pergi dari sini.”
Alya menatap Nenek dengan tatapan tidak suka. Namun ia akhirnya pergi meninggalkan ruang UGD. Barra yang juga mencintai Alya pun mengejarnya.
“Alya, tunggu.”
Neneknya langsung melarangnya untuk pergi dari sana.
“Barra, mau kemana kamu?”
“Aku kau bicara dengan Alya, Nek.”
“Kenapa kamu memikirkan dia? Kamu tidak usah urus orang itu. Lebih baik kamu pikirkan masalah kamu sendiri. Nenek sudah sangat pusing.”
“Ga bisa, Nek. Aku harus bicara dengan Alya.”
Barra tidak mendengarkan perintah Neneknya sama sekali. Ia tetap keluar dari ruang UGD untuk berbicara dengan Alya.
“Barra… Barra…”
Nenek terus berteriak memanggil namanya. Tetapi Barra tetap pergi menghampiri Alya.
“Bagaimana ini?” tanya Ayah kepada Nenek.
“Bapak tenang saja. Saya akan selesaikan semuanya. Saya pastikan jika cucu saya tetap akan menikah dengan anak Bapak. Biar saya yang urus semua.”
“Baik.”
Nenek tetap pada pilihannya. Ia setuju dengan pernikahan yang menjadi syarat supaya Barra tidak di masukkan ke dalam penjara sehingga nama baik perusahaannya akan tetap terjaga.
Nenek mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia menelepon seseorang untuk mengurus pernikahan cucunya dengan anak dari korban yang akan dilaksanakan malam ini juga di rumah sakit. Sedangkan Kirana hanya bisa terdiam. Ia tidak setuju dengan pernikahan itu tetapi ia juga tidak bisa menentang keinginan Ayahnya saat ini.