BAB 1 : Arabelle

2949 Words
Suara tawa orang-orang memenuhi koridor sekolah, mereka berlalu lalang menikmati hari pertama mereka masuk sekolah. Bunga-bunga berguguran jatuh di lapangan luas sekolah, sekumpulan anak pria bermain basket terlihat menarik perhatian banyak perempuan.  “Apa kalian akan tetap di tempat membosankan ini?” keluh Arabelle sambil bersedekap, bibirnya menekuk kesal melihat Nerissa yang tersenyum dengan mata berbinar-binar melihat pria pujaan hatinya bermain basket. “Aku ingin pulang” jawab Endrea yang berada di sebelahnya, gadis itu langsung beranjak. Arabelle berdecih geli melihat Kenan yang tengah bermain di lapangan langsung berhenti bermain karena Endrea beranjak. “Si b******k itu melihatku tidak?” bisik Endrea was-was, Kenan membuang bolanya ke sisi lapangan dan langsung berjalan  ke arahnya. Arabelle mengedikan bahunya dengan senyuman geli, seketika Endrea berlari kucar-kacir. Kenan berlari lebih cepat mengikuti Endrea. “Kenapa kalian hidup tidak normal” keluh Arabelle mulai beranjak dan meninggalkan Nerissa yang masih sibuk memperhatikan pujaan hatinya. Arabelle menarik napasnya dalam-dalam, langkahnya yang penuh percaya diri dengan dagu terangkat menatap tajam setiap orang yang berani menatapnya. Meski hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah, Arabelle tidak takut siapapun. Rintikan salju turun dari langit, beberapa pria menatapnya dengan kekaguman memandang dirinya seperti seorang dewi. Arabelle ketinggalan satu semester untuk bisa mengejar ketertinggalannya dalam pelajaran karena kelemotannya dalam belajar. Sementara Nerissa sudah menjadi kakak kelasnya sekarang, dan Endrea sudah mendapatkan gelar S1 nya dengan mudah karena kecerdasannya. Padahal mereka seumuran, masuk teka sama-sama, hanya saja lulusnya tidak. Ini bukan hal yang baru bagi Arabelle, dia dan kedua sahabatnya sudah memiliki julukan tiga dewi sejak masuk sekolah. Arabelle, Nerissa dan Endrea sudah masuk sekolah Giedon sejak TK. Sekolah klan Giedon tersedia dari sekolah TK hingga perguruan tinggi. Hampir semua keturunan bangsawan satu Negara bersekolah di sana, sementara untuk orang-orang biasa mereka harus benar-benar berprestasi untuk bisa masuk. Inilah Arabelle, satu-satunya puteri Nicholas Giedon seorang walikota Loor sekaligus pemilik Rumah Sakit terbaik di Loor. Ibunya sudah meninggal ketika Arabelle berusia empat tahun, dan kini gadis itu memiliki ibu tiri yang pandai bersilat lidah, sama seperti kakak tirinya Mina. Arabelle  hanya memiliki dua orang sahabat di dalam hidupnya. Dia adalah Endrea, puteri dari Julian Giedon, salah satu orang terkaya di negaranya. Dan Nerissa, puteri dari Lucas William, salah satu pengusaha terbaik Neydish. “Siapa dia, cantik sekali. Lihat kaki jenjangnya” puji seseorang yang berjalan di belakang Arabelle. “Jangan banyak berbicara, dia saudara Nona Endrea.” “Memangnya kenapa?, aku juga keturunan bangsawan. Aku hanya ingin tahu.” “Jangan bicara keras-keras, sifatnya sangat buruk. Kau harus berhati-hati.” Arabelle memutar bola matanya tampak tidak suka, langkahnya semakin cepat segera keluar dari area sekolah menuju parkiran. Deringan telepon masuk bergetar di saku bajunya, sejenak Arabelle menatap layar handpone ketika melihat nama ayahnya yang tertera. Dengan malas Arabelle mengangkat, “Ya Ayah.” “Kau di mana cepat pulang dan bersiap-siap. Kau jangan berpura-pura lupa lagi, nanti malam kau akan bertemu dengan calon suamimu.” Cecar Nicholas di balik telepon. Arabelle menghela napasnya dengan berat, “Tapi Ayah.” “Cepat pulang Ara!” putus Nicholas yang langsung menutup teleponnya. Arabelle membuang napasnya dalam-dalam, “Tua bangka!” Umpatnya kesal. Suara jeritan Endrea mengalihkan amarah Arabelle, gadis itu melongo dan menunjuk-nunjuk Kenan yang memanggul Endrea membawanya memasuki mobil. “b******k Kenan! Lepaskan Endrea, dasar i***t” makinya dengan teriakan keras dan berlari kearah Kenan. Kenan langsung berdecak pinggang di depan pintu mobil menghalangi dan menatap tajam kedatangan Arabelle. “Apa yang akan kau lakukan?” tanya Kenan dengan dingin, wajah tampanya yang selalu di elu-elukan seluruh wanita satu kampus tampak dingin dan berbeda jauh dengan Nerissa adiknya yang selalu menebarkan banyak senyuman indah. Arabelle menggigit kukunya dan berpikir apa yang akan dia lakukan pada Kenan, “Lepaskan Endrea!” Teriaknya dengan berani, tangan kecilnya terkepal di depan muka Kenan, “Cepat! Atau ku pukul kau!. Aku akan mengadu pada paman Julian!” “Endrea milikku. Pulanglah, setan kecil. Remas dadamu supaya besar.” Ejek Kenan seraya pergi memasuki mobilnya. “Iblis” bibir Arabelle mencebik, namun mata indahnya menatap polos ke bawah dan memperhatikan kedua dadanya. Arabelle meremasnya di depan umum, “Dadaku besar sialan!” Makinya histeris. *** “Selamat malam Nona, Ayah Anda sudah menunggu di ruang kerjanya” ucap Liana dengan kepala tertunduk. Arabelle melepaskan tasnya dan memberikannya pada Liana, gadis itu langsung pergi berbelok menuju lorong kecil jalan pemintas rumahnya yang luas. “Lihat itu, baru pertama masuk sekolah sudah pulang telat” sindir Kate yang duduk dengan anggun di kursi tengah membaca buku dan menikmati secangkir teh. Sementara Mina di sampingnya tengah menselonjorkan kakinya ke atas meja menunggu cat kukunya yang kering. Arabelle berdecih muak melihat bagaimana angkuhnya Kate yang haus ingin menguasai seluruh perhatian ayahnya dan menjadikan Mina anak kesayangan, dengan membanding-bandingkan sikap puterinya dan Arabelle yang pandai membuat ulah. Arabelle melihat ke penjuru arah dan mengusap tengkuknya, “Siapa barusan yang berbicara” gumamnya berpura-pura bingung. Kate langsung berdiri dan berdecak pinggang, “Beraninya kamu mengejekku!, dasar tidak tahu sopan santun.” “Siapa yang mengejekmu. Percaya diri sekali” tawa Arabelle dengan riang. “Jaga sikapmu, wanita idiot.” Hina Mina dengan berani. “Sudah, biarkan saja dia. Jangan membuang waktumu untuk berbicara dengan wanita tidak berguna seperti dia. Sebaiknya kau belajar, Ayahmu mempercayakan rumah sakit untuk kau pantau.” Kata Kate memanas-manasi. “Waaw, Ayah menyuruhmu Mina?. Cocok sekali, wajahmu seperti pembantu” balas Arabelle untuk menutupi rasa sakit hatinya. Gadis itu berlari dengan heelsnya dan menaiki satu persatu anak tangga menuju ruang kerja Nicholas. “Bu, kenapa Ibu tidak berhasil membujuk Ayah?. Seharusnya aku yang di jodohkan dengan Tuan Raefal, aku lebih cantik dan pintar dari Arabelle. Aku yakin Tuan Raefal lebih tertarik padaku” rengek Mina tampak sedih. “Dia anak kandungnya, meski Ara tidak berguna. Ayahmu ingin p*****r itu hidup bahagia di masa mendatang.” Geram Kate penuh amarah dengan tangan terkepal. “Aku juga berhak bahagia” tuntut Mina dengan tegas, “Tidak akan ada satupun pria yang tahan dengan sikap Ara. Semua laki-laki yang dekat dengan dia selalu berpaling padaku, kenapa Ayah tidak memberikan aku kesempatan?. Aku yakin Raefal lebih tertarik padaku.” “Diam Mina!” desis Kate semakin kesal, sebesar apapun dia mengadu domba Arabelle dan Nicholas, mereka selalu kembali rukun. Kate khawatir, Arabelle sudah berusia sembilan belas tahun. Bagaimana jika Nicholas berniat mengajarkan Arabelle  berbisnis dan melimpahkan semua harta warisannya kepada Arabelle, mengingat bagaimana Nicholas kukuh membuat surat pra-nikah sewaktu dulu mereka akan menikah. “Masuk ke kamarmu dan berdandalah secantik mungkin. Aku punya ide.” *** “Tua bangka!!” Rengek Arabelle dengan teriakan di ambang pintu. Nicholas yang semula duduk di kursi kerjanya dan sibuk dengan laptopnya langsung memutarkan kursinya. “Diam disitu Arabelle! Katakan sekali lagi” perintah Nicholas dengan geram. “Ayaaahh” “Kemarilah” Nicholas menggerakan tangannya, Arabelle segera berlari dan duduk di pangkuan ayahnya, seketika dia menangis tergugu mulai acting. “Aku tidak akan menerima alasan apapun lagi darimu, cepat siap-siap. Kalian akan bertemu di restorant, jangan membuat ulah lagi! dalam waktu enam bulan kalian saling mengenal sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan.” Tangisan Arabelle langsung terhenti, gadis itu mengusap air matanya. “Kau ingin membuangku secepat itu?, apa aku sangat merepotkanmu?.” “Ara berhenti berbicara aneh” “Tapi aku tidak mau menikah!” “Ara! Bisa tidak, kau mengikuti satu saja perintahku!. Ini perjodohan yang ke sebelas, Ayah mohon jangan mengacaukannya dan membuat Ayah malu.” Arabelle langsung bangkit lagi dan menggelengkan kepalanya dengan tangan bersedekap di d**a, “Aku tidak mau ya tidak mau!.” “Baik. Kemasi barang-barangmu dan jangan tinggal di sini lagi.” “Baik” dagu Ara terangkat angkuh dan tangan berubah berdecak pinggang, “Aku bisa tinggal di rumah Nerissa dan Endrea, mereka lebih baik dari pada keluargaku sendiri. Huh” Arabelle membuang mukanya dan melangkah pergi. “Aku sudah bicara dengan Julian dan Lucas, mereka sepakat tidak akan menerima kedatanganmu. Aku juga akan menarik semua pasilitasmu jika kau menolak.” Langkah Arabelle  langsung terhenti, matanya berkaca-kaca melihat ketegasan Nicholas. Arabelle benci di atur, dia masih muda dan bahagia dengan kedua sahabatnya. Nicholas tidak pernah mengerti jika Arabelle sering kesepian. Nicholas selalu pergi bekerja dan bertugas, jarang sekali Arabelle  bertemu dengan ayahnya di tengah-tengah keluarga yang menyakitinya. Sekarang ayahnya kembali menjodohkan Arabelle dengan seseorang, apa yang sebenarnya Nicholas pikirkan?, apa dia ingin mengyingkirkan Arabelle yang pandai membuat ulah. “Cepatlah bersiap-siap sayang” ucap Nicholas lebih lembut. BLAMM Arabelle menutup pintu dengan bantingan. Nicholas menghela napasnya dengan berat, beberapa saat dia memijat batang hidungnya dan memandang photo isterinya yang masih terpajang di meja kerjanya meski sudah pergi empat belas tahun lamanya. “Andai kau masih ada Arleta, Ara tidak akan seperti ini” lirihnya sedih. “Aku ingin Ara bahagia, dia butuh perlindungan ketika aku pergi.” Sekali lagi Nicholas menghela napasnya, “Aku mencintaimu Arleta.” Ungkapnya terdengar menyakitkan. Nicholas ingin yang terbaik untuk Ara, selama ini hanya dia seorang yang membimbingnya. Nicholas tidak percaya dengan Kate meski sudah dua belas tahun mereka membina keluarga, pernikahan mereka terjadi hanya karena surat wasiat Arleta. Arleta adalah kakak tiri Kate, Arleta meminta Nicholas menikahi adiknya untuk menjadi ibu pengganti Arabelle. Namun sayangnya, Nicholas pernah pernah percaya seutuhnya pada wanita itu. ***   “Tuan, satu jam lagi Anda makan malam. Saya sudah mengirimkan alamat restorantnya pada Pak Nicholas” kata seorang pria berpakaian formal. Ciptaran air membasahi kramik saat Raefal membalikan tubuhnya dan kembali berenang beberapa kali, Raefal berhenti di tepian tepat di depan Liam, wajahnya yang tampan menatap datar Liam, “Bagaimana dengan perjanjiannya?.” “Nyonya Greta akan langsung  menuliskan nama Anda di daftar penerima warisan.” Raefal  berdecih kesal, rupanya ancaman orang tuanya sekarang sudah berpengaruh. Tidak disangka, orang tuanya memilih memberikan semua warisan mereka ke panti asuhan jika Raefal tidak menuruti permintaan mereka. Raefal bergerak ke satu sisi dan bergerak naik ke tepian, tubuh kokohnya telah basah kini terbalut jubah mandi. Raefal duduk di kursi panjang dan mengambil tabletnya, “Bagaimana dengan kehidupannya.” Liam menarik napasnya dalam-dalam sebelum berbicara, “Nona Arabelle puteri satu-satunya Nicholas Giedon. Nicholas Giedon adalah cucu dari Ratu Ema Giedon, cucu pertamanya adalah Julian Giedon, saya tidak perlu menjelaskan dia karena Anda pasti tahu siapa beliau.” “Aku tahu, aku pernah magang di perusahaannya.” Jawab Raefal  dengan dingin, meskipun dia keturunan aristocrat Raefal hidup dengan penuh ambisi dan bekerja keras, dia pindah dari Jerman hanya untuk magang di perusahaan Julian selama empat tahun, hingga akhirnya Raefal memutuskan mendirikan perusahaan sendiri. Raefal terobsesi dengan perhiasan dan seni, Julian adalah panutannya, pria itu memiliki salah satu perusahaan jasa perhiasan terbaik di dunia. Namun untuk masuk menjadi mencintaiku, apa dosaku selama ini.” Raefal mengumpat dalam diam, meski dia tahu ibunya tengah berakting namun dia tidak akan pernah bisa menolak permintaan Greta. “Kapan Ibu kemari?” Raefal bangkit dan memeluk ibunya. “Aku dan Ayahmu ingin bertemu calon menantu kami.” “Bu, aku belum memutuskan menerima perjodohan ini.” Tolaknya selembut mungkin, “Aku sudah memiliki kekasih pilihanku.” “Kekasih yang mana?, salah satu p*****r koleksimu?” pelotot Greta kesal. Dia tahu watak anaknya yang suka gunta-ganti perempuan namun tidak pernah berlabuh kepada siapapun. “Bu” “Pergi makan malam dan temui Arabelle, atau aku akan selamanya tinggal di sini. Di rumahmu dan mengganggu kehidupanmu.” Raefal mengatur napasnya perlahan untuk mengatur emosinya. Akan menjadi mimpi buruk bagi Raefal  jika ibunya tinggal di Neydish, dia tahu seberapa merepotkannya ibunya jika mereka tinggal satu rumah. Tidak ada jalan lain lagi bagi Raefal selain menemui Arabelle. *** Arabelle berdiri di depan cermin cukup lama, dia memandang gaun indah yang tengah di pakaianya untuk menghadiri acara makan malam. Wajah cantik itu menekuk tidak suka mengingat ke mana arah perginya dia sekarang. Dengan kasar Arabelle mengambil tas slempangnya dan keluar kamar. “Ara” panggil Kate dengan senyuman lebar, terlihat jelas jika wanita itu memiliki kemauan. Arabelle  langsung bersedekap dengan angkuh, “Kakekmu mengirimkan kue barusan. Aku tahu kau pasti marah jika Mina memakannya, jadi aku membawanya kemari, mungkin bisa menikmatinya di kamar atau di perjalanan.” Ucapnya menyodorkan sekotak kue dari restorant terkenal tempat kesukaan Arabelle. Dengan ketus Arabelle mengambilnya dan membaca tulisan yang menempel di dalam kotak. Cepat-cepat gadis itu membawanya ke kamar dan membukanya,  binar di mata Arabelle terlihat bercahaya, hanya kakeknya satu-satunya orang yang selalu ada untuk Arabelle. Arabelle mengambil satu potongan kecil kue dan kembali keluar, malam ini mau tidak mau dia tetap harus pergi. Tapi Arabelle sudah menyiapkan banyak rencana agar orang yang akan di jodohkan dengan dirinya malu, semalu-malunya hingga tidak akan mau bertemu dengannya lagi. “Ara! Jangan kembali sebelum kau menemuinya. Kau mengerti?” kata Nicholas yang memperhatikan kepergian anak kesayangannya. Arabelle menelan kunyahannya dan menatap ayahnya dengan berang, dengan berdecak pinggang Arabelle menjawab, “Iya! Aku mengerti! Aku akan megatakan pada seluruh dunia jika Ayah membuangku dan tidak sayang padaku lagi. Cih, tua bangka” umpatnya di akhir kalimat. Seorang pelayan membukakan pintu untuk Arabelle, dia langsung mengambil kunci mobilnya dan pergi masuk dengan perasaan jengkel. Arabelle benar-benar benci dengan kecanggungan antara dirinya dan Nicholas yang semakin hari semakin kuat, Arabelle  hanya butuh perhatian dan kasih sayang seperti apa yang di rasakan kedua sahabatnya. Namun semuanya terasa seperti mimpi bagi Arabelle. Sangat sulit. Dalam perjalanan Arabelle menatap tajam jalanan, sesekali bulu matanya yang panjang dan lentik itu menurun menahan rasa mengantuk, beberapa kali Arabelle kehilangan kendali karena mengindak gas teralalu dalam. “Kenapa mengantuk sekali” ucapnya seraya menguap, perlahan Arabelle menepi di depan sebuah toko. Dengan mesin mobil yang masih menyala dia tertidur pulas tanpa berniat melanjutkan perjalanannya. *** “Selamat malam Tuan Rae, silahkan masuk” sambut manajer restorant dengan senyuman lebarnya. Raefal melangkah dengan angkuh, suara musik romantis terdengar mengalun memenuhi ruangan, dari kejauhan dia sudah bisa melihat punggung seorang wanita yang sudah duduk menunggunya. Raefal tersenyum bosan, langkahnya perlahan berhenti dan dia berdiri di hadapan Mina. “Nona Arabelle?” Mina  tersenyum lebar dengan wajah yang merona, kedatangan Raefal sudah cukup menyita perhatian banyak wanita. Rasa bangga dan senang langsung meningkatkan rasa percaya diri wanita itu. Tidak sia-sia ibunya memberikan kue kepada gadis bodoh seperti Arabelle, sekarang Mina yang berada di sini. Dan Mina tidak peduli dengan Arabelle sekarang, dia hanya berharap gadis kecelakaan untuk semakin memuluskan jalannya. “Oh, hay. Silahkan duduk” sapa Mina dengan anggun, Raefal  melihat penampilan gadis itu sekilas lalu menarik kursi dan duduk. “Aku sudah menunggu hampir setengah jam di sini. Perkenalkan, saya Arabelle Giedon” tangan Mina terulur mengajak bersalaman. Wanita itu kini berpura-pura menjadi Arabelle. Kening Raefal mengerut seketika, dengan tatapan tajamnya dia menerima uluran tangan Mina dengan cepat melepaskannya kembali, “Raefal.” Mina tersenyum lebar melihat ke arah Raefal sekali lagi, wajahnya merona penuh kakaguman melihat bagaimana tampannya Raefal dengan aura yang sangat kuat. Tidak sia-sia dia menyingkirkan Arabelle untuk bertemu Raefal. Mina bertekad akan membuat pria itu jatuh hati padanya sebelum penyamarannya ketahuan. Dua orang waiters datang mendorong meja, mereka menyajikan makanan dengan teliti dan senyuman yang tidak pudar. Masih tidak ada percakapan apapun antara Raefal dan Mina, hingga kedua waiters pergi dan mereka mulai makan. “Apa kau sudah mendengar niat baik kedua orang kita mengenai pertemuan ini?” tanya Mina dengan hati-hati. Raefal  memotong dagingnya tanpa berminat melihat kearah Mina, “Ya.” “Kita bisa menjalaninya sebelum memutuskan ke pernikahan.” Kepala Raefal  terangkat, matanya yang jeli terasa terganggu dengan penampilan Mina dengan gaun dan perhiasan yang berlebihan. Tidak ada nilai yang bisa Raefal berikan kepada wanita itu, kecuali pujian jika malam ini Mina tampak seperti gundik kerajaan. “Aku selalu mengambil keputusan dengan cepat sebelum menyesal karena membuang waktu.” Jawab Raefal dingin. Gigi Mina menggertak, sikap dingin Raefal  yang tidak mudah di sentuh sangat menantang dirinya. Dengan senyuman memaksakan Mina berkata, “Aku mengerti.” Akunya sedih, “Setelah ini kita akan ke mana?.” Raefal  menggeleng, Mina terlalu percaya diri. Dengan terpaksa Raefal mengeluarkan kotak perhiasan dari saku jassnya, “Ini titipan dari ibuku.” Mata Mina berbinar-binar seketika, dengan tidak sabaran dia membukanya dan melihat sebuah kalung berbandul berlian terlihat indah berkilauan. “Terima kasih, aku suka sekali” “Urusan kita sudah selesai. Selamat malam” Raefal meninggalkan makanannya dan segera berdiri. “Tunggu” Mina menahan tangan Raefal dan mendekat, sulit baginya menemukan pria tampan dan sangat kaya. Terlebih bagaimana loyalnya ibu Raefal padanya. Mina bisa membayangkan bagaimana suatu hari nanti dia hidup bahagia sebagai nyonya besar. Mina akan berjuang mendapatkan Raefal. “Aku tertarik padamu, bisakah kita mencoba untuk membahagiakan kedua orang tua kita.” Raefal  langsung menepis tangan Mina dan menyerigai jahat. “Simpan kata-katamu untuk pria yang tepat.” “Sombong sekali” geram Mina penuh amarah melihat punggung Raefal yang menjauh. Tangannya terkepal kuat, “Kita lihat saja nanti. Kau tidak akan pernah bisa menolak pesonaku.” *** Arabelle mengeliat tidak nyaman, tangannya menutupi kedua matanya menghalangi sialauan baterai polisi yang mengetuk-ngetuk kaca jendela dan terus menyoriti wajahnya. Dengan terpaksa Arabelle menurunkan kaca mobil dan menguap. “Nona, apa Anda mabuk?. Dilarang parkir di sini, Anda mengganggu kenyamanan pelanggan toko, kendaraan Anda menghalangi jalan mereka.” Arabelle celingukan melihat bagaiamana langit semakin gelap, gadis itu menggeleng dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukan pukul sepuluh malam. “Aku ketiduran dan beristirahat untuk menghindari risiko kecelakaan.” “Baik Nona, silahkan lanjutkan perjalanan Anda.” Tanpa basa-basi Arabelle langsung tancap gas setengah panic, ini sudah terlalu malam. Dia terlambat dua jam, mobil berhenti di depan restorant tempat pertemuan. Gadis itu melompat keluar dan berlari masuk. Meja pesanannya sudah kosong, tidak ada siapapun di sana. “Aku terlambat” keluh Arabelle sedih, dia terduduk di kursi kosong menatap ke sekitar. Sekali lagi dia akan menerima kemarahan ayahnya. To Be Continue . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD