Alya menggedor pintu ruangan Barra dengan keras sampai beberapa karyawan yang lewat saling berpandangan takut. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menerobos masuk. “Mas Barra! Kamu keterlaluan!” bentaknya, wajahnya merah padat oleh emosi. Barra yang baru saja duduk langsung berdiri kaget. “Alya? Kenapa kamu masuk seen—” “Kamu biarin perempuan itu mengaku sebagai istrimu di depan semua orang?!” Alya menatap Barra dengan mata yang bergetar. Antara marah dan panik. “Kamu tahu sendiri hubungan kita seperti apa! Dan kamu diam saja?!” Barra mengernyit, jelas tidak mengerti. “Tunggu dulu. Maksud kamu apa? Siapa yang ngaku apa?” Alya menghentakkan kakinya. “Kirana! Dia memperkenalkan diri sebagai istri sah kamu saat Nenekmu bikin acara kecil tadi di lobi. Semua karyawan lihat! Sekaran

