Siang itu ruang aula kecil kantor mendadak penuh. Para karyawan berdiri berbaris rapi. Sebagian saling berbisik penasaran. Nenek Barra duduk di kursi utama, elegan dengan tongkatnya. Sementara Kirana berdiri di samping tampak gugup, menundukkan pandangannya. “Terima kasih sudah berkumpul,” suara Nenek tegas namun lembut. Bisik-bisik langsung mereda. “Saya ingin meluruskan semua kesalahpahaman yang mungkin telah beredar. Dan memastikan tidak ada lagi yang berani mengganggu cucu saya,” lanjutnya. Kirana menelan ludah. Telapak tangannya dingin. “Mulai hari ini, kalian semua harus tahu dan mengakui bahwa Kirana adalah istri sah dari Barra Buana.” Ruangan sontak hening. Lalu… “Apa?” “Istri sah? Yang benar?” “Jadi yang selama ini dekat sama Pak Barra itu—” Bisikan-bisikan terkejut lang

