“Jadi, Kinan anak siapa sebenarnya, Sri?” tanyaku sedikit keras. Wanita itu pun menunduk sejenak dan mendongak dengan tangis yang sudah berderai. Aku tak tahu harus berbuat apa. Tetap marah atau merasa kesal? Sri mungkin mempunyai alasan yang sangat jelas mengapa dia melakukan itu padaku. Setelah menunggu sedikit lama, Sri akhirnya mulai tenang dan mencoba menjelaskan semuanya. Dia menatapku lekat-lekat dan mulai membuka suara dengan nama seorang yang tidak aku kenal. “Dia anak Sugeng, bandot tua yang menikahiku setelah kamu pergi, Mas,” katanya. Hatiku benar-benar remuk mendengarnya. Bukan lantaran menyesal telah mencurahkan semua kasih sayangku pada Kinan. Namun, karena kenyataan ini. Aku tak rela jika Kinan bukan anakku. Aku mencintainya sepenuh hatiku. Aku menyayanginya dengan sega

